Review: Leher Angsa (2013)


leher-angsa-header

Alenia Pictures kembali hadir dengan film terbarunya, Leher Angsa. Seperti halnya film-film yang sebelumnya telah dirilis oleh rumah produksi milik Ari Sihasale dan Nia Zulkarnaen tersebut, Leher Angsa masih menawarkan sebuah jalinan kisah yang dikendalikan oleh sudut pandang karakter anak-anak, pengisahan yang berusaha merangkum masalah sosial hingga lokasi penceritaan yang berada di wilayah yang masih jarang dieksplorasi oleh kebanyakan film-film Indonesia lainnya – yang kali ini membawa penontonnya ke wilayah kaki Gunung Rinjani di Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat. Sejujurnya, jika dibandingkan dengan tiga film hasil pengarahan Ari Sihasale sebelumnya; Tanah Air Beta (2010), Serdadu Kumbang (2011) dan Di Timur Matahari (2012), Leher Angsa terasa begitu sederhana, tidak tampil berlebihan dan mengalir dengan mudah – sebagian besar karena kualitas tata penulisan Musfar Yasin (Alangkah Lucunya (Negeri Ini), 2010). Namun, disaat yang bersamaan, naskah arahan Musfar berusaha memasukkan terlalu banyak karakter serta konflik yang akhirnya membuat Leher Angsa tidak pernah tampil fokus ataupun kuat dalam bercerita.

Leher Angsa sendiri berkisah mengenai Aswin (Bintang Panglima), seorang anak yang baru saja ditinggal pergi oleh ibunya (Tike Priyatnakusumah). Sang ayah sendiri, Pak Tampan (Lukman Sardi), sepertinya tidak terlalu lama menyimpan rasa dukanya. Beberapa bulan setelah masa berkabung atas meninggalnya sang istri usai, Pak Tampan lalu memilih menikah dengan wanita lain (Alexandra Gottardo). Jelas, keputusan tersebut membuat Aswin menjadi semakin membenci ayahnya – yang semenjak lama tidak begitu disukainya akibat kegemaran sang ayah untuk berjudi sabung ayam. Meskipun begitu, hubungan antara Aswin dan ibu barunya justru berjalan lebih lancar dengan sang ibu secara perlahan selalu berusaha untuk mengerti mengenai segala kebutuhan dan kelakuan anak tirinya.

Dalam pergaulannya sendiri di sekolah, Aswin berteman akrab dengan tiga orang anak laki-laki lainnya yang masing-masing memiliki sifat yang berbeda; Sapar (Yudi Miftahudin), Najib (Fachri Azhari) dan Johan (Agus Prasetyo). Oleh guru mereka, Pak Haerul (Teuku Rifnu Wikana), suatu hari, Aswin bersama teman-teman sekelasnya mendapatkan pelajaran mengenai sistem pembuangan kotoran manusia yang masih sangat jarang digunakan di desa mereka. Sistem yang akrab dikenal dengan istilah leher angsa tersebut baru hanya digunakan oleh sang kepala desa (Ringgo Agus Rahman) dengan warga desa lainnya lebih memilih untuk melakukan pembuangan hajat mereka di sungai yang mengalir melalui desa tersebut. Sayang, sang kepala desa justru menolak permintaan Pak Haerul untuk menunjukkan kepada para siswanya mengenai bagaimana bentuk sistem pembuangan leher angsa tersebut yang membuat Aswin dan teman-temannya menjadi begitu penasaran.

First of all… pujian jelas layak disematkan kepada Ari Sihasale yang mampu mengumpulkan talenta-talenta kuat untuk mengisi departeman akting dalam filmnya. Leher Angsa tidak hanya diisi oleh nama-nama aktor dewasa yang telah dipastikan kemampuan aktingnya – Lukman Sardi yang selalu dapat diandalkan, Alexandra Gottardo yang mempesona, Ringgo Agus Rahman yang semakin mampu hadir dengan performa komikal yang kuat serta Teuku Rifnu Wikana yang… well… hadir sebagai sosok guru yang penuh dengan kelembutan dan tampil begitu meyakinkan – namun Ari Sihasale juga berhasil mengarahkan para pemeran mudanya dengan begitu baik. Bintang Panglima – the real star of the movie!, Yudi Miftahudin, Fachri Azhari dan Agus Prasetyo hadir dengan chemistry yang begitu erat satu sama lain serta hampir tidak pernah terlihat gugup ketika berhadapan dengan kamera. Seperti halnya film-film Alenia Pictures lainnya, Leher Angsa juga dilengkapi dengan kualitas tata gambar alam sekitar yang begitu mempesona yang kali ini disajikan oleh Samuel Uneputty yang mampu menangkap keindahan sekitar alam kaki Gunung Rinjani dengan begitu kuat.

And then there’s the script. Leher Angsa adalah sebuah karya yang cukup aneh untuk dideskripsikan. Misi utama film ini, jika ingin menilai dari judul filmnya, jelas adalah untuk menyajikan jalan cerita mengenai bagaimana sistem sanitasi yang bagi masyarakat modern kebanyakan dipandang sebagai sebuah hal yang sederhana, merupakan sebuah sistem yang asing dan begitu mewah bagi lebih banyak kelompok masyarakat lainnya. Sederhana. Namun, dalam perjalanannya, Musfar Yasin menyajikan begitu banyak anak cerita yang berputar dari satu karakter ke karakter lainnya dan kemudian seakan menenggelamkan kisah utama yang sebenarnya ingin dihadirkan ke permukaan penceritaan Leher Angsa. Let’s see… ada masalah kecanduan karakter Pak Tampan dengan judi sabung ayam, kematian karakter ibu Aswin, pernikahan ulang karakter Pak Tampan, hubungan antara karakter Pak Tampan dengan Aswin, permasalahan dengan sistem pembuangan leher angsa, masalah antara karakter Pak Haerul dan murid-muridnya dengan karakter sang kepala desa, permusuhan antara karakter Pak Tampan dengan karakter sang kepala desa, hubungan antara karakter Sapar, Najib dan Johan dengan karakter ayah mereka, masalah para warga desa yang memilih cara tradisional dalam membuang hajat mereka hingga penderitaan beberapa karakter dalam menghadapi penyakit… bisul. Yep! Musfar Yasin memadatkan problema-problema tersebut ke dalam jalan penceritaan Leher Angsa yang berjalan sepanjang 116 menit. Phew.

Sebagai seorang sutradara sendiri, khususnya jika dibandingkan dengan beberapa film yang telah ia arahkan sebelumnya, Ari Sihasale mampu menghadirkan Leher Angsa dengan ritme penceritaan yang cukup mengalir. Pun begitu, dengan jalan cerita yang sama sekali tidak memiliki fokus penceritaan khusus yang jelas, sulit untuk merasa benar-benar terkoneksi dengan Leher Angsa. Beberapa tampilan efek visual yang dihadirkan film ini masih terlihat begitu kasar – dan sejujurnya, dapat dengan mudah dihilangkan karena esensi ceritanya yang tidak begitu kuat keberadaannya. Beruntung, Musfar Yasin masih mampu menyelipkan beberapa adegan komikal yang kemudian berhasil dieksekusi dengan baik oleh Ari Sihasale sehingga Leher Angsa beberapa kali dapat tampil menghibur. Jika tidak… mungkin Leher Angsa akan berakhir sebagai sebuah film panjang yang benar-benar datar dan mengganggu.

Adalah cukup dapat dimengerti jika Ari Sihasale dan Musfar Yasin ingin menghadirkan sebuah penceritaan yang berwawasan dari sebuah topik pembahasan yang mungkin diangkap sepele atau malah terlalu kotor oleh kebanyakan orang. Namun, dalam presentasinya, penceritaan Musfar Yasin justru hadir dengan penyampaian yang terlalu melebar dengan kehadiran terlalu banyak konflik yang ingin diceritakan serta terlalu banyak karakter yang ingin dihadirkan. Hasilnya, tak satupun dari konflik tersebut mampu dikembangkan dengan lugas dan berakhir dengan kegagalan jalan cerita Leher Angsa untuk tampil kuat dalam penceritaannya. Terlepas dari gagasan yang berani, penampilan departemen akting yang begitu kuat serta tampilan tata sinematografi akan alam kaki Gunung Rinjani yang membuai, sulit untuk merasakan Leher Angsa sebagai sebuah sajian yang istimewa akibat penataan ceritanya yang dapat dikatakan terlalu berantakan untuk dapat dinikmati dengan baik.

popcornpopcorn popcorn3 popcorn2popcorn2

Leher Angsa (Alenia Pictures, 2013)
Leher Angsa (Alenia Pictures, 2013)

Leher Angsa (2013)

Directed by Ari Sihasale Produced by Ari Sihasale Written by Musfar Yasin Starring Lukman Sardi, Alexandra Gottardo, Ringgo Agus Rahman, Teuku Rifnu Wikana, Tike Priyatnakusumah, Bintang Panglima, Yudi Miftahudin, Fachri Azhari, Agus Prasetyo, Gery Puraatmadja, Tengku Ryo, Suryadi Music by Aghi Narottama, Bemby Gusti Cinematography Samuel Uneputty Editing by Robby Barus Studio Alenia Pictures Running time 116 minutes Country Indonesia Language Indonesian

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s