Review: Optatissimus (2013)


Optatissimus-header

Dengan naskah cerita yang ditulis oleh Dirmawan Hatta (The Mirror Never Lies (Laut Bercermin), 2011) berdasarkan inspirasi dari pengalaman hidup pendiri Sinode Gereja Bethany Indonesia, Abraham Alex Tanuseputra, Optatissimus berkisah mengenai seorang pria bernama Andreas (Rio Dewanto), yang meskipun bukanlah seorang ateis alias sama sekali tidak mempercayai keberadaan Tuhan, namun juga bukanlah sosok yang relijius dan berminat terhadap berbagai kegiatan keagamaan. Kehidupan pribadi Andreas sendiri saat ini sedang dirundung berbagai permasalahan: ia hampir saja diberhentikan dari pekerjaannya sebagai seorang penjual mobil akibat gagal memenuhi target yang ditetapkan perusahaan, kondisi finansial rumah tangganya yang berada dalam masa krisis serta hubungannya dengan sang istri, Yunita (Nadhira Suryadi), yang terus diwarnai konflik berkepanjangan.

Yunita seringkali mengungkapkan kepada Andreas bahwa berbagai masalah yang saat ini dihadapi Andreas adalah sebuah ujian yang diberikan Tuhan kepadanya – sebuah pernyataan yang jelas kemudian ditertawakan begitu saja oleh Andreas. Suatu hari, setelah secara mengejutkan mampu menjual sebelas mobil sekaligus, Andreas kemudian menebus mobil milik Yunita yang sebelumnya telah ia gadaikan. Dalam perjalanan pulang, semua kebahagiaan tersebut menghilang begitu saja setelah ia secara tidak sengaja menabrak seorang pria dan hampir membunuhnya. Kalut, Andreas lalu melarikan diri ke sebuah gereja yang dijaga oleh Piet (Landung Simatupang). Malam itu, bersama dengan Piet, Andreas mencoba untuk mengunjungi berbagai fragmen kehidupan yang telah ia jalani sekaligus menganalisa kembali hubungan yang telah ia jalin selama ini dengan Tuhan.

Layaknya What They Don’t Talk About When They Talk About Love arahan Mouly Surya yang dirilis beberapa waktu yang lalu, Dirmawan Hatta menghadirkan jalan penceritaan Optatissimus – yang dapat diartikan sebagai hasrat, keinginan maupun do’a – tidaklah melalui alur pengisahan yang konvensional. Optatissimus sepertinya benar-benar dihadirkan untuk menjadi sebuah perjalanan spiritual, tidak hanya bagi karakter utamanya, namun juga bagi setiap penonton film ini – lengkap dengan penyajian berbagai metafora yang hadir melalui pemilihan gambar maupun adegan di sepanjang film serta deretan dialog nan puitis yang diutarakan setiap karakternya. Indah dan cukup menghanyutkan, meskipun akan memberikan cukup banyak rintangan bagi kebanyakan penonton untuk benar-benar mampu menyerap ataupun menganalisa apa sebenarnya pesan yang ingin disampaikan oleh Dirmawan Hatta melalui film ini.

Namun, terlepas dari penggunaan metafora maupun dialog yang begitu puitis, tantangan terbesar dalam menikmati Optatissimus adalah ketika Dirmawan Hatta memilih untuk menyajikan linimasa cerita filmnya secara acak. Kehadiran adegan-adegan yang berisikan kisah masa lalu sang karakter utama dalam jalan cerita Optatissimus sendiri  jelas tampil untuk memberikan penekanan bagaimana sang karakter utama mengalami perubahan sikap sekaligus perubahan jalan pemikiran mengenai kehidupan serta cara pandang spiritualnya. Efektif. Namun Dirmawan terkesan terlalu menghadirkan kejadian-kejadian masa lampau tersebut dalam matriks yang terlalu acak sehingga kadang membingungkan dan, yang paling fatal, mencegah penonton untuk dapat menjalin hubungan emosional yang lebih mendalam kepada karakter-karakter yang ada di dalam jalan cerita film ini.

Optatissimus sendiri didukung dengan jajaran pengisi departemen akting yang cukup mampu menghidupkan setiap karakter yang mereka perankan. Rio Dewanto sekali lagi membuktikan bahwa meskipun dirinya bukanlah salah satu aktor Indonesia dengan kemampuan akting terdalam namun memiliki kecerdasan untuk memilih karakter-karakter yang bervariasi untuk ia perankan. Sebagai Andreas, Rio mampu menjadikan karakter tersebut benar-benar terasa kehilangan arah dalam kehidupannya. Chemistry yang ia bentuk bersama Nadhira Suryadi dan Landung Simatupang – yang keduanya juga tampil dengan sangat apik – serta dukungan peran dari Gunawan Matyanto dan Rosa Rosadi juga membuat departemen akting Optatissimus semakin kuat.

Membingungkan? Tidak juga. Dirmawan Hatta sepertinya memang memiliki caranya tersendiri untuk menampilkan sebuah perjalanan spiritual, entah itu melalui tampilan gambar yang indah, dialog yang puitis atau tampilan adegan dengan linimasa penceritaan yang teracak. Namun terlepas dari jalan penceritaan yang tidak konvensional tersebut – yang kadang membuat deretan karakter di film ini terkesan hadir dengan sisi emosional yang begitu monoton, Dirmawan mampu merancang Optatissimus menjadi benar-benar sebuah perjalanan spiritual yang tidak hanya menyentuh, namun juga terasa kuat dalam bercerita. Sebuah pilihan cara bercerita yang berbeda dan cukup berani sekaligus membuktikan bahwa Dirmawan Hatta memiliki kemampuan pengarahan yang sangat menjanjikan di masa yang akan datang.

popcornpopcornpopcornpopcorn2popcorn2

Optatissimus (Flix Pictures, 2013)
Optatissimus (Flix Pictures, 2013)

Optatissimus (2013)

Directed by Dirmawan Hatta Produced by Heru Winanto Written by Dirmawan Hatta Starring Rio Dewanto, Nadhira Suryadi, Landung Simatupang, Gunawan Maryanto, Rosa Rosadi, Risky Summerbee Music by Rizky Sasono Cinematography Joseph Fofid Editing by Andhy Pulung Studio Flix Pictures Running time 108 minutes Country Indonesia Language Indonesian

Advertisements

3 thoughts on “Review: Optatissimus (2013)”

  1. ada gaungnya kok, cuma mungkin anda tidak mengikuti secara detail film indonesia yg akan tayang.
    Kapan LAURA DAN MARSHA serta SANG KIAI.

    1. Harus diakui sih memang ‘Optatissimus’ muncul (dan menghilang) secara tiba-tiba. Tanpa promosi yang lugas layaknya kebanyakan film Indonesia lain.

      Sedang mengusahakan menulis ‘Sang Kiai’ dan ‘Laura & Marsha’ sesegera mungkin nih, Mas. Maaf banget karena lama. Harus bisa nyisain waktu untuk nulis karena aktivitas kantor yang sedikit lebih sibuk akhir-akhir ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s