Review: One Day (2011)


Setelah sukses menyutradarai An Education (2009), yang berhasil mendapatkan pujian luas dari para kritikus film dunia sekaligus memberikan Carey Mulligan nominasi Academy Awards perdananya, sutradara asal Denmark, Lone Scherfig, kembali duduk di kursi sutradara dengan mengarahkan One Day, sebuah film yang diadaptasi dari novel populer berjudul sama karya novelis asal Inggris, David Nicholls – yang juga bertanggungjawab terhadap proses penulisan naskah film ini. Menceritakan kisah persahabatan dan percintaan antara dua karakter utamanya, One Day memiliki momen-momen dimana film ini dapat tampil begitu hangat dan romantis. Namun, segmentasi yang dilakukan terhadap bagian-bagian jalan cerita serta beberapa karakter yang dihadirkan terlalu dangkal cukup mampu membuat One Day terkadang berkesan datar.

One Day mengisahkan hubungan yang terjalin antara Emma Morley (Anne Hathaway) dan Dexter Mayhew (Jim Sturgess) selama delapan belas tahun. Hubungan keduanya sendiri dimulai pada tanggal 15 Juli 1988, di malam ketika mereka baru saja diwisuda dari Edinburgh University. Emma dan Dexter kemudian menghabiskan malam bersama… berniat untuk melakukan hubungan intim… walaupun pada akhirnya rencana tersebut batal dan mereka berdua memutuskan untuk hanya menjadi sahabat saja. Namun secara perlahan, hubungan persahabatan tersebut mulai tumbuh dan berkembang menjadi rasa sayang yang tidak dapat dipisahkan dan akhirnya menjadi sebuah rasa cinta yang kuat.

One Day kemudian mengikuti perjalanan hidup kedua karakter utamanya dalam masa delapan belas tahun hubungan mereka. Setiap kisah ditampilkan dengan latar belakang waktu pada tanggal 15 Juli, tepat seperti tanggal pertama kedua karakter utama tersebut bertemu. Kadang ditampilkan keduanya sedang bersama, kadang keduanya juga ditampilkan dalam keadaan berpisah. Dalam perjalanannya, Emma tumbuh menjadi sosok wanita dewasa yang terus berusaha untuk mewujudkan mimpinya sebagai seorang novelis – dan menyimpan rasa cintanya kepada Dexter dengan begitu dalam. Sementara Dexter menjelma layaknya kebanyakan pria dewasa lainnya, terjebak dengan permasalahan hidup, cinta serta masa depan yang sepertinya berjalan semakin buram. Sepertinya hanya waktu yang akan menjawab apakah keduanya nanti akan dapat bersatu sebagai pasangan cinta.

Sejujurnya, mereka yang menyukai kisah-kisah drama romansa – yang sedikit dibumbui dengan kehadiran humor yang manis – akan dapat dengan mudah untuk menyukai One Day. Walau terkesan menghadirkan jalan cerita yang sedikit tidak konvensional – mengikuti dua karakter pada satu hari dalam kehidupan mereka sepanjang delapan belas tahun – namun Lone Scherfig mampu menampilkan jalan cerita tersebut dengan begitu menarik. Beberapa orang mungkin akan menemukan tarik ulur kisah cinta yang terjalin antara karakter Emma dan Dexter sedikit mengganggu serta sedikit bodoh untuk diikuti. Namun David Nicholls berhasil menyajikan banyak momen-momen hangat antara kedua karakter tersebut yang akan cukup mampu membuat para penonton film ini merasakan kedekatan yang terjalin antara keduanya.

Pun begitu, tidak dapat dipungkiri bahwa One Day berkesan terlalu dangkal pada beberapa sisi penceritaannya. Dari sisi karakter, seringkali terasa sulit untuk memberikan simpati pada kedua karakter utama yang ada di film ini akibat dangkalnya (jika tidak mau dikategorikan sebagai bodoh) tingkah laku keduanya ketika berhubungan dalam masalah cinta. Keduanya sebenarnya telah lama menyadari bahwa keduanya adalah pasangan yang tepat untuk satu sama lain. Namun berbagai ujian yang datang lagi dan lagi dan lagi dan lagi akan mampu membuat beberapa penonton merasa jenuh dan kehilangan ketertarikan mereka untuk mengikuti lanjutan kisah keduanya.

Penggalan-penggalan kisah yang menyelimuti kehidupan kedua karakter utama film ini juga seringkali dihadirkan dengan cara yang dangkal, bahkan sering terasa kurang mampu tergali dengan begitu baik. Lihat saja bagaimana kisah hubungan antara karakter Dexter dengan kedua orangtuanya yang sebenarnya mampu dibuat lebih dramatis namun terkesan disingkirkan untuk memberi jalan lebih besar pada kisah romansa antara Dexter dan Emma. Kemudian ada kisah asmara yang terjalin antara Dexter dan Emma dengan karakter-karakter lain, khususnya kisah asmara yang terjadi pada Emma. Gagal untuk menghadirkan kesan bahwa bagian kisah tersebut cukup esensial untuk dihadirkan.

Untungnya, sama sekali tidak ada masalah berarti yang muncul dari departemen akting film ini. Jim Sturgess memberikan gambaran yang begitu tepat pada sosok Dexter. Romola Garai, yang berperan sebagai istri Dexter, Sylvie, mampu memanfaatkan porsi ceritanya yang minim dengan begitu efektif. Kualitas yang sama juga ditampilkan oleh aktris Patricia Clarkson yang berperan sebagai ibu Dexter, Allison Morley. Beberapa keluhan mungkin dapat dialamatkan pada Anne Hathaway. Mungkin mengenai kurang akrabnya chemistry yang tercipta antara dirinya dan Sturgess, atau kurang hidupnya karakter Emma atau… betapa Hathaway sangat tidak pas untuk memerankan sosok seorang wanita Inggris.

Setelah mendapatkan begitu banyak kritikan tajam atas perannya sebagai sosok Jane Austen dalam Becoming Jane (2007), mengapa Anne Hathaway masih menganggap dirinya mampu untuk memerankan sosok seorang karakter wanita yang mengharuskan berdialog dalam aksen Inggris? Well… lupakan soal aksen. Hathaway memiliki struktur wajah dan penampilan yang terlalu Amerika untuk ditempatkan sebagai pemeran karakter seorang wanita yang berasal dari Inggris. Harus diakui, dalam kemampuan berakting, Hathaway sama sekali tidak menghasilkan sebuah masalah besar. Namun, rasanya masih cukup sulit untuk menerima Hathaway sebagai sosok wanita Inggris dengan aksennya yang sering muncul dan tenggelam maupun dengan penampilan alaminya yang terlalu Yankees. Pertanyaan: Where’s Keira Knightley when you need her the most? Karakter Emma rasanya akan sangat tepat untuk diperankan oleh Knightley. Just saying.

Dengan iringan tata musik Rachel Portman yang syahdu, sinematografi yang mampu menangkap esensi keindahan jalan cerita cinta antara kedua karakter utamanya serta dukungan penampilan akting yang kuat dari para jajaran pengisi departemen akting film ini, One Day akan dapat mengambil hati para penggemar film-film drama romantis dengan mudah. Sayangnya One Day ditampilkan terlalu sederhana untuk dapat menangkap kedalaman kisah dan karakter yang terjalin selama delapan belas tahun perjalanan kisah hubungan kedua karakter utamanya. Tidak, One Day sama sekali tidak mengecewakan. Namun kebanyakan penonton film ini kemungkinan besar akan merasa bahwa seharusnya film ini dapat menyentuh perasaan mereka lebih dalam lagi lewat kisah cinta yang dihadirkan.

One Day (Focus Features/Random House Films/Film4/Color Force, 2011)

One Day (2011)

Directed by Lone Scherfig Produced by Nina Jacobson Written by David Nicholls (screenplay), David Nicholls (novel, One Day) Starring Anne Hathaway, Jim Sturgess, Romola Garai, Rafe Spall, Ken Stott, Patricia Clarkson, Jodie Whittaker, Jamie Sives, Georgia King, Matt Berry, Matthew Beard Music by Rachel Portman Cinematography Benoît DelhommeEditing by Barney PillingStudio Focus Features/Random House Films/Film4/Color Force Running time 108 minutes Country United Kingdom Language English

3 thoughts on “Review: One Day (2011)”

  1. Setuju nih gue sama review yang ini. Konsep segmentasi atau pembabakan di film ini malah bikin karakternya dangkal, jadinya kita ga bisa menaruh hati ketokoh dan hanyut dalam cerita. Ngomong-ngomong ini blog yang cakep, lain kali gue main kesini lagi deh. Salam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s