Review: Everything Must Go (2011)


Anda boleh saja memandang sebelah mata dan mencoret film-film Will Ferrell ketika ia berperan dalam sebuah film komedi. Beberapa film komedi yang dibintangi Ferrell harus diakui terasa bagaikan sebuah sekuel bagi setiap film yang ia bintangi sebelumnya dengan Ferrell selalu memerankan sesosok karakter pria yang hampir sama. Namun, jangan pernah menyepelekan kemampuan drama Ferrell. Ketika Ferrell benar-benar ingin menampilkan kemampuan aktingnya, dan memilih sebuah film yang dengan tepat dapat menyalurkan hasratnya tersebut, Ferrell dengan sempurna mampu membuktikannya. Hal inilah yang terbukti ketika Ferrell untuk pertama kali membintangi sebuah film drama arahan Woody Allen berjudul Melinda and Melinda (2004) yang kemudian disusul dengan Stranger than Fiction pada tahun 2006 lalu.

Kemampuan drama Ferrell kembali diuji ketika ia memilih untuk membintangi Everything Must Go, sebuah film yang didasarkan pada cerita pendek karya Raymond Carver berjudul Why Don’t You Dance?. Sayangnya, berbeda dengan Stranger than Fiction yang mengharuskan Ferrell untuk mengeksplorasi kemampuannya untuk menampilkan berbagai jenis emosi yang dibutuhkan karakternya, Everything Must Go tidak pernah tampil sedalam itu. Berperan sebagai seorang alkoholik yang menemukan kehidupannya secara perlahan berada dalam kehancuran, Ferrell hanya terlihat menampilkan ekspresi yang sama di sepanjang film: sedih dan putus asa. Pun begitu, Everything Must Go mampu bercerita dengan sangat baik akibat pengarahan sutradara Dan Rush yang tidak pernah membiarkan jalan cerita film ini tampil menjadi sebuah kisah yang klise.

Ferrell berperan sebagai Nick Halsey, yang pada suatu waktu harus menghadapi hari terburuk yang pernah ia alami di sepanjang hidupnya: ia dipecat dari pekerjaannya dengan tuduhan bahwa ia telah meniduri rekan kerjanya dan setibanya di rumah, ia menemukan selembar kertas dari istrinya yang berisikan bahwa sang istri telah meninggalkan dirinya, mengunci rumah mereka dan mengeluarkan tumpukan barang yang dimiliki oleh Nick di halaman rumah mereka. Nick sendiri menyadari bahwa seluruh masalah yang ia hadapi saat ini bermula dari adiksinya terhadap minuman keras. Walau begitu, Nick sama sekali tidak mempedulikan kenyataan tersebut dan terus menerus mengkonsumsinya.

Atas hukum yang berlaku di Amerika Serikat – bahwa seseorang tidak boleh tinggal dan beraktivitas di halaman rumah mereka, sahabat Nick yang juga seorang petugas kepolisian, Frank Garcia (Michael Peña), menugaskan Nick untuk mengadakan yard sale guna menjual seluruh barang-barang yang ia miliki. Dengan bantuan Kenny (Christopher Jordan Wallace), seorang anak laki-laki yang ia temui sedang bersepeda di depan halaman rumahnya, Nick lalu mulai menyortir barang-barangnya sebelum melakukan penjualan di akhir pekan. Secara perlahaan, lewat persahabatan yang terjalin dengan Kenny, Nick akhirnya mampu menerima berbagai kesialan yang ia terima dan mulai menyadari kesalahan-kesalahan yang telah ia perbuat di masa lalu.

Menyentuh tema-tema kehidupan seperti persahabatan, rasa kesendirian, keinginan untuk memiliki seseorang yang dapat mencintai setulus hati hingga materialisme, Everything Must Go adalah sebuah jenis cerita yang seharusnya mampu memberikan para penontonnya sebuah perjalanan emosional untuk dapat mencerna apa yang dirasakan oleh sang karakter utama. Dan Rush cukup mampu melakukan hal tersebut. Dengan sentuhan penceritaan yang ringan dan komikal, Rush secara perlahan mampu menyampaikan inti pesan dari kisah Everything Must Go tanpa membuat penontonnya merasa bahwa mereka sedang dikuliahi atau dibebani berbagai komentar sosial tentang kehidupan nyata.

Pun begitu, karakterisasi Nick Halsey yang sempit – namun jauh dari kesan dangkal – kemungkinan besar akan membuat penonton sedikit merasa sulit untuk dapat merasa iba pada dirinya. Di sepanjang penceritaan, Nick digambarkan sebagai sesosok pria yang baru saja mengalami kegagalan hidup dan kemudian menghabiskan sisa hidupnya untuk mengenang masa lalu serta merasa sedih dan depresif tanpa mau sedikitpun berusaha untuk melangkah maju dan berubah. Hadirnya karakter Kenny, Samantha (Rebecca Hall) dan Delilah (Laura Dern), secara perlahan menjadi katalisator penonton bagi sikap depresif yang terus menerus dipancarkan oleh karakter Nick. Everything Must Go kemungkinan besar akan mampu memberikan efek emosional yang lebih dalam kepada penontonnya jika saja karakter Nick Halsey mampu ditampilkan lebih emosional dan tidak melulu cenderung bersikap depresif di setiap saat.

Everything Must Go sendiri merupakan sebuah film dimana setiap karakter memegang penuh kontrol atas kehadiran aliran emosi di dalam jalan cerita. Jelas membutukan deretan pemeran yang mampu dengan baik menghidupkan karakter yang mereka perankan. Untuik jajaran departemen akting, Everything Must Go tampil sangat solid. Ferrell sekali lagi mampu membuktikan bahwa ia harusnya lebih sering bermain dalam film-film bertema seperti film ini dan Stranger than Fiction. Aktor cilik, Christopher Jordan Wallace, juga mampu mendampingi penampilan Ferrell dengan baik. Dan walaupun hadir dengan peran yang terbatas, Rebecca Hall, Laura Dern dan Michael Peña juga mampu memperkuat penampilan Ferrell dan jalan cerita Everything Must Go secara keseluruhan.

Everything is not yet lost” adalah sebuah kalimat yang disampaikan oleh karakter Samantha terhadap Nick Halsey di penghujung film Everything Must Go. Pesan tersebut sepertinya merupakan inti keseluruhan dari film yang sangat jelas membutuhkan kedalaman emosional untuk dapat menyampaikannya dengan baik. Terlepas dari beberapa kelemahan yang terdapat di beberapa bagian film ini, sutradara Dan Rush mampu menggarap Everything Must Go dengan cukup baik. Didukung dengan jajaran pemeran yang dengan solid menghantarkan peran mereka dengan baik, Everything Must Go mampu hadir sebagai drama dengan tampilan yang sederhana namun penyampaian yang cukup emosional.

Everything Must Go (Birdsong Pictures/IM Global/Nationlight Productions/Temple Hill Entertainment, 2011)

Everything Must Go (2011)

Directed by Dan Rush Produced by Marty Bowen, Wyck Godfrey Written by Dan Rush (screenplay), Raymond Carver (short story, Why Don’t You Dance?) Starring Will Ferrell, Christopher Jordan Wallace, Rebecca Hall, Laura Dern, Michael Peña, Stephen Root, Glenn Howerton, Shannon Whirry Music by David Torn Cinematography Michael Barrett Editing by Sandra Adair Studio Birdsong Pictures/IM Global/Nationlight Productions/Temple Hill Entertainment Running time 85 minutes Country United States Language English

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s