Review: Ummi Aminah (2012)


Dalam Ummi Aminah, Nani Wijaya dengan mudah menunjukkan bahwa dirinya masih merupakan salah satu talenta akting terbaik yang dapat dimiliki industri film Indonesia lewat perannya sebagai seorang ustadzah yang begitu populer di kalangan masyarakat namun harus melalui beberapa permasalahan hidup yang menguji ketahanan dan kebersamaan antara dirinya serta seluruh anggota keluarganya. Ummi Aminah sendiri, yang merupakan film keempat yang disutradarai oleh Aditya Gumay, sayangnya, tidak secemerlang penampilan akting Nani Wijaya. Ummi Aminah terlihat terlalu banyak mencoba untuk menggarap begitu banyak kisah dalam durasinya yang hanya mencapai 100 menit. Hasilnya, Ummi Aminah lebih sering terlihat sebagai kumpulan beberapa kisah – yang tak terselesaikan – daripada sebagai sebuah sajian film dengan jalan cerita penuh.

Ditulis oleh Adenin Adlan, yang juga menuliskan naskah dua film Aditya Gumay sebelumnya, Emak Ingin Naik Haji (2009) dan Rumah Tanpa Jendela (2011), Ummi Aminah berkisah mengenai berbagai keluarga seorang ustadzah serta penceramah populer bernama Ummi Aminah (Nani Wijaya) yang berisikan suaminya, Abah (Rasyid Karim), serta ketujuh orang anaknya, Umar (Gatot Brajamusti), Aisyah (Cahya Kamila), Zarika (Paramitha Rusady), Zainal (Ali Zainal), Zubaidah (Genta Windi), Zidane (Ruben Onsu) dan Ziah (Zee Zee Shahab). Walau telah menjadi seorang ustadzah populer yang seringkali diundang banyak pengajian untuk memberikan ceramah, kehidupan Ummi Aminah jelas tidak lantas berjalan lancar begitu saja. Begitu banyak intrik dan permasalahan yang kemudian menyelimuti keluarganya. Deretan permasalahan yang dialami karakter-karakter ini – dan masih juga ditambah dengan beberapa karakter lainnya – yang kemudian mengisi jalan cerita Ummi Aminah.

Sebut saja seperti permasalahan yang dialami oleh Zarika, seorang pengusaha wanita yang sangat sukses namun menemui kesulitan dalam menemukan jodoh dan kemudian justru terlibat cinta segitiga dengan seorang pria yang telah beristri. Atau permasalahan yang dialami oleh Zidane, yang merasa sisi kejiwaannya yang bersifat terlalu feminim membuat dirinya dijauhi Abah. Atau Zainal yang merasa bahwa kehidupannya sebagai seorang suami gagal untuk dapat memberikan kebahagiaan ekonomis bagi istrinya. Atau Zubaidah, yang merasa bahwa dirinya merupakan anak Ummi Aminah yang paling tidak berbakat dan paling tidak rupawan diantara anak-anak Ummi Aminah lainnya. Ujian-ujian kehidupan ini yang akhirnya justru kemudian mempengaruhi Ummi Aminah, hubungannya dengan anak-anaknya serta statusnya sebagai seorang ustadzah serta penceramah wanita populer di kalangan masyarakat.

Dengan judul yang jelas menampangkan nama Ummi Aminah, Ummi Aminah sayangnya bukanlah sebuah film yang sepenuhnya dapat dikatakan dimiliki oleh karakter yang diperankan oleh Nani Wijaya tersebut. Begitu banyaknya problema yang coba digali dalam jalan cerita Ummi Aminah justru membuat kisah penceritaan karakter yang seharusnya menempati porsi penceritaan utama tersebut menjadi kurang begitu tergali dengan baik. Jalan cerita Ummi Aminah justru seringkali berkutat di seputar kehidupan anak-anak sang karakter utama tersebut – yang sayangnya juga gagal untuk dapat dieksekusi dengan baik.

Lewat permasalahan yang dialami oleh karakter anak-anak Ummi Aminah, Adenin Adlan sepertinya berusaha untuk memberikan banyak pelajaran akan pandangan hidup kepada para penontonnya. Mulai dari masalah cinta, kepercayaan diri, kesetiaan, persaudaraan hingga berbagai masalah klis eyang mungkin telah banyak disinggung dalam film-film bertema Islami. Sayangnya, kisah-kisah tersebut disajikan bagai deretan potongan cerita yang timbul secara silih berganti namun tidak pernah benar-benar mampu digali dan dieksekusi dengan sempurna. Secara sederhana, ketika sebuah konflik terhadap satu karakter muncul di dalam jalan cerita Ummi Aminah, jalan cerita Ummi Aminah akan terus berfokus pada karakter tersebut hingga akhirnya masalah tersebut (dapat dianggap) selesai dan kemudian berpindah ke masalah yang terjadi di karakter lainnya. Tidak jelek, namun gagal untuk mampu memberikan rasa keterhubungan sendiri bagi para penontonnya.

Pun begitu, tidak dapat dipungkiri bahwa Ummi Aminah benar-benar mampu tampil memikat ketika film ini berada pada bagian terbaiknya. Aditya Gumay berhasil menghadirkan deretan adegan melankolis yang benar-benar menyentuh dan tidak pernah terasa berlebihan. Aditya juga mampu mengeksekusi deretan komedi yang ditulis Adenin Adlan dengan sangat baik. Porsi drama melankolis dan komedi yang disajikan dalam Ummi Aminah mampu bersanding baik satu sama lain sehingga film ini tidak pernah tampil dengan penampilan yang datar atau membosankan. Mungkin jika konflik dan karakter film ini dikurangi, Ummi Aminah akan mampu tampil sebagai sebuah jalan cerita yang lebih efektif lagi.

Pujian juga patut diberikan pada pemilihan Aditya Gumay akan deretan pengisi departemen akting filmnya. Walau tidak seluruhnya mampu dapat dimanfaatkan dengan baik talenta aktingnya – penampilan Revalina S. Temat begitu sia-sia – atau beberapa ada yang terlihat tampil masih cukup kaku, namun secara keseluruhan departemen akting Ummi Aminah mampu terlihat cukup solid. Nani Wijaya memberikan penampilan yang begitu cemerlang, dan kemungkinan besar akan terus diingat ketika masa penghargaan film Indonesia nanti akan dimulai. Begitu juga dengan Rasyid Karim yang mampu memberikan penampilan sempurna untuk mendampingi penampilan akting apik dari Nani Wijaya.

Secara keseluruhan, Ummi Aminah jelas bukanlah sebuah film yang mengecewakan, terlepas dari beberapa kekurangan yang terdapat di dalam naskah cerita serta kesederhanaan dari penataan teknis film yang disajikan Aditya Gumay di sepanjang film ini. Mungkin jika jalan cerita Ummi Aminah lebih memberikan fokus yang mendalam pada sang karakter utama dan mempersempit ruang cerita pada karakter-karakter pendukungnya, Ummi Aminah dapat bekerja dengan lebih baik lagi. Pun begitu, didukung dengan deretan penampilan akting yang cukup solid serta jalan cerita yang sederhana namun mampu mengena dengan baik pada bagian-bagian terbaik ceritanya, Ummi Aminah adalah sebuah sajian yang hangat dan menyentuh tanpa pernah terasa terlalu berlebihan.

Ummi Aminah (MVP Pictures, 2012)

Ummi Aminah (2012)

Directed by Aditya Gumay Produced by Raam Punjabi Written by Adenin Adlan, Aditya Gumay Starring Nani Wijaya, Rasyid Karim, Gatot Brajamusti, Paramitha Rusady, Ali Zainal, Revalina S Temat, Yessy Gusman, Atie Kanser, Ruben Onsu, Zee Zee Shahab, Budi Chairul, Cahya Kamila, Temmy Rahadi, Andi Bersama, Genta Windi, Elma Theana, Reza Pahlawan, Ivan Leonardy, Satria Wisnu, Diza Refengga, Shaka Syahidan Music by Adam S Permana Cinematography Gunung Nusa Pelita Editing by Sugi Compros Distributed by MVP Pictures Running time 100 minutes Country Indonesia Language Indonesian

4 thoughts on “Review: Ummi Aminah (2012)”

  1. Setuju dengan Amir, Ummi Aminah ini seharusnya menguatkan karakter yg dimainkan Nani Wijaya tersebut sehingga bisa lebih inspiratif dan mampu memancing emosi penonton untuk lebih bersimpati kepadanya.

    Anyway, it’s still a decent movie, much much better than we have seen lately in our own movie industry🙂

  2. Salam, saya kurang sependapat dengan review diatas. Menurut saya skenarionya sangat kuat, penulis bisa menuturkan semua permasalahan dengan apik dan saling berkaitan, sekaligus bisa menyelesaikan semua permasalahan tersebut.

    Ceritanya memang menggambarkan permasalahan keluarga Ummi Aminah dengan 7 anaknya. Dan bagaimana Ummi bisa bertahan dengan semua permasalah di dalam keluarganya tsb.

    Permasalahan mana yg tidak selesai ?

    Masalah Zarika ? Dia dikenalin Ivan dengan temannya Tomi yg baru pulang dari Canada dan msh single, selanjutnya terserah mereka berdua.

    Masalah Zidan ? Abah sudah mau datang ke salonnya (itu sdh menyiratkan abah mau menerima dia apa adanya)

    Masalah Zubaidah ? Sudah jd asistenya Ummi dan msh ada harapan dengan pemuda yg dia taksir.

    Masalah Zainal ? Sudah bebas dan terbukti dia tdk bersalah.

    Masalah Ummi ? Sudah ceramah lagi di radio.

    Masalah Abah ? (ya memang sengaja endingnya dibuat seperti itu)

    Masalah Umar & Risma ? Sudah akur dan datang ke rumah Ummi.

    Masalah Aisyah, Ziah, Mak Inah ? Mereka gak ada masalah.

    Ini bukan pendapat sy sendiri, silahkan searching, banyak blogger lain yg juga memuji skenarionya yg sederhana tapi sangat bernas.

  3. dalam hidup nyata tidak semua masalah dapat terselesaikan dengan setuntas tuntas nya. Setuju dengan koment nya deni raga. malah dengan ending yang seperti itu makin menguatkan dan akan sangat diingat penonton nya.
    jujur saja ini salah satu film Indonesia yang sangat sangat bagus yang pernah saya tonton……….
    keren banget

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s