Review: Sanubari Jakarta (2012)


Berapa banyak cerita yang dapat Anda cerna dalam durasi 106 menit? Berbeda dari kebanyakan omnibus yang saat ini sedang menjamur di layar bioskop Indonesia, Sanubari Jakarta menghadirkan sepuluh cerita sekaligus kepada penontonnya dalam benang merah tema cerita yang berkisah mengenai persoalan yang dihadapi oleh kaum Lesbian, Gay, Bisexual and Transgender di kota Jakarta, Indonesia. Kehadiran sepuluh cerita dalam durasi 106 menit jelas saja tidak akan memberikan ruang yang cukup bagi setiap cerita untuk bergerak bebas dalam mengembangkan dirinya. Ditambah dengan fakta bahwa tidak seluruh cerita yang hadir mampu memberikan kesan yang kuat dan cenderung datar pada kebanyakan bagian ceritanya, mengakibatkan Sanubari Jakarta justru terkesan bertele-tele dalam penyampaiannya.

Sepuluh cerita dalam Sanubari Jakarta dimulai dengan film pendek berjudul ½ karya Tika Pramesti yang berkisah mengenai kompleksnya perasaan seorang wanita bernama Anna (Pevita Pearce) dan seorang pria bernama Abi (Irfan Guchi) yang sama-sama jatuh cinta kepada seorang pria bernama Biyan (Hernaz Patria). Dalam kisah yang mungkin akan mengingatkan sebagian penonton pada film Lovely Man, kisah kedua dalam Sanubari Jakarta, Malam Ini Aku Cantik karya Dinda Kanyadewi, berkisah mengenai seorang pria bernama Agus (Dimas Hary CSP) yang harus bekerja sebagai waria di Jakarta demi memenuhi kebutuhan harian anak dan istrinya di kampung. Cerita ketiga, Lumba-Lumba karya Lola Amaria, berkisah mengenai perkenalan antara seorang guru TK bernama Adinda (Dinda Kanyadewi) dengan salah seorang orangtua muridnya, Anggia (Ruth Pakpahan) yang kemudian berujung dengan lebih dari sekedar rasa persahabatan.

Terhubung karya Alfrits John Robert menjadi film pendek keempat yang berkisah mengenai dua orang perempuan, Agatha (Permatasari Harahap) dan Kartika (Illfie), yang awalnya tidak saling mengenal namun segera menemukan diri mereka dalam sebuah garis waktu yang bersamaan. Sebuah kisah komedi hadir dalam Kentang karya Aline Jusria yang berkisah mengenai satu pasangan homoseksual, Acel (Gia Partawinata) dan Drajat (Hafez Ali), yang menghadapi begitu banyak rintangan ketika mereka akan saling melepas rindu setelah sekian lama tidak bersua. Menunggu Warna karya Adriyanto Dewo hadir setelahnya dengan mengisahkan mengenai pertemuan dua pria, Satrio (Rangga Djoned) dan Adam (Albert Halim), yang awalnya berkenalan di sebuah persimpangan jalan dan kemudian menjalin hubungan romansa yang sepertinya tidak akan terpisahkan.

Film pendek karya Billy Christian, Pembalut, hadir sebagai film ketujuh dengan kisah mengenai seorang wanita, Bianca (Gesata Stella), yang harus menghadapi fakta bahwa kekasih wanitanya akan segera menikah dengan seorang pria. Topeng Srikandi karya Kirana Larasati kemudian hadir dengan pengisahan mengenai seorang wanita bernama Srikandi (Herfiza Novianti) yang berniat menunjukkan pada kolega kerja prianya bahwa statusnya sebagai seorang perempuan tidak berarti bahwa dirinya berada di bawah kualitas mereka. Untuk A karya Fira Sofiana hadir dengan kisah mengenai seorang pria bernama Ari (Arswendi Nasution) yang sedang menuliskan surat kepada seseorang yang ia kasihi. Film pendek terakhir yang muncul dalam Sanubari Jakarta adalah Kotak Coklat karya Sim F yang mengisahkan pertemuan kembali Reuben (Reuben Elishama) dengan seseorang dari masa kecilnya namun dalam sirkumsttansi yang berbeda.

Sayangnya, seperti kebanyakan film omnibus lainnya, tidak seluruh bagian dalam Sanubari Jakarta mampu tampil dengan nada penceritaan dan penampilan yang kuat. Bahkan dengan sepuluh cerita yang dihadirkan, kebanyakan dari film pendek yang hadir justru seringkali terlihat sebagai pengulangan tema dan cerita. Beberapa bagian yang sangat memorable adalah Kotak Coklat, Kentang, ½, Pembalut dan Menunggu Warna. Sebagian dari film-film tersebut berhasil mampu tampil menonjol karena jalan ceritanya yang kuat, sebagian karena inovasi tata cara penyampaiannya sedangkan sebagian lagi berhasil karena penampilan apik para pemerannya yang begitu mengesankan. Film pendek yang mampu menggabungkan keseluruhan elemen tersebut? Kotak Coklat, yang tidak hanya berhasil tampil dengan jalan cerita dan penampilan departemen akting yang kuat, namun juga mampu memberikan sentuhan sanubari yang harus diakui justru sering terlupakan dari kebanyakan cerita dalam Sanubari Jakarta.

Sebagai sebuah film yang membawakan pesan mengenai eksistensi kaum Lesbian, Gay, Bisexual and Transgender, khususnya yang berada di kota Jakarta, Indonesia, Sanubari Jakarta seringkali terasa bermain terlalu sempit dalam penyampaiannya, khususnya karena tema film-film pendek yang hadir kebanyakan berada di wilayah drama romansa yang tidak memberikan ruang banyak bagi segi penceritaan lain untuk hadir. Film-film pendek seperti Kentang dan Pembalut sedikit banyak mampu menutupi kekurangan tersebut dengan menghadirkan sentuhan sindiran sosial dalam deretan dialog karakter-karakternya. Secara teknis, kualitas film-film pendek yang hadir dalam Sanubari Jakarta hadir dalam tingkat penampilan yang cukup memuaskan.

Mungkin jika Sanubari Jakarta mau untuk menyelipkan beberapa cerita yang tidak melulu menyentuh wilayah penceritaan drama romansa maka efektivitas pesan mengenai eksistensi kaum Lesbian, Gay, Bisexual and Transgender dapat dirasakan lebih kuat oleh penontonnya – khususnya mereka yang berada di luar wilayah kaum tersebut. Sanubari Jakarta tidaklah buruk. Namun dengan tema penceritaan yang cenderung berulang, sepuluh cerita yang disampaikan dalam 106 menit terkesan terlalu berlebihan dan akhirnya justru membuat Sanubari Jakarta secara keseluruhan terasa datar dan melelahkan.

Sanubari Jakarta (Kresna Duta Foundation/Ardhanary Institute/Ford Foundation, 2012)

Sanubari Jakarta (2012)

Directed by Tika Pramesti, Dinda Kanyadewi, Lola Amaria, Alfrits John Robert, Aline Jusria, Adriyanto Dewo, Billy Christian, Kirana Larasati, Fira Sofiana, Sim F  Produced by Lola Amaria, Fira Sofiana Written by Laila Nurazizah Starring Gesata Stella, Agastya Kandou, Reva Marchellin, Timothy Hendry Munthe, Pevita Pearce, Miea Kusuma, Hernaz Patria, Filippo, Tata Trianti, Herfiza Novianti, Permatasari Harahap, Albert Halim, Raditya, Gia Partawinata, Alviano, Haffez Ali, Dinda Kanyadewi, Dimas Hary CSP, Belvany, Ajeng Sardi, Kiki Machina, Raina, Ence Bagus, Reuben Elishama Hadju, Irfan Guchi, Arswendi Nasution, Jefan, Intan, Deddy Corbuzier, Illfie, Rangga Djoned, Ruth Pakpahan, Bemby Putuanda Music by Wahyu Tri Purnomo Cinematography Amalia TS, Sony Seniawan, Bemby, Aga Wahyudi, Robie Taswin, Salfero Albert, Patar Prabowo, Arif Pribadi Editing by Afif Anggoro, Tika Pramesti, Icha Sutardi, Panji Gendhis, Agung Sentausa, Aaron Halim, HKP, Deni Kurniawan, Padri Nadeak, Cesa David Luckmansyah Studio Kresna Duta Foundation/Ardhanary Institute/Ford Foundation Running time 106 minutes Country Indonesia Language Indonesian

5 thoughts on “Review: Sanubari Jakarta (2012)”

  1. untuk resume masing-masing ceritanya abang ada sumber lain? Atau itu kesimpulan dari abang sendiri setelah nonton?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s