Review: Puss in Boots (2011)


Ketika karakter Puss in Boots ditampilkan dalam Shrek 2 (2004) dan berhasil mencuri perhatian (dan hati) penonton dunia lewat tatapan matanya yang tidak dapat ditolak itu, DreamWorks Animation tentu tahu bahwa adalah sebuah keputusan yang sangat bodoh jika mereka tidak memanfaatkan momen tersebut untuk membuatkan sebuah film petualangan khusus bagi karakter Puss in Boots yang, tentu saja, akan memberikan mereka lebih banyak keuntungan komersial. Setelah kemudian muncul kembali dalam Shrek the Third (2007) dan Shrek Forever After (2010), karakter Puss in Boots akhirnya mendapatkan perlakukan istimewanya dengan dirilisnya Puss in Boots yang diarahkan oleh Chris Miller yang sebelumnya pernah mengarahkan Shrek the Third.

Puss in Boots sendiri merupakan sebuah perjalanan kisah yang menceritakan mengenai karakter Puss in Boots sebelum kehadirannya dalam jalan cerita Shrek 2. Dikisahkan, dalam pelariannya dari para pemburu bayaran, Puss in Boots (Antonio Banderas) menyadari bahwa duo perampok, Jack (Billy Bob Thornton) dan Jill (Amy Sedaris), berhasil memiliki sebuah kacang ajaib yang telah ia cari-cari seumur hidupnya. Kacang ajaib tersebut, jika kemudian ditanamkan ke dalam tanah, dapat menumbuhkan sebuah pohon kacang raksasa yang akan tumbuh tinggi menjulang serta menembus langit menuju sebuah kastil raksasa dimana terdapat seekor angsa yang dapat bertelur emas – sebuah perpaduan antara kisah Jack and the Beanstalk dengan Killing The Goose That Laid the Golden Eggs.

Puss in Boots kemudian bereuni dengan sahabat lamanya, Humpty Alexander Dumpty (Zach Galifianakis), yang meskipun pernah mengkhianati Puss in Boots, namun tetap ia percayai. Bersama keduanya, bergabung pula Kitty Softpaws (Salma Hayek), sesosok kucing perempuan yang ditemui oleh Puss in Boots dan berhasil memikat hatinya. Bertiga, mereka berhasil mencuri kacang ajaib dari tangan Jack dan Jill. Ketiganya bahkan berhasil melakukan perjalanan menembus langit dan menculik sang angsa yang dapat bertelur emas. Namun, setiap aksi memiliki reaksi. Perbuatan Puss in Boots dan kedua temannya yang mencuri angsa tersebut berbuah pahit. Dan itu masih belum termasuk dari sebuah pengkhianatan yang dilakukan seorang yang dekat terhadap Puss in Boots kepada dirinya.

Sebagai sebuah film lepas, Puss in Boots sama sekali tidak menawarkan sesuatu yang baru dalam penceritaannya. Bahkan, dapat dikatakan bahwa penceritaan bukanlah sesuatu yang menjadi menu utama dalam film ini. Semua cerita yang ditampilkan – persahabatan antara dua sosok yang berbeda, sifat kepahlawanan, memaafkan sebuah pengkhianatan yang dilakukan oleh seseorang yang telah begitu dekat dengan kita higga tema romansa – pernah dieksplorasi dalam ribuan film Hollywood lainnya. Trio penulis naskah Puss in Boots, Tom Wheeler, David H. Steinberg dan Brian Lynch, juga sama sekali tidak berusaha meletakkan sebuah sudut penceritaan baru dalam tema-tema familiar tersebut. Mungkin karena Puss in Boots adalah sebuah tayangan yang murni ditujukan bagi penonton muda? Bisa jadi.

Kefamiliaran kisah yang disampaikan mungkin akan menyebabkan beberapa orang merasa Puss in Boots sedikit melelahkan walau telah disajikan dengan durasi yang hanya mencapai 90 menit. Pun begitu, bagi mereka yang memang ingin menyaksikan Puss in Boots guna menyaksikan perbuatan dan perkataan konyol dari karakter Puss in Boots dan karakter-karakter lainnya, Puss in Boots cukup mampu menyediakannya dengan baik. Bahkan, ketika momen-momen jenaka tersebut muncul dalam jalan cerita, di saat itulah Puss in Boots muncul sebagai sebuah film yang menyegarkan. Selebihnya, Puss in Boots tak lebih dari sekedar sebuah film animasi biasa yang akan dengan mudah begitu saja dilupakan ketika penonton selesai menyaksikan kisahnya.

Di jajaran pengisi suara, Puss in Boots juga tidak banyak menawarkan kelebihan berarti. Antonio Banderas memang telah begitu melekat dengan karakter Puss in Boots. Tidak mengherankan bila kemudian vokal Banderas telah menjadi begitu mampu beradptasi dengan seluruh emosi yang coba disampaikan oleh karakter yang ia perankan. Sayangnya, hal yang berbeda berlakuk terhadap para pemeran lainnya. Mulai dari Salma Hayek, Zach Galifianakis, Billy Bob Thornton dan Amy Sedaris tenggelam dalam karakter yang mereka perankan. Bukan karena mereka gagal dalam menghidupkan peran mereka. Namun lebih karena faktor penulisan karakterisasi yang terlalu minim dan dangkal bagi karakter-karakter yang mereka perankan.

Dari sisi teknologi penyampaian gambar yang ditampilkan, DreamWorks Animation memang tidak pernah tampil mengecewakan. Termasuk dalam presentasi yang mereka berikan lewat Puss in Boots. Sayangnya, dalam hal penceritaan, Puss in Boots bukanlah sebuah film animasi yang cukup memorable, bahkan dalam tahun yang sepertinya diisi dengan film-film animasi yang tergolong lemah seperti di tahun 2011 ini. Pun begitu, Puss in Boots setidaknya masih akan tetap mampu tampil menghibur setiap penontonnya dengan karakternya yang menarik serta deretan guyonan-guyonan komikal yang akan cukup berhasil untuk memberikan hiburan bagi penonton selama 90 menit durasi film ini berjalan.

Puss in Boots (DreamWorks Animation, 2011)

Puss in Boots (2011)

Directed by Chris Miller Produced by Latifa Ouaou, Joe M. Aguilar Written by Tom Wheeler, David H. Steinberg, Brian Lynch Starring Antonio Banderas, Salma Hayek, Zach Galifianakis, Billy Bob Thornton, Amy Sedaris, Zeus Mendoza, Constance Marie, Guillermo del Toro, Bob Joles Music by Henry Jackman Editing by Eric Dapkewicz Studio DreamWorks Animation Running time 90 minutes Country United States Language English

One thought on “Review: Puss in Boots (2011)”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s