Review: Olympus Has Fallen (2013)


Olympus-Has-Fallen-Header

Oh. Berbicara mengenai nasionalisme/patriotisme, film arahan sutradara Antoine Fuqua (Brooklyn’s Finest, 2010) yang berjudul Olympus Has Fallen ini juga mengangkat tema penceritaan yang sama. Hanya saja, daripada menghadirkan kisah mengenai seorang pelajar sekolah dasar yang berusaha mewujudkan obsesi sang kakek mengenai bendera negaranya, Olympus Has Fallen mengisahkan mengenai seorang mantan agen rahasia Amerika Serikat yang berjuang dalam melawan aksi terorisme yang berusaha memecah keutuhan negaranya. Sendirian. Terdengar seperti kisah dari salah satu seri franchise Die Hard (1988 – 2013)? Tentu! Dan rasanya setiap orang akan begitu familiar dengan jalan cerita tersebut. Pun begitu, dengan arahan Fuqua yang kuat atas intensitas presentasi aksi dalam film ini serta penampilan apik dari seluruh jajaran pengisi departemen aktingnya, khususnya Gerard Butler, Olympus Has Fallen mampu menjelma menjadi sebuah film aksi yang dapat dengan mudah menarik dan menahan perhatian setiap penontonnya secara penuh dalam 120 menit pengisahan ceritanya.

Olympus Has Fallen dimulai dengan memperkenalkan karakter utamanya: seorang agen rahasia, Mike Banning (Butler), yang kini bertugas sebagai salah satu anggota kelompok pengamanan kepresidenan. Atas etos kerjanya yang dikenal sangat cemerlang, Mike bahkan telah mendapatkan kepercayaan yang kuat dari sang presiden, President Benjamin Asher (Aaron Eckhart), beserta keluarganya: sang istri, Margaret (Ashley Judd) serta puteranya, Connor (Finley Jacobsen). Sayang, tak semua sisi kehidupan keluarga sang presiden dapat ia amankan. Ketika suatu malam terjadi sebuah kecelakaan pada iringan mobil keluarga presiden, Mike mampu menyelamatkan sang presiden… namun gagal menyelamatkan istrinya yang berujung pada kematiannya.

Delapan belas bulan kemudian, akibat tidak mampu bertahan atas kenangan buruk tersebut, Mike kini telah dipindahtugaskan menjadi pegawai Departemen Keuangan Amerika Serikat – meskipun seringkali hatinya masih merindukan masa-masa tugasnya di Istana Negara Amerika Serikat, The White House. Suatu hari, ketika President Benjamin Asher sedang menjalani sebuah pertemuan politik dengan delegasi dari negara Korea Selatan, sebuah pesawat tempur berhasil memasuki wilayah terbang ibukota Amerika Serikat, Washington DC, dan mulai menjadikan setiap benda maupun manusia yang berada dalam jangkauannya sebagai sasaran tembak. Pesawat tempur tersebut ternyata hanyalah awal dari serangkaian serangan yang dilancarkan oleh sekelompok teroris yang ingin menjadikan The White House sebagai sasaran utama mereka. Mike Banning jelas tidak menerima begitu saja negara yang ia cintai diporak-porandakan oleh sebuah kekuatan asing. Ia lalu mulai menyusun rencana untuk kemudian melakukan serangan balik kepada para anggota teroris tersebut.

Walau naskah cerita yang dihasilkan oleh Creighton Rothenberger dan Katrin Benedikt sama sekali tidak menawarkan sesuatu yang baru kepada para penontonnya, namun Olympus Has Fallen jelas bukanlah sebuah presentasi yang buruk. Sebagian kesuksesan tersebut datang dari keberhasilan Antoine Fuqua untuk mengumpulkan jajaran pemeran yang memiliki kemampuan akting yang benar-benar memuaskan. Lihat bagaimana nama-nama seperti Aaron Eckhart, Morgan Freeman, Melissa Leo, Angela Bassett, Robert Forster bahkan Radha Mitchell mampu memberikan penampilan yang begitu mencuri perhatian meskipun porsi penceritaan karakter yang mereka perankan benar-benar terbatas.

Gerard Butler yang berada di garda terdepan departemen akting juga jelas tidak mengecewakan. Butler yang berperan pada sebuah film aksi jelas merupakan Butler yang berada pada elemen terbaiknya dan ia mampu mendalami karakter yang ia perankan dengan sempurna! Pujian yang sama juga dapat diberikan kepada Rick Yune yang memerankan karakter antagonis utama. Dengan wajah tampan dan tubuh atletisnya, Yune mampu menjelma menjadi sosok karakter yang memikat namun jelas sangat mematikan. Baik Butler dan Yune berhasil membuat karakter yang mereka perankan menjadi benar-benar tampil mengesankan – termasuk ketika kedua karakter tersebut akhirnya saling berhadapan.

Layaknya film-film sejenis, Olympus Has Fallen juga mampu tampil kuat di bagian presentasi cerita yang sama. Momen-momen emas film ini hadir ketika Fuqua menyajikan deretan adegan penuh kekerasan dan darah dalam menggambarkan aksi para teroris yang menyerbu masuk The White House. Fuqua mampu mempertahankan intensitas aksi di setiap bagian penceritaan tersebut dengan menghadirkan kualitas audio visual yang benar-benar akan mampu mempesona setiap penontonnya. Intensitas ketegangan di dalam jalan cerita film juga mampu terjaga ketika Fuqua menghadirkan beberapa adegan interogasi. Fuqua tahu benar tentang material yang sedang ia kerjakan – bahwa Olympus Has Fallen akan benar-benar mampu tampil kuat dengan eksplorasi yang tepat di sisi aksi ceritanya – dan adalah mudah untuk mengungkapkan bahwa Fuqua berhasil menggarap film ini menjadi sebuah sajian aksi yang sangat menghibur.

Di saat yang sama, Fuqua sayangnya gagal mencegah Olympus Has Fallen untuk tidak jatuh ke jebakan film-film sejenis. Ketika intensitas ketegangan cerita telah berhasil terbangun semenjak awal, Olympus Has Fallen mulai terasa bertele-tele dalam menyampaikan solusi permasalahannya. Kumpulan teroris dan kaki tangannya yang awalnya digambarkan begitu perfeksionis dalam melancarkan aksinya secara perlahan ditampilkan mulai menemui kelemahan – agar sang karakter utama dapat menjatuhkan mereka. Deretan dialog yang awalnya terkesan normal kemudian berubah menjadi semakin cheesy seiring dengan perjalanan durasi film ini. Pun begitu, dengan balutan adegan aksi yang telah disajikan Fuqua, rasanya tidak akan banyak suara sumbang yang mempermasalahkan kerikil-kerikil kecil yang hadir di sepanjang perjalanan film ini.

Olympus Has Fallen jelas bukanlah sebuah film yang akan banyak diingat oleh banyak orang lama setelah selesai menyaksikannya. Pun begitu, Antoine Fuqua berhasil menggarap film ini dengan baik sehingga memiliki kualitas yang berada di atas kualitas film-film sepantarannya. Bagian kesuksesan tersebut datang dari kemampuan Fuqua untuk mengendalikan ritme penceritaan film sehingga mampu menghadirkan intensitas ketegangan cerita yang begitu terjaga. Ditambah dengan apiknya tata produksi serta penampilan akting para jajaran pemeran film, Olympus Has Fallen berhasil menjelma menjadi sebuah presentasi aksi yang meskipun terkesan klise namun mampu tampil begitu menghibur di sepanjang pengisahannya.

popcornpopcornpopcornpopcorn3popcorn2

Olympus Has Fallen (Millennium Films/Nu Image Films/West Coast Film Partners, 2013)
Olympus Has Fallen (Millennium Films/Nu Image Films/West Coast Film Partners, 2013)

Olympus Has Fallen (2013)

Directed by Antoine Fuqua Produced by Gerard Butler, Alan Siegel, Mark Gill, Ed Cathell III Written by Creighton Rothenberger, Katrin Benedikt Starring Gerard Butler, Aaron Eckhart, Morgan Freeman, Angela Bassett, Robert Forster, Cole Hauser, Ashley Judd, Melissa Leo, Dylan McDermott, Radha Mitchell, Rick Yune, Lance Broadway, Keong Sim, Tory Kittles, Finley Jacobsen, Phil Austin, James Ingersoll, Freddy Bosche, Kevin Moon, Malana Lea, Sam Medina Music by Trevor Morris Cinematography Conrad W. Hall Editing by John Refoua Studio Millennium Films/Nu Image Films/West Coast Film Partners Running time 120 minutes Country United States Language English

4 thoughts on “Review: Olympus Has Fallen (2013)”

  1. ini film tentang gedung putih yg paling “meledak2” menurut saya…cerita yg sangat typical, tp eksekusi aksi nya luar biasa…sy sampai menahan pipis sampai film berakhir…
    sedang menunggu “teror gedung putih” lainnya di film nya channing tatum “white house down”, sambil membandingkan kira2 lebih “cerdas” antoine fuqua atau roland emerich, heheh

    1. Tapi endingnya mudah ditebak. Terlalu linear, jadinya malah antiklimaks. Coba kalau endingnya di twist misalnya misi menyelamatkan president gagal atw Amerika jadi abu, Mungkin jadi lebih menarik.

  2. Awal yang bagus, tapi sayang ending yang tidak menarik, dan banyak eror,
    – password di ruang keamanan yang tidak berubah sejak banning pindah ke dept. keuangan (18 bulan), bahkan brankas presiden pun tidak berubah kode nya,begitu lemahnya pengamanan white house kalo begitu.
    – bunker yang harusnya ada jauh dibawah tanah (yang harusnya juga aman dari serangan nuklir sekalipun), tiba2 hanya berada di balik tembok didalam white house, sehingga banning tidak perlu repot2 turun dulu untuk membatalkan cerberus.
    – terlalu ceroboh untuk Kang, yang begitu perfeksionis diawal, meninggalkan hitung mundur cerebus yang hanya tinggal 3 menit, dan membiarkan instrumen nya tetap utuh,padahal 3 menit tidak akan berpengaruh ketika nuklirnya meledak diseluruh US
    – tidak ada info rencana Kang untuk melarikan diri (karena memang “ditakdirkan” mati di dalah gedung)…qqqq

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s