Review: Langit ke 7 (2012)


Sutradara Rudi Soedjarwo kembali ke ranah drama romansa lewat film terbarunya, Langit ke 7. Film yang naskah ceritanya ditulis oleh Virra Dewi ini mengisahkan mengenai kehidupan seorang model dan bintang iklan terkenal, Dania (Taskya Giantri Namya), yang saat ini sedang berada di atas puncak karirnya – sebuah situasi yang mengharuskannya untuk terbiasa dikejar-kejar oleh para wartawan berita infotainment. Dikejar-kejar oleh awak media sebenarnya bukanlah masalah besar bagi Dania. Namun, ketika ayahnya (Pong Hardjatmo) yang mulai beranjak tua dan sakit-sakitan meminta dirinya untuk berkenalan dengan seorang pria yang akan dijodohkan untuknya, Dania mulai merasa uring-uringan karena jatuh cinta dan menikah jelas bukanlah sesuatu hal yang amat dinantikannya di usianya yang masih muda tersebut.

Memilih untuk melupakan sejenak kegundahan hati dan jalan pemikirannya, Dania lalu mengajak empat sahabatnya, Visi (Rechelle Rumawas), Lintang (Bonita Lauwoie), Angel (Maureen Irwinsyah) dan Indira (Atika Noviasti) untuk berlibur bersama ke Bali. Awalnya, liburan tersebut berjalan dengan rencana. Dania dan teman-temannya mampu menghabiskan waktu mereka untuk bersenang-senang bersama. Masalah mulai muncul ketika sekelompok wartawan mulai mengendus jejak Dania dan mengikutinya ke Bali. Tidak hanya itu, kehadiran seorang pria asing bernama Denan (Aryadila Yarosairy) juga secara perlahan mulai mengganggu perhatian Dania. Pun begitu, tidak ada masalah yang lebih besar bagi Dania jika dibandingkan dengan musibah yang kemudian ia alami dan mengharuskannya untuk berjuang dalam menembus alam batas antara hidup dan mati.

Rudi Soedjarwo yang mengarahkan Langit ke 7 masihlah Rudi Soedjarwo yang selama ini telah dikenal para penikmat film Indonesia: sosok sutradara yang mampu dengan lihai bercerita sekaligus, yang selalu menjadi kelebihan Rudi, mampu mengeluarkan kemampuan akting terbaik dari para jajaran pengisi departemen aktingnya – termasuk jika departemen akting tersebut diisi dengan nama-nama yang belum pernah terjun ke dunia akting sebelumnya. Langit ke 7 sayangnya tidak ditopang oleh kekuatan penulisan naskah yang kokoh. Kelemahan tersebut bukan diakibatkan karena jalan cerita Langit ke 7 yang terasa sedikit familiar dengan beberapa film drama romansa yang pernah dirilis oleh Hollywood ebelumnya. Kelemahan tersebut lebih condong terjadi karena ketidakmampuan penulis naskah film ini dalam merancang bangunan cerita yang tertata dengan rapi untuk kemudian mampu tampil menarik dan berdampak emosional bagi penontonnya.

Awal penceritaan Langit ke 7 sebenarnya telah tampak begitu menarik. Film ini mampu memperkenalkan karakter utamanya serta deretan karakter pendukung dan kisah-kisah yang menyertai kehidupan mereka dengan baik. Namun, ketika konflik utama film mulai mengambil tempatnya, jalan cerita Langit ke 7 terasa berjalan secara radikal yang ditandai dengan kehadiran begitu banyaknya adegan yang sepertinya hanya ditampilkan untuk memenuhi kuota durasi sebuah film layar lebar dan tanpa esensi yang berarti untuk diceritakan. Momen-momen lemah tersebut juga tidak berjalan sementara. Bagian pertengahan cerita Langit ke 7 jelas terasa begitu monoton dengan karakter utamanya yang diceritakan terus menerus melakukan hal yang sama berulang kali.

Fokus yang diberikan pada konflik yang dialami oleh karakter utama juga membuat jalan cerita Langit ke 7 tidak memberikan kesempatan bagi konflik minor film – yang sebenarnya menjadi kunci utama penyebab terjadinya konflik mayor – untuk tergali dengan baik. Karakter antagonis yang dihadirkan juga tidak pernah mampu diberikan porsi penceritaan yang memadai untuk membuat kehadirannya menjadi terasa berarti bagi keseluruhan jalan cerita Langit ke 7. Akhirnya, banyak karakter dan plot cerita pendukung yang hadir dalam jalan cerita Langit ke 7 hanya terasa sempalan belaka. Kekurangan imajinasi dan daya gambar Virra Dewi dalam mengembangkan deretan karakter dan cerita dalam Langit ke 7 inilah yang menjadi penyebab utama mengapa film ini gagal menjadi sebuah drama romansa yang terasa humanis dan menyentuh.

Pun begitu, Langit ke 7 juga tidak lantas dapat dikategorikan sebagai sebuah presentasi yang benar-benar buruk. Seperti yang telah diungkapkan sebelumnya, Rudi Soedjarwo mampu mengeluarkan penampilan terbaik setiap jajaran pemeran filmnya yang kali ini diisi oleh wajah-wajah cantik pemenang Clear Hair Model 2012. Berada di garda terdepan adalah Taskya Giantri Namya yang memerankan karakter Dania. Dania sebenarnya bukanlah karakter yang rumit. Karakter ini terlihat seperti versi sedikit dewasa dari karakter Cinta dari Ada Apa Dengan Cinta? (2001) dan penggabungan dari karakter-karakter utama wanita lain di berbagai film drama romansa lainnya. Walau begitu, Taskya tetap mampu memberikan penampilan terbaiknya. Ia mampu menampilkan chemistry yang erat antara karakternya dengan karakter-karakter sahabatnya, menyajikan emosi karakternya dengan tepat saat dibutuhkan sekaligus menjalin hubungan yang dapat dipercaya antara karakternya dengan karakter Denan yang menjadi love interest-nya.

Walau karakternya gagal dikembangkan dengan sempurna, Aryadila Yarosairy juga mampu untuk menampilkan sosok karakter utama pria yang membumi – ia tidak terlihat sebagai sosok pria yang terlalu tampan sehingga sulit untuk dijumpai di kehidupan sehari-hari serta tidak terlalu biasa sehingga sukar dipercaya mampu menarik perhatian para gadis-gadis di sekitarnya. Chemistry yang terbentuk antara Aryadila dan Taskya juga-lah yang menjadi kunci mengapa Langit ke 7 masih tetap mampu menjadi sebuah sajian yang layak walau seringkali tampil datar dalam penyampaian emosi ceritanya. Selain Taskya dan Aryadila, karakter-karakter pendukung lainnya juga mampu tampil dengan penampilan akting yang wajar. Dukungan dari para pemeran senior seperti Pong Hardjatmo, Sandra Dewi dan Donny Damara juga semakin membuat solid kualitas penampilan departemen akting film ini.

Di bidang tata produksi Langit ke 7 juga sama sekali tidak menemui hambatan. Tata sinematografi arahan Arief R Pribadi mampu menghadirkan deretan gambar yang terlihat begitu indah – khususnya ketika jalan cerita sedang berlatar belakang di keindahan alam pulau Bali. Andi Rianto juga memberikan suplai emosional yang cukup berarti bagi jalan cerita film ini lewat tata musik yang ia arahkan. Penggunaan lagu klasik Layu Sebelum Berkembang yang kini dinyanyikan oleh Nathan Hartono untuk film ini juga digunakan secara tepat pada beberapa adegannya – walau kemudian akhirnya terasa terlalu seringkali hadir seiring dengan berjalannya durasi film ini.

Bukan sebuah karya yang istimewa, namun jelas juga bukan sebuah karya yang pantas untuk diacuhkan begitu saja. Kelemahan terbesar dari Langit ke 7 jelas adalah kegagalan penulis naskah film ini untuk merangkai sebuah jalinan cerita yang mampu terlihat berjalan lebih alami dan mengikat sehingga dapat memberikan pengalaman emosional bagi para penonton film yang sepertinya merupakan faktor yang wajib ada dalam setiap film drama romansa. Pun begitu, dengan kemampuan Rudi Soedjarwo untuk menggali potensi penampilan para jajaran pemeran serta tampilan tata produksi filmnya yang apik, Langit ke 7 setidaknya berhasil menjadi sebuah film drama percintaan yang cukup menghibur. Tidak lebih.

Langit ke 7 (Reload Pictures/Sanca International, 2012)

Langit ke 7 (2012)

Directed by Rudi Soedjarwo Produced by Kemal Arsjad, Faby Tsui Written by Virra Dewi Starring Taskya Giantri Namya, Aryadila Yarosairy, Nikki Frazetta, Rechelle Rumawas, Bonita Lauwoie, Maureen Irwinsyah, Atika Noviasti, Pong Hardjatmo, Sandra Dewi, Donny Damara, Wicaksono, Erly Ashy Music by Andi Rianto Cinematography Arief R Pribadi Editing by Eric Chooi Studio Reload Pictures/Sanca International Running time 92 minutes Country Indonesia Language Indonesia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s