Review: In Time (2011)


Setelah kesuksesannya dalam memerankan karakter Sean Parker dalam The Social Network (2010), Justin Timberlake muncul sebagai salah satu aktor yang paling banyak dibicarakan di Hollywood. The Social Network memang bukanlah film pertama dari aktor yang juga seorang penyanyi ini. Namun, baru lewat The Social Network kemampuan akting Timberlake mampu dilirik dan dianggap serius oleh banyak kritikus film dunia. Pertanyaan berikutnya jelas, apakah kemampuan akting Timberlake dalam The Social Network adalah murni merupakan bakat akting Timberlake yang semakin terasah atau hanya karena Timberlake sedang beruntung berada di bawah arahan seorang sutradara bertangan dingin seperti David Fincher. Dua film komedi, Bad Teacher dan Friends with Benefits, yang dirilis lebih awal jelas tidak akan mampu dijadikan tolak ukur mendalam dari kemampuan akting Timberlake. Pembuktian tersebut datang dari In Time, film science fiction yang dibintangi Timberlake bersama Amanda Seyfried dengan arahan sutradara Andrew Niccol (Lord of War, 2005).

Seperti halnya film-film yang ditulis dan diarahkan oleh Niccol sebelumnya, In Time juga merupakan sebuah metafora mengenai pandangan Niccol terhadap kondisi politik dan sosial dunia saat ini yang ia bungkus dengan penyajian jalan cerita yang berbau fiksi ilmiah. Dalam In Time, dunia sedang berada pada tahun 2161, ketika ilmu pengetahuan berhasil mengubah susunan genetika tubuh manusia dan membuat mereka berhenti menua pada usia 25 tahun. Karena jumlah populasi manusia yang berlebihan, ditemukanlah sebuah cara untuk mengurangi kepadatan penduduk dengan cara yang alami: menjadikan usia sebagai mata uang yang berlaku. Ketika seseorang menginjak usia 25 tahun, mereka harus bekerja untuk mendapatkan perpanjangan masa usia hidup. Jika tidak, setelah masa setahun semenjak mereka berusia 25 tahun, manusia tersebut akan meninggal dengan sendirinya.

Will Sallas (Justin Timberlake) adalah seorang pekerja yang berusia 28 tahun dan tinggal bersama ibunya, Rachel (Olivia Wilde), yang telah berusia 50 tahun. Suatu hari, Will menyelamatkan seorang milyuner dengan masa hidup yang masih tersisa lebih dari satu abad, Henry Hamilton (Matt Bomer), dari kejaran sekelompok orang yang berniat mencuri usia Henry. Sebagai rasa terima kasih, sekaligus karena merasa bahwa ia telah hidup dalam jangka waktu yang cukup, Henry memberikan seluruh sisa hidup yang ia miliki pada Will. Kematian Henry kemudian menjadi sensasi tersendiri bagi beberapa pihak keamanan yang percaya bahwa Will mencuri seluruh usia Henry dan menyebabkan kematiannya. Melawan, Will akhirnya berlari dari kejaran dari banyak pihak yang menginginkan kehidupan yang saat ini ia pegang.

Jangan tertipu dengan sinopsis yang baru saja Anda baca. In Time mengandung lebih banyak cabang cerita di dalam skenario yang ditampilkannya. Berbagai metafora sosial mengenai jurang pemisah yang terbentuk antara kelompok kaya dan kelompok miskin, bagaimana orang yang berkuasa (baca: pemerintah) memperlakukan rakyatnya secara tidak adil, bagaimana kerasnya kehidupan bagi mereka yang hidup dengan keseharian yang pas-pasan hingga bagaimana banyak orang di dunia lupa akan arti kemanusiaan hanya karena materi ditampilkan secara lugas oleh Niccol dalam In Time. Niccol menterjemahkan istilah time is money secara literal dalam film ini. Waktu digunakan sebagai mata uang pemersatu dunia. Ide yang sangat brilian… namun sayangnya memiliki banyak benturan yang jarang dapat dihindari oleh Niccol yang kemudian membuat beberapa bagian In Time terasa kurang mampu bekerja dengan baik.

Dengan premis yang menjanjikan, Niccol ternyata menghadirkan In Time dengan cara penceritaan yang standar: semua hal yang Anda bayangkan akan terjadi dalam sebuah film yang berkisah mengenai perjuangan satu karakter untuk menumpas ketidakadilan yang ia alami dalam hidup – sekaligus membantu kehidupan banyak orang lainnya – terdapat dalam jalan cerita In Time. Bayangkan kisah Robin Hood. Dan padukan dengan kisah Bonnie & Clyde yang mulai berjalan seiring dengan terciptanya sebuah chemistry antara karakter Will dengan karakter Sylvia Weiss yang diperankan oleh Seyfried. Satu-satunya yang menjadi pembeda dalam kisah ini adalah latar belakang waktu dimana kisah ini terjadi dan penggantian uang menjadi waktu yang berhasil menghadirkan kesan futuristik pada film ini.

Terlepas dari sisi-sisi kelemahan tersebut, harus diakui Niccol masih memiliki kekuatan yang mumpuni dalam mengarahkan tampilan visual dan cerita yang ingin ia sampaikan dalam filmnya. Tentu, In Time terkadang memiliki dialog yang terkadang terlalu preachy, terkadang terlalu cheesy dan terkadang terlalu corny. Dan semenjak pertengahan film, jalan cerita In Time juga seperti berhenti berkembang dan terus menerus mengulang jalan cerita yang telah dihadirkan di awal kisah. Pun begitu, Niccol mampu menghadirkannya dengan tata produksi dan intensitas cerita yang cukuo mampu terjaga dengan meyakinkan. Ini yang membuat 115 menit dari durasi In Time masih mampu untuk hadir begitu memikat.

Material yang disediakan Niccol, harus diakui, tidak menyediakan ruang yang cukup bagi para aktornya untuk mampu menampilkan penampilan akting dramatis mereka dengan cukup. Pun begitu, Timberlake, Seyfried dan Cillian Murphy berhasil memberikan kemampuan terbaik mereka untuk menghidupkan karakter yang mereka perankan. Chemistry yang tercipta antara Timberlake dan Seyfried juga berjalan begitu erat. Para aktor dan aktris pendukung, seperti Wilde, Bomer, Alex Pettyfer dan Vincent Kartheiser juga tampil dalam penampilan yang tidak mengecewakan, terlepas dari minimnya waktu yang diberikan pada karakter yang mereka perankan untuk berkembang di dalam jalan cerita.

Walau kadang terasa hadir dengan jalan cerita yang terlalu kaku dan monoton serta dengan deretan dialog yang kadang terdengar begitu konyol, In Time untungnya masih mampu tampil dengan intensitas cerita yang begitu terjaga dan yang paling utama, dengan dukungan akting kelas atas para pengisi departemen akting film ini. Jujur saja, premis film ini yang mengisahkan bagaimana waktu menjadi barang paling berharga dan menjadi sumber kekuatan menggantikan uang adalah premis yang sangat menarik. Dan meskipun Andrew Niccol kemudian gagal untuk mengembangkan premis tersebut menjadi sebuah jalan cerita yang berkelas, In Time harus diakui akan masih mampu menghibur banyak orang yang menyaksikannya.

In Time (Regency Enterprises/New Regency/Strike Entertainment, 2011)

In Time (2011)

Directed by Andrew Niccol Produced by Marc Abraham, Eric Newman, Andrew Niccol Written by Andrew Niccol Starring Justin Timberlake, Amanda Seyfried, Cillian Murphy, Olivia Wilde, Alex Pettyfer, Vincent Kartheiser, Johnny Galecki, Matt Bomer, Christiann Castellanos, Rachel Roberts, Ethan Peck, Yaya DaCosta, Bella Heathcote, Toby Hemingway, Jessica Parker Kennedy, Collins Pennie, Christoph Sanders, Faye Kingslee Music by Craig Armstrong Cinematography Roger Deakins Editing by Zach Staenberg Studio Regency Enterprises/New Regency/Strike Entertainment Running time 115 minutes Country United States Language English

2 thoughts on “Review: In Time (2011)”

  1. In Time mungkin bisa head-to-head dengan Repo Men (2010). Haha. Tidak sama persis ceritanya, hanya idenya sama, yaitu kehidupan yang bisa dibeli dengan uang. Ada banyak yang ganjil memang di In Time, misalnya seorang anak yang berusia 28 tahun berjalan dengan ibunya yang berusia 50 tahun dan mertuanya yang berusia 60 tahun… semuanya seperti teman sebaya. Gak kebayang betapa kacaunya dunia kalau itu terjadi. Haha. Repo Men mungkin lebih realistis dari ide cerita, bahkan cenderung sadis menurut saya. Tapi untuk hiburan In Time bolehlah ditonton. Tidak mengecewakan koq, walau mungkin bagi beberapa penonton akan sedikit kesulitan memahami cerita In Time. Bagaimana menurut, Bro Amir? Hehe.

  2. Setuju banget sama review-nya…
    Saya juga merasa ide dalam film In Time sangat brilliant dan orisinal.
    Sayangnya kurang bisa diekskusi dengan baik.
    Meskipun demikian, saya tetap terhibur kok

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s