Review: Cosmopolis (2012)


Setelah Bel Ami, Robert Pattinson membintangi sebuah film lain yang sama-sama diadaptasi dari sebuah novel dan sama-sama memfokuskan jalan ceritanya pada tema seks, uang dan politik – walaupun kali ini, uang dan politik akan menjadi unsur cerita yang lebih dominan sekaligus memperumit alur pengisahan film. Cosmopolis, yang diadaptasi dari novel berjudul sama karya Don DeLillo, juga menandai kali pertama sutradara David Cronenberg menyutradarai film yang naskah ceritanya juga ditulis oleh dirinya sendiri semenjak eXistenZ di tahun 1999 yang lalu – hal yang mungkin menjelaskan mengapa Cosmopolis dapat tampil begitu rumit, kompleks serta memusingkan namun secara perlahan juga mampu untuk tampil memikat dan penuh dengan refleksi terhadap kehidupan manusia modern di saat ini.

Cosmopolis berkisah mengenai satu hari dalam kehidupan miliuner muda, Eric Packer (Pattinson), yang baru saja menikah. Di hari tersebut, Eric merasa bahwa ia butuh untuk memangkas rambutnya – dan harus dilakukan oleh tukang pangkas langganannya semenjak kecil yang berada di pinggiran kota Manhattan, New York, Amerika Serikat. Walaupun telah diingatkan oleh pengawal pribadinya, Torval (Kevin Durand), bahwa Presiden Amerika Serikat sedang berkunjung ke kota tersebut sehingga menimbulkan kemacetan yang sangat panjang, Eric bersikeras bahwa dirinya harus segera memangkas rambutnya. Akhirnya, dengan ditemani oleh pasukan pengamannya serta menggunakan limusin-nya yang canggih, Eric memulai perjalanannya menuju pinggiran kota Manhattan.

Perjalanan yang panjang dan lama tersebut ternyata akan mempertemukan Eric dengan banyak karakter yang secara perlahan akan mengubah hidupnya. Ia bertemu dengan wanita yang baru ia nikahi, Elise Shifrin (Sarah Gadon), yang terus menolak memenuhi hasrat seksual Eric. Konsekuensinya, dalam perjalanan tersebut, Eric kemudian berselingkuh dengan dua orang wanita. Eric juga bertemu dengan seorang dokter, Dr Ingram (Bob Bainborough), yang menyatakan bahwa prostat Eric berbentuk asimetris serta bertemu dengan penasehat bisnisnya, Vija Kinsky (Samantha Morton), yang memberitahunya bahwa bisnisnya sedang bermasalah. Dalam perjalanan tersebut, Eric juga mengetahui bahwa usahanya mengalami kerugian yang besar akibat investasi yang salah. Namun, tidak ada yang begitu mampu mengganggu jalan pemikirannya selain ketika pengawal pribadinya memberitahu bahwa Eric sedang berada di bawah ancaman pembunuhan oleh seorang asing.

Jelas adalah cukup sulit untuk menjalin ikatan emosional terhadap karakter Eric Packer maupun karakter-karakter lain yang ada di dalam jalan cerita Cosmopolis. Di sepanjang penceritaan film ini, karakter Eric Packer tidak pernah digambarkan mampu memikirkan hal lain selain mengenai dirinya sendiri: kenyamanan dirinya, keamanan dirinya, hasrat seksual dirinya hingga keuntungan finansial yang ia miliki. Dingin, tidak berjiwa dan begitu datar. Pun begitu, perjalanan yang ia lakukan serta orang-orang yang ia temui secara perlahan mulai mengubah karakter Eric – yang sekaligus mulai membuat penonton akhirnya mulai merasa peduli akan perjalanan yang ia lakukan tersebut. Di satu titik, karakter Eric Packer bahkan mampu menunjukkan rasa kesedihannya yang mendalam akibat kematian salah satu karakter yang begitu ia kagumi.

Penggambaran mengenai perjalanan satu sosok karakter yang awalnya ‘tidak memiliki jiwa’ dan kemudian mulai mampu memperhatikan alam di sekelilingnya ini mampu dieksekusi dengan baik oleh David Cronenberg. Selain dengan mengarahkan penampilan akting para jajaran pemerannya, Cronenberg juga mampu mengalirkan deretan dialog yang mencerminkan perubahan komposisi jiwa tersebut. Di awal cerita, karakter-karakter dalam jalan cerita Cosmopolis berdialog dengan deretan kalimat yang datar dan tanpa emosi seperti layaknya para robot. Seiring dengan perjalanan cerita, dialog-dialog tersebut mulai berubah menjadi dialog yang lebih humanis – walaupun tetap berisi deretan kalimat bernuansa filosofis yang rasanya akan jarang didengar dalam kehidupan sehari-hari. Jalan cerita yang sepertinya ingin merefleksikan kehidupan modern manusia saat ini – yang dipenuhi dengan tema ekonomi, korupsi, kejahatan, anti-sosial hingga kapitalisme – juga mampu dikemas Cronenberg secara apik dalam deretan dialognya. Jelas bukanlah tugas yang mudah, namun Cronenberg mampu melakukannya dengan baik.

Berada di barisan terdepan jajaran pemeran film, Robert Pattinson secara meyakinkan mampu menghidupkan karakter Eric Packer yang ia perankan dengan baik – bahkan mungkin akan menjadi penampilan terbaik di sepanjang perjalanan karirnya hingga saat ini. Kehadiran Pattinson mampu membuat karakter Eric Packer menjadi sosok yang begitu dingin dan seolah tidak peduli dengan apapun yang ada disekitarnya namun sekaligus dapat dirasakan sebagai sesosok karakter yang begitu sensitif serta sebenarnya dipenuhi dengan berbagai kekhawatiran mengenai kehidupannya.

Penampilan Pattinson juga didukung oleh penampilan kuat dari pengisi departemen akting lainnya. Mulai dari Juliette Binoche, Mathieu Amalric, Sarah Gadon, Kevin Durand, Samantha Morton hingga Patricia McKenzie. Puncaknya adalah penampilan Paul Giamatti yang karakternya saling berhadapan dengan karakter yang diperankan oleh Pattinson dan keduanya mampu membentuk sebuah jalinan hubungan yang begitu kontradiktif antara satu dengan yang lain namun tetap berhasil saling mengisi dengan kuat. Tata produksi Cosmopolis juga mampu hadir dengan kualitas prima. Salah satu yang begitu menonjol adalah kualitas tata musik arahan Howard Shore dan band indie rock asal Kanada, Metric, yang sebelumnya pernah bekerjasama pada album soundtrack film The Twilight Saga: Eclipse (2010). Shore dan Metric merancang begitu banyak tatanan musik elektronik yang menarik di sepanjang film dan membantu Cosmopolis tampil dengan jiwa penceritaan yang lebih kuat.

Cosmopolis harus diakui bukanlah sebuah film yang dapat dicerna dengan mudah – khususnya oleh mereka yang kurang begitu dapat menikmati film-film yang sangat mengandalkan keberadaan dialog antar karakter untuk menyampaikan deretan konflik ceritanya. Yang juga membuat Cosmopolis tak mudah untuk dinikmati adalah dinginnya penggambaran David Cronenberg terhadap setiap karakter yang hadir di dalam jalan cerita. Namun, disitulah letak keunikan dan keberhasilan Cronenberg sebenarnya. Karakter dan dialog yang dingin serta datar secara perlahan mulai mencair seiring berjalannya durasi film sembari tetap menghantarkan berbagai pandangan mengenai kehidupan yang begitu mendalam. Pengarahan David Cronenberg yang kuat terhadap alur cerita penuh intrik yang ingin ia sampaikan serta penampilan para pemeran filmnya mampu menghindarkan Cosmopolis menjadi sebuah film yang dipenuhi dengan banyak dialog namun kosong dalam penyampaiannya. Sebuah film yang berjalan lamban namun secara perlahan akan mampu menangkap perhatian serta merasuk ke jiwa setiap penontonnya. Cerdas!

Cosmopolis (Alfama Films/Prospero Pictures/Kinology/France 2 Cinéma/Talandracas/Téléfilm Canada/Leopardo Filmes/Canal+/Rai Cinema/Radiotelevisão Portuguesa, 2012)

Cosmopolis (2012)

Directed by David Cronenberg Produced by Paulo Branco, Martin Katz Written by David Cronenberg (screenplay), Don DeLillo (novel, Cosmopolis) Starring Robert Pattinson, Jay Baruchel, Paul Giamatti, Kevin Durand, Juliette Binoche, Samantha Morton, Sarah Gadon, Mathieu Amalric, K’naan, Emily Hampshire, Patricia McKenzie, Abdul Ayoola, Bob Bainborough Music by Howard Shore, Metric Cinematography Peter Suschitzky Editing by Ronald Sanders Studio Alfama Films/Prospero Pictures/Kinology/France 2 Cinéma/Talandracas/Téléfilm Canada/Leopardo Filmes/Canal+/Rai Cinema/Radiotelevisão Portuguesa Running time 109 minutes Country France, Canada, Portugal, Italy Language English

4 thoughts on “Review: Cosmopolis (2012)”

  1. Terima kasih buat reviewnya. CERDAS BANGET!!!! Btw nonton dimana? Di bioskop belum tayang walau sdh masuk Lolos sensor Dan DVD nya baru di UK yg release tgl 12 nop

  2. Movie should be fun and relaxing IMO….
    Film ini sedikit berat…. Saya matiin di menit ke 20 karna mengantuk..😀
    Salut buat bang Amir….bisa menikmati every single movie genre yg tentu gak semua org bisa.

  3. ripiu yg keren Bang Amir, Robert Pattinson bener2 bisa lepas dr Edward Cullen, dia bisa sangat serius dan dingin di film ini. beda jauh karakter/sifat asli Robert yg ceplas-ceplos kalo diwawancara..bahkan dia cenderung jadi “bad boy”. adegan paling keren pada saat mau ketemu Benno waktu dia jalan dilorong sambil pegang pistol .. keren banget lah..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s