Review: Rectoverso (2013)


rectoverso-header

Disajikan dengan gaya interwoven, dimana setiap cerita dihadirkan dalam satu lini masa yang sama walaupun tidak pernah benar-benar saling bersinggungan antara satu dengan yang lain, Rectoverso mencoba untuk menghadirkan lima buah cerita berbeda dengan satu tema cerita yang sama: cinta yang tak terucap, yang kisahnya diangkat dari novel berjudul sama karya Dewi Lestari (Perahu Kertas, 2012). Rectoverso sendiri digarap oleh lima nama sutradara wanita pemula namun merupakan nama-nama yang cukup popular di kalangan dunia seni peran Indonesia: Olga Lydia, Rachel Maryam, Cathy Sharon, Happy Salma dan Marcella Zalianty.

malaikat-juga-tahu-posterRectoverso dibuka oleh Malaikat Juga Tahu yang diarahkan oleh Marcella Zalianty. Dengan naskah cerita yang disusun oleh Ve Handojo (Cewek Gokil, 2011), film pendek ini berkisah mengenai seorang penderita autis, Abang (Lukman Sardi), yang tinggal bersama dengan Bunda-nya (Dewi Irawan), yang mengelola sebuah rumah kost. Semenjak lama, Abang telah menaruh hati terhadap Leia (Prisia Nasution), salah seorang penghuni kost tersebut yang sepertinya telah menjadi orang yang benar-benar telah mengerti dirinya selain sang Bunda. Namun, hubungan tersebut secara perlahan mulai runtuh ketika Leia berkenalan dengan adik Abang, Hans (Marcell Domits), dan kemudian mulai menjalin hubungan asmara dengannya.

Sederhana namun mampu diolah secara kuat berkat dukungan akting yang benar-benar emosional dari setiap jajaran pemeran filmnya berhasil membuat Malaikat Juga Tahu menjadi bagian terbaik dari Rectoverso. Lukman Sardi berhasil menampilkan penampilan yang mungkin akan diingat sebagai salah satu penampilan terbaik di sepanjang karirnya sebagai seorang aktor. Chemistry yang ia jalin bersama dengan jajaran pemeran lainnya, khususnya Dewi Irawan dan Prisia Nasution, juga menjadi salah satu faktor penting mengapa Malaikat Juga Tahu mampu tampil begitu emosional. Ditambah dengan kehadiran lagu berjudul sama yang kali ini dinyanyikan oleh Glenn Fredly, Malaikat Juga Tahu berhasil menjadi sebuah penceritaan yang singkat, lugas, padat sekaligus benar-benar menyakitkan untuk diikuti.

firasat-poster

Rachel Maryam hadir sebagai sutradara pada film pendek kedua, Firasat, dengan naskah cerita yang ditulis oleh Indra Herlambang (Mika, 2013). Bagian ini berkisah mengenai seorang gadis yang bernama Senja (Asmirandah) yang bergabung ke sebuah perkumpulan bernama Firasat dimana setiap anggotanya saling berbagai mengenai pertanda maupun firasat yang mereka alami dalam keseharian mereka yang mungkin akan menjadi sebuah peringatan bahwa mereka akan ditinggalkan oleh seseorang yang mereka sayangi. Senja baru saja mendapatkan firasat buruk tersebut. Dan tentu saja, rasa panik mulai menderanya akibat rasa ketakutan bahwa ia akan kehilangan sosok orang yang ia cintai.

Tidak ada yang benar-benar spesial dari Firasat. Jalan penceritaan yang sangat sederhana kemudian justru mendapatkan perlakuan yang minimalis pula dari Rachel Maryam maupun penulis naskah cerita film ini, Indra Herlambang. Meskipun dalam beberapa dialognya Firasat mampu memberikan sebuah cara pandang yang unik mengenai arti atau mengapa seseorang mendapatkan sebuah firasat dalam keseharian mereka, namun Indra Herlambang gagal memberikan pendalaman yang kuat bagi dua karakter utama dalam jalan cerita film ini. Hasilnya, Firasat bahkan terasa terlalu bertele-tele dalam bercerita dengan durasinya yang sebenarnya singkat itu. Asmirandah dan Widyawati masih mampu menampilkan penampilan akting yang memuaskan meskipun chemistry yang terjalin antara Asmirandah dan Dwi Sasono kurang mampu untuk tampil mengikat.

curhat-buat-sahabat-posterBerbicara mengenai kesederhanaan cerita, Olga Lidya mengarahkan sebuah segmen berjudul Curhat Buat Sahabat yang benar-benar sederhana namun mampu disajikan dengan tatanan cerita yang benar-benar lugas dan efektif. Dengan naskah cerita yang digarap oleh Ilya Sigma dan Priesnanda Dwisatria (Catatan Harian Si Boy, 2011), berkisah tentang malam panjang yang dilalui dua sahabat, Amanda (Acha Septriasa) dan Reggie (Indra Birowo), yang dihabiskan untuk mendengarkan keluh kesah Amanda ketika baru saja putus hubungan dengan kekasihnya. Bagian ini jelas mampu sangat bersinar berkat penampilan Acha Septriasa yang begitu meledak-ledak sekaligus emosional dalam menghidupkan karakternya. Acha terlihat begitu alami sebagai Amanda dalam mengisahkan hubungan cintanya yang kandas. Begitu juga dengan Indra Birowo yang mampu lepas dari imej komikalnya dan kemudian mendampingi Acha dalam menyelami kisah mengenai hubungan cinta yang tak tersampaikan antara dua sahabat ini. Ditambah dengan rapinya pengelolaan adegan-adegan flashback yang menghiasi jalan cerita film ini, Curhat Buat Sahabat berhasil tampil begitu meyakinkan dalam penyajiannya.

cicak-di-dinding-posterSegmen keempat, Cicak di Dinding, yang diarahkan oleh Cathy Sharon, berkisah mengenai pertemuan antara Saras (Sophia Latjuba) dan Taja (Yama Carlos) yang berakhir dengan sebuah keintiman semalam antara keduanya. Walau tidak berharap untuk bertemu kembali dengan Saras, sebuah pertemuan antara Taja dengan wanita cantik tersebut berlanjut menjadi kedekatan antara keduanya. Sayangnya, begitu Taja merasa bahwa ia telah siap untuk jatuh hati pada Saras, di saat itu pula Saras memutuskan untuk menghilang dari kehidupan pria muda yang berprofesi sebagai seorang pelukis tersebut. Naskah cerita yang ditulis oleh Ve Handojo cukup mampu memadukan elemen love and lust secara indah yang kemudian berhasil diterjemahkan dengan baik oleh kemampuan Sophia Latjuba dan Yama Carlos dalam menghidupkan peran dan hubungan antara karakter yang mereka perankan. Tidak lupa, kehadiran Tio Pakusadewo yang semakin menguatkan komposisi akting segmen ini.

hanya-isyarat-posterSegmen terakhir berjudul Hanya Isyarat yang diarahkan oleh Happy Salma dengan naskah cerita yang ditulis oleh Key Mangunsong (Oh My God, 2008). Segmen ini berkisah mengenai pertemuan perdana antara lima orang backpackers (Amanda Soekasah, Hamish Daud, Fauzi Baadilla, Rangga Djoned dan Kims) setelah sekian lama tergabung dalam sebuah mailing list. Meskipun baru pertama bertemu, namun ternyata salah satu diantara mereka telah memendam rasa suka yang mendalam kepada seorang lainnya… meskipun rasa tersebut hanya dapat ia pendam sendiri dan mengagumi sosok tersebut dari jauh melalui siluet punggungnya saja.

Harus diakui, membutuhkan beberapa saat untuk dapat menikmati Hanya Isyarat. Sebelum menyajikan adegan utama yang begitu emosional, Hanya Isyarat hanya diisi dengan momen-momen dialog antara karakternya yang meskipun terkesan tidak terarah namun sebenarnya berisi banyak simbolisme yang bernuansa puitis. Puncaknya, ketika adegan lima karakter backpackers tersebut saling bertukar cerita mengenai kehidupan mereka, di saat itulah Hanya Isyarat akan mampu mengguncang sisi emosional setiap penontonnya. Menyakitkan namun juga begitu indah di saat yang sama.

Rectoverso memang mampu tampil unggul berkat latar belakang ceritanya yang berasal dari tangan seorang Dewi Lestari – yang dikenal puitis serta mendalam dalam menyajikan cerita meskipun sedang menyajikan tema yang sebenarnya sederhana – serta penampilan deretan pemeran setiap segmen yang benar-benar memukau. Namun, keunggulan utama film ini juga tidak dapat dilepaskan dari kesuksesan tim produksi film yang mendukung dengan tata teknis yang begitu cemerlang. Dimulai dengan kehadiran lagu-lagu yang dinyanyikan oleh Glenn Fredly, Drew, Dira Sugandi, Acha Septriasa dan Tohpati serta Raisa yang mampu merangkum setiap jalan cerita dengan begitu sempurna. Tata musik arahan Ricky Lionardi juga mampu mengawal setiap jalan cerita dan mengisinya dengan balutan emosi tambahan tanpa pernah terkesan tampil terlalu melankolis maupun berlebihan. Yadi Sugandi, seperti biasa, juga berhasil memberikan gambar-gambar terbaiknya untuk setiap segmen. Puncaknya, pujian utama layak disematkan pada dua penata gambar, Cesa David Luckmansyah dan Ryan Purwoko, yang tidak hanya berhasil menata gambar menjadi sebuah jalinan cerita yang baik namun juga mampu menata aliran emosional setiap cerita sehingga mampu hadir dengan irama yang senada dan begitu menyentuh.

Well… jika mendengar deskripsi mengenai sebuah film omnibus yang berisi film-film pendek dan digarap oleh para sutradara pemula memberikan sedikit rasa khawatir pada diri Anda – sesuatu reaksi yang wajar sebenarnya mengingat kualitas kebanyakan film omnibus yang dirilis di Indonesia belakangan ini – maka Rectoverso mungkin akan sedikit mampu mengurangi pendapat tersebut. Latar belakang cerita yang kuat dari Dewi Lestari memang mampu memberikan dukungan yang solid bagi sebuah presentasi film perdana mereka. Pun begitu, jelas tidak dapat disangkal bahwa Olga Lydia, Rachel Maryam, Cathy Sharon, Happy Salma dan Marcella Zalianty memiliki visi yang kuat terhadap masing-masing cerita yang mereka arahkan sehingga mampu mendapatkan penampilan terbaik dari para pengisi departemen akting mereka serta tata teknis yang dibutuhkan untuk membuat eksekusi cerita mereka semakin mampu untuk tampil lugas dan emosional. Salah satu omnibus terbaik yang pernah dirilis di industri film Indonesia.

popcornpopcornpopcornpopcorn3popcorn2

Rectoverso (Keana Productions, 2013)
Rectoverso (Keana Productions, 2013)

Rectoverso (2013)

Directed by Olga Lydia, Rachel Maryam, Cathy Sharon, Happy Salma, Marcella Zalianty Produced by Marcella Zalianty, Eko Kristianto Written by Ve Handojo, Key Mangunsong, Indra Herlambang, Ilya Sigma, Priesnanda Dwisatria (screenplay), Dewi Lestari (novelRectoverso)  Starring Lukman Sardi, Prisia Nasution, Dewi Irawan, Asmirandah, Widyawati, Dwi Sasono, Acha Septriasa, Indra Birowo, Rangga Djoned, Tetty Liz Indriati, Tio Pakusadewo, Sophia Latjuba, Yama Carlos, Amanda Soekasah, Hamish Daud, Fauzi Baadilla, Priangga Adiyatama, Marcell Domits Music by Ricky Lionardi Cinematography Yadi Sugandi Editing by Cesa David Luckmansyah, Ryan Purwoko Studio Keana Productions Running time 107 minutes Country Indonesia Language Indonesian

Advertisements

3 thoughts on “Review: Rectoverso (2013)”

  1. Saya menonton film ini tepat dua hari sebelum penayangannya berakhir di bioskop dengan jumlah penonton kala itu hampir seperempat dri studio (cukup kaget karena biasanya film2 di akhir masa penayangan biasanya cuma sebaris atau dua baris). Awalnya sya underestimate dgn judul yg satu ini karena ini film indonesia dan tanpa ekspetasi karena blm tau apa2 mengenai bukunya (akhirnya saya beli jg bukunya 🙂 )
    Hampir 2 jam di studio walhasil film ini ternyata menghadirkan sesuatu yang berbeda. Film yang sangat indah namun sekaligus menyayat hati 😦 . Malaikat juga Tahu, Curhat untuk Sahabat, dan Cicak di dinding merupakan juara dalam film ini. Yang saya sangat sayangkan adalah part Firasat. (yang jika dibukunya justru part ini adalah juaranya), namun di film ini sebaliknya. Ada sesuatu yg kurang dr part ini mulai dr setting hingga karakter, terlalu melankolis dan puitis.
    Well, film ini dengan sukses membuat mata saya berkaca-kaca (padahal cowok) dgn premis yg menyayat hati. Tidak sabar membeli dvd/bluray ori nya untuk dikoleksi nanti.

    Sukses bagi ke Lima sutradara nya yg sukses membawakan film ini dgn baik.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s