Review: Crazy Love (2013)


crazy-love-header

Sukses dengan Tampan Tailor yang dirilis beberapa bulan lalu, sutradara Guntur Soeharjanto kembali bekerjasama dengan duo penulis naskah Cassandra Massardi dan Alim Sudio untuk film terbarunya, Crazy Love. Berbeda dengan Tampan Tailor yang menawarkan kisah drama hubungan ayah dan anak yang menyentuh, Crazy Love adalah sebuah drama romantis yang mencoba untuk menggali hubungan persahabatan dan asmara yang terjalin antara karakter-karakternya yang masih berusia remaja. Terdengar klise? Memang. Dan sayangnya, presentasi klise itulah yang dapat dirasakan disepanjang durasi penceritaan Crazy Love, mulai dari alur cerita, dialog hingga penampilan para jajaran pemerannya – sebuah kualitas yang kemudian membuat Crazy Love terasa berjalan begitu monoton dan bertele-tele dalam menyampaikan jalan ceritanya.

Crazy Love sendiri dibuka dengan gambaran kenakalan khas remaja yang dilakukan oleh Kumbang (Adipati Dolken) bersama dengan ketiga sahabatnya, Abdu (Kemal Palevi), Daniel (Herichan) dan Basuki (Zidni Adam), termasuk dengan menggoda Olive (Tatjana Saphira) yang semenjak lama memang telah menjadi incaran keempat pemuda tersebut. Tahu bahwa Olive akan mampu menarik perhatian Kumbang, sang kepala sekolah (Ray Sahetapy) secara diam-diam lantas menugaskan gadis cantik tersebut untuk menjadi pembimbing Kumbang dalam tugas-tugas akademisnya. Melihat berbagai tingkah yang tidak menyenangkan dari Kumbang, Olive jelas secara langsung menolak permintaan sang kepala sekolah. Namun, akibat desakan yang berulang kali, Olive lantas memutuskan untuk menerima tantangan tersebut.

Jelas bukanlah sebuah tugas yang mudah. Semenjak awal, Kumbang telah menunjukkan bahwa dirinya sama sekali tidak berminat untuk mendapatkan bimbingan akademis dari siapapun, termasuk Olive. Pun begitu, sama sepeti Olive yang kemudian memberikan kesempatan pada Kumbang, Kumbang lantas mencoba menerima kehadiran Olive untuk membantu pendidikannya. Secara perlahan, hubungan keduanya mulai berkembang… yang awalnya hanya sebagai dua sahabat yang saling membantu tugas akademis, menjadi sepasang muda-mudi yang saling menyukai satu sama lain – walaupun keduanya sama sekali tidak pernah menyatakan perasaan masing-masing. Kedekatan tanpa status itu kemudian justru berbalik menjadi suatu hal yang menyakitkan bagi Kumbang ketika suatu hari Olive menyatakan bahwa dirinya akan melanjutkan pendidikannya di Jerman seusai masa sekolah mereka.

Kelemahan utama dari Crazy Love jelas terletak pada penulisan naskah ceritanya. Cassandra Massardi dan Alim Sudio sepertinya hanya berusaha menggabungkan berbagai elemen kisah drama romansa remaja yang telah sering disajikan sebelumnya dalam film-film sejenis tanpa pernah mampu terlihat berhasil mengolahnya untuk dapat tampil sebagai sebuah kesatuan yang meyakinkan. Hal ini masih ditambah dengan kehadiran dialog-dialog romansa yang (maunya) romantis tapi seringkali berakhir dengan terdengar menggelikan, karakter-karakter yang gagal untuk tergali dengan baik serta banyaknya plot penceritaan yang tidak mampu untuk dikembangkan dengan baik – mulai dari alasan mengenai mengapa sang kepala sekolah harus begitu peduli dengan karakter Kumbang, bagian mengenai karakter Kumbang yang terus tidak dapat dipercayai telah berubah karakteristiknya hingga sajian ending cerita yang dangkal serta begitu terburu-buru untuk berusaha tampil manis.

Kualitas departemen akting Crazy Love sendiri sebenarnya tampil tidak terlalu buruk. Namun, sayangnya, chemistry yang seharusnya tampil kuat antara Adipati Dolken dengan Tatjana Saphira maupun dengan ketiga pemeran sahabatnya sama sekali tidak pernah terlihat meyakinkan hingga film ini berakhir. Hanya duet Harry de Fretes dan Ira Wibowo-lah yang berhasil tampil komikal dan begitu menghibur dalam mengeksekusi elemen komedi dalam jalan cerita Crazy Love. Dari sisi teknikal, Crazy Love juga tidak mengecewakan. Gambar-gambar hasil arahan Enggar Budiono mampu tampil begitu indah dan beriringan dalam mengisi sisi emosional cerita bersama dengan tata musik arahan Joseph S. Djafar – meskipun kadang terdengar berlebihan di beberapa bagian.

Jika saja naskah arahan Cassandra Massardi dan Alim Sudio dapat tampil lebih rapi dalam menyajikan plot penceritaan, dialog serta karakter-karakter yang dihadirkan, mungkin Crazy Love mampu bekerja dengan baik dalam menghantarkan kisah drama romansa remaja yang dikandungnya. Sayangnya, kedangkalan yang dapat dirasakan dari berbagai elemen penceritaan tersebut seringkali membuat Crazy Love terasa hampa dan datar daripada mampu untuk membuat penontonnya dapat merasakan berbagai sisi emosional yang berusaha untuk dihantarkan oleh penceritaan film ini. Pengarahan yang kurang begitu kuat dari Guntur Soeharjanto atas alur cerita serta penampilan para jajaran pengisi departemen akting film ini juga semakin membuat Crazy Love terlihat semakin lemah dalam penampilannya. Bukan sebuah presentasi akhir yang cukup memuaskan.

popcornpopcornpopcorn3popcorn2popcorn2

Crazy Love (Maxima Pictures, 2013)
Crazy Love (Maxima Pictures, 2013)

Crazy Love (2013)

Directed by Guntur Soeharjanto Produced by Ody Mulya Hidayat Written by Cassandra Massardi, Alim Sudio Starring Adipati Dolken, Tatjana Saphira, Kemal Palevi, Zidni Adam, Herichan, Una Putri, Judika, Ray Sahetapy, Ira Wibowo, Harry de Fretes, Alena Wu, Anna Tarigan Music by Joseph S Djafar Cinematography Enggar Budiono Studio Maxima Pictures Running time 83 minutes Country Indonesia Language Indonesian

Advertisements

3 thoughts on “Review: Crazy Love (2013)”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s