Review: Love is Brondong (2012)


Kesuksesan besar Poconggg Juga Pocong (2011) ternyata cukup membuka cara pandang Chiska Doppert bahwa ia memiliki ‘kemampuan’ lain di luar ‘kemampuan’ untuk menyutradarai film-film yang bernuansa supranatural maupun… well… film-film yang bernuansa supranatural namun berjalan sembari menawarkan komedi di dalam jalan ceritanya. Setelah merilis drama romansa remaja Bila pada bulan Februari lalu, Chiska kembali bereuni dengan bintang utama Poconggg Juga Pocong, Ajun Perwira, untuk sebuah film komedi remaja berjudul Love is Brondong. Ya… sebagian kualitas penceritaan film ini dapat dinilai dari judulnya. Sebagian penilaian lainnya dapat diambil dari penampilan jajaran pemerannya. Dan sebagian lainnya dari analisa Anda terhadap kualitas penyutradaraan Chiska di film-film sebelumnya. Sebuah susunan kalimat yang terlalu kompleks untuk menyebut Love is Brondong adalah sebuah bencana.

Love is Brondong berkisah mengenai empat orang pemuda yang memiliki jalan pemikiran dangkal – jika Anda tidak ingin menyebut kelakuan mereka sebagai tolol – yang tinggal di satu rumah kost, Momon (Ajun Perwira), Farhan (Zaky Zimah), Alfin (Bryan McKenzie) dan Juned (Kiki The Potters). Dua diantara karakter pemuda tersebut, Alfin dan Juned, sama sekali tidak memiliki kisah yang berarti untuk dapat membenarkan keberadaan merekadi dalam jalan cerita film manapun. Karakter keduanya murni dihadirkan hanya sebagai pelengkap penderita, bahan guyonan serta menambah panjang deretan kredit akhir film Love is Brondong. Pointless.

Sementara itu, Momon adalah seorang pemuda yang hidup dengan kebohongan dalam kesehariannya, berpura-pura menjadi seorang pemuda yang kaya raya hanya untuk memikat hati Sasha (Joanna Alexandra). Di sisi lain, Farhan adalah sesosok pemuda relijius – yang akan merendahkan martabat pemuda relijius manapun – yang sedang merasa kasmaran dengan seorang gadis bernama Aisyah (Nabila Intan). Kehidupan keempat pemuda tersebut kemudian semakin rumit setelah mereka menolong seorang gadis bernama Sheila (Tya Restyana) dari kejaran seorang rentenir yang ingin agar uang yang telah dipinjam Sheila segera dikembalikan. Love is Brondong kemudian berjalan dengan pengisahan mengenai bagaimana keempat pemuda tersebut berusaha menolong Sheila, Momon menghadapi akibat dari kebohongannya, Farhan yang terus mengejar cinta Aisyah serta Alfin dan Juned yang menjadi korban poop jokes dan gay jokes yang terus menerus dihadirkan di sepanjang film.

Yang cukup mengejutkan adalah kenyataan bahwa membutuhkan dua orang untuk menuliskan naskah cerita Love is Brondong yang sebenarnya hampir sama sekali tidak ada itu. Pada kebanyakan bagian, Love is Brondong lebih terasa bagaikan kumpulan beberapa sketsa kisah yang berusaha melucu dan sama sekali tidak memiliki ritme penceritaan yang berkesinambungan antara satu sama lain. Guyonan-guyonan yang digunakan dalam penceritaan Love is Brondong secara keseluruhan juga merupakan guyonan-guyonan standar yang telah banyak – dan cukup melelahkan – digunakan pada banyak kisah komedi lainnya. Penggunaan poop jokes – guyonan yang menggunakan kotoran – dan gay jokes juga mewarnai jalan cerita film ini yang semakin merendahkan kelas dari kualitas penceritaan film ini.

Departemen akting Love is Brondong juga diisi dengan deretan penampilan yang sama sekali tidak layak untuk dapat disebut sebagai kemampuan akting. Ajun Perwira, Zaky Zimah, Bryan McKenzie dan Kiki The Potters lebih terlihat sebagai kumpulan remaja yang sedang bersenang-senang dengan membuktikan siapa diantara mereka yang paling dapat menunjukkan tingkah laku mereka yang paling memalukan dan bodoh. Para pemeran pendukung seperti Joana Alexandra – been a very long, long way since Catatan Akhir Sekolah (2004), eh? – Tya Restyana dan Nabila Intan hanya tampil dalam kapasitas pemanis belaka. Tanpa porsi peran yang signifikan dan berarti.

Well… dengan judul sekelas Love is Brondong, sepertinya semua orang telah dapat mengharapkan kualitas seperti apa yang akan mereka dapatkan ketika menyaksikan film ini. Kualitas penceritaan kelas bawah yang dengan usaha keras berupaya untuk melucu namun gagal karena lemahnya materi cerita, penampilan keempat aktor utamanya yang sepertinya hanya muncul untuk bersenang-senang dan menunjukkan sisi kebodohan mereka hingga tata produksi yang sangat tidak memuaskan – baik secara visual maupun audio. Chiska Doppert sepertinya berusaha keras untuk mengejar reputasi sang mentor, Nayato Fio Nuala. Menghasilkan film sebanyak mungkin, dalam waktu sesingkat mungkin dan kualitas serendah mungkin. Boo!

Love is Brondong (BIC Productions/Mitra Pictures, 2012)

Love is Brondong (2012)

Directed by Chiska Doppert Produced by Firman Bintang Written by Aditya Sugandi, Djaffar Lesmana Starring Ajun Perwira, Zaky Zimah, Bryan McKenzie, Kiki The Potters, Tya Restyana, Joanna Alexandra, Nabila Intan Music by Indra Sudibyo Cinematography Dharma You Editing by Toumakov Studio BIC Productions/Mitra Pictures Running time 84 minutes Country Indonesia Language Indonesian

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s