Review: The Perks of Being a Wallflower (2012)


Apa yang muncul di benak Anda ketika mendengar istilah film yang berkisah mengenai kehidupan remaja? Sekelompok anak muda yang gemar berpesta? Usaha mereka untuk melepas keperawanan atau keperjakaan mereka? Keterlibatan mereka terhadap obat-obatan terlarang? Cinta pertama? Mencari jati diri yang sebenarnya? Benar. Dalam kehidupan nyata, masa remaja – sebuah masa transisi sebelum seorang manusia mencapai usia kedewasaannya – mungkin dilewati oleh banyak orang dengan melakukan hal-hal tersebut. Namun dalam gambaran sebuah film? Kapan terakhir kali Anda pernah merasa bahwa sebuah film yang berorientasi kehidupan remaja benar-benar mampu berkisah layaknya seorang remaja dalam menceritakan kehidupan kesehariannya? Tidak terasa terlalu kekanak-kanakan atau justru terlalu dewasa dan terdengar bijaksana? WellThe Perks of Being a Wallflower yang disutradarai oleh Stephen Chbosky akan menjadi satu contoh kuat dimana sebuah film remaja benar-benar dapat menjadi sebuah film remaja.

Dalam The Perks of Being a Wallflower, yang naskahnya diadaptasi oleh Chbosky dari novelnya sendiri yang berjudul sama, Chbosky berhasil membentuk deretan konflik dan karakter yang mampu terasa terjadi secara alamiah – meskipun film ini juga memuat beberapa konflik yang benar-benar serius. Karakter-karakter yang ia hadirkan juga berhasil menjalin hubungan emosional mendalam dengan penontonnya. Bukan karena karakter-karakter tersebut dikisahkan mampu menghadapi berbagai permasalahan hidup yang mereka hadapi namun karena karakter-karakter tersebut mampu digambarkan dengan penuh manusiawi. Penonton akan dengan mudah menemukan karakter-karakter tersebut berada dalam keseharian kehidupan mereka… atau bahkan merasa bahwa karakter tersebut adalah mereka sendiri.

Jalan ceritanya sendiri berkisah mengenai kehidupan seorang remaja bernama Charlie (Logan Lerman) dan kesulitannya untuk membaur dengan orang-orang yang berada di sekitarnya, khususnya di lingkungan sekolahnya yang baru. Satu-satunya orang yang (sepertinya) dapat menerima keberadaannya hanyalah guru Bahasa Inggris-nya, Mr Anderson (Paul Rudd). Namun, tentu saja, memiliki seorang guru yang sebenarnya mau untuk mendengarkan keluh kesah kehidupan remaja tidak dapat dianggap sama dengan memiliki seorang sahabat. Pun begitu, ketidakberuntungan Charlie mulai berubah segera setelah ia mengenal seniornya di sekolah, Patrick (Ezra Miller), dan adik tirinya, Sam (Emma Watson).

Sama seperti halnya dengan Charlie, Patrick dan Sam tidak pernah memandang diri mereka sebagai sosok yang mudah untuk disukai banyak orang. Keduanya juga memiliki masa lalu serta sisi kehidupan kelam yang terus berusaha mereka sembunyikan agar tidak diketahui oleh orang lain. Walau begitu, persahabatan yang terbentuk antara Charlie, Patrick dan Sam – serta beberapa anak sekolah lainnya yang juga menganggap bahwa mereka tidak sesuai dengan lingkungan yang mereka tinggali sekarang, justru mampu membuat mereka menerima keadaan dan kelemahan diri masing-masing sekaligus menjadi sosok yang lebih tangguh dalam menghadapi kerasnya kehidupan masa sekolah.

Keunggulan terbesar The Perks of Being a Wallflower jelas berada pada materi yang dipresentasikan oleh naskah cerita film ini. Stephen Chbosky menempatkan setiap karakter remaja yang berada di dalam jalan ceritanya untuk benar-benar hadir sebagai sosok remaja: karakter yang masih meraba-raba kehidupan melalui berbagai kekacauan, kepedihan hingga kebahagiaan yang mereka lalui dalam keseharian mereka. Karakter-karakter ini mampu diberikan ruang penceritaan yang cukup luas oleh Chbosky untuk berkembang dan belajar tentang kehidupan bersama konflik yang mereka hadapi masing-masing. Faktor inilah yang membuat The Perks of Being a Wallflower mampu hadir dengan ritme penceritaan yang begitu mengalir dan terkesan nyata di sepanjang 102 menit durasi kehadirannya.

Chbosky juga mendapatkan sokongan penampilan akting yang begitu berkualitas dari para jajaran pengisi departemen aktingnya. Emma Watson benar-benar tampil lepas dari imej Hermione Granger yang selama ini menempel pada dirinya dan bertransformasi menjadi sesosok karakter gadis yang masih berusaha menemukan pilihan terbaik untuk dirinya – serta kehidupan cintanya. Ezra Miller sendiri menjadi sumber utama dari kehadiran nafas komedi dalam film ini. Karakternya yang digambarkan sebagai sosok pemuda homoseksual yang sensitif namun selalu berani untuk menunjukkan jati dirinya dapat dihidupkan dengan baik oleh Miller.

Pun begitu, jelas Logan Lerman yang muncul dengan penampilan terbaik di The Perks of Being a Wallflower. Karakter Charlie yang ia perankan adalah sosok karakter dengan masa lalu yang kelam serta dipenuhi gejolak emosional akan rasa cinta, ketakutan akan kehilangan orang-orang yang mengerti dirinya dan usaha untuk menemukan jati diri yang sesungguhnya. Lerman mampu hadir dengan penampilan yang sangat meyakinkan dalam setiap tingkatan emosional tersebut. Karakter-karakter minor lain yang diperankan oleh Mae Whitman, Paul Rudd, Dylan McDermott hingga Nina Dobrev juga semakin memperkuat kualitas dari penampilan jajaran pemeran film ini.

Kejelian Stephen Chbosky untuk menangkap esensi kehidupan remaja yang sesungguhnya serta kemudian merangkainya menjadi sebuah penceritaan yang lugas dengan kehadiran karakter-karakter yang begitu mudah untuk disukai jelas adalah beberapa keunggulan yang mampu membuat The Perks of Being a Wallflower tampil lebih istimewa dibandingkan dengan kebanyakan film bertema remaja lainnya. Kehadiran tema-tema kelam yang muncul melalui konflik yang dialami beberapa karakter dalam film ini juga mampu diolah Chbosky dengan ritme penceritaan yang mengalir lancar sehingga film ini tidak pernah terasa membosankan. Ditambah dengan kualitas akting prima yang dihadirkan jajaran pemeran film ini – dan lagu-lagu tahun 1990an popular yang dipilih untuk mengisi setiap adegannya, The Perks of Being a Wallflower mampu menjelma menjadi sebuah kisah drama remaja yang kuat, menyentuh dan tidak akan dapat dengan mudah untuk dilupakan begitu saja.

popcornpopcornpopcornpopcorn  popcorn3

The Perks of Being a Wallflower (Summit Entertainment/Mr. Mudd, 2012)
The Perks of Being a Wallflower (Summit Entertainment/Mr. Mudd, 2012)

The Perks of Being a Wallflower (2012)

Directed by Stephen Chbosky Produced by Lianne Halfon, John Malkovich, Russell Smith Written by Stephen Chbosky (screenplay), Stephen Chbosky (novel, The Perks of Being a Wallflower) Starring Logan Lerman, Emma Watson, Ezra Miller, Mae Whitman, Johnny Simmons, Kate Walsh, Dylan McDermott, Melanie Lynskey, Zane Holtz, Nina Dobrev, Paul Rudd, Reece Thompson, Brian Balzerini, Nicholas Braun, Joan Cusack, Adam Hagenbuch, Erin Wilhelmi, Tom Savini Music by Michael Brook Cinematography Andrew Dunn Editing by Mary Jo Markey Studio Summit Entertainment/Mr. Mudd Running time 102 minutes Country United States Language English

3 thoughts on “Review: The Perks of Being a Wallflower (2012)”

  1. Kira-kira Ezra Miller bisa dapat nominasi di kategori Best Supporting Actor gak ya di Academy Awards 2013 ? Ah, gak sabar pengen tahu nominasi Academy Awards 2013 loh. Haha……Btw, Semoga tahun ini Joaquin Phoenix lewat film The Master bisa bawa pulang Piala Oscar sebagai Best Actor dan bukannya Daniel Day Lewis di film Lincoln. Soalnya, Daniel Day Lewis udah punya 2 buah piala di rumahnya. Meryl Streep aja mendapat Piala Oscarnya yang ke-3 harus menunggu selama 29 tahun.

    Plus, semoga Rachel Weisz di film “The Deep Blue Sea” ama Naomi Watts di film “The Impossible” bisa dapat nominasi di kategori Best Performance by an actress in a leading role. Meskipun film-film tersebut belum saya tonton but I will (^.^)

    Ditunggu review film-film “kelas” Oscar seperti “The Master”, “Lincoln”, “Zero Dark Thirty”, “Flight”, “The Deep Blue Sea”, “Les Miserables”, “The Sessions”, “Silver Linings Playbook”, “Argo”, “Django Unchained”, “Beasts of the Southern Wild”, “Hyde Park on Hudson”, “Great Expectations”, “Rust & Bone”, “Quartet”, “Smashed”, “Magic Mike”, “The Paperboy” dan “The Impossible”

    Saya selalu setia menunggu review film yang Anda buat Bung Amir.

    Agus Huang, Medan

    1. Halo, Mas Agus!

      Whoaaaaa… PR yang diberikan banyaaaaak! Saya akan usahakan untuk me-review setiap film yang ditonton deh sesegera mungkin. Terima kasih udah berkunjung ke blog saya, Mas. Salam kenal!

  2. Is it fair if I said I like this movie even before released? Dan setelah menontonnya saya jadi lebih menyukainya?
    This movie feels so real… One of best movie 2012! YeaH!
    Oooh, I would love to have a friend like Patrick!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s