Review: The Lady (2011)


Walau terlahir sebagai puteri tunggal dari seorang pejuang kebebasan masyarakat Burma, dan selalu mengikuti setiap pergerakan sosial dan politik masyarakat Burma dalam usaha mereka untuk meraih kebebasan dari pemerintahan yang berjalan otoriter, Aung San Suu Kyi (Michelle Yeoh) sama sekali tidak berminat untuk ikut serta dalam keriuhan dunia politik yang terjadi di tanah kelahirannya. Ia kini telah tinggal di Inggris, bersama dengan suaminya yang berkewarganegaraan Inggris, Michael Aris (David Thewlis), dengan dua putera mereka, Alexander (Jonathan Woodhouse) dan Kim (Jonathan Raggett). Namun, kedatangannya kembali ke kampung halaman, untuk mengunjungi ibunya yang sedang sakit, langsung membangkitkan kesadaran Suu Kyi bahwa, seperti sang ayah, ia harus berada di barisan terdepan dalam membela kebebasan masyarakat Burma.

Dukungan dari rakyat kepada Suu Kyi pun secara perlahan mulai mengalir. Berbekal nama baik sang ayah, yang dipandang sebagai pahlawan nasional bagi masyarakat Burma, Suu Kyi mulai membentuk barisannya sendiri dan meminta agar pemerintahan Burma untuk segera menggelar sebuah pemilihan umum untuk mempercepat proses reformasi pemerintahan di negara itu. Jelas saja, pemerintah yang merasa posisinya terancam, mulai melakukan berbagai cara untuk meredam pergerakan Suu Kyi. Namun, Suu Kyi bukanlah sosok wanita yang mudah menyerah. Dengan mengorbankan seluruh jiwa dan raganya, termasuk kebahagiaan keluarganya, Suu Kyi sekuat tenaga mencoba untuk tetap membela kebebasan rakyat Burma.

Kisah Aung San Suu Kyi dalam memperjuangkan kebebasan rakyat Burma dari sistem pemerintahan yang otoriter jelas merupakan salah satu kisah perjuangan paling inspiratif yang pernah ada. Sayangnya, The Lady gagal menangkap semangat perjuangan tersebut dalam penceritaannya. Jangan salah. The Lady sama sekali bukanlah film yang buruk. Namun Luc Besson sepertinya terlalu terpaku pada berbagai formula film-film biopik Hollywood dalam mengisahkan perjalanan hidup Aung San Suu Kyi. Hasilnya, The Lady berjalan dengan mudah ditebak: masa kecil yang tragis, perjuangan yang dipenuhi dengan cobaan, tantangan dari sisi personal dan keluarga hingga berbagai pencapaian yang muncul sebagai buah hasil perjuangan itu sendiri. Terlalu sederhana untuk sebuah kisah yang sangat mengagumkan dan kuat.

Tidak melulu bercerita mengenai kisah perjuangan Aung San Suu Kyi bagi rakyat Burma, The Lady juga mencoba melirik kehidupan pribadi Aung San Suu Kyi yang terbentuk dari cinta yang ia miliki bersama dengan karakter suaminya, Michael Aris. Sayangnya, pada kebanyakan bagian, kisah cinta yang dihadirkan oleh Besson juga terlihat begitu khas film-film biopik (jika Anda tidak ingin menggunakan istilah datar). Mengingat daftar filmografi Besson yang diisi dengan film-film semacam Nikita (1990), Léon (1994) dan The Fifth Element (1997) yang penuh dengan nuansa kekerasan dan kejutan, cukup mengherankan untuk melihat Besson mampu membuat The Lady tampil terlalu datar dan terlalu biasa.

Satu-satunya kehidupan yang membuat The Lady masih layak untuk dinikmati di sepanjang 135 menit durasinya adalah penampilan para pengisi departemen aktingnya, khususnya penampilan dua pemeran utamanya, Michelle Yeoh dan David Thewlis. Yeoh, yang memiliki kemiripan fisik yang sempurna untuk memerankan karakter Aung San Suu Kyi, mampu menghadirkan setiap hasrat dan kekuatan yang dimilik oleh Aung San Suu Kyi dalam penampilannya. Kuat namun tetap mampu memberikan penampilan yang sensitif dan menyentuh. Begitu juga dengan Thewlis, yang memberikan chemistry yang kuat atas penampilannya bersama Yeoh sekaligus mampu menghadirkan karakter suami yang berimbang bagi kekuatan yang dimunculkan oleh karakter Aung San Suu Kyi.

Sayangnya The Lady berjalan layaknya sebuah film biopik biasa. Tidak buruk. Namun untuk sebuah kisah yang begitu penuh dengan perjuangan dan tantangan emosional seperti yang dialami oleh Aung San Suu Kyi, The Lady jelas tampil terlalu lemah dan seringkali kehilangan sisi emosionalnya. Walau tidak ada yang istimewa dari segi penulisan cerita dan tata produksi yang ditampilkan film ini, penampilan serta kharisma Michelle Yeoh dan David Thewlis harus diakui menjadi kunci utama mengapa The Lady masih mampu tampil kuat di sepanjang menit-menit penceritaannya. Sebuah penceritaan yang cukup mudah dilupakan untuk sebuah kisah perjuangan yang jelas akan tidak dilupakan masyarakat dunia sepanjang masa.

The Lady (Europa Corp./Left Bank Pictures/France 2 Cinéma/Canal+/France Télévision, 2011)

The Lady (2011)

Directed by Luc Besson Produced by Luc Besson, Andy Harries, Virginie Silla, Jean Todt Written by Rebecca Frayn Starring Michelle Yeoh, David Thewlis, Jonathan Raggett, Jonathan Woodhouse, Susan Wooldridge, Benedict Wong, Flint Bangkok, Guy Barwell, Sahajak Boonthanakit, Antony Hickling, William Hope, Teerawat Mulvilai, Agga Poechit, Victoria Sanvalli, Nay Myo Thant, Danny Toeng, Dujdao Vadhanapakorn, Frank Walmsley, Marian Yu  Music by Eric Serra Cinematography Thierry Arbogast Editing by Julien Rey Studio Europa Corp./Left Bank Pictures/France 2 Cinéma/Canal+/France Télévision Running time 135 minutes Country France, United Kingdom Language Engliseh, Burmese

One thought on “Review: The Lady (2011)”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s