Review: Promised Land (2012)


promised-land-header

Dengan naskah yang ditulis oleh dirinya sendiri bersama John Krasinski, berdasarkan susunan cerita karya Dave Eggers (Where the Wild Things Are, 2009), Promised Land sebenarnya direncanakan akan menjadi debut penyutradaraan bagi aktor Matt Damon. Sayangnya, kesibukan dan komitmennya dengan film-film lain kemudian memaksa Damon untuk melepas posisinya sebagai sutradara – walaupun ia masih tetap akan berperan sebagai aktor utama sekaligus produser bagi film ini. Damon lalu menghubungi Gus Van Sant – yang sebelumnya pernah mengarahkannya dalam film Good Will Hunting (1997) – untuk menggantikan posisinya. Singkat cerita, Van Sant menyetujui permintaan Damon dan akhirnya memulai proses produksi Promised Land pada April 2012 yang lalu.

Promised Land sendiri sebenarnya memiliki plot cerita yang cukup sederhana – dan mudah untuk ditebak meskipun Van Sant berusaha menata penampilan ceritanya dengan sangat rapi. Film ini berkisah mengenai dua orang pegawai korporat perusahaan Global Crosspower Solutions yang bergerak di bidang penggalian gas alam, Steve Butler (Matt Damon) dan Sue Thomason (Frances McDormand). Keduanya mendapatkan tugas untuk berangkat ke sebuah kota kecil di Pennsylvania, Amerika Serikat, dan berusaha mendapatkan izin pemanfaatan lahan guna penggalian gas alam dari masyarakat yang berada di kota tersebut.

Walaupun pada awalnya rencana yang dijalankan Steve dan Sue berjalan dengan lancar – dengan kebanyakan penduduk yang sedang berada dalam krisis finansial setuju untuk memberikan hak guna lahannya, masalah kemudian datang ketika salah seorang warga senior, Frank Yates (Hal Holbrook), mengungkapkan bahwa penggalian gas alam juga memberikan dampak negatif bagi masyarakat dan lingkungan yang berada di sekitarnya. Hambatan semakin bertambah ketika seorang aktivis pecinta alam, Dustin Noble (Jojn Krasinski), kemudian datang ke kota tersebut dan memaparkan fakta-fakta mengerika lain tentang perusahaan yang diwakili Steve dan Sue. Steve sendiri percaya sepenuh hati bahwa Global Crosspower Solutions adalah sebuah perusahaan yang benar-benar berniat baik dalam setiap proyek mereka. Karenanya, Steve dan Sue kemudian melakukan segala cara untuk mendapatkan dukungan dari masyarakat kota tersebut.

Promised Land kemungkinan besar akan mengingatkan banyak penontonnya pada salah satu karya Gus Van Sant paling popular, Good Will Hunting. Walau berada pada topik cerita yang berbeda, Promised Land juga merupakan sebuah drama inspiratif yang memberikan penontonnya banyak pandangan mengenai arti konsekuensi dari sebuah perbuatan dan pengaruhnya terhadap diri sendiri, masa depan atau orang-orang yang akan terpengaruh akan perbuatan tersebut. Sayangnya, walaupun memiliki topik cerita yang lebih modern dan memiliki keterkaitan dengan isu politik maupun kapitalisme, Promised Land dihadirkan terlalu datar dengan ketiadaan bagian cerita yang benar-benar mampu tampil dengan tingkatan emosional yang kuat maupun mengikat.

Van Sant sendiri sebenarnya mampu membangun jalan penceritaan Promised Land dengan cukup baik semenjak awal penceritaan. Namun, dua pertiga lanjutan kisah film ini kemudian berjalan dengan begitu klise dan… yah… cenderung datar. Banyak karakter pendukung yang tidak mampu mendapatkan porsi cerita yang sesuai, kisah cinta segitiga yang gagal untuk terekplorasi dengan sempurna – bahkan lebih baik untuk dihilangkan hingga kehadiran sebuah plot twist yang justru lebih terlihat sebagai hasil kebingungan Matt Damon dan John Krasinski dalam menemukan penyelesaian yang tepat untuk kisah mereka daripada sebuah adegan yang benar-benar mampu memberikan kejutan pada penontonnya.

Titik keunggulan film ini berada pada penampilan para pengisi departemen aktingnya. Walau sebenarnya tidak ada satupun karakter yang menuntut para pemerannya untuk memberikan sebuah penampilan yang menantang, namun Damon, Krasinski, Frances McDormand, Rosemarie DeWitt hingga Hal Holbrook mampu memberikan penampilan yang begitu meyakinkan. Chemistry yang tercipta antara Damon dan McDormand juga mampu tampil sangat kuat sebagai dua karakter yang saling bersahabat. Selebihnya, Promised Land juga mampu tampil baik dalam kualitas tata produksi yang disajikan.

Promised Land jelas bukanlah sebuah presentasi yang buruk. Gus Van Sant masih mampu menghadirkan sebuah jalan penceritaan yang cukup dapat dinikmati di sepanjang 106 menit durasi film ini. Sayangnya, Promised Land berjalan terlalu lembut untuk sebuah film yang seharusnya mampu menghadirkan intrik emosional yang lebih mendalam bagi para penontonnya dalam menilai setiap karakter yang hadir dalam jalan cerita film ini. Penampilan prima dari Matt Damon, John Krasinski dan Frances McDormand mungkin akan mampu membuat penonton bertahan. Namun jalan cerita yang terlalu datar akan membuat banyak orang lupa bahwa film ini disutradarai oleh seorang sutradara sekelas Gus Van Sant.

popcornpopcornpopcornpopcorn2popcorn2

Promised Land (Focus Features/Imagenation Abu Dhabi FZ/Participant Media/Pearl Street Films, 2012)
Promised Land (Focus Features/Imagenation Abu Dhabi FZ/Participant Media/Pearl Street Films, 2012)

Promised Land (2012)

Directed by Gus Van Sant Produced by Chris Moore Written by John Krasinski, Matt Damon (screenplay), Dave Eggers (storyStarring Matt Damon, John Krasinski, Frances McDormand, Rosemarie DeWitt, Scoot McNairy, Titus Welliver, Terry Kinney, Hal Holbrook Music by Danny Elfman Cinematography Linus Sandgren Editing by Billy Rich Studio Focus Features/Imagenation Abu Dhabi FZ/Participant Media/Pearl Street Films Running time 106 minutes Country United States Language English

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s