Review: Violet & Daisy (2013)


violet-daisy-header

Usai kesuksesannya dalam menuliskan naskah cerita untuk film Precious: Based on the Novel “Push” by Sapphire (2009) – yang berhasil memberikannya berbagai penghargaan, termasuk sebuah Academy Awards untuk kategori Best Adapted Screenplay – Geoffrey Fletcher melanjutkan karirnya di dunia film dengan Violet & Daisy, sebuah film yang tidak hanya ia tuliskan naskah ceritanya namun juga menandai debut Fletcher sebagai seorang sutradara. Berbeda dari nada penceritaan Precious: Based on the Novel “Push” by Sapphire yang cenderung depresif, Fletcher merancang Violet & Daisy sebagai sebuah drama aksi komedi dengan balutan adegan aksi berdarah yang kemungkinan besar akan mengingatkan banyak orang akan film-film karya Quentin Tarantino. Dan meskipun harus diakui bahwa naskah cerita film ini terasa lemah di beberapa bagiannya, namun Fletcher berhasil menggarap Violet & Daisy menjadi sebuah sajian yang cukup menghibur, khususnya berkat dukungan penampilan solid dari Saoirse Ronan, Alexis Bledel dan James Gandolfini.

Violet & Daisy dibuka dengan sebuah adegan berdarah dimana dua orang gadis remaja dengan samaran sebagai dua orang biarawati menyerbu masuk ke sebuah kamar dan menembaki setiap orang yang ada di dalamnya. Beberapa saat kemudian, identitas keduanya pun diungkap: kedua gadis tersebut adalah Violet (Bledel) dan Daisy (Ronan) yang – terlepas dari penampilannya yang tampak begitu feminim – merupakan dua orang pembunuh bayaran yang saling bersahabat. Seusai pekerjaan terakhir mereka tersebut, Violet dan Daisy sebenarnya telah berencana untuk mengambil masa liburan. Sayangnya, sebuah telepon dari agen mereka, Russ (Danny Trejo), kemudian merenggut masa liburan tersebut. Violet dan Daisy ditugaskan untuk membunuh seorang pria yang telah mencuri harta milik bos mereka.

Seperti biasa, Violet dan Daisy dengan matang merencanakan setiap aksi pembunuhan mereka. Namun, betapa terkejutnya kedua gadis tersebut ketika mengetahui bahwa pria yang akan mereka bunuh, Michael (Gandolfini), ternyata telah mengharapkan kedatangan mereka dan juga telah bersiap untuk mati. Kondisi tersebut jelas membingungkan bagi Violet dan Daisy. Violet & Daisy kemudian berlanjut dengan pertukaran dialog antara ketiga karakter tersebut. Pertukaran dialog yang secara perlahan mulai merubah cara pandang masing-masing mengenai kehidupan sekaligus mempengaruhi hubungan persahabatan antara Violet dan Daisy.

Keunggulan utama Violet & Daisy jelas terletak pada penampilan apik ketiga pemeran utamanya. Saoirse Ronan, Alexis Bledel dan James Gandolfini jelas memiliki chemistry yang sangat erat satu sama lain. Kemampuan Ronan dan Bledel untuk tetap mempertahankan feminitas dari karakter yang mereka perankan terlepas dari posisi mereka sebagai seorang pembunuh bayaran juga mampu membuat karakter Violet dan Daisy terlihat begitu menarik. Gandolfini juga berhasil membangun karakternya sebagai sosok pria penyendiri dengan masa lalu yang kelam dengan begitu baik. Chemistry yang ia sajikan bersama Ronan di beberapa adegan juga terasa begitu hangat dan berhasil memberikan momen-momen emosional dalam jalan cerita film ini.

Geoffrey Fletcher sendiri harus diakui cukup berani dalam menggarap film perdananya. Daripada mengolah Violet & Daisy sebagai sebuah film drama aksi komedi standar, Fletcher lebih memilih untuk menekankan kekuatan dialog yang terjalin antara ketiga karakter utama ceritanya serta tata editing yang harus diakui cukup terasa asing untuk diikuti – dua formula yang akan mengingatkan banyak penonton film ini terhadap karya-karya Quentin Tarantino. Tidak selalu berhasil, sayangnya. Pada beberapa bagian cerita, Fletcher terkesan kehabisan ide untuk memberikan konflik yang lebih kuat pada jalan cerita Violet & Daisy dan kemudian memilih untuk memanjangkan beberapa adegan tanpa esensi cerita yang lebih kuat. Fletcher juga sepertinya menemui hambatan dalam menetapkan ritme penceritaan yang tepat untuk film ini. Violet & Daisy yang awalnya bertempo drama aksi komedi dengan ritme penceritaan yang cepat secara perlahan berubah menjadi melankolis dan melamban ketika karakter yang diperankan oleh James Gandolfini hadir di dalam jalan cerita – hal sama yang membuat Violet & Daisy terasa terbata-bata dalam bercerita semenjak bagian pertengahannya.

Sebagai sebuah debut penyutradaraan, Violet & Daisy jelas jauh dari kesan mengecewakan. Keberanian Geoffrey Fletcher untuk menyajikan ceritanya dengan tampilan yang berbeda dari kebanyakan film sejenis – meskipun terasa begitu terinspirasi dari film-film Quentin Tarantino – jelas merupakan sebuah keunikan yang layak untuk diapresiasi. Meskipun naskah cerita Violet & Daisy masih terasa lemah di beberapa bagiannya, namun penampilan solid dari Saoirse Ronan, Alexis Bledel dan James Gandolfini mampu menutupi berbagai kelemahan tersebut dan membuat Violet & Daisy tetap tampil menarik di sepanjang penceritaannya. Bukan sebuah karya perdana yang mengesankan namun jelas menunjukkan bahwa Fletcher telah berada di jalur yang tepat.

popcornpopcornpopcorn popcorn2popcorn2

Violet & Daisy (Magic Violet, 2013)
Violet & Daisy (Magic Violet, 2013)

Violet & Daisy (2013)

Directed by Geoffrey Fletcher Produced by Geoffrey Fletcher, John Penotti, Bonnie Timmermann Written by Geoffrey Fletcher Starring Saoirse Ronan, Alexis Bledel, Danny Trejo, James Gandolfini, Marianne Jean-Baptiste, Cody Horn, John Ventimiglia, Stu ‘Large’ Riley, Tatiana Maslany, Cassidy Hinkle, Emerald-Angel Young, Neville Archambault, Christopher John Gombos, Lynda Gravatt Music by Paul Cantelon Cinematography Vanja Cernjul Editing by Joe Klotz Studio Magic Violet Running time 96 minutes Country United States Language English

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s