Review: Semesta Mendukung (2011)


Semesta Mendukung akan memperkenalkan penontonnya pada Arief (Sayev Muhammad Billah), seorang anak cerdas dan berbakat asal Sumenep, Madura yang datang dari keluarga dengan tingkat ekonomi menengah ke bawah. Walau memiliki kecerdasan yang berada di atas standar teman-teman sekelasnya, kehidupan Arief jauh dari kesan yang bahagia. Ayahnya, Muslat (Lukman Sardi), bekerja serabutan setelah ladang garam yang ia miliki tidak lagi mampu menghidupi keluarganya. Sementara itu, ibunya, Salmah (Helmalia Putri), telah menghabiskan masa tujuh tahun terakhir bekerja di Singapura. Arief sangat merindukan ibunya… dan ia akan melakukan apa saja untuk dapat mendengar kabar dari sang ibu yang semenjak lama telah tidak pernah lagi mengirimkan kabar kepada dirinya dan sang ayah.

Menilai bahwa Arief memiliki bakat yang cukup kuat di bidang ilmu Fisika, guru Arief, Tari (Revalina S. Temat), kemudian menawarkan Arief untuk bergabung ke tim olimpiade Fisika Indonesia di bawah pimpinan Tio Yohannes (Ferry Salim). Walau awalnya tidak merasa begitu tertarik, namun Arief akhirnya menyatakan kesetujuannya setelah mendengar bahwa dengan bergabung ke tim olimpiade tersebut dapat memberikannya kesempatan untuk berangkat ke Singapura dan mencari sang ibu. Dalam tim olimpiade Fisika tersebut, Arief ternyata menemui banyak anak lainnya yang memiliki bakwat dan minat yang sama bahkan lebih besar dari dirinya dalam bidang Fisika. Ini yang kemudian membuat Arief secara perlahan mulai meragukan kemampuan dirinya. Namun, dengan tekad yang kuat serta dukungan semangat yang datang dari teman-teman serta gurunya, Arief mulai bangkit dan menunjukkan bahwa dirinya memang pantas untuk berada di tim olimpiade tersebut.

Semesta Mendukung harus diakui memiliki benang merah yang cukup kuat dengan usaha penyutradaraan John De Rantau sebelumnya, Obama Anak Menteng (2010). Kedua film ini berusaha tidak hanya menjadi sebuah film keluarga yang menghibur. Namun, keduanya terlihat keras untuk menjadi sebuah film yang mampu memberikan penontonnya inspirasi dan motivasi untuk dapat menjalani hidup dengan lebih baik lagi. Jika inspirasi dan motivasi yang didapat Obama Anak Menteng berasal dari karakter Barrack Obama yang pernah tinggal di Indonesia dan kini mampu menjadi Presiden Amerika Serikat, maka Semesta Mendukung mendapatkan inspirasinya dari kisah sukses anak-anak Indonesia yang berhasil memenangkan Olimpiade Fisika di tingkat internasional.

Harus diakui, adalah sebuah keputusan yang cukup berani untuk mengangkat jalan cerita yang mengangkat kehidupan para karakter yang mencintai ilmu Fisika yang kurang populer untuk menjadi tema utama dari sebuah film. Sayangnya, keunggulan Semesta Mendukung dalam kaitannya dengan membawa tema yang unik tersebut hanya berhenti pada titik tersebut saja. Dalam eksekusinya, tema Fisika yang dibawakan tadi tidak pernah benar-benar mampu mendapatkan eksposisi yang layak di dalam jalan cerita. Penonton tidak pernah mendapatkan kejelasan mengenai berbagai fenomena Fisika yang ditampilkan di dalam jalan cerita, tidak pernah mendapatkan persuasi bahwa Fisika adalah bidang ilmu yang menarik untuk dipelajari bahkan seringkali Fisika terlihat hanya dijadikan alat bagi Semesta Mendukung untuk menceritakan kisahnya tanpa benar-benar mau mengenalkan apa arti Fisika itu yang sebenarnya.

Namun, hal tersebut hanyalah sebagian kecil dari permasalahan yang dimiliki oleh Semesta Mendukung. Secara perlahan, jalan penceritaan Semesta Mendukung mendekati kualitas penceritaan yang dimiliki oleh Obama Anak Menteng. Dan hal tersebut sama sekali bukanlah sebuah hal yang menyenangkan. Seperti halnya Obama Anak Menteng, Semesta Mendukung memiliki plot cerita yang begitu berusaha keras untuk memuja-muja sang karakter utamanya, dengan menempatkan sebagai sesosok karakter yang hampir sempurna, memiliki sebuah impian yang begitu tulus dan keberuntungan yang terlihat selalu mendukung setiap langkah yang ia ambil. Bukannya menjadi menarik, karakter tersebut justru menjadi terlihat sulit dipercaya dan cenderung terkesan datar keberadaannya.

Naskah cerita Semesta Mendukung yang ditulis oleh Hendrawan Wahyudianto bersama John De Rantau juga terkesan terlalu keras untuk berusaha menginspirasi penontonnya melalui setiap jalan kehidupan yang dialami sang karakter utama. Sayangnya, naskah cerita Semesta Mendukung sendiri gagal menampilkan sang karakter utama sebagai sesosok tokoh yang menarik dan inspirasional. Karakter Arief ditampilkan terlalu lurus, namun dengan ketiadaan keistimewaan apapun dalam sikap kesehariannya. Jika ingin ditelaah dengan lebih lanjut, dapat ditemukan bahwa perjalanan ‘menakjubkan’ yang dialami karakter Arief terjadi lebih condong karena keberuntungan yang diperolehnya dan hasil dorongan orang-orang di sekitarnya daripada akibat tekad dan perbuatan teguhnya dalam berusaha mewujudkan setiap mimpinya.

Plot-plot cerita tambahan dalam Semesta Mendukung juga gagal dikembangkan dengan baik. Kisah seperti hubungan karakter Arief dan ayahnya, kisah betapa depresinya Arief untuk menemukan ibunya atau hubungan Arief dengan teman-teman sekitarnya tampil dengan begitu datar dan gagal untuk menghadirkan ikatan emosi yang kuat dengan para penonton film ini. Semesta Mendukung juga sempat berusaha menghadirkan aliran komedi lewat beberapa karakter. Juga gagal. Karakter Thamrin yang diperankan oleh Angga Putra lebih terlihat sebagai sosok yang menjengkelkan daripada menghibur.

Karakter-karakter yang dihadirkan di film ini juga tampil begitu sederhana dan gampang ditebak. Untuk mendukung karakter Arief, dihadirkanlah sekelompok orang dewasa yang mendukung perjalanan hidupnya. Kemudian ada sekelompok rekan sebayanya yang ditampilkan dalam dua sisi. Di satu sisi ada rekan sebaya yang juga sama-sama mendukung dan mengagumi kemampuan Fisika dari karakter Arief. Dan di sisi lain ada rekan sebaya yang membenci dan cemburu atas bakat yang karakter Arief miliki. Begitu sederhana, dan sayangnya, ditampilkan dengan begitu dangkal. Karakter Arief adalah satu-satunya karakter yang tampil dengan porsi penceritaan penuh, yang menyebabkan karakter-karakter lainnya tersingkirkan dan terlihat hanya sebagai pelengkap penderita saja.

Dan dari titik itulah sebuah masalah lainnya muncul. John De Rantau melakukan sebuah kesalahan besar dengan memilih Sayev Muhammad Billah sebagai pemeran dari karakter Arief. Sayev, sayangnya, belum memiliki kemampuan akting yang mencukupi untuk dibebani sesosok karakter yang mendominasi setiap bagian cerita seperti karakter yang ia perankan. Alhasil, di setiap adegan, Sayev tampil dengan ekspresi yang jauh dari kata meyakinkan. Ia juga tampil dengan intonasi dan aksentuasi yang sama pada setiap dialog yang ia ucapkan. Setelah penggambaran karakternya yang terlalu ‘putih,’ akting Sayev yang begitu minimalis semakin membuat penonton akan merasa kebosanan dalam menyaksikan jalan cerita film ini.

Harus diakui, para pemeran dewasa merupakan pemeran terbaik yang berada di departemen akting Semesta Mendukung… walau tetap saja sesekali Anda akan mempertanyakan kelayakan Ferry Salim dan Feby Febiola untuk memerankan karakter seorang guru akibat cara penggambaran mereka yang kadang berusaha terlalu keras untuk terlihat sebagai sosok yang bijaksana. Selain sayev, para pemeran anak-anaak dan remaja di film ini juga tidak sepenuhnya mengecewakan. Hanya saja, karakter yang diberikan kepada mereka begitu dangkal. Akibatnya, sebagian dari pemeran ini terlihat tidak meyakinkan dalam peran yang diberikan pada mereka, walaupun, bahkan dari peran yang kecil tersebut telah terlihat bahwa mereka cukup mampu membawakan peran tersebut dengan baik.

Yah… sepertinya John De Rantau masih belum belajar banyak dari kesalahannya dalam Obama Anak Menteng. Murni dibuat untuk pangsa pasar penggila film-film keluarga bertema inspirasional/motivasional, John De Rantau sayangnya kemudian membatasi segala kemungkinan dari Semesta Mendukung untuk dapat tampil memuaskan dengan menghadirkan jalan ceritanya sesuai dengan standar film-film bertema sama yang banyak digarap oleh sineas-sineas perfilman Indonesia saat ini. Dengan naskah cerita yang berisi karakterisasi dan adegan –adegan yang dangkal ditambah dengan deretan karakter yang gagal untuk menghadirkan ikataan emosional dari para penontonnya, Semesta Mendukung tak lebih dari sekedar sebuah film keluarga yang berusaha untuk menghaadirkan simpati para penontonnya… namun gagal dan kemungkinan besar justru menghadirkan kejengkelan dan kebosanan selama menyaksikan film ini.

Semesta Mendukung (Mizan Productions/Falcon Pictures, 2011)

Semesta Mendukung (2011)

Directed by John De Rantau Produced by Putut Widjanarko Written by Hendrawan Wahyudianto, John De Rantau Starring Revalina S Temat, Lukman Sardi, Ferry Salim, Feby Febiola, Helmalia Putri, Indro Warkop, Sudjiwo Tedjo, Zawawi Imron, Yohanes Surya, Sayev Muhammad Billah, Rangga Raditya, Rendy Ahmad, Angga Putra, Dinda Hauw, Sheina Abdat, Omeyga Rossye Music by Thoersi Argeswara Cinematography German G Mintapradja Editing by Andhy Pulung Studio Mizan Productions/Falcon Pictures Running time 101 minutes Country Indonesia Language Indonesian

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s