Review: What They Don’t Talk About When They Talk About Love (2013)


don't-talk-love-header

Bagaimana sesungguhnya rasa cinta itu bermula? Dari ketertarikan pandangan terhadap rupa seseorang? Deretan dialog puitis yang terdengar begitu romantis di telinga? Atau dari kemampuan mulut untuk mengolah dan memadukan kata yang ingin didengarkan oleh seseorang? Bagaimana jika mata, mulut atau telinga tidak lagi dapat berfungsi dengan sempurna untuk menghantarkan berbagai sensasi perasaan tersebut? Apakah manusia tetap mampu merasakan indahnya jatuh cinta? Problematika inilah yang ingin dijabarkan oleh Mouly Surya dalam film terbarunya, What They Don’t Talk About When They Talk About Love. Di tangan kebanyakan sutradara, premis tersebut mungkin akan berakhir sebagai sebuah kisah romansa yang manis atau menyentuh atau justru melelahkan – seperti kebanyakan kisah romansa yang hadir di industri film Indonesia belakangan ini. Namun Mouly Surya jelas bukanlah “kebanyakan sutradara”. Dengan pendekatan yang berani dan jauh dari kesan biasa – serta akan memberikan banyak ruang kepada setiap penonton untuk menginterpretasikan jalan cerita film ini, Mouly berhasil menyajikan sebuah presentasi yang tidak hanya sekedar manis atau menyentuh, namun juga kembali membuktikan bahwa dirinya adalah seorang sutradara dengan visi  dan kemampuan bercerita yang begitu brilian.

What They Don’t Talk About When They Talk About Love mengikuti perjalanan tiga karakter utamanya – yang sama-sama memiliki disabilitas fisik dan bersekolah di sebuah sekolah luar biasa yang terletak di wilayah Jakarta – dalam mengenal sebuah sensasi kehidupan yang bernama jatuh cinta.  Karakter pertama, Diana (Karina Salim), memiliki kelainan refraksi yang membuatnya hanya dapat melihat sebuah objek dalam jarak yang sangat dekat. Diana, yang baru saja mendapatkan masa menstruasi pertamanya, semenjak lama telah jatuh hati dengan teman sekelasnya, Andhika (Anggun Priambodo), namun sama sekali tidak memiliki keberanian untuk menyatakan perasaannya.

Berbeda dengan Diana, sahabatnya Fitri (Ayushita Nugraha) yang mengalami kebutaan semenjak lahir, justru telah lama mengenal (atau merasa mengenal) seluk beluk cinta – bahkan aktif secara seksual untuk membuktikan rasa cintanya tersebut terhadap sang kekasih, Lukman (Khiva Iskak). Namun, obsesi Fitri terhadap kisah-kisah berbau supranatural-lah yang kemudian mengenalkan gadis tersebut pada Edo (Nicholas Saputra) – seorang pemuda bisu anak penjaga warung jajanan sekolah, Bu Rusli (Jajang C. Noer), yang dalam kesehariannya selalu hadir dalam dandanan punk, dan sekaligus membawanya pada sebuah petualangan cinta baru.

Ketika Anda berhasil menyingkirkan seluruh arthouse attitude yang disematkan Mouly Surya pada caranya dalam menyampaikan alur kisah yang memiliki judul Yang Tidak Dibicarakan Ketika Membicarakan Cinta sebagai judul Indonesia-nya ini, maka penonton akan depat dengan mudah menemukan sebuah jalinan kisah romansa remaja yang sebenarnya begitu sederhana. Di tangan Mouly, kisah yang sederhana itu sendiri bukanlah menjadi sebuah presentasi cerita yang usah. Dengan jeli, Mouly berhasil membangun deretan karakter yang terbangun dengan rapi, memiliki ikatan kisah yang kuat antara satu dengan yang lain serta tatanan cerita beratmosfer black comedy yang begitu kental dan sangat menghibur – sekaligus menjauh dari usaha untuk menghasilkan sebuah sajian kisah klise yang dipaksa untuk tampil mengharu biru bagi penontonnya seperti yang mungkin akan dilakukan oleh kebanyakan sutradara drama romansa Indonesia.

Perlakuan humanis Mouly dalam mengeksplorasi berbagai sudut penceritaan dalam filmnya juga menjadi komponen yang sangat penting mengapa What They Don’t Talk About When They Talk About Love mampu tampil begitu menyentuh. Mouly memperlakukan setiap karakternya yang memiliki disabilitas fisik tersebut layaknya karakter biasa. Lewat filmnya, Mouly justru lebih berfokus tentang bagaimana para karakter tersebut mencoba mengenal dan mendalami arti cinta. Memang, cara Mouly memperlakukan jalan cerita filmnya – dengan detil yang luar biasa terjaga serta ritme penceritaan yang berjalan begitu sederhana plus sebuah adegan alternate universe yang cukup mengejutkan, mungkin akan menyebabkan banyak orang merasa bahwa What They Don’t Talk About When They Talk About Love bukanlah sebuah film yang dapat dinikmati khalayak luas. Namun, sekali lagi, begitu penonton telah mampu melupakan rumitnya usaha Mouly dalam menghadirkan jalan cerita yang (sebenarnya sangat) sederhana tersebut, penonton dipastikan akan dapat tertawa, tersentuh sekaligus terbawa memorinya ke masa-masa remaja dimana mereka sempat terbuai dengan setiap jalinan kata mutiara bernuansa romansa yang dialamatkan pada mereka. Magis!

Layaknya kualitas yang ia hadirkan dalam Fiksi (2008) – yang berhasil memenangkan empat penghargaan Festival Film Indonesia 2008 termasuk Film Terbaik serta Sutradara Terbaik, Mouly juga menghadirkan kualitas akting dan produksi yang begitu menawan dalam What They Don’t Talk About When They Talk About Love. Ketiga pemeran utama, Karina Salim, Ayushita Nugraha dan Nicholas Saputra, tampil dengan penghayatan karakter yang benar-benar nyata. Tidak akan ada satu detikpun dalam penampilan ketiganya penonton akan diberikan kesempatan untuk meragukan bahwa karakter yang mereka perankan adalah karakter-karakter dengan disabilitas fisik yang membatasi ruang gerak mereka. Flawless. Dukungan penampilan dari para pemeran pendukung seperti Anggun Priambodo, Lupita Jennifer, Tutie Kirana sampai Jajang C. Noer juga semakin menambah apik kualitas departemen akting film ini.

Sementara itu, dari departemen produksi, Mouly kembali bekerjasama dengan tim yang dahulu sukses menelurkan Fiksi dan kembali mengulanginya – bahkan pada beberapa bagian tampil lebih baik – dalam What They Don’t Talk About When They Talk About Love. Penataan kamera dari Yunus Pasolang mampu menghadirkan deretan gambar yang tidak hanya terlihat indah atau elegan, namun mampu berbicara banyak tentang detil emosi yang dibutuhkan jalan cerita film ini. Kualitas yang sama briliannya juga hadir dari tata musik arahan Zeke Khaseli dan Yudhi Arfani. Pada banyak bagian, tata musik arahan keduanya mampu tampil sangat playful dan menciptakan atmosfer cerita yang begitu menyenangkan untuk diikuti. Desain produksi film ini juga mampu tampil sederhana namun begitu meyakinkan dalam menyokong jalan penceritaan.

Setelah apa yang dilakukannya lewat debut filmnya Fiksi yang sangat brilian itu, jelas akan ada banyak pihak yang menantikan kinerja Mouly Surya dalam film keduanya – dengan pengharapan yang sangat tinggi, tentunya. Dan adalah sangat aman untuk menyatakan bahwa What They Don’t Talk About When They Talk About Love akan mampu memenuhi berbagai ekspektasi tinggi tersebut, bahkan melebihinya. Lewat naskah yang ia garap sendiri, Mouly Surya mampu menghadirkan sebuah tema penceritaan yang mungkin terkesan begitu sederhana dengan sudut pandang yang begitu segar, unik dan cerdas. Yang paling penting, Mouly memiliki visi yang kuat akan jalan cerita yang ingin ia hadirkan – baik dari presentasi gambar, suara maupun bagaimana para pemeran film ini menghidupkan karakter yang mereka perankan. Hal itulah yang membuat What They Don’t Talk About When They Talk About Love mampu berjalan begitu kelam sekaligus menghibur di saat yang sama. Sebuah presentasi yang sangat istimewa dari salah seorang sutradara tercerdas di Indonesia. Bravo!

popcornpopcornpopcornpopcorn popcorn2

What They Don't Talk About When They Talk About Love (Cinesurya Pictures/Amalina Pictures, 2013)
What They Don’t Talk About When They Talk About Love (Cinesurya Pictures/Amalina Pictures, 2013)

What They Don’t Talk About When They Talk About Love (Yang Tidak Dibicarakan Ketika Membicarakan Cinta) (2013)

Directed by Mouly Surya Produced by Parama Wirasmo, Tia Hasibuan, Fauzan Zidni, Ninin Musa Written by Mouly Surya Starring Nicholas Saputra, Ayushita Nugraha, Karina Salim, Anggun Priambodo, Lupita Jennifer, Jajang C Noer, Tutie Kirana, Khiva Iskak, Adella Fauzi, Alya Syahrani, Debbie Rivinandya, Anindya Krisna, Angkasa Ramadhan Music by Zeke Khaseli, Yudhi Arfani Cinematography Yunus Pasolang Editing by Kelvin Nugroho Studio Cinesurya Pictures/Amalina Pictures Running time 104 minutes Country Indonesia Language Indonesian

Advertisements

9 thoughts on “Review: What They Don’t Talk About When They Talk About Love (2013)”

  1. Jujur… Enggak semua orang akan menyukai film seperti ini.
    Waktu saya nonton, banyak penonton yang walk out di tengah-tengah film =(

    Padahal, jarang sekali film Indonesia mampu bertutur dengan bahasa gambar yang sederhana namun manis. Saya juga senyam-senyum sendiri ketika menontonnya. Memang, sih sepanjang film saya jadi berpikir untuk mengartikan apa yang mau disampaikan. Tetapi, saya tetap senyam-senyum sendiri melihat polah Diana ketika ia mencoba menarik perhatian Andika.
    Saya cuma agak sedikit enggak ngeh ketika adegan makam dan balet, yang ternyata adalah… yah, itu deh pokoknya… *biar gak spoiler

    Singkat kata, sebuah karya yang perlu diapresiasi dan muncul lebih banyak lagi dari sineas Indonesia.

  2. jujur sampai sekarang sy tidak pernah menonton film indonesia…. bukannya merendahkan tetapi tema yg dibawakan hanya seputar cinta dan itu itu aja.
    anyway semoga indonesia tetap jaya….

    1. Setuju, saya juga kurang suka sama film Indo yang bertemakan cinta, kok kayaknya gitu-gitu aja. Dan memang saya gak begitu suka film cinta-cintaan. Mau sebagus apapun film Indo yang bertemakan cinta, saya kurang suka aja karna emang selera mungkin ya, ngantuk kalo nonton film begituan hehe. Tapi kalo udah ada horor yang ‘real’ horor Indo tayang (bukan ecek-ecek), saya pasti harus kudu nonton, apalagi karya Bang Joko Anwar. Hihihi^^

      1. “Saya tidak pernah menonton film Indonesia…”
        Well, jika ada sineas Indonesia yang membaca kalimat ini pasti agak sakit hati.

        Sebenarnya, rasa skeptical dari bangsa sendirilah yang membuat perfilman kita tidak bisa berkembang dengan baik.
        Film Indonesia di bioskop justru sedang berkembang tema-nya. Ada Modus Anomali yg mind-fuck, The Raid dan Java Heat yang action dan bahkan beberapa yang kolosal. Jadi saya rasa tidak hanya itu-itu saja.
        Mengenai tema ‘cinta’… apakah anda sudah menonton film ini? Kalau belum, coba tonton dan komen apakah ini tmsk film ‘cinta itu2 saja’

        1. Maksud saya yang “gitu gitu” aja itu yang bertemakan cinta. Saya terakhir nonton film cinta Indonesia judulnya Mili dan Nathan. Bukan saya tidak pernah nonton film Indonesia, saya pernah, sering. Terakhir saya nonton Cinta Brontosaurus. Emang selera kali ya, saya emg orangnya suka ngantuk kalo menonton fim drama cinta seperti itu. Kan saya udah bilang, apalagi filmya Bang Joko Anwar, saya pasti nonton. Modus Anomali kan salah satu karyanya hehe. Saya tetap support film Indonesia kok, tidak menjelek-jelekan. Poinnya disini cuma “saya ngantuk kalo nonton film bertema drama cinta” hehe. Keep support film Indonesia kok saya juga^^

          1. Wah, maaf Mbak Niken. Sebenarnya saya mengacu ke komen yang paling atas dari Kesuma itu, bukannya komen Mbak Niken. Karena agak emosi baca komen yang paling atas, jadi salah klik tombol reply.
            Maaf ya, Mbak…

    2. Sebenarnya… Gimana yah… Kalau soal tema pembahasan dalam sebuah film, bukan hanya industri film Indonesia kok yang terus menerus hadir dengan tema penceritaan yang sama. Hollywood, Bollywood atau industri film negara lain juga pasti sering menghadirkan sebuah film dengan tema cerita yang seragam.

      Yang menjadi masalah khan bagaimana sang pembuat film mengolah film yang akan ia rilis. Hmmm… sederhananya, mungkin banyak orang yang dapat membuat nasi goreng. Tapi cuma sedikit khan yang bisa menghasilkan nasi goreng yang bisa berasa gurih dan buat ketagihan. Atau malah ada yang memvariasikan nasi gorengnya menjadi nasi goreng keju. Atau nasi goreng kornet. Lahhhh… jadi melantur ke pembicaraan tentang nasi goreng.

      Temanya mungkin berulang. Tapi cara merepresentasikan ke depan publik yang membuat sebuah film dapat terasa mengesankan bagi penontonnya. Jangan menyerah pada film Indonesia dong.

      1. Saya tidak menyerah sama film Indonesia bang Amir *nangis di pojokan*. Saya nonton film Indonesia juga kok, hanya saja saya pribadi kalo nonton film drama cinta begitu pasti ngantuk. Saya tetap support kok. Cuma bilang kalo saya tukang ngantuk hehe 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s