Review: Hasduk Berpola (2013)


hasduk-berpola-header

Sukses dengan Surat Kecil untuk Tuhan (2011) yang dimasa rilisnya berhasil menjadi salah satu film dengan jumlah raihan penonton terbesar di sepanjang tahun tersebut, sutradara Harris Nizam kembali duduk di kursi penyutradaraan untuk mengarahkan sebuah film yang berjudul Hasduk Berpola. Berbeda dengan film drama remaja yang menjadi debut penyutradaraan layar lebarnya tersebut, Hasduk Berpola mencoba untuk menyinggung tentang sikap nasionalisme dan patriotisme di kalangan masyarakat Indonesia saat ini dengan balutan sebuah kisah drama keluarga. Hasduk Berpola sebenarnya memiliki potensi yang kuat untuk menjadi sebuah drama keluarga yang kuat. Sayangnya, eksplorasi yang (sedikit terlalu) berlebihan pada tema nasionalisme/patriotisme di beberapa bagian cerita membuat Hasduk Berpola terlihat berusaha terlalu keras sehingga gagal untuk tampil wajar dan efektif dalam menyampaikan kisahnya.

Hasduk Berpola berkisah mengenai kehidupan seorang veteran pejuang kemerdekaan Republik Indonesia bernama Masnun (Idris Sardi) yang saat ini hidup bersama anaknya, Rahayu (Iga Mawarni), serta dua orang cucunya, Budi (Bangkit Prasetyo) dan Bening (Fay Nabila), di daerah Bojonegoro, Jawa Timur. Meskipun menyandang gelar sebagai veteran perang yang pernah turut ambil bagian dalam merebut kemerdekaan negaranya, kehidupan Masnun sendiri tergolong serba kekurangan dalam kesehariannya. Pun begitu, Masnun dan Rahayu tidak pernah menyerah untuk terus bekerja keras dan memberikan kehidupan yang layak bagi Budi dan Bening.

Konflik utama dalam jalan cerita film ini muncul ketika Budi berniat untuk bergabung dan mengikuti kegiatan organisasi pramuka di sekolahnya. Akibat kondisi keuangan keluarganya, Budi tidak mampu membeli beberapa perlangkapan pramuka yang ia butuhkan. Atas tekad yang kuat untuk dapat mengikuti kegiatan pramuka tersebut, Budi akhirnya memutuskan untuk bekerja dan mengumpulkan uang yang ia butuhkan sedikit demi sedikit. Di saat yang sama, Budi kemudian mengetahui sebuah rahasia kelam kakeknya yang semenjak lama ia sembunyikan dari orang lain. Sebuah rahasia yang semenjak lama pula dianggap oleh sang kakek sebagai aib bagi diri dan keluarganya. Mengetahui hal tersebut, bersama dengan teman-temannya, Budi lantas menyusun sebuah rencana untuk dapat membahagiakan sang kakek.

Sebagai sebuah film bertema kisah keluarga, Hasduk Berpola sebenarnya memulai kisahnya dengan cukup baik. Harris Nizam berhasil memperkenalkan deretan karakter yang ada di dalam jalan cerita beserta konflik yang melingkupi kehidupan mereka dengan alur cerita yang sederhana namun sama sekali tidak pernah terkesan bertele-tele. Karakter Budi yang menjadi tokoh sentral dalam jalan cerita film ini juga mampu mendapatkan penggalian karakter yang kuat: perubahan sikapnya dari seorang anak yang cenderung bermasalah dengan diri dan lingkungannya menjadi sosok yang lebih positif mampu tergambarkan dengan baik. Karakter-karakter pendukung yang berada di sekitarnya juga berhasil memberikan kontribusi emosional yang diperlukan jalan cerita film ini untuk mampu menarik perhatian penontonnya.

Hasduk Berpola mulai terasa menemui rintangan dalam bercerita ketika sang karakter utama menghadapi konfliknya. Naskah cerita yang ditulis oleh Kirana Kejora dan Bagas D. Bawono sepertinya terlalu berusaha untuk menghadirkan kisah pemberi motivasi yang menyentuh dengan menghadirkan terlalu banyak tantangan hidup bagi sang karakter utama – yang membuat sang karakter utama seperti selalu menghadapi masalah baru ketika sedang berusaha menyelesaikan masalah yang ia hadapi sebelumnya. Pemberian fokus yang lebih besar terhadap masa lalu dari karakter sang kakek, dan berhubungan dengan semakin meningkatnya intensitas penceritaan bertema nasionalisme/patriotisme dalam film ini, juga semakin mengganggu kenyamanan Hasduk Berpola dalam bercerita. Bukan ingin mengatakan bahwa struktur cerita yang (terlalu) mengagungkan tema nasionalisme/patriotisme itu adalah suatu hal yang buruk. Namun ketika gagal tergarap dengan baik, seperti yang terjadi pada Hasduk Berpola, presentasi cerita tersebut akhirnya justru berakhir menggelikan dan terkesan jauh dari realistis daripada mampu tampil menyentuh dalam menyampaikan pesan-pesannya.

Pun begitu, Hasduk Berpola setidaknya masih mampu hadir dengan kualitas penampilan akting yang cukup memuaskan dari para pengisi departemen aktingnya. Nama-nama aktris maupun aktor muda seperti Bangkit Prasetyo dan Fay Nabila mampu tampil dalam kualitas penampilan yang sejajar dengan nama-nama aktor maupun aktris senior seperti Idris Sardi dan Iga Mawarni. Saling mengisi dengan chemistry yang kuat satu sama lain. Tentu saja, akan ada banyak orang yang mempertanyakan apa sebenarnya fungsi karakter yang diperankan oleh Calvin Jeremy dalam jalan cerita film ini atau mengapa Petra Sihombing tampil begitu datar di sepanjang penampilannya atau beberapa penampilan pendukung singkat yang sebenarnya sangat tidak diperlukan di beberapa bagian cerita film. Pun begitu, departemen akting Hasduk Berpola harus diakui mampu memberikan penampilan yang jauh dari kesan mengecewakan.

Mungkin Hasduk Berpola akan dapat bekerja jauh dengan lebih baik jika film ini mau lebih berkonsentrasi terhadap jalinan kisah keluarga yang  dihadirkannya dengan menghadirkan plot cerita tambahan yang bertema nasionalisme/patriotisme tersebut dalam porsi yang lebih halus lagi. Hasduk Berpola bukanlah sebuah presentasi yang teramat buruk. Namun keinginan para pembuatnya yang sepertinya terlalu berapi-api untuk menghadirkan nuansa nasionalisme/patriotisme dalam jalan cerita film mereka namun tanpa adanya struktur dan eksekusi cerita yang memadai justru membuat Hasduk Berpola menjadi gagal untuk menghadirkan rasa nasionalisme/patriotisme yang natural kepada para penontonnya. Memiliki konsep yang sebenarnya kuat namun lemah akibat eksekusi yang kurang tergarap dengan baik.

popcornpopcorn  popcorn3popcorn2popcorn2

Hasduk Berpola (Aletta Pictures/Squareapple, 2013)
Hasduk Berpola (Aletta Pictures/Squareapple, 2013)

Hasduk Berpola (2013)

Directed by Harris Nizam Produced by Sarjono Sutrisno Written by Kirana Kejora, Bagas D. Bawono Starring Bangkit Prasetyo, Idris Sadri, Iga Mawarni, Fay Nabila, Niniek L. Karim, Ranty Purnamasari,  Heri Savalas, Hadi Subiyanto, Sony Gunawan, Petra Sihombing, Calvin Jeremy, Alisia Rininta, Meitha Thamrin Music by Thoersi Argeswara Editing by Sastha Sunu Studio Aletta Pictures/Squareapple Running time 99 minutes Country Indonesia Language Indonesian

3 thoughts on “Review: Hasduk Berpola (2013)”

  1. Jenis film sperti ini kalo menurut saya bagus dan patut untuk diapresiasi tinggi karena masih banyak insan perfilman yang berniat membuat film dengan pesan moral. Namun, kelemahan terbesarnya adalah film ini jadi terlalu (sok) menggurui penonton dengan dengan segala pesan-pesan moral yg diutarakan secara gamblang dan berlebihan.
    Film yang masih berkesan di dalam benak saya sampai saat ini masih adalah Laskar Pelangi. Pesan yg disampaikan begitu halus dan wajar disertai dengan ironi yg menyayat hati..😦

    1. Setuju! Film-film dengan pesan nasionalisme/patriotisme seharusnya memiliki treatment yang lebih diperhalus. Jika pesannya terlalu gamblang… hasilnya yah seperti ‘Hasduk Berpola’. Kesannya tidak realistis dan gagal untuk mengena ke penonton.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s