Review: Apollo 18 (2011)


apollo-18-header

Pada 20 Juli 1969, melalui misi penerbangan Apollo 11 yang dilakukan oleh National Aeronautics and Space Administration, negara Amerika Serikat berhasil menghantarkan dua astronot-nya, Neil Armstrong dan Buzz Aldrin, menjadi dua manusia pertama yang menjejakkan kaki mereka di Bulan. Jelas adalah sebuah peristiwa yang sangat bersejarah bagi seluruh umat manusia yang ada di dunia. Namun, pernahkah Anda merasa penasaran mengenai mengapa hingga saat ini tidak ada lagi seorangpun yang mampu mengikuti jejak Armstrong dan Aldrin untuk menginjakkan kaki mereka di Bulan? Akan ada banyak teori konspirasi mengenai hal tersebut dan Apollo 18 mencoba untuk menceritakan salah satu diantaranya.

Merupakan debut film berbahasa Inggris pertama bagi sutradara asal Spanyol, Gonzalo López-Gallego, Apollo 18 adalah sebuah film horor yang bernafaskan science fiction namun dihantarkan melalui gaya penceritaan found footage. Perpaduan antara tema penceritaan science fiction dengan nuansa horor yang datang dari gaya penceritaan found footage jelas akan menjadi sebuah presentasi yang menarik jika López-Gallego mampu mengeksekusi jalan cerita filmnya dengan baik. Sayangnya, naskah cerita arahan Brian Miller sepertinya terlalu lemah untuk mampu memberikan dukungan yang kuat bagi pengarahan López-Gallego. Hasilnya, Apollo 18 semenjak awal telah terlihat sebagai sebuah penceritaan yang kacau dan sama sekali tidak pernah mampu memberikan efek horor yang kuat bagi penontonnya.

Layaknya kebanyakan film-film dengan gaya penceritaan found footage lainnya, Apollo 18 dibuka dengan sebuah kalimat perkenalan yang menyatakan bahwa film yang akan disaksikan merupakan hasil editing dari sebuah rekaman video mengenai misi rahasia pemerintah Amerika Serikat yang bocor di internet. Berlatar belakang masa penceritaan pada Desember 1974, Apollo 18 berkisah mengenai tiga orang astronot Amerika Serikat, Captain Benjamin Anderson (Warren Christie), Commander Nathan Walker (Lloyd Owen) dan Liutenant Colonel John Grey (Ryan Robbins), yang akan dikirimkan ke Bulan untuk sebuah misi rahasia melalui penerbangan Apollo 18.

Sebenarnya, Ben, Nate dan John sendiri memang semenjak lama telah dijadwalkan untuk terbang ke Bulan melalui misi Apollo 18. Namun, misi tersebut kemudian mendapatkan pembatalan secara sepihak dari pihak pemerintah. Misi yang kini harus dilalui oleh Ben, Nate dan John sendiri tetap disebut sebagai misi Apollo 18. Perbedaannya, kini ketiganya diharuskan merahasiakan perjalanan tersebut dari orang-orang yang berada di luar pihak NASA dan pemerintahan. Tidak begitu mempedulikan hal tersebut, ketiganya tetap merasa bahagia dengan penerbangan mereka ke Bulan. Sayangnya… begitu ketiganya mencapai tujuan mereka, mereka harus menghadapi sebuah teror yang dapat saja menyebabkan hilangnya nyawa mereka.

Meskipun adalah sangat menarik untuk menyaksikan bagaimana Gonzalo López-Gallego mengeksekusi premis Apollo 18 yang jelas sangat terdengar menarik, sayangnya film ini gagal untuk didukung oleh naskah penceritaan yang mumpuni. Semenjak awal film, Apollo 18 terlihat benar-benar tidak memiliki arah penceritaan yang istimewa. Latar belakang lokasi cerita yang berada di kawasan permukaan Bulan seperti hanyalah sebuah lokasi alternatif dari demikian banyak lokasi cerita yang biasanya mengisi kisah-kisah horor yang menggunakan teknik penceritaan found footage dalam presentasinya. Deretan konflik yang disajikan juga sangat terasa familiar. Sama sekali gagal untuk menyajikan sebuah konflik baru yang benar-benar menarik.

Selain naskah cerita yang hanya mampu menyajikan deretan konflik yang terkesan usang dan jauh dari kesan menarik, Apollo 18 semakin jauh dari kesan menarik dengan hadirnya deretan karakter yang benar-benar tersaji dengan dangkal. Ketiga karakter utama tidak pernah diberikan kesempatan untuk hadir dengan sisi penceritaan yang lebih mendalam. Akibat dari deretan kelemahan tersebut, di sepanjang 86 menit durasi penceritaan Apollo 18, film ini tampil tanpa pernah sekalipun berhasil untuk menakuti para penontonnya.

Apollo 18, sayangnya, adalah sebuah contoh lain dari sebuah jalan penceritaan yang hanya mampu terlihat menarik dari premis cerita yang ditawarkan daripada hasil akhir eksekusi penceritaan film ini. Kegagalan tersebut jelas muncul dari lemahnya penulisan naskah penceritaan film ini yang hanya mampu tampil sebagai sebuah horor found footage dengan latar belakang lokasi yang berbeda namun tetap menyajikan konflik dan usaha menakut-nakuti penontonnya dengan teknik yang telah berulang kali digunakan oleh film-film sejenis. Datar dan sangat, sangat membosankan.

popcornpopcorn popcorn2popcorn2popcorn2

Apollo 18 (Dimension Films/Bekmambetov Projects Ltd./Apollo 18 Productions, 2011)
Apollo 18 (Dimension Films/Bekmambetov Projects Ltd./Apollo 18 Productions, 2011)

Apollo 18 (2011)

Directed by Gonzalo López-Gallego Produced by Timur Bekmambetov, Michele Wolkoff Written by Brian Miller Starring Warren Christie, Lloyd Owen, Ryan Robbins, Michael Kopsa, Andrew Airlie, Kurt Max Runte, Jan Bos, Kim Wylie, Noah Wylie, Ali Liebert, Erica Carroll, Thomas Greenwood Music by Harry Cohen Cinematography José David Montero Editing by Patrick Lussier Studio Dimension Films/Bekmambetov Projects Ltd./Apollo 18 Productions Running time 86 minutes Country United States Language English

3 thoughts on “Review: Apollo 18 (2011)”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s