Review: Captain America: The First Avenger (2011)


Tidak ada satu bagianpun dalam kisah Captain America: The First Avenger yang belum pernah Anda saksikan sebelumnya dalam berbagai versi cerita film-film bertemakan superhero lainnya. Anda dapat memandang hal ini sebagai sebuah usaha untuk mempertahankan kisah tradisional komik Captain America yang bertemakan sikap patriotisme sang karakter utama dalam membela negaranya. Namun, pada banyak bagian, Captain America: The First Avenger terasa bagaikan rangkaian kisah kepahlawanan yang cheesy, begitu mudah ditebak dan gagal dalam menghadirkan sebuah kisah petualangan yang mampu untuk tampil menarik dan berbeda jika disandingkan dengan film-film bertema sama yang akhir-akhir ini banyak diproduksi Hollywood.

Disutradarai oleh Joe Johston (Jurassic Park III, 2001) dengan naskah cerita yang ditulis oleh duo Christopher Markus dan Stephen McFeely (The Chronicles of Narnia: The Voyage of the Dawn Treader, 2010) berdasarkan komik Captain America rilisan Marvel Comics karya Joe Simon dan Jack Kirby, Captain America: The First Avenger berkisah mengenai Steve Rogers (Chris Evans), seorang pemuda yang sangat berhasrat untuk bergabung dengan pasukan militer Amerika Serikat dan turut membela negara dalam melawan pasukan Nazi di Perang Dunia II di tahun 1942. Sayangnya, kondisi fisik Steve yang lemah membuatnya terus menerus mengalami penolakan oleh pihak militer. Sikap Steve yang tidak gampang menyerah, serta niat tulusnya dalam membela negara, akhirnya menuntunnya untuk bertemu dengan Dr Abraham Erskine (Stanley Tucci).

Dr Erskine, bersama dengan pihak militer Amerika Serikat, sedang berada dalam tahap pengembangan percobaan untuk menghasilkan prajurit berkekuatan super melalui percobaan ilmiah di laboratorium. Melihat sosok Steve yang tulus, Dr Erskine kemudian yakin bahwa Steve adalah kandidat yang tepat untuk dijadikan prajurit super pertama mereka. Benar saja, setelah melalui sebuah ‘operasi plastik ilmiah,’ fisik Steve berubah menjadi atletis dengan kekuatan super telah menunggu untuk digunakan di dalam tubuhnya. Steve, yang kemudian dikenal dengan sebutan Captain America, kemudian bergabung dengan pihak militer Amerika Serikat untuk melawan pasukan Nazi, khususnya pasukan pimpinan Johann Schmidt (Hugo Weaving), rekan Adolf Hitler yang sama-sama berniat untuk menguasai dunia dengan menghalalkan berbagai cara.

Pada dasarnya, Captain America: The First Avenger hanyalah sebuah kisah dimana karakter sang protagonis berusaha untuk melawan karakter antagonis. Sederhana, tanpa berusaha untuk memberikan berbagai kisah tambahan yang cukup berarti lainnya namun dihadirkan dengan durasi sepanjang 124 menit yang akan mampu membuat setiap penonton film ini cukup merasa kelelahan hanya untuk menyaksikan sang pahlawan dan musuh utamanya akhirnya dapat bertatap muka, bertarung dan menentukan siapa yang akan dapat melanjutkan hidupnya di dunia – pertanyaan yang mungkin telah lama terjawab ketika setiap penonton tahu bahwa karakter Captain America menjadi bagian dari film The Avengers yang dirilis di tahun 2012 mendatang.

Cukup membantu ketika Joe Johnston menghadirkan kisah cerita kepahlawanan tradisional tersebut dengan ritme penceritaan cepat yang terjaga dengan rapi plus, tentu saja, kehadiran adegan-adegan laga dengan tingkat visual effects berteknologi tinggi. Sayang, setelah deretan adegaan kejar-kejaran antara karakter Captain America dengan karakter Johann Schmidt – yang telah berubah menjadi Red Skull, penonton kemudian disuguhkan sebuah tampilan adegan laga antara keduanya yang harus diakui tidak setara dengan panjangnya penantian penonton yang harus dilalui untuk mencapai adegan klimaks tersebut. Johnston sebenarnya mampu mengeksekusi Captain America: The First Avenger dengan baik, namun naskah cerita film ini terasa terlalu biasa untuk mendapatkan sebuah apresiasi yang lebih.

Karakterisasi setiap tokoh yang hadir di Captain America: The First Avenger juga terasa cukup sempit. Penonton dapat memisahkan karakter protagonis dengan karakter antagonis dengan begitu mudah. Hitam atau putih. Ini yang membuat Chris Evans – yang sebenarnya merupakan pilihan yang sangat tepat untuk memerankan karakter Captain America – menjadi terlihat kurang menarik selama penceritaan Captain America: First Avenger berjalan. Karakternya seperti telah diprogram untuk menjadi sesosok pahlawan dengan hati putih penuh niat tulus untuk melindungi orang-orang yang tidak bersalah tanpa sedikitpun diberikan celah bahwa ia adalah manusia biasa yang memiliki kekurangan. Ini masih ditambah lagi dengan kisah romansa antara karakter Steve Rogers dengan karakter Peggy Carter (Haley Atwell) yang tidak mampu dikembangkan dengan baik sekaligus terhalang oleh chemistry terbatas yang tercipta antara Evans dan Atwell.

Diantara karakter-karakter yang hadir, mungkin hanya karakter Colonel Chester Phillips yang diperankan oleh Tommy Lee Jones dan karakter Johann Schmidt/Red Skull yang diperankan oleh Hugo Weaving yang tampak menarik. Sebenarnya sama sekali tidak ada yang istimewa dari dua krakter tersebut. Namun jika dibandingkn dengan karakter-karakter lain yang terlalu datar, karakter Colonel Chester Phillips yang meledak-ledak atau karakter Johann Schmidt/Red Skull yang licik jelas akan lebih mampu untuk memberikan warna tersendiri bagi jalan cerita secara keseluruhan. Sementara karakter-karakter pendukung lainnya yang sebenarnya dapat memiliki peran signifikan di dalam jalan cerita seperti karakter Howard Stark (Dominic Cooper), Arnim Zola (Toby Jones) atau Abraham Erskine (Stanley Tucci) hadir tanpa diberikan kesempatan untuk memberikan arti kehadiran karakter mereka di dalam jalan cerita film.

Jalan cerita Captain America: The First Avenger memiliki latar belakang waktu cerita di masa Perang Dunia II. Ini merupakan satu-satunya perbedaan (baca: keistimewaan) yang dimiliki oleh Captain America: The First Avenger jika dibandingkan dengan film-film superhero yang diangkat dari seri komik karya Marvel lainnya. Selain itu, Captain America: The First Avenger tampil layaknya sebuah film superhero biasa, yang alur kisahnya mengikuti seluruh formula dasar dari film-film bertema sama. Kealpaan kualitas jalan cerita yang istimewa tersebut membuat Captain America: The First Avenger bagaikan hanya sebagai sebuah film pembuka bagi kehadiran The Avengers di tahun 2012 mendatang dan bukan sebagai sebuah jalur awal bagi kehadiran franchise baru bagi superhero ini. Masih cukup dapat dinikmati, namun sangat jauh dari kesan memiliki kharisma dan daya tarik layaknya seorang Captain America yang seharusnya.

Captain America: The First Avenger (Marvel Studios, 2011)

Captain America: The First Avenger (2011)

Directed by Joe Johnston Produced by Kevin Feige, Amir Madani Written by Christopher Markus, Stephen McFeely (screenplay), Joe Simon, Jack Kirby (comics, Captain America) Starring Chris Evans, Tommy Lee Jones, Hugo Weaving, Hayley Atwell, Sebastian Stan, Dominic Cooper, Neal McDonough, Derek Luke,  Stanley Tucci, Toby Jones, Kenneth Choi, Bruno Ricci, J. J. Feild, Richard Armitage, Samuel L. Jackson, Amanda Righetti Music by Alan Silvestri Cinematography Shelly Johnson Editing by Robert Dalva, Jeffrey Ford Studio Marvel Studios Running time 124 minutesCountry United States Language English

5 thoughts on “Review: Captain America: The First Avenger (2011)”

  1. ooopppssss… bang amir… setuju setuju setuju setujuuuu!!
    yaaa.. agak kecewa dengan film ini yaaa??

    pada akhirnya saya merasa captain america cuma sekedar kisah pengantar tentang kehidupan Captain America saja sebelum akhirnya nanti ia bersatu bersama superhero lainnya..

  2. Filmnya terasa terlalu ringan dan gampang dicerna.
    Seolah-olah film ini ditujukan untuk anak-anak yang didampingi orang tua mereka untuk menjelaskan tentang Perang Dunia II

  3. itu mksud dri endingnya gmna si?
    ko wktu dy sadar trnyta dy dah tdur slma 70 thn & msh pke sragm dy sblm d suntik serum

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s