Review: The Mortal Instruments: City of Bones (2013)


the-mortal-instruments-city-of-bones-header

Jika dua seri film Percy Jackson and the Olympians (2010 – 2013) mencoba hadir untuk mengisi kekosongan singgasana yang ditinggalkan oleh franchise Harry Potter (2001 – 2011), maka The Mortal Instruments: The City of Bones adalah sebuah usaha lain Hollywood untuk mengulang kesuksesan franchise The Twilight Saga (2008 – 2012) – meskipun The Hunger Games (2011) sepertinya telah menggenggam erat posisi tersebut. Layaknya The Twilight Saga, The Mortal Instruments: City of Bones merupakan adaptasi pertama dari seri novel fantasi The Mortal Instruments karya penulis asal Amerika Serikat, Cassandra Clare. The Mortal Instruments: City of Bones juga menghadirkan banyak tema-tema familiar di dalam penceritaannya: mulai dari kisah cinta segitiga, karakter-karakter berkekuatan magis, kisah hubungan keluarga hingga petualangan untuk mencari penyelesaian dari sebuah masalah. Sayangnya, dengan naskah dan pengarahan yang benar-benar datar, The Mortal Instruments: City of Bones seringkali terlihat sebagai sebuah tiruan murahan dari The Twilight Saga daripada sebagai sebuah seri awal franchise kisah fantasi yang mampu tampil lebih baik daripada seri film yang berhasil mempopulerkan nama Kristen Stewart dan Robert Pattinson tersebut.

The Mortal Instrument: City of Bones berkisah mengenai seorang remaja bernama Clary Fray (ding, Bella! – Lily Collins) yang tidak menyadari bahwa ia memiliki sebuah kekuatan supernatural. Namun, hal tersebut segera berubah setelah pada satu malam, ketika dirinya sedang berada di sebuah klub malam bersama sahabatnya, Simon Lewis (Jacob Black alert! – Robert Sheehan) – yang secara diam-diam menyukai Clary, Clary menjadi satu-satunya orang yang dapat melihat terjadinya sebuah pembunuhan yang dilakukan oleh Jace Wayland (ummm… Edward? – Jamie Campbell Bower) dan rekan-rekannya. Panik, Clary lalu menjadi buruan Jace yang ingin menjelaskan apa yang sebenarnya telah dilihat oleh Clary. Jace lalu menjelaskan bahwa sosok pria yang ia bunuh merupakan sesosok penjelmaan setan dan Clary yang dapat melihat kejadian tersebut bukanlah seorang mundane – istilah dalam cerita ini untuk menyebut seorang manusia biasa; muggle dalam dunia Harry Potter – melainkan adalah seorang Shadow Hunter – keturunan pejuang yang dilatih untuk melenyapkan para setan yang mencoba untuk mengganggu ketenangan umat manusia di muka Bumi – seperti dirinya.

Sialnya, ketika sedang menerima kabar tersebut, di saat yang sama pula Clary menerima kabar bahwa ibunya, Jocelyn Fray (Lena Headey – yang entah kenapa beraksen Inggris di sepanjang film tanpa penjelasan yang akurat), telah diculik. Untuk menyelamatkan ibunya, Clary lantas harus membantu Jace untuk mencari keberadaan Mortal Cup – sebuah cawan dengan tenaga magis yang dapat memberikan kekuatan tak terkalahkan bagi siapapun yang memilikinya. Tentu saja, berbagai kejadian tersebut memberikan kebingungan mendalam bagi Clary. Ia tidak dapat lantas percaya begitu saja terhadap siapapun yang kini berada di sekitarnya. Di saat yang bersamaan, Clary jelas membutuhkan bantuan setiap orang yang mau menolongnya agar dapat menemukan sekaligus menyelamatkan ibunya.

Yep. Jika Anda dapat melihat beberapa bagian sinopsis penceritaan The Mortal Instument: City of Bones, Anda jelas dapat merasakan berbagai hal yang telah pernah dihadirkan dalam film-film sejenis selama ini: beberapa bagian cerita menyerupai kisah yang dihadirkan dalam The Twillight Saga dan beberapa bagian lainnya akan mengingatkan beberapa orang akan kisah Harry Potter. Selain dua referensi cerita tersebut, mereka yang jeli sepertinya akan dapat menemukan bagian dimana jalan cerita film ini juga menggunakan konsep limbo seperti dalam penceritaan Inception (2010) dan bahkan menggunakan alur kisah asmara Princess Leia dan Luke Skywalker dalam Star Wars Episode V: Empire Strikes Back (1980). Sejujurnya, penggunaan berbagai inspirasi cerita tersebut tidak akan menjadi sebuah masalah besar jika saja penulis naskah, Jessica Postigo, mampu mengelola jalan ceritanya dengan baik. Unfortunatelythat’s not happening. At all.

Semenjak memulai penceritaannya, The Mortal Instrument: City of Bones telah dipenuhi dengan berbagai topik penceritaan yang akhirnya justru kemudian membebani penonton sekaligus alur penceritaan ketika naskah cerita film ini gagal untuk memberikan penggalian cerita yang lebih memadai. Secara sederhana dapat digambarkan bahwa tiga perempat bagian penceritaan The Mortal Instrument: City of Bones mencoba untuk menjelaskan berbagai konflik maupun karakter yang hadir dalam 130 menit durasi penceritaan film ini: mulai dari penggunaan istilah mundane dan Shadow Hunter, kehadiran malaikat, setan, vampir, manusia serigala, penyihir, konflik antara keluarga, cinta segitiga sampai sebuah kejutan mengenai masa lalu dari karakter Clary Fray dan Jace Wayland. Sementara itu, seperempat bagian lain dari penceritaan film digunakan untuk menghadirkan adegan pertarungan yang sama sekali jauh dari kesan mengesankan. Berbagai konflik dan karakter dan pertarungan terus menerus hadir dalam The Mortal Instrument: City of Bones. Sayangnya, baik Jessica Postigo Paquette sebagai penulis naskah serta sutradara Harald Zwart (The Karate Kid, 2010) tidak memeiliki kapabilitas yang cukup untuk mengelola jalan cerita yang terlalu dipenuhi oleh berbagai hal tersebut. Hasilnya, The Mortal Instrument: City of Bones berjalan dalam durasi yang panjang, alur yang begitu lamban dan bertele-tele serta kisah yang terasa begitu membosankan.

Juga tidak banyak membantu adalah jajaran karakter serta pengisi departemen akting film ini. Meskipun karakter Clary Fray dapat digambarkan sebagai sosok yang jauh lebih aktif daripada karakter Bella Swan, namun karakter Clary Fray tetap tergambarkan sebagai sosok yang begitu datar dan… bodoh – seperti halnya banyak karakter di film ini. Lily Collins terlihat berusaha kuat untuk menghidupkan karakter yang ia perankan. Ummm… sebuah usaha yang sia-sia. Sama seperti sia-sianya untuk mengharapkan penonton dapat menyukai sosok Jamie Campbell Bower yang sama sekali tidak memiliki kharisma kuat untuk ditampilkan sebagai pemeran utama – apalagi sebagai the new Edward. Chemistry antara Collins dan Bower juga terasa begitu hampa. Adalah sangat menyakitkan untuk menyaksikan penampilan keduanya yang berusaha keras untuk terlihat saling menyukai satu sama lain ketika chemistry antara keduanya begitu sulit untuk dirasakan kehadirannya.

Jajaran pemeran lain juga tampil sama tidak mengesankannya. Lena Headey tampil cantik namun jelas tidak akan menyelamatkan perannya yang begitu kecil dalam bercerita. The Jacob Black in this story, Robert Sheehan yang memerankan karakter Simon Lewis sebenarnya mampu tampil menarik. Namun seringkali tenggelam demi membiarkan alur cerita antara karakter Clary Fray dan Jace Wayland tumbuh lebih besar. Yang terakhir adalah kemunculan Jonathan Rhys Meyers yang tampil begitu mengganggu dan terlihat begitu berlebihan dalam menampilkan kemampuan aktingnya. Tidak semua hal dalam The Mortal Instrument: City of Bones tampil buruk. Film ini setidaknya masih mampu menampilkan tata produksi yang mengesankan dan, seperti halnya The Twilight Saga, mampu mengiringi tiap adegannya dengan lagu-lagu yang cukup mampu berbicara kuat dan lebih emosional daripada jalan cerita film ini sendiri.

Kesalahan terbesar, dan sangat fatal, dari The Mortal Instrument: City of Bones, jelas terletak pada penulisan naskah ceritanya. Mungkin cerita asli film ini memang memuat berbagai hal yang memenuhi banyak sudut penceritaannya. Namun Jessica Postigo Paquette jelas seharusnya mampu menyortir berbagai hal yang ingin ia hadirkan dalam naskah cerita The Mortal Instrument: City of Bones daripada memasukkan berbagai hal yang kemudian membuat penceritaan film ini terasa berlebihan dan gagal untuk dikelola dengan baik. Pengarahan Harald Zwart yang begitu datar juga tidak mampu berbuat banyak untuk menyelamatkan kualitas film ini. Berlebihan. Membosankan. Datar. Kacau. Salah satu film terburuk yang pernah dirilis di sepanjang tahun 2013.

popcornpopcorn popcorn2popcorn2popcorn2

The Mortal Instrument: City of Bones (Constantin Film Produktion/Don Carmody Productions/Unique Features, 2013)
The Mortal Instrument: City of Bones (Constantin Film Produktion/Don Carmody Productions/Unique Features, 2013)

The Mortal Instrument: City of Bones (2013)

Directed by Harald Zwart Produced by Dan Carmody, Robert Kulzer Written by Jessica Postigo Paquette (screenplay), Cassandra Clare (novel, City of Bones) Starring Lily Collins, Jamie Campbell Bower, Robert Sheehan, Kevin Zegers, Lena Headey, Kevin Durand, Aidan Turner, Jemima West, Godfrey Gao, C. C. H. Pounder, Jared Harris, Jonathan Rhys Meyers, Robert Maillet, Stephen R. Hart, Elyas M’Barek, Chad Connell Music by Atli Örvarsson Cinematography Geir Hartly Andreassen Editing by Joel Negron Studio Constantin Film Produktion/Don Carmody Productions/Unique Features Running time 130 minutes Country United States, Germany Language English

6 thoughts on “Review: The Mortal Instruments: City of Bones (2013)”

  1. sya telah membaca kelima seri novelnya (yg keenam belum dipublish)….
    film ini sangat mengecewakan ,…😦
    msh berharap ada tim baru yg membuat sekuel nya,… tapi hasilnya harus jauh lebih baik dari ini 🙂

    btw,..review yg tepat… two thumbs up!!

  2. Cerita di novel nya bagus
    tapi tim yang menggarap nya yang salah dan dalam sektor penulisan naskah yang buruk, karena penulis novel nya tidak ikut andil.
    Cassandra Clare aja bilang “Very Far From The Novel”

  3. sepanjang nonton q mikir “ni kpn filmx kelar?”
    bny bag yg dieksplorasi “agk blbihan”
    aplg Jace penjiwaanx smcm TV LAYAR DATAR, kharismax agk dipaksa
    setuju bgt lbh suka dng krktr Simon yg mnrtq dprankan dng apik WALAUPUN nasibx spt kt2 d atas
    kalaupun ad sekuelx mending gnt penulis skenariox, para pemeran utama bny reading n blajar akting yyg lbh bagus lg

  4. one and only the best from that film just godfrey gao as magnus bane🙂
    he’s looked best for play his caracter.

  5. No hate. Saya sendiri sebenarnya belum pernah membaca novelnya (tapi akan segera membacanya). Sebagai orang awam, saya pas nonton oke2 aja malah saya tertarik untuk baca novelnya. Saya penggemar twilight saga (udah nonton dan baca) dan saat menonton film ini ternyata tidak seburuk yg saya kira. Lily dan jamie juga bermain bagus walaupun tdk sebagus chemistry antara rob dan kristen. Sejujurnya ceritanya bagus kok dan sejujurnya saya org yg tipenya kalo seru tonton kalo gak seru tinggalin aja. Dan saya ga meninggalkan film ini. Tks.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s