Review: Headhunters (2011)


Apa yang akan Anda lakukan untuk tetap mengesankan sang kekasih ketika Anda menyadari bahwa penampilan fisik Anda memiliki kekurangan yang mungkin dapat membuatnya berpaling dari Anda kapan saja? Melimpahinya dengan berbagai kemewahan mungkin adalah salah satu caranya. Setidaknya itulah yang dilakukan oleh Roger Brown (Aksel Hennie) – yang merasa bahwa postur tubuhnya yang tidak terlalu tinggi dapat membuat istrinya yang cantik jelita, Diana (Synnøve Macody Lund), dapat saja berpaling kepada pria lain dengan postur tubuh yang lebih atletis. Pekerjaannya sebagai seorang perekrut karyawan bagi perusahaan-perusahaan besar jelas tidak mampu membiayai biaya hidup mewah Roger. Karenanya, Roger – bersama seorang temannya, Ove (Eivind Sander) – akhirnya saling bekerjasama dalam menjadi pencuri benda-benda seni bernilai tinggi.

“Pekerjaan sampingan” itulah yang kemudian memperkenalkan Roger pada Clas Greve (Nikolaj Coster-Waldau), seorang mantan tentara dengan pengalaman pekerjaan di industri elektronik dan kini akan direkrut oleh Roger untuk duduk di kursi kepemimpinan sebuah perusahaan. Melalui proses wawancara, Roger mengetahui bahwa Clas mewarisi sebuah lukisan antik berharga tinggi dari kakeknya. Segera saja, Roger menghubungi rekannya Ove untuk menyusun rencana dan mencuri lukisan antik tersebut. Proses pencurian pun berjalan… dengan lancar… hingga akhirnya Roger menemukan telepon genggam istrinya berada di apartemen Clas dan membuka sebuah konflik berdarah dalam kehidupan Roger.

Diangkat dari novel berjudul Hodejegerne (2008) karya novelis asal Swedia, Jo Nesbø, penonton internasional kemungkinan besar akan dapat merasakan atmosfer penceritaan yang sama dari film asal Norwegia ini dengan atmosfer penceritaan yang datang dari film-film hasil adaptasi seri novel Millennium Trilogy (2009) karya Stieg Larsson yang diarahkan oleh sutradara asal Denmark, Niels Arden Oplev: dingin, brutal dan diselingi dengan black comedy yang kental di beberapa bagian. Headhunters sendiri sama sekali tidak menawarkan sebuah bentuk penceritaan yang baru. Namun, sutradara Morten Tyldum berhasil membangun ketegangan dari naskah karya Lars Gudmestad dan Ulf Ryberg dengan sangat baik.

Dimulai secara perlahan, Headhunters mulai menemukan ritme penceritaannya untuk kemudian berjalan dengan cepat dalam menghantarkan ketegangan demi ketegangan dalam jalan cerita filmnya. Headhunters juga mampu tampil apik karena naskah cerita film ini mampu menawarkan kejutan demi kejutan yang dialami karakter utamanya secara cerdas. Seiring dengan perburuan yang terjadi antara dua karakter utamanya – yang demi kenyamanan dan kenikmatan menonton lebih baik disimpan dengan rapat – penonton seringkali menemukan bahwa satu karakter berada dalam situasi yang (dapat saja) mematikan dan kemungkinan besar tidak dapat dilaluinya. Namun, Gudmestad dan Ryberg berhasil merangkai cerita dengan penuh ketelitian dan kecerdasan yang tinggi sehingga momen-momen tersebut mampu tetap dapat terlihat rasional.

Tyldum sendiri jelas merupakan seorang sutradara dengan kepemilikan visi yang kuat atas naskah cerita yang ia arahkan. Ia mampu menjaga dan mengarahkan ritme penceritaannya, memanipulasi beberapa sudut pengambilan gambar sehingga tetap menjaga misteri dalam cerita yang kemudian didukung dengan tata editing gambar yang sempurna. Rangkaian kesuksesan secara teknikal inilah yang kemudian membuat Headhunters semakin kuat dalam penceritaannya dan membuat setiap penonton yang menyaksikan film ini akan merasakan rentetan ketegangan tanpa henti di sepanjang 100 menit durasi film ini.

Kesuksesan ini masih ditambah lagi dengan penampilan apik para pengisi departemen akting Headhunters. Aksel Hennie begitu sempurna dalam menghidupkan karakter Roger Brown yang terlihat begitu mencintai dirinya sendiri namun tetap memiliki kekhawatiran yang besar akan kehidupan cintanya. Hennie mampu menampilkan karakter Roger Brown yang kadang terlihat begitu mengesalkan namun tetap akan mampu membuat para penonton mendukung tiap langkahnya dalam menyelamatkan kehidupannya. Aktor Nikolaj Coster-Waldau juga mampu menandingi kharisma penampilan Hennie yang semakin sempurna dengan dampingan penampilan dari aktris cantik Synnøve Macody Lund.

Sepertinya tidak ada alasan untuk seluruh penggemar crime thriller untuk tidak menyaksikan Headhunters. Film yang merupakan produksi negara Norwegia ini hadir dengan arahan sutradara Morten Tyldum yang kuat dan mampu mengarahkan setiap sisi misteri dan ketegangan dari cerita filmnya dengan baik. Pengarahan Tyldum juga mendapatkan dukungan kuat dari tata teknis film sekaligus penampilan para pengisi departemen akting Headhunters yang benar-benar kuat. Headhunters adalah sebuah thriller yang mampu mengembangkan premis yang mungkin sudah biasa terdengar dengan begitu baik sehingga terlihat sempurna dan menegangkan di setiap menit durasi filmnya.

Headhunters (Hodejegerne) (Friland/Yellow Bird Films/Nordisk Film/ARD Degeto Film, 2011)

Headhunters (Hodejegerne) (2011)

Directed by Morten Tyldum Produced by Marianne Gray, Asle Vatn Written by Lars Gudmestad, Ulf Ryberg (screenplay), Jo Nesbø (novel, Hodejegerne)  Starring Aksel Hennie, Nikolaj Coster-Waldau, Synnøve Macody Lund, Julie Ølgaard, Eivind Sander, Kyrre Haugen Sydness, Reidar Sørensen, Nils Jørgen Kaalstad Music by Trond Bjerknes, Jeppe Kaas Cinematography John Andreas Andersen Editing by Vidar Flataukan Studio Friland/Yellow Bird Films/Nordisk Film/ARD Degeto Film Running time 100 minutes Country Norway, Germany Language Norwegian, Danish, Swedish, Russian, English

One thought on “Review: Headhunters (2011)”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s