Review: Cloud Atlas (2012)


cloud-atlas-header

Diangkat dari novel berjudul sama karya David Mitchell, Cloud Atlas mengisahkan enam cerita yang berjalan pada enam era yang berbeda – tepatnya terjadi sepanjang hampir 500 tahun masa kehidupan karakter-karakternya, dimulai dari tahun 1849 hingga tahun 2321. Terdengar seperti premis film-film yang menawarkan banyak cerita kebanyakan? Mungkin saja. Namun oleh tiga sutradaranya, duo Lana dan Andy Wachowski (trilogi The Matrix, 1999 – 2003) serta Tom Tykwer (The International, 2009), premis tersebut mampu dikembangkan menjadi salah satu presentasi film paling ambisius selama beberapa tahun terakhir: digerakkan dengan gaya penceritaan interwoven, diperankan oleh deretan pengisi departemen akting yang sama serta dihadirkan dengan kualitas tata produksi yang begitu memukau. Dan yang lebih mengagumkan lagi, terlepas dari berbagai tampilan audio visualnya yang megah, Cloud Atlas tetap mampu menghadirkan sentuhan emosional yang kuat dari setiap sisi ceritanya.

Perjalanan mengarungi ruang dan waktu dalam Cloud Atlas dimulai dengan segmen pertama pada film ini, The Pacific Journal of Adam Ewing, yang berkisah mengenai pertemuan antara seorang pengacara bernama Adam Ewing (Jim Sturgess) dengan seorang budak berkulit hitam bernama Autua (David Gyasi) yang kemudian mengubah berbagai sisi kehidupan keduanya. Segmen kedua, Letters from Zedelghem, bercerita mengenai musisi muda, Robert Frobisher (Ben Whishaw), yang menemukan kesempatan untuk mengembangkan karirnya ketika ia diterima bekerja bersama seorang maestro musik dunia namun secara perlahan menyadari bahwa komposisi musik yang ia rancang terancam untuk dimiliki orang lain. Kisah ketiga, Half-Lives: The First Luisa Rey Mystery, memaparkan mengenai seorang jurnalis, Luisa Rey (Halle Berry), yang menemukan fakta konspirasi mengenai keamanan pengelolaan nuklir yang dilakukan oleh Lloyd Hooks (Hugh Grant). Sebagai seorang jurnalis, Luisa kemudian terus berusaha untuk mencari tahu lebih banyak tentang fakta tersebut – sebuah usaha yang kemudian membuat nyawanya terancam.

Tiga cerita berikutnya berlatar belakang waktu di masa yang lebih modern. The Ghastly Ordeal of Timothy Cavendish bercerita mengenai seorang penerbit buku bernama Timothy Cavendish (Jim Broadbent) yang berusaha untuk melarikan diri dari jebakan panti jompo yang dibuat oleh sang kakak. Segmen kelima yang berjudul An Orison of Sonmi~451 berlatar belakang di masa depan dan mengisahkan mengenai seorang pelayan yang merupakan hasil produksi genetis bernama Sonmi (Doona Bae) yang berusaha untuk menemukan arti serta kebebasan hidupnya. Cloud Atlas kemudian ditutup dengan kisah terakhir berjudul Sloosha’s Crossin’ an’ Ev’rythin’ After yang menceritakan mengenai usaha seorang pria bernama Zachary (Tom Hanks) yang bersama dengan koloninya berusaha untuk tetap dapat bertahan hidup dari serangan koloni lain di desa kecil yang mereka tinggali.

Terlepas dari kesan rumit yang mungkin muncul dalam menikmati menit-menit awal presentasi cerita film ini, dari sisi naratif, Cloud Atlas sebenarnya tidak menawarkan tema penceritaan baru di dalam kisah-kisahnya. Tema mengenai pencarian kebebasan maupun kisah percintaan yang dihadirkan jelas merupakan tema-tema familiar yang telah banyak dieksplorasi namun kali ini disajikan dengan variasi penceritaan yang berbeda. Perhatian lebih di awal penceritaan memang dibutuhkan bagi penonton mengingat banyaknya karakter yang hadir di dalam jalan cerita diperankan oleh sosok pemeran yang sama. Namun ketika Anda mampu melewati pembatas tersebut, dan berhasil memegang Cloud Atlas sebagai sebuah presentasi penceritaan regular, maka Cloud Atlas akan mampu memberikan lebih banyak sisi penceritaannya.

Kecerdasan terbesar dari Cloud Atlas sendiri berasal dari keberhasilan duo Wachowski dan Tom Tykwer untuk menggarap ceritanya dengan tata produksi yang benar-benar brilian. Dimulai dengan tata rias dan kostum yang mampu mengubah setiap pemeran menjadi sosok karakter yang baru (dan kadang tidak dapat dikenali) dalam setiap segmen. Kemudian dari sisi produksi desain yang berhasil memberikan dukungan atmosfer ilustrasi yang begitu kuat bagi setiap cerita. Sisi emosional setiap cerita juga semakin diperkuat oleh tata musik arahan Tykwer bersama Johnny Klimek dan Reinhold Heil. Ketiganya mampu memberikan tata musik yang berbeda di setiap segmen penceritaan – yang sekaligus menjadi identitas setiap cerita – dan menghadirkannya sebagai sebuah elemen presentasi yang begitu indah. Namun, di atas segala keberhasilan departemen produksi, adalah tata gambar arahan Alexander Berner yang mampu menyatukan keenam cerita dalam Cloud Atlas menjadi sebuah kesatuan yang rasanya sulit untuk dipisahkan satu sama lain. Berkat sentuhan Berner, enam cerita ini saling menopang satu sama lain, memiliki benang merah yang membuat sisi penceritaannya menjadi lebih menarik hingga berhasil membawa setiap cerita dalam Cloud Atlas dalam satu garis perjalanan emosional yang seimbang.

Dan tentu saja, Cloud Atlas juga mendapatkan dukungan yang sangat solid dari kualitas penampilan setiap pengisi departemen aktingnya. Nama-nama seperti Tom Hanks, Halle Berry, Jim Sturgess, Jim Broadbent, Ben Whishaw, Doona Bae hingga Hugo Weaving dan Hugh Grant berhasil mempresentasikan diri mereka sebagai bunglon yang tampil dengan karakter dan penjiwaan yang begitu berbeda dalam setiap segmen. Tidak semua sisi dalam penceritaan Cloud Atlas berhasil tampil dengan baik – beberapa diantaranya akan tetap menyisakan kebingungan dan beberapa lainnya disampaikan dengan terlalu bertele-tele. Pun begitu, duo Wachowski dan Tom Tykwer telah memberikan sebuah presentasi yang sangat memukau dengan apa yang telah mereka berikan lewat Cloud Atlas.

Meskipun Cloud Atlas jelas adalah sebuah pencapaian teknis dalam skala besar yang mampu menutupi berbagai kesederhanaan (baca: kekurangan) yang terdapat dalam narasi penceritaannya, namun keberhasilan Lana Wachowski, Tom Tykwer dan Andy Wachowski dalam menata setiap penceritaan di dalam Cloud Atlas untuk menjadi sebuah kesatuan yang solid jelas tidak dapat dipungkiri begitu saja. Begitu solidnya penataan setiap bagian cerita dalam film ini, penonton akan mampu mendapatkan berbagai hal-hal baru ketika mereka menyaksikan film ini berulang kali. Cloud Atlas adalah sebuah pengalaman sinematikal mewah dan megah yang jelas tidak boleh dilewatkan begitu saja.

popcornpopcornpopcornpopcorn popcorn2

Cloud Atlas (Cloud Atlas Productions/X-Filme Creative Pool/Anarchos Pictures/A Company Filmproduktionsgesellschaft/ARD Degeto Film/Ascension Pictures/Five Drops/Media Asia Group, 2012)
Cloud Atlas (Cloud Atlas Productions/X-Filme Creative Pool/Anarchos Pictures/A Company Filmproduktionsgesellschaft/ARD Degeto Film/Ascension Pictures/Five Drops/Media Asia Group, 2012)

Cloud Atlas (2012)

Directed by Lana Wachowski, Tom Tykwer, Andy Wachowski Produced by Grant Hill, Stefan Arndt, Lana Wachowski, Tom Tykwer, Andy Wachowski Written by Lana Wachowski, Tom Tykwer, Andy Wachowski (screenplay), David Mitchell (novel, Cloud Atlas) Starring Tom Hanks, Halle Berry, Jim Broadbent, Hugo Weaving , Jim Sturgess, Doona Bae, Ben Whishaw, James D’Arcy, Zhou Xun, Keith David, David Gyasi, Susan Sarandon, Hugh Grant Music by Johnny Klimek, Reinhold Heil, Tom Tykwer Cinematography Frank Griebe, John Toll Editing by Alexander Berner Studio Cloud Atlas Productions/X-Filme Creative Pool/Anarchos Pictures/A Company Filmproduktionsgesellschaft/ARD Degeto Film/Ascension Pictures/Five Drops/Media Asia Group Running time 171 minutes Country Germany Language English

Advertisements

7 thoughts on “Review: Cloud Atlas (2012)”

  1. Ga ngerti benang merah film ini… Dengan durasi nyaris 3 jam, kadang terasa membosan.. Yang bikin takjub cuma pemainnya yangg main multikarakter, make up & kostum, visualnya, oooh…1 lagi, kisah kabur dari panti jompo yg bisa bikin ngakak & bikin masih mau bertahan untuk nonton film ini sampai habis. Selebihnya…..borriiiing dan membingungkan….

  2. “Begitu solidnya penataan setiap bagian cerita dalam film ini, penonton akan mampu mendapatkan berbagai hal-hal baru ketika mereka menyaksikan film ini berulang kali. ”

    betul sekali…

  3. Saya tdk mengerti dimana menariknya film ini..? Menurut saya film ini memiliki alur yg kacau, tdk beraturan, maju mundur & melompat2 antar bagián. Seperti potongan2 mozaik yg harus kita rangkai sendiri keterkaitannya. Saya penasaran pada teman2 yg memberikan review positif atas film ini, bagaimana cara kalian utk bisa memahami dan menikmati film dgn pola penceritaan seperti ini..? Karena saya sdh gagal utk melakukannya. 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s