Review: Amour (2012)


amour-header

Jangan tertipu dengan judul yang dikedepankan Michael Haneke untuk film terbarunya ini! Meskipun menggunakan kata Amour alias cinta, Haneke sama sekali tidak berminat untuk menyajikan kisah mengenai betapa bergeloranya sebuah perasaan ketika manusia sedang merasakan gigitan virus cinta. Haneke justru menghadirkan masa terkelam yang dapat dihadapi manusia ketika mereka telah menggenggam cinta sejatinya: orang yang kita cintai secara perlahan mulai meninggalkan kehidupannya tanpa ada satupun yang dapat dilakukan untuk mencegahnya. Haneke menghadirkan tragedi tersebut dalam kejujuran yang luar biasa tajam. Di saat yang sama, tantangan yang datang dari minimnya pengelolaan plot cerita kemungkinan besar akan membuat banyak penonton merasa bahwa struktur emosional jalan cerita film ini terkesan dipaksakan untuk hadir daripada mampu berkembang secara alami dan kemudian mengikat setiap penontonnya.

Amour sendiri dimulai dengan sepercik kebahagiaan yang hadir dalam kehidupan pasangan lanjut usia, Georges (Jean-Louis Trintignant) dan Anne (Emmanuelle Riva). Keduanya adalah mantan guru musik yang pada suatu malam menghadiri pagelaran musik yang menampilkan salah seorang murid mereka, Alexandre (Alexandre Tharaud). Dalam adegan pembuka ini, penonton dapat menyaksikan bagaimana Georges dan Anne adalah pasangan yang telah menikah demikian lama namun masih tetap mampu mempertahankan berbagai gejolak cinta yang mereka rasakan semenjak memulai hubungan kasih tersebut dahulu kala. Namun, sayangnya, cahaya kebahagiaan tersebut segera sirna dari jalan cerita film ini.

Pada saat sarapan pagi keesokan harinya, Anne mengalami serangan stroke yang parah. Kejadian tersebut memaksa Anne untuk menggunakan kursi roda dalam kesehariannya dengan sebagian tubuhnya tidak lagi dapat berfungsi dengan baik. Benci dengan suasana rumah sakit, Anne kemudian memaksa suaminya untuk berjanji bahwa dirinya tidak akan lagi dibawa ke tempat tersebut meskipun dengan kondisi yang akan semakin parah di masa mendatang. Maka, Georges akhirnya memulai proses perawatan Anne sendiri di rumah mereka. Proses yang kemudian menguji kembali ketahanan cinta Georges pada Anne – meskipun secara perlahan Anne mulai tidak bereaksi terhadap berbagai sikap maupun perkataan manis Georges yang ia berikan pada istrinya tersebut.

Lupakan judul yang manis dan anggapan bahwa ini merupakan sebuah kisah yang mempresentasikan mengenai bagaimana sebuah kisah sejati akan dapat menghadapi berbagai tantangan yang muncul dalam kehidupan. Michael Haneke jelas bukanlah sosok yang seromantis itu – dengan beberapa orang kemungkinan besar akan mulai menilai bahwa dirinya adalah sosok yang sinis terhadap perasaan cinta dan kasih sayang. Hampir di keseluruhan presentasi cerita Amour diwarnai dengan kesedihan. Hubungan antara karakter Georges dan Anne yang awalnya merupakan hubungan kasih antara pasangan suami dan istri kini telah berubah menjadi sebuah hubungan antara seorang perawat dengan pasiennya. Penonton masih dapat merasakan hadirnya sentuhan cinta dalam hubungan tersebut namun tetap akan lebih dapat merasakan bagaimana hubungan tersebut mulai berubah menjadi beban bagi setiap karakternya.

Ketidakhadiran rasa kehangatan dalam jalan cerita Amour jelas tidak lantas menjadikan film ini menjadi sebuah film yang berkualitas buruk. Justru hal tersebut yang membuat Amour terasa (terlalu) jujur dalam bercerita. Haneke memaksa setiap penontonnya untuk menjadi saksi pada perjalanan akhir sebuah hubungan cinta. Namun sayangnya, monotonnya warna penceritaan film ini jelas akan menghadirkan permasalahan tersendiri bagi penonton untuk dapat menjalin hubungan emosional yang lebih kuat, baik kepada karakter-karakter yang ada di film ini maupun  terhadap kisah hidup yang mereka sajikan. Ritme penceritaan yang lamban dan dengan banyak adegan dihadirkan dalam tempo yang panjang juga akan memberikan tantangan tersendiri bagi penontonnya untuk dapat bertahan dan mengikuti perjalanan pahit tersebut.

Yang jelas, Amour berhasil menyajikan sebuah penampilan yang begitu emosional dari dua pemeran utamanya, Jean-Louis Trintignant dan Emmanuelle Riva. Trintignant harus berusaha menghidupkan sesosok karakter yang menghadapi tantangan terbesar dalam kehidupan cintanya dan hal tersebut dipenuhi dengan rasa ketakutan serta kekhawatiran yang mendalam. Dan Trintignant berhasil menghadirkan karakter berpenampilan emosional sekompleks tersebut dengan sangat baik. Sementara itu, penampilan Riva juga jelas akan membekas kuat dibanyak ingatan penontonnya melalui usahanya untuk menghadirkan sosok penderita stroke yang benar-benar tidak mampu lagi melakukan apapun dengan anggota tubuhnya kecuali dengan memberikan kehadiran suara maupun beberapa gerakan tubuh yang minim. Penampilan yang sangat fenomenal!

Dengan tema penceritaannya yang berkisah mengenai hubungan antara kehidupan, cinta dan kematian, Amour seharusnya mampu hadir menjadi sebuah presentasi yang begitu berhasil dalam menyentuh dan mengguncang hati setiap penontonnya. Berhasil pada beberapa bagian, namun sayangnya Amour berjalan terlalu monoton untuk mampu meninggalkan luka yang mendalam. Pun begitu, penampilan sempurna dari dua pemeran utamanya serta pengarahan Michael Haneke yang mampu menjabarkan setiap perubahan emosional yang terjadi pada karakter-karakter yang ada di dalam jalan cerita film ini berhasil membuat Amour menjadi salah satu perjalanan pahit yang tidak akan mudah untuk dilupakan banyak orang.

popcornpopcornpopcorn  popcorn3popcorn2

Amour (Wega Film/Les Films du Losange/X-Filme Creative Pool/France 3 Cinéma/ARD Degeto Film/Westdeutscher Rundfunk/Bayerischer Rundfunk/France Télévisions/Canal+/Ciné+/ORF Film/Fernseh-Abkommen, 2012)
Amour (Wega Film/Les Films du Losange/X-Filme Creative Pool/France 3 Cinéma/ARD Degeto Film/Westdeutscher Rundfunk/Bayerischer Rundfunk/France Télévisions/Canal+/Ciné+/ORF Film/Fernseh-Abkommen, 2012)

Amour (2012)

Directed by Michael Haneke Produced by Margaret Ménégoz Written by Michael Haneke Starring Jean-Louis Trintignant, Emmanuelle Riva, Isabelle Huppert, Alexandre Tharaud, William Shimell, Ramón Agirre, Rita Blanco, Carole Franck, Dinara Droukarova, Laurent Capelluto, Jean-Michel Monroc, Suzanne Schmidt, Walid Afkir, Damien Jouillerot Cinematography Darius Khondji Editing by Nadine Muse, Monika Willi Studio Wega Film/Les Films du Losange/X-Filme Creative Pool/France 3 Cinéma/ARD Degeto Film/Westdeutscher Rundfunk/Bayerischer Rundfunk/France Télévisions/Canal+/Ciné+/ORF Film/Fernseh-Abkommen Running time 127 minutes Country Austria, France, Germany Language France

8 thoughts on “Review: Amour (2012)”

    1. Kali ini giliran saya yang bilang salut untuk Mas Gun. Saya udah nonton tiga kali sebelum menulis review film ini. Dan tetap aja… gak dapat sisi emosional cerita ‘Amour’ secara mendalam. Makanya cuma bisa bilang bagus… dan gak lebih.

  1. Sebenernya ending dari film ini memang sengaja dibuat begitu enigmatic dan ambigu atau berhenti di ‘shocking scene’ yang itu ya?

    1. Hmmm… mungkin tergantung persepsi masing-masing penonton yah. Tapi kalau saya sih tidak menemukan adanya ambiguitas dalam pilihan ending-nya. Setelah ‘shocking scene’ dan adegan salah karakter utamanya pergi — kemudian berbalik ke awal cerita — yah… Haneke memang ingin ceritanya berakhir begitu. Tidak ada bagian cerita yang bergantung lagi.

  2. I love it, absolutely!
    Sumpah miris sama ‘shocking scene’ nya, dapet emosinya tapi ga sampe nangis. Mungkin media nontonnya ngaruh, kalo di big screen jelas lebih berasa sih.

  3. MAAF SEBELUMNYA INI HANYA PENDAPAT SAJA. Menurut saya. … Film ini akan super monoton jika anda tidak mengerti bahasa/budaya – Eropa/ (dlm hal ini Prancis) . Jika saja anda mengerti latar belakang sosial masyarakat Eropa/Prancis yang kontemporer dan simbol-simbol lewat bahasa dan dialog “idiomatic” prancis ( yang tidak dapat diterjemahkan kalau tidak memahami betul budaya/bahasa Prancis). Haneke yg berbahasa ibu Jerman cukup sering membuat film-film berbahasa Prancis… banyak bermain dengan simbol2 mulai dari pemeran pria dan wanita yang selalu ia beri nama ” George & Anne” ( muncul dlm beberapa filmnya) , juga beberapa selipan kritik sosial eropa dunia barat kontemporer ( persekutuan antara israel/US/) , serta lukisan-lukisan indah dan scene merpati yang ditampilkan lama sekali dan berulang@… sungguh film yang sangat “semiotis”..

  4. saya beli film ini dikarenakan di cover movienya tertera Best Picture award, gak jelas dimananya ato mungkin di nilai dari sisi acting pemainnya. tapi, banyak clip yang tak penting disana dimuat sehingga wasting timing. contoh, seperti sorotan pada lukisan2 yang menghabiskan banyak durasi , dan banyak lagi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s