Review: Thor: The Dark World (2013)


thor-the-dark-world-header

Let’s do a little recap. Terlepas dari pengalamannya yang lebih banyak mengarahkan film-film adaptasi dari karya sastra William Shakespeare, Marvel Studios memberikan kekuasaan pada Kenneth Branagh untuk mengarahkan Thor (2011) yang diadaptasi dari komik superhero berjudul sama karya Stan Lee, Larry Lieber, Jack Kirby yang diproduksi oleh Marvel Comics. Dengan kelihaiannya dalam merangkai cerita sekaligus mengarahkan para jajaran pemerannya, Branagh berhasil menggarap Thor menjadi sebuah presentasi yang tidak hanya menghibur selayaknya film-film karya Marvel Studios lainnya namun juga tetap memiliki sisi penuturan drama yang kuat a la film-film Shakespeare yang pernah diarahkannya. Tidak mengherankan, Thor kemudian mampu meraih kesuksesan secara komersial, mendapatkan banyak pujian dari para kritikus film dunia sekaligus menjadi film produksi Marvel Studios terbaik hingga saat ini.

But that’s all in the past. Ketika Marvel Studios mengumumkan bahwa mereka akan memproduksi sekuel dari Thor, yang juga akan menjadi film kedua dalam Phase Two dari Marvel Cinematic Universe setelah Iron Man 3 (2013), Branagh memutuskan untuk tidak lagi melanjutkan tugasnya sebagai seorang sutradara. Setelah melalui beberapa nama, termasuk Brian Kirk – yang lebih berpengalaman dalam mengarahkan serial televisi seperti Boardwalk Empire dan Game of Thrones – serta Patty Jenkins (Monster, 2003, Marvel Studios memilih Alan Taylor untuk duduk di kursi penyutradaraan Thor: The Dark World. Meskipun pernah mengarahkan beberapa film layar lebar, seperti halnya Kirk, Taylor juga lebih sering terlibat dalam penyutradaraan serial televisi seperti The Sopranos, Rome, Boardwalk Empire dan Game of Thrones. Bermodalkan pengalamannya dalam mengarahkan serial televisi berskala epik tersebut, Taylor jelas sama sekali tidak memiliki masalah besar dalam mengarahkan Thor: The Dark World yang juga memiliki latar belakang cerita, lokasi serta jumlah karakter yang berukuran besar. Namun apakah Taylor mampu memenuhi ekspektasi dalam menghantarkan kualitas penceritaan seperti yang sebelumnya telah ditetapkan oleh Branagh?

Dengan naskah cerita yang ditulis oleh Christopher Yost bersama dengan dua penulis naskah Christopher Markus dan Stephen McFeely (Captain America: The First Avenger, 2011) – yang menggantikan posisi penulis naskah Ashley Edward Miller, Zack Stentz dan Don Payne, Thor: The Dark World melanjutkan kisahnya setahun semenjak rentetan kejadian yang dikisahkan dalam Marvel’s The Avengers (2012) dan dua tahun semenjak film pertamanya. Loki (Tom Hiddleston) dibawa kembali ke Asgard dan diberikan hukuman penjara oleh sang ayah, Odin (Anthony Hopkins). Sementara itu, Thor (Chris Hemsworth) memilih untuk menyibukkan dirinya dengan turut berperang dalam membela kerajaannya sebagai upaya untuk melupakan rasa rindunya pada kekasihnya yang berasal dari Bumi, Jane Foster (Natalie Portman) – rasa kerinduan yang membuat Thor memilih untuk menolak permintaan sang ayah agar dirinya segera naik tahta dan memimpin Asgard. Secara keseluruhan, kehidupan di Asgard tampak berjalan tenang dan normal.

Sementara itu, di Bumi, Jane Foster – yang juga begitu merindukan kehadiran Thor kembali di sisinya – beserta sahabat sekaligus koleganya, Darcy Lewis (Kat Dennings), menemukan sebuah jalur misterius yang menghubungkan Bumi dengan Nine Realms – tempat dimana Asgard berada. Tanpa sadar, Jane terinfeksi sebuah cairan hitam yang disebut sebagai Aether dan secara perlahan mulai mengambil alih jiwa Jane. Menyadari adanya bahaya yang mengintai sang kekasih, Thor lantas segera kembali ke Bumi guna membawa Jane ke Asgard dan mengobatinya. Namun, di saat yang bersamaan dengan bereaksinya kembali Aether, musuh kerajaan Asgard dari masa lalu, kumpulan Dark Elves yang dipimpin oleh Malekith (Christopher Eccleston), bangkit dari masa tidurnya. Bersama dengan pasukannya, Malekith mulai merancang serangan untuk merebut Aether yang nantinya akan digunakan untuk menaklukkan Asgard sekaligus melenyapkan Nine Realms untuk selamanya.

Ketiadaan Kenneth Branagh di kursi penyutradaraan Thor: The Dark World jelas sangat dapat dirasakan pada nada penceritaan film ini. Less Shakespeare and more of Game of Thrones. Sisi penceritaan drama yang lebih lepas dan diganti dengan kehadiran sisi aksi yang lebih megah – meskipun tak seorangpun harusnya mengharapkan deretan adegan berdarah a la Games of Thrones hadir dalam Thor: The Dark World mengingat Marvel Studios kini telah berada di bawah kendali Walt Disney Studios. Bukan hal yang buruk. Alan Taylor terbukti mampu memberikan keseimbangan ritme cerita yang cukup baik antara hadirnya momen-momen dramatis dengan deretan adegan aksi yang akan mampu menghibur penontonnya. Dibandingkan dengan Thor, Taylor juga mampu menyajikan tingkatan daya tarik yang serupa antara adegan-adegan yang terjadi di Bumi dengan adegan-adegan yang berlatarbelakang lokasi di Asgard – meskipun kali ini banyak adegan di Asgard terasa tidak lagi semewah tampilan di film pertamanya.

Terlepas dari kesuksesan Taylor tersebut, naskah cerita Thor: The Dark World harus diakui terasa jauh lebih berantakan daripada pendahulunya. Pada kebanyakan bagian, Christopher Yost, Christopher Markus dan Stephen McFeely terasa kebingungan untuk menyeimbangkan antara konflik personal yang dialami oleh setiap karakter yang hadir dalam jalan cerita film ini dengan konflik-konflik internal maupun kehadiran guyonan yang diselipkan di beberapa adegan. Tentu, kehadiran guyonan tersebut tetap akan mampu memberikan hiburan yang cukup signifikan bagi penonton – termasuk guyonan yang menghadirkan cameo dari satu karakter superhero buatan Marvel Comics yang akan mampu memberikan kejutan serta tawa yang begitu kuat. Namun ketika deretan konflik tersebut dihadirkan dalam rentetan penceritaan yang kurang rapi, Thor: The Dark World terasa hadir dengan kualitas penceritaan standar Hollywood pada film-film sejenis – sebuah kualitas yang berhasil dihindarkan oleh Branagh pada Thor.

Kekuatan utama dari Thor: The Dark World jelas tetap bergantung pada penampilan para jajaran pengisi departemen aktingnya. Meskipun Anthony Hopkins telah terlihat begitu merasa kebosanan dalam usahanya untuk menghidupkan karakter Odin, Stellan Skarsgård dihadirkan dalam peran yang sama sekali tidak berarti apapun dalam jalan cerita serta Natalie Portman jelas-jelas diberikan porsi penceritaan yang jauh dibawah dari kemampuan aktingnya, Thor: The Dark World masih mampu memberikan penampilan akting yang solid. Beberapa pemeran pendukung seperti Idris Elba dan Kat Dennings diberikan porsi penceritaan yang lebih besar dan kuat. Begitu pula dengan Rene Russo yang kali ini diberikan porsi penceritaan yang lebih emosional atas hubungan karakternya, Frigga, dengan karakter putera tirinya, Loki.

Dua pemeran utama, Chris Hemsworth dan Tom Hiddleston, juga tampil dalam penampilan akting yang semakin dinamis. Hemsworth, setelah memerankan karakter Thor dalam dua film, tampil dengan kharisma yang semakin kuat sebagai Thor meskipun beberapa penonton akan menilai bahwa perannya dalam film ini tampil jauh lebih minimalis jika dibandingkan dengan apa yang dihadirkan oleh Hiddleston yang berperan sebagai Loki. Dalam Thor: The Dark World, hubungan keluarga antara Odin, Thor dan Loki mendapatkan penggalian yang lebih mendalam. Hal ini memberikan ruang yang lebih luas bagi karakter Loki untuk mendapatkan porsi penceritaan yang lebih mendalam. Dan Hiddleston dengan begitu mudah menaklukkan karakter yang ia perankan. Tidak hanya ia menampilkan Loki sebagai karakter antagonis yang dipenuhi rasa bahaya, namun Hiddleston juga mampu memberikan sentuhan emosional yang kuat pada karakternya. Besarnya porsi penceritaan untuk Loki, sayangnya, kemudian membayangi karakter antagonis Malekith yang diperankan oleh Christopher Eccleston. Tenggelam dalam tata rias dan pakaian yang membuat penampilannya tidak lagi dikenali, Malekith mendapatkan porsi penceritaan yang tergolong sederhana untuk satu karakter yang digambarkan sebagai sosok yang begitu berbahaya. Sama sekali bukan sosok penjahat yang akan memberikan kesan yang mendalam bagi penonton.

Secara keseluruhan, terlepas dari susunan naskah cerita yang kurang begitu mampu menata deretan konflik yang ingin dihadirkan serta beberapa penggalian karakter yang terasa kurang begitu mendalam, Thor: The Dark World masih cukup mampu untuk hadir sebagai sajian yang menghibur. Alan Taylor tampil meyakinkan dalam mengelola banyak adegan aksi yang hadir lebih spektakuler walaupun masih kesulitan untuk menyajikan sisi drama yang lebih kuat dan mengikat jika dibandingkan dengan pengarahan Kenneth Branagh di film sebelumnya. Ditambah dengan kharisma menawan dari Chris Hemsworth dan Tom Hiddleston, Thor: The Dark World berhasil hadir sebagai sebuah sekuel yang cukup baik meskipun jauh dari kesan istimewa. Dan seperti biasa, layaknya film-film produksi Marvel Studios lainnya, selain sebuah penampilan cameo dari salah satu karakter superhero Marvel Comics di salah satu adegan, Thor: The Dark World juga menghadirkan penampilan dari Stan Lee serta dua adegan tambahan yang terletak di end-credit.

popcornpopcornpopcorn popcorn2popcorn2

Thor: The Dark World (Marvel Studios, 2013)
Thor: The Dark World (Marvel Studios, 2013)

Thor: The Dark World (2013)

Directed by Alan Taylor Produced by Kevin Feige Written by Christopher Yost, Christopher Markus, Stephen McFeely (screenplay), Don Payne, Robert Rodat (story), Stan Lee, Larry Lieber, Jack Kirby (comic, Thor) Starring Chris Hemsworth, Natalie Portman, Tom Hiddleston, Anthony Hopkins, Stellan Skarsgård, Idris Elba, Christopher Eccleston, Adewale Akinnuoye-Agbaje, Kat Dennings, Ray Stevenson, Zachary Levi, Tadanobu Asano, Jaimie Alexander, Rene Russo, Clive Russell, Alice Krige, Jonathan Howard, Tony Curran, Richard Brake, Chris O’Dowd, Chris Evans, Stan Lee Music by Brian Tyler Cinematography Kramer Morgenthau Editing by Dan Lebental, Wyatt Smith Studio Marvel Studios Running time 112 minutes Country United States Language English

2 thoughts on “Review: Thor: The Dark World (2013)”

  1. udah nonton semalam. not bad. tp masih kalah ama film captain philips. keren abis filmnya, seru dari awal sampai akhir, apalg waktu dikejar ama kapal perampok…. emang keren tom hanks.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s