Review: Beautiful Boy (2010)


Bayangkan jika orang yang paling Anda sayangi menjadi korban dalam sebuah tragedi berdarah. Bayangkan jika setelah mengetahui bahwa orang yang Anda sayangi menjadi korban dalam sebuah tragedi berdarah, pihak kepolisian datang ke rumah Anda dan menyatakan bahwa orang yang paling Anda sayangi tersebut diduga kuat menjadi dalang terjadinya tragedi berdarah tersebut. Setelah Bowling for Columbine (2002) dan Elephant (2003) serta We Need to Talk About Kevin yang akan dirilis akhir tahun ini, sutradara Shawn Ku mencoba untuk membahas mengenai tragedi penembakan yang terjadi di sekolah dalam karya fiktif yang naskah ceritanya ia tulis bersama Michael Armbruster, Beautiful Boy.

Dalam film ini, Michael Sheen dan Maria Bello berperan sebagai Bill dan Kate Carroll, pasangan orangtua yang memiliki putra tunggal yang cerdas, Sam (Kyle Gallner), dan mengira bahwa keluarga mereka adalah sebuah bentuk keluarga bahagia yang diimpikan semua orang. Hingga akhirnya tragedi tersebut terjadi. Lewat saluran berita di televisi, Bill dan Kate mengetahui bahwa telah terjadi sebuah tragedi penembakan para guru dan mahasiswa di tempat Sam kuliah. Ketika polisi datang ke rumahnya, Kate jelas saja histeris karena telah menduga bahwa ia akan mendengar sebuah kabar buruk mengenai Sam. Lebih dari itu, polisi kemudian memberitahukan pada Bill dan Kate bahwa Sam adalah dalang dari tragedi penembakan tersebut.

Walau pada awalnya menolak dengan kuat kehadiran fakta tersebut, namun mau tidak mau, Bill dan Kate harus menerima kenyataan pahit tersebut. Jelas bukan hal yang mudah. Peristiwa tersebut hampir berada dalam liputan setiap media massa dengan seluruh orang di dunia sepertinya mengutuk Sam atas kejadian tersebut. Bahkan, beberapa orang justru menyalahkan orangtua Sam karena dianggap tidak mampu memberikan anaknya sebuah didikan keluarga yang baik. Bill dan Kate harus mencoba untuk bertahan, tidak hanya dari deraan makian dan kutukan yang datang kepada keluarga mereka, namun juga dari diri mereka sendiri akibat beban psikologis yang begitu berat pada pernikahan keduanya.

Di luar fakta bahwa Beautiful Boy masih memiliki tema yang menyerupai Rabbit Hole (2010) – berkisah mengenai upaya pasangan orangtua untuk melupakan rasa sakit akibat kehilangan anak yang paling mereka sayangi, film ini mencoba untuk membuka mata penontonnya sehubungan dengan tema yang dibawakannya. Dalam setiap tragedi yang terjadi dalam kehidupan manusia, seringkali media massa dan masyarakat melupakan bahwa kejadian tersebut tidak hanya meninggalkan jejak buruk nan tragis kepada setiap korban dan keluarganya, namun juga seringkali memberikan dampak psokologis yang lebih buruk pada setiap keluarga yang mengenal sang pelaksana dari tragedi tersebut. Shawn Ku dan Michael Armbuster mencoba untuk menggambarkan hal tersebut dan mereka mampu melakukannya dengan baik. Rasa kesedihan yang mendalam, depresi dan isolasi yang muncul dari orang-orang sekitar memenuhi jalan cerita Beautiful Boy yang kemudian mampu dieksekusi dengan baik oleh Ku lewat perantaraan dua aktor utamanya, Michael Sheen dan Maria Bello.

Sayangnya, terlepas dari usaha Ku untuk memberikan sebuah sudut pandang baru dalam melihat sebuah tragedi sosial, Ku hampir tidak menawarkan sebuah hal yang baru dalam cara penceritaannya. Penonton akan dapat merasakan penderitaan batin dan emosional dua karakter utama di film ini namun seperti terhambat untuk mampu merasakan perasaan tersebut dengan lebih mendalam akibat cara penyampaian Ku yang terlalu biasa dan cenderung datar. Banyak momen dramatis yang terjadi di film ini juga seperti mengikuti pola film-film bertema sama lainnya: adegan para karakter yang terpaku akan rasa duka yang mereka hadapi, dua karakter yang saling berteriak satu sama lain dan mengeluarkan amarah mereka serta sebuah perdamaian sementara yang akhirnya justru berujung pada sebuah pertikaian lainnya. Adegan-adegan klise ini mungkin memang tidak dapat dihindari, namun Ku seperti tidak berusaha terlalu banyak untuk memberikan sebuah sentuhan yang lebih emosional lagi pada deretan adegan yang juga krusial bagi jalan cerita film secara keseluruhan tersebut.

Hampir setiap adegan di film ini menampilkan dua karakter utamanya, dan hal ini jelas membutuhkan sepasang pemeran yang mampu memberikan penampilan akting dengan tingkat emosional yang mendalam namun tidak melelahkan untuk dilihat. Michael Sheen dan Maria Bello adalah pilihan yang sangat tidak mengecewakan. Keduanya mampu mengatasi setiap rintangan emosi yang ada di dalam jalan cerita serta memberikan chemistry yang erat antara keduanya untuk dapat terlihat meyakinkan sebagai pasangan orangtua yang berduka. Selain Sheen dan Bello, Ku juga mendapatkan dukungan apik dari jajaran pemeran pendukung film ini, mulai dari Alan Tudyk, Moon Bloodgood, Kyle Gallner, Austin Nichols hingga Meat Loaf Aday (ya that Meat Loaf rocker!) yang memberikan kontribusi tersendiri untuk depafrtemen akting film ini.

Terlepas dari usaha Shawn Ku untuk menghadirkan sebuah sudut pandang baru dalam jalinan kisah yang temanya mungkin telah begitu familiar, Beautiful Boy seringkali terjebak dalam deretan adegan yang terasa begitu klise sehingga mengurangi jalinan kisah emosional yang sebenarnya telah mampu dihantarkan oleh dua aktor utama film ini, Michael Sheen dan Maria Bello, dengan sangat sempurna. Pun begitu, harus diakui bahwa Beautiful Boy mampu digarap dengan sentuhan yang cukup baik, membiarkan tata sinematografi bergerak dan mengisi setiap ruang emosional yang ada serta alur kisah yang tertata dengan rapi. Berpotensi untuk menjadi film dengan sentuhan emosional penuh namun berakhir sebagai sebuah film bertema (terlalu) familiar akibat beberapa sisi penggarapan yang kurang mendalam.

Beautiful Boy (First Point Entertainment/Braeburn Entertainment/Goldrush Entertainment, 2010)

Beautiful Boy (2010)

Directed by Shawn Ku Produced by Lee Clay, Eric Gozlan Written by Michael Armbruster, Shawn Ku Starring Michael Sheen, Maria Bello, Alan Tudyk, Moon Bloodgood, Kyle Gallner, Austin Nichols, Meat Loaf Aday Music by Trevor Morris Cinematography Michael Fimognari Editing by Chad Galster Studio First Point Entertainment/Braeburn Entertainment/Goldrush Entertainment Running time 100 minutes Country United States Language English

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s