Review: Tampan Tailor (2013)


tampan-tailor-header

Tampan Tailor bercerita mengenai serangkaian kisah perjuangan seorang pria bernama Topan (Vino G. Bastian) dalam usahanya untuk menghidupi dan membesarkan putera tunggalnya, Bintang (Jefan Nathanio). Perjuangan tersebut dimulai ketika Topan harus kehilangan sang istri yang meninggal dunia akibat penyakit kanker yang ia derita. Tidak berhenti disitu, ia harus kehilangan tempat tinggal sekaligus memaksa Bintang untuk putus sekolah setelah usaha toko jahit yang ia bangun bersama dengan istrinya dahulu – dan dinamakan Tampan Tailor sebagai gabungan nama mereka, Tami dan Topan – harus ditutup karena mengalami kebangkrutan. Walau begitu, keberadaan sang anak membuat Topan sadar bahwa ia tidak dapat menyerah begitu saja.

Dengan bantuan sepupunya, Darman (Ringgo Agus Rahman), Topan mulai merintis lagi berbagai usaha untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik: mulai dari menjadi seorang calo tiket kereta api, seorang kuli bangunan dengan bayaran yang rendah hingga menjadi seorang pemeran pengganti di sebuah produksi film. Sebuah kesempatan emas untuk dapat memanfaatkan kembali kemampuannya di bidang jahit-menjahit datang ketika ia diberikan tawaran untuk bekerja di sebuah perusahaan garment oleh seorang gadis pemilik kios bernama Prita (Marsha Timothy) yang selama ini telah merasa kagum dengan berbagai usaha Topan untuk menghidupi anaknya. Secara perlahan, Topan kembali bangkit dan membangun kembali berbagai mimpi-mimpinya.

Harus diakui, sama sekali tidak ada yang baru dalam naskah cerita Tampan Tailor yang ditulis oleh Alim Sudio (Air Terjun Pengantin Phuket, 2013) dan Cassandra Massardi (Bila, 2012) ini. Plot penceritaan, alur kisah serta deretan karakternya jelas merupakan gabungan berbagai elemen cerita klise yang biasa ditemui dalam kisah-kisah sejenis. Keunggulan kualitas Tampan Tailor sendiri datang dari kemampuan sutradara Guntur Soeharjanto (Brandal-Brandal Ciliwung, 2012) untuk tidak terjebak menyajikan kisah klise yang ditawarkan jalan cerita Tampan Tailor menjadi sebuah presentasi drama tearjerker – suatu kasus yang harus diakui sangat sering terjadi pada kebanyakan film drama Indonesia. Bukan berarti Tampan Tailor gagal untuk tampil menyentuh, namun Guntur menyajikan drama dalam filmnya sebagai sebuah kisah yang berjalan secara alami. Penonton akan mampu terkoneksi dengan kisah maupun karakter yang hadir dalam film ini setelah benar-benar terhanyut dalam jalan cerita yang disajikan.

Pengarahan Guntur terhadap jajaran pemerannya juga tidak mengecewakan – meskipun penampilan aktor muda, Jefan Nathanio, masih sering terasa canggung dengan chemistry yang terlalu minimalis dengan Vino G. Bastian. Berbicara mengenai Vino, Tampan Tailor sekali lagi berhasil memberikannya ruang yang cukup luas untuk menunjukkan kapabilitasnya sebagai seorang aktor. Vino mampu menghidupkan sisi emosional karakternya dengan baik, bahkan ketika karakter yang ia perankan hadir dengan penggalian karakter yang dangkal. Chemistry-nya yang sangat erat dengan Marsha Timothy dan Ringgo Agus Rahman – yang tampil sangat apik di film ini – juga semakin memperkuat kualitas departemen akting Tampan Tailor secara keseluruhan.

Sayangnya, visi Guntur untuk menghadirkan Tampan Tailor sebagai sebuah drama humanis seperti berbenturan dengan tata musik yang dihadirkan oleh Tya Subiakto Satrio untuk film ini. Seperti kebanyakan tata musik yang dihasilkannya, Tya masih memegang teguh prinsip bahwa sebuah film dapat tampil mengharu biru dengan tata orkestrasi yang megah (baca: berlebihan) di setiap adegan. Hasilnya, orkestrasi berlebihan Tya mengisi hampir di setiap adegan film ini, bahkan di saat-saat yang sebenarnya tidak memerlukan tambahan ilustrasi musik. Mengganggu? Jelas. Maaf saja, tapi Tya jelas membutuhkan referensi musik yang lebih luas agar tata musik yang ia hasilkan tidak terkesan monoton pada setiap film yang melibatkan kehadiran dirinya.

Selain tata musik, Tampan Tailor hadir dengan kualitas produksi yang sangat memuaskan. Desain produksi film ini mampu menghasilkan atmosfer lingkungan yang sangat mendukung agar jalan cerita film terlihat meyakinkan. Pernyataan yang sama juga dapat diaplikasikan pada kualitas tata sinematografi yang dihadirkan oleh Enggar Budiono. Gambar-gambar yang ia hasilkan mampu menangkap sisi kota Jakarta yang begitu keras namun tetap disajikan dengan kualitas gambar yang begitu nyaman sekaligus indah untuk disaksikan. Kualitas gambar ini kemudian mendukung presentasi jalan cerita Tampan Tailor sehingga mampu terasa menjadi lebih nyata dan hidup.

Di tangan beberapa sutradara lain, Tampan Tailor mungkin akan dengan mudah dieksekusi menjadi sebuah drama mengenai hubungan ayah dan anak yang disajikan dengan nada penceritaan (yang dipaksa untuk) mengharu biru. Pilihan Guntur Soeharjanto untuk tetap menghadirkan jalan cerita Tampan Tailor yang sebenarnya klise sebagai sebuah drama keluarga yang berjalan alami jelas berhasil membuat presentasi film ini menjadi lebih berkelas. Meskipun masih jauh dari kesan sempurna atau istimewa, namun dengan dukungan penampilan prima Vino G. Bastian serta kualitas tata produksi yang apik, Tampan Tailor mampu menjadi sebuah sajian drama yang cukup memuaskan.

popcornpopcornpopcornpopcorn2popcorn2

Tampan Tailor (Maxima Pictures, 2013)
Tampan Tailor (Maxima Pictures, 2013)

Tampan Tailor (2013)

Directed by Guntur Soeharjanto Produced by Ody Mulya Hidayati Written by Alim Sudio, Cassandra Massardi Starring Vino G. Bastian, Jefan Nathanio, Marsha Timothy, Ringgo Agus Rahman, Lisye Herliman, Ratna Riantiarno, Epy Kusnandar, Astri Nurdin, Ferry Salim Music by Tya Subiakto Satrio Cinematography Enggar Budiono Editing by Ryan Purwoko Studio Maxima Pictures Running time 104 minutes Country Indonesia Language Indonesian

3 thoughts on “Review: Tampan Tailor (2013)”

  1. Chemistry dan interaksi antara para tokoh mungkin yang jadi kekuatan utama. Apalagi hubungan BIntang dan Topan yang terlihat sangat menyenangkan.
    Tapi sebenernya saya sedikit kecewa karena filmnya terlalu menyorot perjuangan Topan dalam bekerja serabutan, bukan sebagai seorang penjahit yang berusaha keras mewujudkan impiannya sebagai tailor. Bahkan ending-nya terasa sangat menggampangkan perjuangan mewujudkan impian itu.
    And, the music… oooh, don’t let me start with the music… it’s annoying dan gak singkron sama filmnya yang simple! Dan, pas baca credit title ternyata bener penata musiknya Tya Subiakto yang membuat gw terganggu banget pas nonton Habibie dan Ainun.

  2. ia juga… ceritanya serta pemeran nya agak monoton (baca gampang di tebak) tapi aku suka shooting, kwalitas gambar dan emosi di dalam nya salut buat vino… dan aktris kesuka gue marsha

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s