Review: Super 8 (2011)


Mereka yang menyukai film-film karya Steven Spielberg seperti Close Encounters of the Third Kind (1977) atau E.T.: The Extra-Terrestrial (1982), sepertinya akan dengan mudah menemukan diri mereka terbuai dan jatuh cinta dengan Super 8, sebuah film yang menjadi kelanjutan karir J. J. Abrams sebagai seorang sutradara film layar lebar setelah kesuksesannya dalam menggarap ulang Star Trek di tahun 2009 lalu. Tidak mengherankan, sebenarnya. Untuk film ini, Abrams untuk pertama kalinya bekerjasama dengan Spielberg – yang semenjak lama telah dianggap Abrams sebagai salah satu tokoh yang paling ia idolakan dan berpengaruh dalam karir filmnya – dan karenanya, mungkin adalah tepat untuk melihat Super 8 sebagai sebuah penghormatan terhadap film-film science fiction karya Spielberg yang selalu dapat tampil menarik, hangat dan selalu dengan mudah menemukan tempat di hati para penontonnya.

Anda akan merasakan kehangatan di berbagai bagian kisah Super 8, namun tidak pada bagian awal kisah penceritaan film ini, dimana film ini memulainya dengan sebuah kisah tragis yang dialami oleh Joe Lamb (Joel Courtney) yang harus kehilangan ibunya pada musim dingin di tahun 1979. Pun begitu, empat bulan kemudian, Joe akhirnya secara perlahan mampu menghapus dukanya dengan bantuan empat sahabatnya, Charles Kaznyk (Riley Griffiths), Preston (Zach Mills), Martin (Gabriel Basso) serta Cary (Ryan Lee), yang bersama sedang terlibat dalam sebuah pembuatan film pendek yang rencananya akan mereka kirimkan pada sebuah festival film internasional. Yang semakin menambah semangat Joe untuk terlibat dalam proyek pembuatan film tersebut adalah ketika Charles berhasil mengajak Alice Dainard (Elle Fanning), gadis yang selama ini begitu dikagumi oleh Joe, untuk bergabung dan turut berperan sebagai salah satu aktris di film yang mereka buat.

Petualangan mereka sendiri dimulai ketika pada suatu malam, ketika mereka berhasil keluar dari rumah mereka masing-masing tanpa diketahui oleh orangtua mereka untuk proses pengambilan gambar film, kelimanya menjadi saksi atas sebuah kecelakaan kereta api. Namun, kecelakaan kereta api tersebut bukanlah sebuah kecelakaan kereta api biasa. Di keesokan paginya, kota Lillian yang mereka tinggali dipenuhi oleh sekelompok pasukan militer yang bertugas untuk mengevakusi rongsokan kereta api tersebut. Keanehan semakin meliputi seluruh penduduk kota Lillian setelah banyak hewan peliharaan, alat elektronik dan beberapa warga menghilang secara tiba-tiba. Joe dan teman-temannya yang awalnya hanya ingin memanfaatkan suasana ricuh di kota mereka sebagai tambahan latar belakang cerita di film mereka, akhirnya justru terlibat dalam sebuah jalinan misteri yang melibatkan sosok asing yang tidak berasal dari daerah manapun di Bumi.

Nostalgia mungkin adalah kata yang begitu tepat untuk menggambarkan Super 8. Dengan jalan cerita yang berlatar belakang pada tahun 1979, J. J. Abrams dengan akurat memperhatikan setiap detil dari jalan cerita filmnya yang berhubungan dengan tahun tersebut. Mungkin, tidak akan ada satupun penonton yang akrab dengan tahun tersebut yang tidak akan tersenyum ketika melihat salah satu karakter pendukung memainkan sebuah Walkman atau ketika lagu populer dari The Knacks, My Sharona, tampil menghiasi jalan cerita Super 8. Nostalgia tidak hanya tampil dalam bentuk referensi ke tahun 1979. Nostalgia lainnya datang dari cara penyampaian Abrams akan jalan cerita Super 8 yang begitu hangat, familiar serta akan mampu membawa setiap penontonnya pada kenangan akan menyaksikan film-film petualangan yang mungkin dulu pernah mereka saksikan di masa kecilnya. Pun begitu, segala referensi yang mengarah ke tahun 1979 – atau masa lalu bagi para penonton yang lebih dewasa – tersebut telah dikemas sedemikian rupa sehingga tidak akan mengalienasi para penonton muda.

Kehangatan tidak hanya terasa pada cara penceritaan J. J. Abrams yang penuh nostalgia, namun juga pada penulisan setiap karakter yang dihadirkan di film ini. Abrams menghadirkan sederetan karakter yang begitu mudah untuk disukai, khususnya pada dua karakter utamanya, Joe dan Alice, yang diperankan Joel Courtney dan Elle Fanning. Courtney dan Fanning berhasil menciptakan chemistry yang terasa begitu melekat dan memikat antara kedua karakter yang mereka perankan. Namun, tak ada karakter yang mampu menghasilkan momen-momen kelucuan yang begitu segar seberhasil apa yang dilakukan oleh karakter Cary dan Charles yang diperankan oleh Ryan Lee dan Riley Griffiths. Bersama, karakter-karakter ini, yang ditambah dengan deretan karakter-karakter pendukung lainnya, menjadikan Super 8 begitu menghibur. Nilai plus harus juga diberikan pada Abrams yang mampu menyelipkan suasana kekeluargaan yang begitu normal dan hangat seperti yang ia gambarkan pada suasana keluarga yang dimiliki karakter Charles Kaznyk, walaupun seringkali dihadirkan dengan durasi yang begitu singkat.

Berbicara mengenai departemen akting, Super 8 mungkin adalah film musim panas dengan deretan jajaran pemeran yang terbaik yang dapat diperoleh para penontonnya. Walau karakter anak-anak kebanyakan diperankan oleh para aktor muda yang baru pertama kali terjun ke dunia akting, namun kemampuan berperan mereka tampil begitu lugas, alami dan meyakinkan. Super 8 juga menjadi saksi bagaimana Elle Fanning tampil dengan kekuatan akting yang begitu menghipnotis. Pada sebuah adegan, karakter yang diperankan Fanning harus berperan menjadi seorang istri yang tidak merelakan kepergian suaminya dan juga menjadi seorang manusia yang tiba-tiba terinfeksi virus dan menjadi seorang zombie. Anda harus melihat sendiri bagaimana transformasi Fanning yang begitu cepat dari satu karakter menjadi satu sosok karakter lainnya. Begitu mengagumkan!

Ada begitu banyak sisi berkualitas dari Super 8, termasuk tampilan visualnya yang mampu digarap Abrams dengan sangat baik. Kehadiran beberapa plot cerita yang saling tumpang tindih mungkin adalah satu-satunya ganjalan dalam menikmati Super 8 secara keseluruhan. Banyaknya plot cerita yang harus dieksplorasi Abrams – plot hubungan karakter Joe dengan ayahnya, plot kisah persahabatan, plot kisah cinta segitiga, plot romansa remaja hingga plot mengenai kedatangan makhluk asing dari luar angkasa – kadang membuat jalan cerita tersebut gagal untuk digali dengan begitu dalam. Hasilnya, jalan cerita Super 8 tidak pernah benar-benar mampu menggali sisi emosional setiap penontonnya.

Super 8 adalah sebuah film sempurna yang dapat diharapkan oleh seorang penonton ketika mereka sedang mencari sebuah jalan cerita yang mampu membangkitkan sisi menyenangkan dari diri mereka. Abrams dengan begitu baik menulis dan mengeksekusi jalan cerita film ini, yang walaupun terkesan sebagai sebuah penghormatan bagi karya-karya idolanya, Steven Spielberg, namun tetap mampu menghasilkan daya tarik tersendiri khas sentuhan seorang J. J. Abrams. Didukung dengan tampilan visual yang begitu meyakinkan, editing suara dan gambar yang profesional serta, tentu saja, penampilan para jajaran departemen akting yang sangat memuaskan, Super 8 tak dapat disangkal adalah sebuah karya science fiction terbaik yang dapat ditawarkan Hollywood untuk tahun ini.

Catatan: Ingin melihat seperti apa film pendek yang dihasilkan oleh Charles dan rekan-rekannya? Jangan buru-buru meninggalkan bangku bioskop Anda ketika film ini telah mencapai akhir kisahnya.

Super 8 (Bad Robot Productions/Amblin Entertainment, 2011)

Super 8 (2011)

Directed by J. J. Abrams Produced by Steven Spielberg, J. J. Abrams, Bryan Burk Written by J. J. Abrams Starring Joel Courtney, Elle Fanning, Kyle Chandler, Ron Eldard, Riley Griffiths, Noah Emmerich, Bruce Greenwood, David Gallagher, Amanda Michalka, Michael Hitchcock, Ryan Lee, Gabriel Basso, Joel McKinnon Miller, Zach Mills, Remy Thorne, Glynn Turman, Dan Castellaneta Music by Michael Giacchino Cinematography Larry Fong Editing by Maryann Brandon, Mary Jo Markey Studio Bad Robot Productions/Amblin Entertainment Running time 112 minutes Country United States Language English

3 thoughts on “Review: Super 8 (2011)”

  1. Untung gak keburu meninggalkan bioskop setelah filmnya berakhir. Wajib ditonton untuk yang itu (film pendeknya Charles).

    Setuju dengan Joe Nababan, untuk endingnya sendiri terasa kurang menggigit. Paling terpukau dengan scene tabrakan kereta apinya yang ‘memanjakan mata.’

  2. Sry yah, tapi kalau menurut gw sih, gw kecewa berat dengan ni film, mengingat alur cerita yang standard Amerika banget zzzzzzz, padahal gw dah tungguin ni film dari lama zzzzzzzzzz, mengingat nama si Steven Spielberg di belakang layar gw anggap sih ni film 1/2 gagal dia.

    Yang gw salut sih cuma pada ni film mampu membuat latar tahun 80an dengan amat baik, properti, acting, dan latar film ini 80an banget.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s