Review: Ladda Land (2011)


Tidak seperti kebanyakan film horor lainnya, sutradara sekaligus penulis naskah, Sophon Sakdaphisit (Coming Soon, 2008), mengemas Ladda Land sebagai sebuah film drama keluarga yang dibalut dengan kisah horor yang menimpa setiap karakter yang ada di dalam jalan cerita film ini. Hal ini yang kemungkinan besar akan mampu membuat setiap penonton merasa terikat dengan setiap karakter yang hadir dan semakin menambah faktor horor yang dihadirkan walau terdapat beberapa kelemahan naskah di beberapa bagian ceritanya. Pun begitu, Sakdaphisit mampu mengemas tata produksi Ladda Land sedemikian rupa sehingga penonton dapat melupakan sejenak penggunaan logika mereka untuk kemudian tenggelam dalam aliran horor yang disajikan film ini.

Dikabarkan mendapatkan inspirasi cerita dari sebuah kisah nyata mengenai sebuah daerah pemukiman di Thailand yang secara perlahan ditinggalkan para penduduknya karena rentetan kejadian misterius yang terjadi di daerah tersebut, Ladda Land mengisahkan mengenai Thee (Saharat Sangkapricha) yang bersama istri, Pran (Piyathida Woramuksik), dan kedua anak mereka, Nan (Sutatta Udomsilp) dan Nat (Athipich Chutiwatkajornchai), yang pindah ke komplek perumahan Ladda Land di Chiang Mai. Keputusan Thee untuk memindahkan keluarganya dari Bangkok itu sendiri telah lama ditolak oleh anaknya Nan yang merasaa bahwa hal tersebut akan menjauhkan dirinya dari nenek, teman dan sekolahnya. Kejadian inilah yang kemudian menciptakan friksi antara Thee dan Nan di sepanjang cerita.

Suatu hari, seorang pembantu di komplek perumahan tersebut ditemukan tewas secara tragis dengan cara dibunuh oleh seseorang yang tak dikenal. Jelas kejadian tersebut membuat geger seluruh penghuni komplek perumahan Ladda Land. Tak berhenti di situ, berbagai kejadian mistis nan misterius mulai terjadi dan secara perlahan menyebabkan banyak warga yang pindah dari Ladda land. Pun begitu, Thee – yang telah berjuang setengah mati agar dapat membeli rumah tersebut – berusaha untuk tidak mengindahkan berbagai kejadian aneh yang berada di sekitarnya dan memilih untuk tetap tinggal di Ladda Land. Sebuah keputusan yang kemudian akan membawa diri dan keluarganya dalam sebuah jurang penderitaan yang panjang dan penuh misteri.

Sakdaphisit sepertinya telah menegaskan semenjak awal bahwa film yang juga memiliki judul The Lost Home ini bukanlah sebuah jenis film horor yang menghadirkan berbagai rentetan teror untuk menakut-nakuti penontonnya yang kemudian diselingi dengan beberapa adegan drama sebagai pelengkap naskah cerita. Sebaliknya, Ladda Land hadir sebagai sebuah kisah drama keluarga yang penuh dengan intrik dan konflik untuk kemudian dilengkapi dengan sebuah tambahan konflik cerita yang bernuansa horor. Jangan salah, faktor horor tetap menjadi sajian utama dalam Ladda Landa. Hanya saja, Sakdaphisit memberikan perhatian yang lebih mendalam terhadap penyajian kisah drama film ini yang membuat Ladda Land mampu tampil gemilang dan emosional.

Fokus utama yang berada di sisi drama film juga harus diakui memberikan sedikit ketimpangan pada kehadiran sisi horor dari jalan cerita film ini. Semenjak kehadiran plot cerita horor di film ini, Sakdaphisit sepertinya terlupa untuk memberikan latar belakang cerita mengenai apa penyebab dari deretan teror yang hadir di kawasan Ladda Land tersebut. Memang, penonton akan menyaksikan kilasan-kilasan tampilan horor para penghuni sisi lain dunia dari Ladda Land – yang harus diakui sangat menakutkan! – namun penonton juga tidak diberikan informasi tambahan mengenai apa yang memulai semua kejadian tersebut dan bagaimana seluruh misteri tersebut dapat diakhiri. Ini masih ditambah dengan kehadiran beberapa plot cerita tambahan yang terasa kurang begitu efektif dan membuat jalan cerita yang seharusnya dapat selesai lebih singkat menjadi hadir dengan durasi yang lebih panjang.

Untungnya, seluruh kelemahan yang hadir dalam film ini, baik yang berupa kejanggalan yang terdapat di beberapa sudut cerita maupun plot cerita yang sering hadir tidak konsisten, dapat ditutupi dengan penggarapan tata produksi Ladda Land yang sangat sempurna. Sakdaphisit memang masih memanfaatkan pemunculan tiba-tiba dari sesosok makhluk halus dengan iringan musik yang berdentum kuat untuk menjadi terapi kejutaan dan menakuti penontonnya, namun Sakdaphisit berhasil dengan baik mengemasnya dengan baik sehingga setiap adegan horor akan sanggup menguasai jalan pemikiran para penontonnya dengan penuh.

Para jajaran pemeran film ini juga mampu tampil sempurna dalam menampilkan kemampuan akting mereka. Saharat Sangkapricha yang berperan sebagai Thee mampu menampilkan sisi depresif dari karakternya dengan baik. Penonton akan mampu merasakan bahwa ia telah berusaha menjadi seorang ayah yang baik, namun akan tetap merasa was-was bahwa karakternya dapat saja ‘meledak’ dan memberikan sebuah kejutan horor bagi jalan cerita Ladda Land. Begitu juga dengan Piyathida Woramusik, Sutatta Udomsilp dan Athipich Chutiwatkajornchai yang berperan sebagai istri dan kedua anak Thee yang mampu tampil melengkapi kekuatan departemen akting Ladda Land. Adalah sangat jarang untuk menyaksikan kemampuan akting yang mendalam dan emosional pada sebuah kisah horor. Pun begitu, Sakdaphisit mampu mengeluarkan kemampuan akting dari jajaran pemerannya dengan baik.

Ladda Land jelas bukanlah sebuah film yang akan dikategorikan sebagai sebuah hasil karya yang sempurna. Sakdaphisit sebenarnya telah memiliki sebuah susunan dasar cerita yang cukup kuat di tangannya, namun beberapa poin cerita yang tertinggal menjadi batu sandungan sendiri untuk Ladda Land dapat dieksekusi lebih mendalam. Pun begitu, Ladda Land tampil dengan formasi akting yang sangat kuat sehingga mampu mendorong kehadiran aliran emosional jalan cerita terasa menajdi lebih nyata. Ditambah dengan penataan elemen-elemen produksi yang hadir dengan kualitas kelas atas, menjadikan Ladda Land hadir sebagai sebuah film  horor yang dieksekusi dengan baik dan berhasil tampil memikat setiap penontonnya.

Ladda Land (GMM Thai Hub, 2011)

Ladda Land (ลัดดาแลนด์) (2011)

Directed by Sophon Sakdaphisit Produced by Jira Maligool, Chenchonnee Soonthornsaratul, Suvimon Techasupinon,Vanridee Pongsittisak Written by Sopana Chaowwiwatkul, Sophon Sakdaphisit Starring Saharat Sangkapricha, Piyathida Woramusik, Sutatta Udomsilp, Athipich Chutiwatkajornchai, Duentem Salitul Music by Hualampong Riddim, Vichaya Vatanasapt Cinematography Kittiwat Semarat Editing by Thammarat Sumethsupachok Studio GMM Thai Hub Running time 112 minutes Country Thailand Language Thai

4 thoughts on “Review: Ladda Land (2011)”

  1. Keunggulan film ini adalah penonton tidak digedor dengan pemunculan mahluk-mahluk halus terus-menerus sejak awal. Sang sutradara memberikan komposisi yang pas antara drama dan horror. Jika sineas Indonesia yang memang suka bermain di jalur horror, saya harap mereka belajar pada sineas Thailand. Horror tidak melulu soal mahluk-mahluk setan. Film yang kuat harus memiliki alur cerita yang kuat pula untuk bisa mengikat penontonnya. Hanya satu yang mengganggu saya setiap kali menonton film Thailand, yaitu Bahasanya. Hahaha! Para pemain film Thailand itu ganteng-ganteng dan cantik-cantik. Kalau gak percaya lihat saja Ladda Land. Tetapi kalau sudah bicara, rasanya koq campur aduk gitu. Hahaha! Tapi film ini memang pantas untuk ditonton oleh penggemar film bergenre Horror.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s