Review: Midnight in Paris (2011)


Akan sangat mudah untuk jatuh cinta kepada Midnight in Paris – sebuah film yang menandai kali pertama perjalanan sinema seorang Woody Allen di kota romantis tersebut. Semenjak pertama film ini dimulai, yang ditandai dengan sebuah adegan pembuka sepanjang tiga menit yang berisi banyak pemandangan indah kota Paris yang diiringi dengan musik jazz yang sangat menghipnotis, penonton telah dapat merasakan bahwa Midnight in Paris akan menjadi sebuah persembahan cinta Allen kepada kota terbesar di negara Perancis tersebut. Namun, Midnight in Paris tidak hanya melulu berkisah seputar kesuksesan Allen dalam menangkap esensi keindahan kota tersebut. Allen – yang dalam beberapa film terakhirnya gagal mempersembahkan sebuah presentasi cerita yang segar kepada para penggemarnya – kali ini berhasil memberikan jalan cerita yang begitu ringan namun begitu imaginatif serta, layaknya kota Paris, begitu indah dan romantis untuk disimak.

Midnight in Paris berkisah mengenai seorang penulis naskah cerita film sukses, Gil Pender (Owen Wilson), yang bersama tunangannya, Inez (Rachel McAdams), ikut serta dalam perjalanan bisnis orangtua Inez (Kurt Fuller dan Mimi Kennedy) ke kota Paris, Perancis, untuk berliburan. Gil sendiri saat ini sedang berusaha untuk keluar dari zona amannya sebagai seorang penulis naskah cerita film dan menantang dirinya sendiri untuk menulis sebuah novel. Sebuah usaha yang berjalan dengan tidak begitu lancar karena dirinya seringkali merasa kehabisan ide untuk tulisan ceritanya. Namun, keindahan kota Paris yang seringkali menghipnotis dan terasa begitu magis akan segera memberikan inspirasi bagi Gil dalam sebuah cara yang tidak akan pernah ia duga sebelumnya.

Ketika suatu malam Gil memutuskan tidak ikut serta berpesta bersama Inez dan dua sahabatnya, Paul (Michael Sheen) dan Carol Bates (Nina Arianda), dan memilih untuk mengelilingi kota Paris di malam hari, Gil mulai menemukan keanehan. Ia dijemput oleh sebuah mobil kuno yang akhirnya mempertemukan dirinya dengan pasangan penulis legendaris, Scott (Tom Hiddleston) dan Zelda Fitzgerald (Alison Pill). Lewat bantuan keduanya, Gil kemudian malah bertemu dengan banyak penulis serta artis dari masa lalu yang akhirnya kembali memberikan aliran ide segar bagi cerita yang ia tulis. Pun begitu, diantara semua wajah baru yang ia kenal, Gil secara perlahan mulai jatuh hati kepada Adriana (Marion Cotillard), wanita eksotis yang saat itu sedang menjalin hubungan dengan pelukis Pablo Picasso (Marcial Di Fonzo Bo). Gejolak asmara baru itu kemudian turut menghadirkan berbagai pertanyaan kepada Gil mengenai hubungan yang ia jalin saat ini bersama Inez.

Lewat ceritanya, Woody Allen jelas ingin menyampaikan pesan bahwa seseorang tidak seharusnya terus berpaku di masa lalu. Bahwa masa lalu adalah sebuah tempat dan waktu yang tepat untuk mempelajari dan memberikan sebuah inspirasi namun tidak seharusnya dijadikan sebuah panduan hidup di masa sekarang. Pesan tersebut jelas terbaca semenjak Midnight in Paris bergulir. Walaupun begitu, Allen menghadirkan pesan tersebut lewat jalan yang begitu imaginatif. Tidak hanya ia menghadirkan berbagai karakter legendaris dan membuat sebuah twist cerita yang sangat segar, Allen juga berhasil menghadirkan kisah tersebut dalam ritme menengah yang begitu manis untuk terus diikuti penontonnya.

Tidak tanpa masalah. Banyaknya karakter yang dihadirkan di dalam jalan cerita film ini akan membuat sebagian orang tersesat ke dalam jalinan cerita Midnight in Paris. Khususnya ketika Allen gagal untuk menggali kehadiran beberapa karakter dan terkesan hanya menampilkan karakter-karakter tersebut sebagai tempelan belaka. Penonton yang kurang mengenal beberapa referensi seni yang digunakan dalam rentetan dialog film ini juga kemungkinan besar akan mempersulit mereka dalam memahami apa yang ingin disampaikan Allen dalam ceritanya. Pun begitu, Midnight in Paris memang tidak harusnya dinikmati secara serius. Penonton harusnya mampu membiarkan diri mereka mengalir dalam imajinasi yang dijalani oleh karakter Gil Pender untuk kemudian dibawa pada berbagai keindahan sudut kota Paris dan segala intrik problemanya yang bernuansa romantis.

Dan Allen juga memilih barisan pengisi departemen akting yang sangat tepat untuk menghidupkan jalan cerita romantis dan penuh keindahan yang ia bawakan. Berada mengisi peran utama, Owen Wilson berhasil menghapus citranya sebagai seorang aktor yang hanya mampu berperan untuk peran-peran komikal dan menjelma menjadi satu sosok pria yang romantis – karakternya berjiwa sangat Paris dan mencintai berjalan-jalan di tengah hujan. Karakter-karakter pendukung diperankan oleh nama-nama seperti Rachel McAdams, Marion Cotillard, Adrien Brody, Kathy Bates, Carla Bruni hingga Michael Sheen yang walaupun tidak tampil menonjol namun tetap mampu melengkapi potongan-potongan karakter yang ada di dalam jalan cerita Midnight in Paris dan menjadikannya sebagai sebuah kesatuan cerita yang begitu hangat untuk dinikmati.

Harus diakui bahwa karya-karya Woody Allen seringkali berjalan tidak konsisten. Menghasilkan sebuah karya yang benar-benar berkualitas pada satu waktu untuk kemudian diikuti dengan beberapa karya yang cenderung datar pada beberapa waktu lainnya. Midnight in Paris untungnya adalah sebuah drama komedi romantis yang mampu tampil tepat di setiap nada penceritaannya maupun tata visual dan musiknya. Mampu memanfaatkan suasana romansa yang dihasilkan kota Paris dengan baik dan didukung oleh penampilan solid para pengisi departemen akting film ini, Midnight in Paris adalah sebuah karya yang dipastikan akan meninggalkan senyuman lebar di bibir setiap penontonnya seusai mereka menyaksikan film ini.

Midnight in Paris (Gravier Productions/Mediapro/Televisió de Catalunya (TV3)/Versátil Cinema, 2011)

Midnight in Paris (2011)

Directed by Woody Allen Produced by Letty Aronson, Stephen Tenenbaum, Jaume Roures Written by Woody Allen Starring Owen Wilson, Rachel McAdams, Kurt Fuller, Mimi Kennedy, Michael Sheen, Nina Arianda, Carla Bruni, Yves Heck, Alison Pill, Corey Stoll, Tom Hiddleston, Sonia Rolland, Daniel Lundh, Kathy Bates, Marcial Di Fonzo Bo, Marion Cotillard, Léa Seydoux, Emmanuelle Uzan, Adrien Brody, Tom Cordier, Adrien de Van, Gad Elmaleh, David Lowe, Yves-Antoine Spoto, Laurent Claret, Vincent Menjou Cortes, Olivier Rabourdin, François Rostain Music by Stephane Wrembel Cinematography Darius Khondji, Johanne Debas Editing by Alisa Lepselter Studio Gravier Productions/Mediapro/Televisió de Catalunya (TV3)/Versátil Cinema Running time 94 minutes Country United States, Spain Language English, French

One thought on “Review: Midnight in Paris (2011)”

  1. Midnight in Paris ini bak Radio Days: full of heart-warming nostalgia. Potongan kisah dihadirkan tanpa perlu penjelasan panjang lebar, macam kita melihat foto album bareng saudara, atau di sini turis, dan belum selesai satu cerita, kita pindah ke foto lainnya. Occasionally, kita kembali ke beberapa foto untunk menambah cerita. Nevertheless, pengalaman itu membuat kita tersenyum, like what you wrote, dan Woody paling jitu dalam hal ini. Midnight in Paris brings us to our own good old feeling.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s