Review: Restless (2011)


Sukses dengan Milk (2008), yang berhasil merebut banyak perhatian para kritikus film dunia sekaligus memenangkan dua Academy Award, Gus Van Sant kembali duduk di kursi sutradara untuk film Restless. Tidak seperti Milk yang sangat berkesan mewah dengan jajaran bintang kelas atas yang mengisi departemen aktingnya serta jalan cerita yang begitu ambisius, Restless menandai kembalinya Van Sant ke film-film dengan jalan cerita yang memiliki tema lebih sederhana namun tetap menawarkan keunikan karakter-karakternya, dengan jajaran aktor dan aktris muda yang mengisi departemen aktingnya serta memanfaatkan tampilan gambar yang begitu indah untuk menekankan isi dari jalan cerita yang dihadirkan. Tema cerita Restless memang bukanlah suatu hal yang istimewa. Namun kemampuan Van Sant untuk mengolah jalan ceritanya yang didukung oleh penampilan apik para jajaran pemerannya membuat Restless cukup mampu tampil efektif.

Layaknya sebuah film independen produksi Amerika Serikat, Restless menawarkan sebuah sudut pandang baru dari tema cerita yang sebenarnya telah banyak dieksplorasi oleh film-film Hollywood lainnya. Tema yang dibawakan oleh Restless adalah (lagi-lagi) mengenai kematian, bagaimana cara melewati sebuah kepedihan mendalam yang diakibatkan oleh kematian tersebut serta bagaimana cara untuk menikmati hidup secara penuh sebelum kematian akhirnya datang merenggut nyawa. Tema tersebut dihantarkan melalui pengisahan dua karakter unik – khas film-film independen Amerika Serikat – yang memiliki permasalahan mereka sendiri dalam menghadapi kematian untuk kemudian saling menginspirasi satu sama lain untuk lebih menghargai kehidupan. Terdengar familiar, bukan?

Enoch (Henry Hopper) adalah seorang remaja pria yang gemar sekali menghadiri prosesi penguburan dari orang-orang yang telah wafat – walaupun ia sama sekali tidak mengenal siapa orang yang telah wafat tersebut. Kegemaran aneh tersebut ternyata merupakan cara dirinya dalam berusaha untuk melewati kepedihan akibat kematian kedua orangtuanya dalam sebuah kecelakaan – yang juga hampir merenggut nyawa Enoch. Lebih aneh lagi, semenjak kematian kedua orangtuanya, Enoch lebih banyak menghabiskan waktunya bersama teman hantunya, seorang tentara Jepang yang berprofesi sebagai pilot dan bernama Hiroshi (Ryo Kase). Jelas kelakuan tersebut membuat Enoch seperti seorang outsider dalam kehidupan yang ia jalani sekarang.

Di suatu acara pemakaman, Enoch bertemu Annabel (Mia Wasikowska), seorang gadis remaja dengan sikapnya yang penuh optimisme dan keceriaan yang ternyata ditunjukkan untuk menutupi sebuah mimpi buruk kematian yang akan menyambanginya akibat tumor otak yang ia derita. Enoch yang penyendiri dan tertutup secara perlahan akhirnya berusaha membuka dirinya pada kehangatan yang dibawakan oleh Annabel. Namun, ketika Enoch akhirnya menyadari bahwa saat-saat bahagia dirinya bersama Annabel akan segera berakhir, Enoch mulai menunjukkan sikap depresinya dan mulai merasa ketakutan akan kembali kehilangan sesuatu yang berarti dalam kehidupannya.

Sama sekali tidak ada yang baru dalam tema cerita Restless. Di menit ketika penonton menyadari mengapa kedua karakter utama memiliki sikap yang unik dalam keseharian mereka, penonton dapat mudah menganalisa kemana arah cerita Restless akan membawa mereka. Diadaptasi oleh Jason Lew dari sebuah naskah drama panggung miliknya yang berjudul sama, Restless juga tidak mencoba untuk menghadirkan sebuah selipan cerita bernada baru untuk membuat ‘jalan cerita tradisional’ film ini terkesan lebih menantang. Lew dan Van Sant lebih memilih untuk mengeksplorasi kesederhanaan tema cerita yang familiar tersebut, khususnya melalui pemilihan warna dan eksplorasi pada gambar-gambar yang ditampilkan. Sayangnya, tidak banyak yang mampu membuat Restless tampil sangat menarik. Jalinan kisah antara kedua karakternya cenderung dihadirkan mendatar sehingga seringkali gagal untuk menghasilkan hubungan emosional yang kuat kepada penonton film ini.

Pun begitu, keindahan sinematografi yang dihadirkan oleh Harris Savides setidaknya akan mampu membuat banyak penonton bertahan untuk menyimak kisah cinta antara Annabel dan Enoch. Yang lebih berkualitas lagi adalah penampilan akting yang ditampilkan oleh para pengisi departemen akting film ini. Henry Hopper mampu dengan baik menghidupkan perannya sebagai seorang remaja pria penyendiri dan cenderung depresif. Schuyler Fisk, yang berperan sebagai kakak bagi karakter Annabel, juga mampu mencuri perhatian lewat dialog-dialognya yang tajam. Namun, diatas semua penampilan yang ada, Restless jelas adalah milik Mia Wasikowska, yang kembali menampilkan penampilan apiknya dengan menggabungkan pesona karakter Clementine Kruczynski milik Kate Winslet di film Eternal Sunshine of the Spotless Mind (2004) dengan karakter Jenny Mellor milik Carey Mulligan di film An Education (2009) dan kemudian menerjemahkannya dengan pesona akting Wasikowska sendiri. Wasikowska benar-benar tampil tanpa cela!

Banyak yang akan mengatakan bahwa Restless adalah sebuah jalinan kisah yang terasa begitu familiar dan gagal dihadirkan dengan sebuah keistimewaan yang dapat membuat film ini tampil istimewa diantara film-film lain yang bertema sama. Dan pernyataan tersebut, sayangnya, adalah benar. Restless terasa bagaikan sebuah usaha yang setengah hati, yang akhirnya membuat jalan cerita film ini gagal untuk tampil emosional dan menyentuh bagi para penontonnya, terlepas dari hadirnya beberapa adegan yang memang seharusnya mampu untuk bekerja secara emosional bagi para penonton. Sayang sekali memang, khususnya mengingat penampilan para pengisi departemen akting film ini yang benar-benar tampil apik dan jauh dari kesan mengecewakan seperti kesan yang dihadirkan jalan cerita film ini.

Restless (Columbia Pictures/Imagine Entertainment/360 Pictures, 2011)

Restless (2011)

Directed by Gus Van Sant Produced by Bryce Dallas Howard, Ron Howard, Brian Grazer Written by Jason Lew Starring Henry Hopper, Mia Wasikowska, Ryō Kase, Schuyler Fisk, Jane Adams, Chin Han, Lusia Strus Music by Danny Elfman Cinematography Harris Savides Editing by Elliot Graham Studio Columbia Pictures/Imagine Entertainment/360 Pictures Running time 91 minutes Country United States, United Kingdom Language English

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s