Review: Silver Linings Playbook (2012)


silver-linings-playbook-header

Selepas keberhasilannya dalam mengarahkan The Fighter (2010) – yang berhasil meraih sukses komersial dengan total pendapatan lebih dari US$129 juta dari masa perilisannya di seluruh dunia sekaligus mendapatkan pujian luas dari banyak kritikus film dunia dan meraih 6 nominasi di ajang The 83rd Annual Academy Awards, termasuk untuk kategori Best Director – David O. Russell kembali hadir dengan film terbarunya, Silver Linings Playbook. Diadaptasi oleh Russell dari sebuah novel karya Matthew Quick yang berjudul sama, filmnya sendiri berkisah mengenai pertemuan antara seorang pria dengan seorang wanita yang sama-sama memiliki ketidakstabilan emosional… dan awalnya terlihat saling tidak menyukai satu sama lain… dan kemudian berusaha saling membantu kekurangan diri masing-masing… and finallyyou guessed it! Keduanya terlibat dalam hubungan asmara. Yep. Silver Linings Playbook is indeed a romantic comedy. Tapi apakah Russell mampu menggarap Silver Linings Playbook menjadi sebuah komedi romantis yang lebih dari sekedar… well… komedi romantis?

Silver Linings Playbook berkisah mengenai kehidupan Pat Solitano (Bradley Cooper). Ia baru saja dijemput ibunya, Dolores (Jacki Weaver), untuk pulang dari sebuah institusi kesehatan mental setelah menghabiskan masa delapan bulan tinggal di lokasi tersebut sebagai hukuman dari pihak berwajib akibat tindakan kekerasan yang ia lakukan pada seorang pria yang tertangkap basah sedang berselingkuh dengan istrinya, Nikki (Brea Bee). Delapan bulan berada di sebuah institusi kesehatan mental ternyata memberikan waktu bagi Pat untuk memikirkan seluruh kesalahan dan masa lalunya. Kini, ia berjanji untuk mulai menata kembali hidupnya, melihat kehidupan dari sisi yang positif serta berusaha untuk tampil dengan fisik yang bugar agar ia dapat kembali merebut cinta dari istrinya.

Walau masih khawatir dengan kondisi emosionalnya yang masih sering berubah-ubah dengan begitu cepat, ayah, Patrizio (Robert De Niro), dan ibunya berusaha sebisa mungkin untuk memberikan dukungan yang kuat pada Pat. Begitu pula dengan sahabatnya, Ronnie (John Ortiz), yang kemudian mengundang Pat untuk datang ke rumahnya dan makan malam bersama dengan istrinya, Veronica (Julia Stiles). Ketika acara makan malam itulah, Pat bertemu dengan adik Veronica, Tiffany (Jennifer Lawrence), yang ternyata juga memiliki masalah dengan kestabilan emosinya akibat kematian sang suami. Awal pertemuan itulah yang kemudian menjadi titik balik bagi kehidupan Pat. Bersama dengan Tiffany, Pat lalu saling mendukung satu sama lain walaupun seringkali keduanya justru terlibat dengan banyak masalah akibat ketidakstabilan emosi mereka.

Dengan deretan talenta yang berada di depan dan balik layar pembuatan film ini, tentu banyak orang akan mengharapkan bahwa Silver Linings Playbook akan mampu menjelma lebih dari sekedar sebuah drama komedi romantis. Well… sayangnya… hal tersebut tidak terjadi. Bukan berarti bahwa film ini berjalan dengan begitu buruk. Namun jalan cerita Silver Linings Playbook benar-benar tidak mampu memberikan sesuatu hal yang baru dalam presentasinya: baik mengenai penggalian hubungan antara satu karakter wanita dan satu karakter pria, konflik-konflik yang berada di sekitarnya, konflik yang terjadi di antara keduanya hingga deretan hal yang akhirnya memperbaiki diri mereka masing-masing, baik sebagai individu maupun sebagai pasangan.

Kelemahan Silver Linings Playbook sendiri bukanlah muncul akibat kefamiliaran arus cerita yang dibawakannya. Film ini cenderung gagal untuk menarik ikatan emosional yang lebih mendalam dari penontonnya akibat tindakan David O. Russell yang terlalu banyak meletakkan permasalahan di dalam jalan cerita dan akhirnya justru kemudian gagal mendapatkan pengembangan dengan baik. Hal yang sama juga berlaku pada karakter-karakter yang hadir dalam film ini. Kecuali karakter Tiffany, seluruh karakter yang ada di dalam jalan cerita Silver Linings Playbook terlihat berada di wilayah abu-abu dan membuat kehadiran mereka terasa begitu monoton. Kemunculan karakter Tiffany di dalam jalan cerita-lah yang kemudian secara perlahan meningkatkan warna penceritaan Silver Linings Playbook dan terus hadir dalam kondisi yang sama – dan sangat terasa jika karakter tersebut hilang dari dalam jalan cerita – hingga berakhirnya durasi penceritaan film ini.

Satu hal yang pasti, terlepas dari kekurangan yang muncul dari sisi penulisan naskah dan karakter, Russell beruntung memiliki deretan pengisi departemen akting yang sangat, sangat kuat. Bradley Cooper dan Jennifer Lawrence berhasil menampilkan penampilan akting terbaik di sepanjang karir mereka untuk film ini. Cooper jelas terlihat begitu lepas dalam menjiwai karakter Pat Solitano yang memiliki ketidakstabilan emosional namun tetap berusaha untuk memandang positif segala hal yang berada di sekitarnya. Sebaliknya, walaupun memiliki karakterisasi lebih gelap, Lawrence mampu membuat karakter Tiffany menjadi begitu meledak-ledak dengan cara yang akan berhasil meluluhkan hati banyak orang. Bersama, keduanya mampu menciptkan chemistry yang begitu erat dan meyakinkan. Deretan adegan yang menampilkan karakter Pat dan Tiffany menari bersama jelas adalah deretan adegan paling romantis sekaligus menghibur yang ada di film ini.

Cooper dan Lawrence mendapatkan dukungan yang solid dari penampilan jajaran pemeran pendukung film ini. Robert De Niro – yang menampilkan penampilan terbaiknya dalam beberapa tahun terakhir – dan Jacki Weaver berhasil hadir sebagai karakter pasangan orangtua yang memiliki cara yang aneh dalam menghadapi permasalahan anaknya. Begitu juga Chris Tucker yang mampu hadir kuat ketika berperan sebagai sahabat dari karakter Pat. Silver Linings Playbook juga tampil memuaskan dari segi kualitas tata produksi, khususnya tata musik yang dihasilkan Danny Elfman. Mengikuti pola penulisan dialog yang witty, Elfman mampu menghadirkan deretan musik pengiring yang terdengar begitu jenaka namun berhasil mengisi setiap ruang kosong yang terdapat di sela-sela penceritaan film ini.

Meskipun kelemahan pada penggalian permasalahan dan deretan karakter yang coba dihadirkan David O. Russell pada film ini membuat Silver Linings Playbook gagal untuk mengikat penontonnya secara emosional dengan lebih kuat, namun Russell tetap mampu membawakan ritme penceritaan film ini dengan baik. Dan tentu saja, dialog-dialog cerdas nan menghibur yang dihadirkan Silver Linings Playbook di sepanjang penceritaannya jelas juga merupakan sebuah poin keunggulan tersendiri. Namun kekuatan utama film ini berada pada solidnya penampilan dari jajaran departemen aktingnya. Bradley Cooper, Jennifer Lawrence, Robert De Niro, Jacki Weaver dan Chris Tucker berhasil menghadirkan kekuatan akting yang begitu mempesona. Apakah Silver Linings Playbook adalah sebuah jalan cerita komedi romantis yang begitu familiar? Benar. Klise? Sama sekali tidak. Silver Linings Playbook masih akan mampu memberikan momen-momen menyenangkan pada penontonnya di sepanjang penceritaannya meskipun tidak akan mampu untuk memberikan kesan yang lebih mendalam lagi.

popcornpopcornpopcorn  popcorn3popcorn2

Silver Linings Playbook (The Weinstein Company/Mirage Enterprises, 2012)
Silver Linings Playbook (The Weinstein Company/Mirage Enterprises, 2012)

Silver Linings Playbook (2012)

Directed by David O. Russell Produced by Bruce Cohen, Donna Gigliotti, Jonathan Gordon Written by David O. Russell (screenplay), Matthew Quick (novel, The Silver Linings Playbook) Starring Bradley Cooper, Jennifer Lawrence, Robert De Niro, Jacki Weaver, Chris Tucker, Julia Stiles, Anupam Kher, Brea Bee, Shea Whigham, John Ortiz, Paul Herman, Dash Mihok Music by Danny Elfman Cinematography Masanobu Takayanagi Editing by Jay Cassidy Studio The Weinstein Company/Mirage Enterprises Running time 122 minutes Country United States Language English

7 thoughts on “Review: Silver Linings Playbook (2012)”

  1. Mantep2 nih review nya….

    Boleh nyumbang ide? Gimana kalo review film2 sebelum tahun 2010 yg bagus2, sperti chariots of fire, shawshank redemption, pulp fiction?

    Sekaligus buat rekomndasi film2 jadul tuh. Mkasih.

    1. Halo. Terima kasih telah berkunjung ke blog saya. Usulannya akan dipertimbangkan yah. Udah lama sebenarnya ingin mengulas film-film lama. Tetapi selalu terbentur waktu. Mudah-mudahan nanti akan dapat terealisasi.

  2. Amir cintaaaa… haha…
    *Maaf nih kalo komenku ini agak-agak lari dari jalur T___T*
    Kita follow-followan blog yuk Mir, kebetulan aku baru bikin blog baru (lagi)—http://escapefromworld.wordpress.com/—-, kali ini mau lebih fokus di satu topik aja deh kayaknya (belajar darimu😀 ) So, maybe I need some blow up from you (ehm!), secara blog ente kan cetar membahana badai bo! Hihi…
    Ok? Salam super.

    PS: aku juga suka Jennifer Lawrence, especially since I watched her in Hunger Games. She’s really rocks!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s