Review: X – The Last Moment (2011)


Lima orang sahabat berjanji untuk saling bertemu kembali pada 13 tahun kemudian… setelah masing-masing mereka berhasil meraih setiap impian dan cita-cita yang mereka dambakan. 13 tahun kemudian, Angga (Rocky Jeff), Ikang (Mike Lucock), Dido (Keith Foo), Ijul (Ikang Sulung) dan Anung (Ridho Boer) akhirnya saling bertemu kembali. Sayangnya, tak satupun diantara mereka yang mampu meraih impian mereka. Parahnya, kelima sahabat tersebut ternyata terlibat dalam sebuah jaringan pengguna dan pengedar narkotika dan obat-obatan terlarang. Tanpa diketahui satu sama lain, Ikang ternyata selama ini telah menjadi seorang bandar narkoba dan mengedarkannya melalui Ijul yang kemudian menjualnya kepada banyak orang termasuk kepada Angga, Dido dan Anung. Jelas terbukanya tabir tersebut saling mengejutkan satu sama lain… yang akhirnya merubah kehidupan kelima sahabat tersebut.

Ikang, yang merupakan seorang bandar narkoba namun sama sekali tidak pernah menggunakan produk yang ia edarkan, sangat membenci fakta bahwa keempat temannya telah terjebak ke dunia hitam yang ia jalani. Pun begitu, ia sama sekali tidak menolak kehadiran Ijul yang datang untuk membantunya sebagai pengedar narkoba. Keduanya bahkan menjadli kerjasama yang erat satu sama lain dalam hal mengedarkan narkoba. Sementara itu, Angga, Dido dan Anung terjebak semakin jauh dalam penggunaan narkoba. Angga bahkan sempat selamat dalam sebuah peristiwa overdosis naarkoba namun sama sekali tidak jera dan terus menggunakan barang haram tersebut. Secara perlahan, bahaya penggunaan narkoba akhirnya mulai menemui kelima sahabat tersebut satu-persatu.

Merupakan karya perdana rumah produksi Prima Media Sinema sekaligus menjadi debut penyutradaraan bagi Bambi Martantio yang bekerjasama dengan Bani Ramadhan untuk menuliskan naskah cerita film ini, X – The Last Moment secara gamblang memiliki sebuah niat yang tulus untuk membantu menyebarkan pesan untuk membangkitkan kesadaran masyarakat akan berbagai cara peredaran narkotika dan obat-obatan terlarang, bagaimana para korbannya menggunakan barang haram tersebut, menjelaskan mengenai bahaya dan efek samping dari penggunaannya hingga bagaimana cara untuk terlepas maupun terhindar dari jebakan dunia hitam narkoba. Namun, seperti yang dialami oleh banyak film bertema relijius maupun film-film yang bertemakan pesan sosial, niat tulus sama sekali tidak dapat diandalkan dalam pembuatan sebuah film. Kemampuan para pembuatnyalah yang akan menentukan bagaimana kualitas penyampaian cerita yang ‘berniat tulus’ tersebut akan mampu diterima oleh para penonton film.

Sayangnya, X – The Last Moment tidak memiliki para sineas yang benar-benar berniat tulus dalam mengerjakan tugasnya. Mulai dari sutradara, penulis, pengisi tim produksi hingga jajaran pemeran film ini menampilkan kemampuan yang sama sekali tidak dapat disebut sebagai sebuah presentasi yang memuaskan. Bambi Martantio dan Bani Ramadhan terkesan menganggap gampang untuk menuliskan sebuah naskah cerita film yang bertemakan penyuluhan narkoba. Hasilnya, mereka memasukkan semua unsur klise yang dapat ditemukan dan berkaitan dengan penggunaan narkoba: karakter yang overdosis, karakter yang terjebak dalam pelacuran, karakter yang terkena virus HIV/AIDS, karakter yang dikejar-kejar oleh pihak pembela hukum hingga karakter yang kemudian kehilangan kewarasannya. Semua disajikan menjadi satu dalam sebuah talian kisah yang kadang terkesan hanya sebagai potongan-potongan kisah yang gagal untuk berbaur satu sama lain.

Dengan naskah yang diisi rentetan potongan kisah yang begitu klise (baca: murahan) – dan dialog-dialog yang benar-benar menggelikan, pengarahan Bambi Martantio juga sama sekali tidak terlihat berusaha untuk menampilkan kemampuan terbaik dari kualitas produksi filmnya. Beberapa adegan diisi dengan efek khusus mengenai bagaimana narkoba akan berpengaruh pada kinerja tubuh penggunanya… dan efek khusus tersebut ditampilkan dengan sangat, sangat, sangat buruk. Berkualitas sama rendahnya dengan kualitas gambar yang dihasilkan serta tata suara yang dibuat sekuat mungkin serta sangat mengganggu sehingga penonton kemungkinan besar akan kehilangan sebagian kemampuan pendengaran mereka seusai menyaksikan film ini.

Perlu berbicara mengenai jajaran pengisi departemen akting film ini? Oh well… nama-nama seperti Keith Foo dan Rocky Jeff mungkin sudah dikenal sebagai nama-nama yang banyak mengisi film-film kelas bawah di industri film Indonesia. Bermain di film sekelas X – The Last Moment jelas sama sekali tidak akan memberikan sebuah peningkatan karir yang berarti bagi mereka. X – The Last Moment juga semakin memantapkan dugaan kalau Mike Lucock lebih baik berakting tanpa kehadiran dialog seperti yang ia lakukan di The Perfect House (2011). Karena, dengan kehadiran dialog, penonton kemungkinan besar dapat merasakan bahwa Mike bukanlah seorang aktor yang sangat berbakat dalam dunia akting. Lihat saja adegan pembuka film ini dimana karakter Ikang yang ia perankan terlihat marah besar ketika mengetahui temannya terjebak ke dunia hitam narkoba. Tanpa terasa, penonton akan tertawa melihat kemampuan akting Mike dalam menafsirkan bagaimana sebuah emosi yang disebut marah besar tersebut. Tidak hanya Keith, Rocky dan Mike, jajaran pemeran pendukung film ini juga tampil sama memalukannya.

WellX – The Last Moment jelas bukanlah salah satu momen paling membahagiakan yang dapat penonton dapatkan dari industri film Indonesia. Bahkan, adalah cukup aman untuk mengungkapkan bahwa film ini adalah salah satu bukti bahwa industri film Indonesia masih belum lepas dari orang-orang yang beranggapan bahwa dengan merilis sebuah film yang keluar dari zona film komedi/horor/seks maka mereka telah menghasilkan sebuah film dengan kualitas yang cukup berarti. Salah besar! X – The Last Moment diisi dengan naskah cerita yang berkualitas medioker – dimana penulisnya cukup bekerja dengan memasukkan semua hal klise yang dapat ditemui dalam banyak film Indonesia yang bersinggungan dengan narkotika dan obat-obatan terlarang, dialog-dialog yang begitu menggelikan, pengarahan dari sutradara yang sama sekali tidak mengerti bagaimana merangkai sebuah kisah yang padu, tim produksi yang bekerja dengan kualitas seadanya dan jajaran pengisi departemen akting yang sama sekali gagal untuk dikatakan telah memberikan kemampuan berakting. X – The Last Moment berada di jalur yang benar-benar tepat untuk menjadi salah satu film Indonesia terburuk pada tahun ini.

X - The Last Moment (Prima Media Sinema, 2011)

X – The Last Moment (2011)

Directed by Bambi Martantio Produced by Tri Bayu Ariwibowo Written by Bambi Martantio, Bani Ramadhan Starring Mike Lucock, Keith Foo, Rocky Jeff, Ridho Boer, Ikang Sulung, Doni Kusuma, Billy Bujanger, Jenny Cortez, Cinta Dewi, Fitri Rachmadhina, Indah Purnama Sari, Celestia Utoyo, Christina Judy Lumley Cinematography Rizki Dwipanca Editing by Muryanto, Romlan Galis Studio Prima Media Sinema Running time 84 minutes Country Indonesia Language Indonesian

4 thoughts on “Review: X – The Last Moment (2011)”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s