Review: Brave (2012)


Dimulai dengan La Luna – sebuah film pendek karya Enrico Casarosa berdurasi 7 menit yang pada tahun lalu berhasil mendapatkan nominasi di ajang The 84th Annual Academy Awards untuk kategori Best Animated Short Film – Brave merupakan sebuah kisah dongeng pertama dari Pixar Animation Studios sekaligus merupakan film pertama mereka yang menempatkan seorang wanita sebagai karakter utamanya. Berlatar belakang lokasi di dataran tinggi Skotlandia pada abad ke-10, Brave berkisah tentang Princess Merida (Kelly Macdonald), puteri tunggal dari pasangan King Fergus (Billy Connolly) dan Queen Elinor (Emma Thompson) yang menguasai kerajaan DunBroch. Terlahir di sebuah kerajaan yang dipenuhi berbagai peraturan, Princess Merida merasa bahwa kehidupannya selalu terkekang, khususnya oleh sang ibu yang memiliki harapan besar agar dirinya mampu mengikuti jejaknya sebagai seorang puteri kerajaan yang harus bersikap lembut dan anggun di setiap saat. Jelas sebuah tekanan besar bagi Princess Merida yang memiliki hobi berkuda dan memanah layaknya kaum pria.

Tekanan tersebut terasa semakin kuat setelah secara tiba-tiba, King Fergus dan Queen Elinor memberitahu Princess Merida bahwa mereka akan menggelar sebuah kompetisi untuk mencari pria yang pantas untuk mendampingi Princess Merida di jenjang pernikahan. Princess Merida, yang jelas merasa tidak setuju dengan keputusan tersebut dan menilai bahwa sebuah pernikahan hanya akan mengakhiri kebebasannya, memutuskan untuk melarikan diri dari kerajaan. Dalam pelariannya, Princess Merida bertemu dengan Will O’ the Wisps – kumpulan peri berwarna biru yang dipercaya akan membawa seseorang pada jalan hidup yang mereka inginkan. Berbekal dengan kekuatan magis yang ia dapatkan setelah mengikuti jejak Will O’ the Wisps, Princess Merida kemudian kembali ke kerajaannya dan berniat mengaplikasikan kekuatan magis tersebut pada Queen Elinor. Sebuah niat yang kemudian akan mengubah jalan hidup Princess Merida dan Queen Elinor untuk selamanya.

Setelah merilis Cars 2 yang terasa begitu ringan pada tahun lalu – yang kemudian banyak mendapatkan kritikan tajam dari para kritikus film dunia karena dinilai memiliki kualitas penulisan naskah cerita yang berada di bawah kualitas penulisan naskah cerita film-film karya Pixar Animation Studios – Brave sepertinya menandai kembalinya Pixar Animation Studios untuk menghasilkan sebuah karya yang dipenuhi oleh berbagai filosofi kehidupan. Brave, yang naskah ceritanya ditulis oleh Mark Andrews, Steve Purcell, Brenda Chapman dan Irene Mecchi atas ide cerita dari Brenda Chapman, mengetengahkan tema hubungan antara orangtua dan anak yang sebelumnya pernah dieksplorasi oleh Pixar Animation Studios lewat Finding Nemo (2003) dan The Incredibles (2004). Namun, secara lebih spesifik, Brave jelas terlihat ingin menghadirkan kisah mengenai rumitnya hubungan yang terbangun antara seorang ibu dan puterinya yang sedang beranjak dewasa.

Tema cerita mengenai hubungan antara ibu dan puterinya yang sedang beranjak remaja sendiri jelas bukanlah sebuah tema yang baru dalam film-film Hollywood. Pun begitu, Brave tetap berhasil memberikan sentuhan (yang dapat disebut sebagai) inovasi tersendiri dalam jalan ceritanya. Daripada mengisahkan mengenai orangtua yang cenderung seringkali dilihat kaku serta dipersalahkan untuk kemudian belajar dari para anak-anaknya, Brave secara cerdas menempatkan dua karakter utamanya, pasangan ibu dan anak, belajar dari kesalahan dan kekeraskepalaan satu sama lain. Proses pembelajaran yang dihantarkan oleh Brave – yang melibatkan kekuatan magis, salah seorang karakter bertransformasi ke sebuah wujud lain serta beberapa adegan yang beratmosfer kelam dan dipenuhi beberapa adegan kekerasan berskala ringan – memang tidak lantas berjalan mulus. Pada beberapa bagian, Brave terasa kehilangan fokus dan mengisi terlalu banyak detil yang sebenarnya kurang begitu esensial dalam jalan ceritanya.

Walau begitu, Brave tetap mampu tampil bercerita sekuat film-film karya Pixar Animation Studios lainnya – kecuali franchise Cars, jika Anda menganggap dua film tersebut begitu buruk. Karakter-karakter yang hadir begitu humanis dan mampu merepresentasikan nilai-nilai kehidupan yang ingin disampaikan oleh jalan cerita film ini. Komedi yang dihantarkan oleh naskah cerita Brave juga mampu dieksekusi dengan baik oleh duo sutradara, Mark Andrews dan Brenda Chapman, sehingga berhasil menciptakan momen-momen yang sangat menghibur. Dan, layaknya film-film Pixar Animation Studios lainnya, Brave juga memiliki banyak momen yang begitu mampu untuk menyentuh hati para penontonnya. Momen-momen tersebut terasa hadir begitu tulus sehingga membuat Brave terasa semakin cemerlang.

Rasanya, dengan menyebut sebuah film sebagai sebuah hasil karya Pixar Animation Studios, semua orang rasanya akan familiar dengan kualitas visual seperti apa yang dihadirkan kepada mereka. Hal yang sama juga berlaku pada Brave. Pixar Animation Studios sekali lagi berhasil menyajikan sebuah tatanan animasi visual yang begitu indah dan penuh warna yang menangkap keindahan alam dataran tinggi Skotlandia dengan begitu sempurna. Kesempurnaan juga hadir dari deretan suara yang mengisi setiap karakter yang ada di jalan cerita Brave. Nama-nama seperti Kelly Macdonald, Emma Thompson, Billy Connolly, Craig Ferguson, Robbie Coltrane hingga Julie Walters mampu menghidupkan setiap karakter dengan begitu kuat. Tatanan musik karya Patrick Doyle melengkapi kelengkapan atmosfer Skotlandia yang dihadirkan secara apik oleh Pixar Animation Studios lewat film ini.

Jalan cerita yang terasa sangat familiar memang akan membuat beberapa orang lantas menempatkan Brave sebagai sebuah karya Pixar Animation Studios yang bermain di zona aman, khususnya jika dibandingkan dengan karya-karya seperti The Incredibles (2007), WALL•E (2008), Up (2009) dan Toy Story 3 (2010). Walau begitu, tidak dapat disangkal bahwa Mark Andrews dan Brenda Chapman telah berhasil menggarap sebuah tema penceritaan dongeng yang tradisional dan familiar menjadi sebuah sajian yang memikat dan menyentuh hati khas Pixar Animation Studios. Brave mungkin memang belum dapat menyaingi kualitas film-film Pixar Animation Studios di masa lalu. Namun tetap saja, dengan kualitas penceritaan yang dalam, karakter-karakter yang kuat serta tata produksi yang begitu berkelas, Brave mampu hadir sebagai sebuah sajian yang tetap mampu menempatkan Pixar Animation Studios di kelas yang jauh berada di atas para pesaingnya.

Brave (Pixar Animation Studios, 2012)

Brave (2012)

Directed by Mark Andrews, Brenda Chapman Produced by Katherine Sarafian Written by Mark Andrews, Steve Purcell, Brenda Chapman, Irene Mecchi (screenplay), Brenda Chapman (story) Starring Kelly Macdonald, Emma Thompson, Billy Connolly, Kevin McKidd, Craig Ferguson, Robbie Coltrane, Julie Walters, John Ratzenberger, Patrick Doyle, Peigi Barker, Steven Cree, Callum O’Neill, Sally Kinghorn, Eilidh Fraser, Steve Purcell Music by Patrick Doyle Editing by Nicholas C. Smith Studio Pixar Animation Studios Running time 93 minutes Country United States Language English

7 thoughts on “Review: Brave (2012)”

  1. Aku dah nonton memang menurutku memang masih dibawah up ato wall e tapi film nya tetap bagus banget jika dibanding studio lain, madagascar lewat lah. Pixar selalu emotional banget film nya

  2. semua manusia tidak ada yg plg bnar dan tidak ada yg plg salah. Itu pesan yg kutangkap dr film ini. Dan setiap nonton selalu nangis t’utama pas ending

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s