Review: The Bang Bang Club (2010)


Julukan The Bang Bang Club adalah sebutan yang disematkan media internasional kepada empat jurnalis foto asal Arika Selatan, Greg Marinovich, Kevin Carter, Ken Oosterbroek, dan João Silva, karena keberanian dan kenekatan mereka untuk turun dan meliput langsung ke berbagai wilayah konflik di negara tersebut pada tahun 1990 hingga 1994. Bersama, mereka menghadirkan ratusan gambar yang kemudian membuka pedihnya nasib masyarakat Afrika Selatan di masa peperangan antar suku yang hampir tidak mendapatkan perhatian dari belahan dunia lain, dengan Marinovich dan Carter kemudian memenangkan Pulitzer untuk dua karya foto bersejarah yang mereka hasilkan.

Berdasarkan autobiografi berjudul The Bang Bang Club: Snapshots from the Hidden War (2000) yang ditulis oleh Marinovich dan Silva, sutradara Steven Silver kemudian mencoba menghadirkan sekelumit perjalanan karir keempat foto jurnalis tersebut lewat The Bang Bang Club. Sayangnya, Silver sepertinya lebih tertarik untuk menghadirkan perjalanan karir keempat foto jurnalis tersebut sebagai sebuah film aksi yang dipenuhi dengan banyak adegan-adegan menegangkan daripada mencoba untuk mengupas lebih dalam mengenai apa makna dan tujuan dari pekerjaan sebagai seorang foto jurnalis bagi keempat karakter tersebut. Tidak buruk sebenarnya, namun terasa begitu dangkal mengingat sukarnya medan perjuangan yang sebenarnya harus dihadapi para foto jurnalis.

The Bang Bang Club sendiri memulai kisahnya ketika Greg Marinovich (Ryan Phillippe) mulai bergabung dan semakin akrab dengan tiga orang foto jurnalis dari harian The Star yang ia temui ketika bekerja, Kevin Carter (Taylor Kitsch), Ken Oosterbroek (Frank Rautenbach) dan João Silva (Neels van Jaarsveld). Walau hanya dianggap sebagai seorang fotografer pemula pada awalnya, Greg kemudian secara perlahan mampu mendapatkan respek para rekan kerjanya atas keberaniannya untuk menembus wilayah-wilayah konflik yang dianggap tidak dapat disentuh sebelumnya. Keberaniannya itu pula yang kemudian membuatnya mampu meraih penghargaan Pulitzer – sebuah penghargaan tahunan untuk bidang jurnalisme, sastra dan komposisi musikal.

Bersamaan dengan penghargaan Pulitzer yang diraih Greg, keempat foto jurnalis tersebut kemudian mendapatkan perhatian yang luas dari banyak media internasional. Perhatian tersebut khususnya datang karena kualitas foto mereka yang mampu mengungkap banyak hal yang sebelumnya tidak diketahui khalayak ramai mengenai peperangan antar suku yang terjadi di Afrika Selatan. Pun begitu, permasalahan pribadi mulai mengintai keempatnya. Kekasih Greg, Robin Comley (Malin Åkerman), mulai tidak nyaman dengan resiko pekerjaan Greg. Kevin bahkan terlibat semakin dalam dengan permasalahan ketergantungan atas narkotika yang selama ini menderanya. Empat foto jurnalis yang biasa selalu bersama untuk mencari foto-foto mereka, kini mulai terpisah satu sama lain.

Silver, yang juga menulis naskah cerita untuk film ini, jelas menginginkan agar para penonton The Bang Bang Club mengetahui bagaimana rasanya untuk bekerja di tengah-tengah sebuah situasi yang kapan saja dapat beresiko untuk merenggut nyawa siapapun yang berada di daerah tersebut. Harus diakui, Silver berhasil melakukannya. The Bang Bang Club tidak hanya dipenuhi dengan momen-momen yang dapat dengan lancar memacu adrenalin para penontonnya, namun juga tetap mampu menghadirkan ikatan emosional, khususnya akibat penambahan tata musik karya Philip Miller yang begitu menyentuh.

Sayang, ketika film ini mulai beralih pada potongan-potongan kisah personal dari keempat karakternya – khususnya kisah personal dan romansa dari karakter Greg Marinovich – The Bang Bang Club secara perlahan mulai terasa mengendur intensitasnya. Ini yang mengakibatkan deretan kisah drama yang dihadirkan di pertengahan film terasa sedikit menjemukan. Silver berusaha untuk kembali meningkatkan intensitas tersebut dengan menghadirkan kisah drama emosional peperangan pada bagian akhir The Bang Bang Club. Walau masih belum cukup mampu untuk menyamai kadar intensitas yang pernah dihasilkan pada bagian awal film, namun setidaknya usaha Silver tersebut mampu membuat The Bang Bang Club kembali menjadi sajian yang mengikat.

Foto karya Greg Marinovich yang memenangkan Pulitzer Prize for Spot News Photography di tahun 1991 (Guardian)

Berbicara mengenai profesi seorang foto jurnalis, The Bang Bang Club sayangnya bukanlah sebuah film yang tertarik untuk mendalami lebih lanjut mengenai profesi yang cukup beresiko tersebut. Memang, keempat karakter utama dalam film ini dikisahkan begitu berdedikasi dalam melaksanakan tugas mereka – mereka bahkan sering terlihat bersenang-senang ketika meliput daerah perang. Namun The Bang Bang Club cukup berhenti pada titik penceritaan tersebut. Film ini tidak pernah mengungkapkan mengapa keempat foto jurnalis tersebut mau mempertaruhkan nyawa mereka demi pekerjaan yang mereka lakukan, tidak pernah berjalan terlalu dalam untuk menyelami profesi seorang foto jurnalis dan tidak juga mau bersusah-susah untuk memaparkan filosofi dari pekerjaan tersebut. Sederhananya, profesi foto jurnalis di The Bang Bang Club hanya dihadirkan sebagai katalis bagi penghantar kisah-kisah pemicu adrenalin yang kemudian dihadirkan di sepanjang film.

Sama sekali tidak ada permasalahan yang berarti dari sisi departmen akting. Seluruh jajaran pemeran film ini mampu menampilkan permainan terbaiknya. Jika saja Silver mau memberikan penggalian karakter yang lebih dalam pada naskah cerita The Bang Bang Club, mungkin karakter Greg Marinovich yang diperankan Ryan Phillippe dan Kevin Carter yang diperankan oleh Taylor Kitsch mampu tampil sebagai karakter yang lebih kuat sekaligus menjadi kontender berbagai penghargaan film mendatang. Tata produksi juga mampu dihadirkan dengan kualitas yang mumpuni dengan tata sinematografi, editing dan musik turut berperan dalam menjaga aliran emosional cerita kepada para penonton film.

Foto karya Kevin Carter yang memenangkan Pulitzer Prize for Feature Photography di tahun 1994 (Guardian)

Sayangnya, Steven Silver sepertinya lebih tertarik untuk menghadirkan The Bang Bang Club sebagai sebuah film aksi daripada sebagai sebuah film dengan tingkat kecerdasan yang lebih mendalam. Jangan salah, Silver mampu menggarap film ini dengan cukup baik. Hanya saja, naskah cerita yang dihadirkan Silver terlalu bertumpu pada kehadiran adegan-adegan pemacu adrenalin dan drama yang kurang begitu terasa esensial antara karakternya daripada mengulik langsung secara mendalam mengenai profesi foto jurnalis yang sangat menantang tersebut. Pun begitu, Silver mampu menghadirkan The Bang Bang Club sebagai sebuah film yang bercerita dengan cepat, menyentuh pada beberapa bagian dan tampil cukup mengesankan secara keseluruhan.

The Bang Bang Club (Foundry Films/The Harold Greenberg Fund/Instinctive Film/Out of Africa Entertainment, 2010)

The Bang Bang Club (2010)

Directed by Steven Silver Produced by Adam Friedlander, Daniel Iron, Lance Samuels Written by Steven Silver (screenplay), Greg Marinovich, João Silva (book, The Bang Bang Club: Snapshots from the Hidden War) Starring Ryan Phillipe, Taylor Kitsch, Frank Rautenbach, Neels Van Jaarsveld, Malin Åkerman, Patrick Lyster, Russel Savadier Music by Philip Miller Cinematography Miroslaw Baszak Editing by Ronald Sanders, Tad Seaborn Studio Foundry Films/The Harold Greenberg Fund/Instinctive Film/Out of Africa Entertainment Country Canada, South Africa Language English

3 thoughts on “Review: The Bang Bang Club (2010)”

  1. The Bang Bang Club (BBC) adalah film yang bagus dan DVD-nya layak untuk dikoleksi. Namun ada satu adegan yang sebenarnya sangat saya harapkan akan sangat membekas dalam benak penontonnya, namun gagal dieksekusi dengan baik, yaitu adegan seorang gadis kecil yang sekarat sedang berjuang merangkak menuju tempat pembagian makanan, di belakangnya seekor burung hering (pemakan bangkai) mengikuti dan menunggu gadis itu mati. Adegan ini menurut saya gagal total menggugah emosi penonton. Kalau kita melihat pada photo asli (lihat di atas) dan kita bandingkan dengan adegan yang terdapat pada film maka akan sangat jauh perbedaannya. Badan gadis kecil pada adegan film tidak kurus dan berkesan sekarat. Bahkan terlihat sehat dan berisi dan bersih. Yang lebih mengganggu adalah pemakaian (semacam) popok putih bersih. Sementara di film sangat terlihat bagaimana tubuh kurus, tulang-belulang yang menonjol, dan gadis kecil itu telanjang sambil menahan sakit dan lapar yang akan membunuhnya. Jika adegan ini benar-benar dieksekuis secara sempurna dan ke-otentik-annya terjaga, maka dapat dikatakan film ini mencapai seluruh tujuannya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s