Review: Byzantium (2013)


Byzantium-header

Di tahun 1994, sutradara asal Irlandia, Neil Jordan, berkesempatan untuk mengarahkan film Interview with the Vampire: The Vampire Chronicles yang diadaptasi dari novel legendaris berjudul sama karya novelis Anne Rice. Film yang bercerita mengenai kehidupan para vampir dan dibintangi oleh nama-nama besar seperti Tom Cruise, Brad Pitt, Antonio Banderas serta Kirsten Dunst tersebut cukup berhasil mendapatkan pujian dari para kritikus film dunia sekaligus mampu meraih kesuksesan komersial sebesar lebih dari US$223 juta dari bujet produksi yang hanya mencapai US$60 juta. Hampir 20 tahun kemudian, Jordan kembali lagi dengan sebuah film yang juga bercerita mengenai kehidupan para vampir, Byzantium. Dibintangi duo Gemma Arterton dan Saoirse Ronan, Byzantium sendiri memiliki struktur penceritaan yang jauh lebih kompleks dan kelam jika dibandingkan dengan Interview with the Vampire: The Vampire Chronicles. Meskipun begitu, pengarahan Jordan kepada cerita, tata produksi dan penampilan para jajaran pemerannya yang kuat akan mampu membuat film ini tampil begitu memikat bagi para penontonnya.

Layaknya Rice yang juga menuliskan naskah cerita bagi versi film dari novelnya, naskah cerita Byzantium sendiri juga dituliskan oleh Moira Buffini (‘Tamara Drewe’, 2010) berdasarkan drama panggungnya yang berjudul A Vampire Story (2008). Byzantium sendiri berkisah mengenai dua orang wanita, Clara (Arterton) dan Ella (Ronan), yang baru saja pindah ke sebuah kota kecil di Inggris sebagai usaha mereka untuk melarikan diri dari kejaran beberapa orang yang berniat jahat terhadap mereka. Dalam pelarian mereka tersebut, Clara dan Ella kemudian bertemu dengan Noel (Daniel Mays), yang mengelola sebuah hotel bernama Byzantium. Berkat rayuan Clara, Noel kemudian bersedia untuk menampung kedua gadis tersebut sekaligus mengajak mereka untuk tinggal bersama di hotel yang ia miliki.

Clara dan Ella kemudian mencoba untuk memulai tahap baru dalam kehidupan mereka. Bersama dengan Noel, Clara mencoba membangkitkan kembali bisnis hotel Byzantium yang hampir mengalami kebangkrutan. Sementara Ella sendiri kemudian mulai melanjutkan pendidikannya di sebuah sekolah – dimana ia berkenalan dan mulai menjalin hubungan dengan seorang pemuda penyendiri bernama Frank (Caleb Landry Jones). Kedekatannya dengan Frank membuat Ella secara perlahan membuka jati dirinya kepada pemuda tersebut. Lewat sebuah tulisan, Ella kemudian membuka tabir bahwa dirinya dan Clara adalah dua vampir wanita yang telah hidup selama lebih dari 200 tahun. Tanpa sepengetahuan Ella, perbuatannya tersebut ternyata telah melanggar beberapa kode etik yang telah diterapkan selama ratusan tahun dalam dunia para vampir. Akibatnya, Clara, Ella dan Frank kini berada dalam sebuah bahaya besar yang dapat merenggut nyawa mereka kapan saja.

Adalah cukup menyegarkan untuk menyaksikan bagaimana Moira Buffini mampu menghadirkan sebuah deskripsi yang berbeda mengenai kehidupan para vampir di film ini. Daripada menggunakan stereotype tradisional para kaum penghisap darah tersebut seperti yang banyak digambarkan dalam film-film sejenis, Buffini memilih untuk menghadirkan para vampir dalam Byzantium sebagai sosok yang memiliki kehidupan layaknya manusia biasa, tidak lagi takut akan sinar matahari, bawang putih ataupun benda-benda keagamaan seperti salib dan air suci serta sama sekali tidak membutuhkan peti mati sebagai perangkat peristirahatan mereka. Usaha Buffini untuk memanusiakan para makhluk tak berjiwa itulah yang seringkali mampu membuat banyak karakter dalam film ini dapat terlihat begitu menarik untuk diikuti kisah kehidupannya. Alur cerita Byzantium juga berhasil dirancang sedemikian rupa sehingga tidak hanya menjadi sebuah kisah petualangan kaum vampir lainnya. Pada banyak sudut penceritaannya, Buffini mampu menyelipkan berbagai komentar sosial dan psychological thriller yang berhasil meningkatkan nilai tambah dari naskah cerita Byzantium.

Di saat yang sama, dengan menggunakan linimasa penceritaan yang terentang sepanjang hitungan abad, Buffini gagal untuk memberikan jalan penceritaan yang padat dan efektif pada Byzantium. Konsep “cerita dalam cerita” yang digunakan Buffini justru memicu hadirnya terlalu banyak plot penceritaan, intrik serta karakter yang kemudian membuat beberapa diantrara elemen tersebut gagal untuk dikembangkan dengan baik. Untungnya, Neil Jordan berhasil mengarahkan jalan cerita Byzantium dengan cukup cekatan. Meskipun harus menangani beberapa penceritaan yang saling tumpang tindih satu sama lain – dan seringkali terasa saling memotong ikatan emosional di dalam cerita tersebut, Jordan secara perlahan mampu menuturkan Byzantium sehingga tetap terasa efektif dalam bercerita.

Selain pengarahan Jordan, keunggulan penampilan kualitas Byzantium juga disokong dengan baik oleh penampilan apik para pengisi departemen aktingnya, khususnya Gemma Arterton. Dengan penampilannya yang begitu menggoda, Arterton mampu mencuri begitu banyak perhatian setiap kali karakternya dihadirkan dalam penceritaan. Begitu kuatnya penampilan Arterton atas karakter Clara yang ia perankan, Byzantium mungkin akan terasa jauh lebih baik jika penceritaannya murni berfokus pada karakter Clara dan kisah perjuangannya di masa lampau bersama dengan para vampir lainnya. Tata produksi Byzantium juga hadir dengan kualitas memuaskan. Sinematografer Sean Bobbitt mampu menghadirkan deretan gambar yang kelam namun tetap terasa indah dan puitis untuk disaksikan. Begitu pula dengan tata musik arahan Javier Navarrete yang mampu memberikan tambahan emosi yang diperlukan dalam setiap adegan Byzantium.

Jika saja Moira Buffini mau menyederhanakan susunan penceritaan Byzantium dan berfokus pada beberapa kisah maupun karakter yang lebih kuat saja, mungkin film ini akan mampu menghadirkan kualitas cerita yang lebih hidup. Pun begitu, sulit untuk memandang sebelah mata terhadap Byzantium. Pengarahan Neil Jordan yang begitu handal mampu membuat Byzantium bercerita dengan cukup lancar terlepas dari berbagai sudut penceritaannya yang berliku. Begitu juga dengan kualitas akting para jajaran pemerannya yang tampil begitu meyakinkan dalam menghidupkan setiap karakter yang mereka perankan serta tata produksi yang semakin mengukuhkan elemen kekelaman dalam jalan penceritaan film ini. Belum berhasil menyentuh tingkatan sebagai sebuah film yang istimewa namun tetap mampu hadir sebagai sebuah sajian yang cukup memikat.

popcornpopcornpopcorn  popcorn2popcorn2

Byzantium (Demarest Films/Lipsync Productions/Number 9 Films/Parallel Film Productions/WestEnd Films, 2013)
Byzantium (Demarest Films/Lipsync Productions/Number 9 Films/Parallel Film Productions/WestEnd Films, 2013)

Byzantium (2013)

Directed by Neil Jordan Produced by Sam Englebardt, William D. Johnson, Elizabeth Karlsen, Alan Moloney, Stephen Woolley Written by Moira Buffini (screenplay), Moira Buffini (play, A Vampire Story) Starring Saoirse Ronan, Gemma Arterton, Sam Riley, Jonny Lee Miller, Daniel Mays, Caleb Landry Jones, Maria Doyle Kennedy, Warren Brown, Tom Hollander, Thure Lindhardt Music by Javier Navarrete Cinematography Sean Bobbitt Editing by Tony Lawson Studio (Demarest Films/Lipsync Productions/Number 9 Films/Parallel Film Productions/WestEnd Films Running time 118 minutes Country United Kingdom, United States, Ireland Language English

One thought on “Review: Byzantium (2013)”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s