Review: Killing Season (2013)


killing-season-header

Jika saja Killing Season dirilis sekitar dua dekade lalu, keberadaan nama Robert De Niro dan John Travolta pada jajaran pengisi departemen akting jelas akan mampu menarik perhatian begitu banyak orang. Sayangnya, dengan berbagai pilihan film berkualitas kurang mengesankan – jika tidak ingin menyebut beberapa film tersebut sebagai film-film yang berkualitas buruk – yang dilakoni oleh De Niro dan Travolta belakangan ini, keberadaan nama keduanya justru memberikan begitu banyak pertanyaan pada kualitas Killing Season secara keseluruhan. Well… sejujurnya, Killing Season sama sekali bukanlah sebuah presentasi yang benar-benar buruk. Kualitas ceritanya memang acapkali terasa dangkal akibat repetisi konflik yang terus terjadi di sepanjang film. Namun penampilan prima De Niro dan Travolta tetap mampu menjadikan Killing Season sebagai sebuah sajian yang cukup memuaskan terlepas dari berbagai kelemahannya.

Diarahkan oleh Mark Steven Johnson (When in Rome, 2010) berdasarkan naskah cerita yang ditulis oleh Evan Daugherty (Snow White and the Huntsman, 2012), Killing Season berfokus pada karakter Benjamin Ford (Robert De Niro), seorang mantan anggota pasukan tentara Amerika Serikat yang pernah terlibat Perang Bosnia namun sekarang memilih untuk menghabiskan masa tuanya dengan mengasingkan diri ke tengah-tengah hutan belantara. Pilihan untuk menyendiri itu sendiri ia ambil untuk melupakan trauma yang ia alami atas berbagai hal yang terjadi pada dirinya selama menjadi anggota pasukan peperangan – meskipun puteranya, Chris Ford (Milo Ventimiglia), terus berusaha agar Ben mau kembali lagi berkumpul dengan keluarganya.

Suatu hari, ketika sedang dalam perjalanan menuju kota, Ben bertemu dengan seorang asing yang kemudian diketahui bernama Emil Kovac (John Travolta). Tidak tega membiarkan Emil berjalan sendirian di tengah hujan yang sedang turun dengan derasnya, Ben lalu menawarkan Emil untuk singgah ke rumahnya. Keesokan paginya, Ben dan Emil memutuskan untuk melakukan perburuan bersama. Namun, tidak lama setelah keduanya menginjak daerah perhutanan, Emil berubah sikap dan mulai memburu Ben dengan panahnya. Emil lalu mengungkapkan bahwa dirinya adalah salah seorang anggota pasukan pemberontak Bosnia yang ingin menuntut balas dendam terhadap Ben. Tidak tinggal diam, Ben mulai menyusun rencana dalam melakukan perlawanan sekaligus berusaha untuk mempertahankan nyawanya dari serangkaian serangan yang dilakukan Emil.

Permasalahan utama dari Killing Season jelas terletak dari lemahnya penulisan naskah cerita film ini. Mencoba untuk menggambarkan bagaimana dampak peperangan terhadap orang-orang yang pernah terlibat di dalamnya, Evan Daugherty terlihat terlalu berusaha keras agar naskah ceritanya terasa memiliki makna filosofis dengan memasukkan deretan dialog yang (maunya) terdengar puitis maupun bijaksana. Usaha tersebut, sayangnya, tidak didukung dengan plot maupun pembangunan konflik yang baik. Hasilnya, dialog-dialog yang terlontar dalam penceritaan Killing Season justru seringkali terasa klise dan jauh dari kesan meyakinkan. Daugherty juga seperti kekurangan ide mengenai bagaimana menyusun konflik yang ingin ia hadirkan. Skema cat and mouse yang ia terapkan pada perjalanan konflik kedua karakter utama mengalami repetisi berulangkali sehingga – meskipun diwarnai dengan adegan penuh kekerasan dan darah – tetap berakhir dengan warna yang monoton dan cenderung datar.

Terlepas dari lemahnya jalan cerita, Mark Steven Johnson beruntung masih memiliki Robert De Niro dan John Travolta pada barisan terdepan departemen aktingnya. Meskipun bukanlah penampilan paling prima yang dapat mereka tunjukkan, namun baik De Niro dan Travolta mampu menggali lebih dalam setiap sudut dialog yang diberikan kepada mereka sehingga setidaknya mampu membuat kedua karakter yang mereka perankan menjadi lebih tampil dengan penceritaan yang lebih baik. Dari sisi teknis Killing Season juga tampil hampir tanpa masalah. Sinematografi arahan Peter Menzies Jr. mampu menangkap kerasnya alam liar Pegunungan Appalachia dengan baik sedangkan iringan musik Christopher Young yang berbau country blues berhasil mengisi sisi emosional cerita yang terkadang terasa minim hadir di sepanjang presentasi film ini.

Tema peperangan yang ingin dipaparkan oleh Evan Daugherty dalam naskah cerita Killing Season sebenarnya memiliki potensi yang begitu kuat untuk dikembangkan menjadi sebuah thriller aksi politik yang mencekam. Sayangnya, kekurangan ide untuk mengembangkannya menjadi sebuah kesatuan cerita yang lebih kuat membuat Killing Season terasa terus berputar di titik yang sama tanpa pernah mampu untuk bergerak dengan lugas. Performa Robert De Niro dan John Travolta setidaknya masih membuat film ini layak untuk disaksikan. Selebihnya… Killing Season jelas hanya akan diingat sebagai sebuah film medioker lain dalam catatan filmografi kedua aktor utamanya.

popcornpopcornpopcorn popcorn2popcorn2

Killing Season (Millennium Films/Corsan/Nu Image Films/Promised Land Productions, 2013)
Killing Season (Millennium Films/Corsan/Nu Image Films/Promised Land Productions, 2013)

Killing Season (2013)

Directed by Mark Steven Johnson Produced by Paul Breuls, Ed Cathell III, Anthony Rhulen, John Thompson  Written by Evan Daugherty Starring Robert De Niro, John Travolta, Milo Ventimiglia, Elizabeth Olin, Diana Lyubenova, Kalin Sarmenov, Stefan Shterev Music by Christopher Young Cinematography Peter Menzies Jr Editing by Sean Albertson Studio Millennium Films/Corsan/Nu Image Films/Promised Land Productions Running time 91 minutes Country United States Language English

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s