Review: Soul Surfer (2011)


Tidak banyak yang dapat diharapkan dari Soul Surfer. Sebagai sebuah film yang jalan ceritanya mengadaptasi kisah nyata mengenai perjuangan seorang wanita yang mencoba untuk menyingkirkan kelemahan fisik yang ia miliki dari kegemarannya untuk berselancar di lautan luas, penonton sepertinya telah mengetahui dengan pasti apa yang akan mereka dapatkan dari film ini. Soul Surfer memang merupakan sajian yang ditujukan sebagai sebuah tayangan keluarga yang bermaksud untuk memberikan inspirasi penyemangat pada penontonnya. Tidak perlu diragukan. Pun begitu, Soul Surfer bukanlah kali pertama Hollywood merilis sebuah film dengan tema yang serupa. Apakah Soul Surfer tetap mampu tampil stand out terlepas dari jalan ceritanya yang mudah ditebak atau film ini hanya menjadi sebuah produk lain Hollywood dari sebuah genre yang sepertinya menjadi terlalu melelahkan untuk terus disaksikan?

Soul Surfer sendiri berkisah mengenai Bethany Hamilton (AnnaSophia Robb), seorang peselancar wanita muda asal Hawaii, Amerika Serikat, yang dengan kemampuan berselancar yang ia miliki sepertinya memiliki masa depan yang sangat cerah di bidang olahraga tersebut. Kehidupan juga berjalan dengan sempurna bagi Bethany: ia memiliki orangtua (Dennis Quaid dan Helen Hunt) yang saling mengasihi satu sama lain dan sangat mencintai anak-anaknya, dua kakak pria (Ross Thomas dan Chris Brochu) kompetitif namun sangat menyayanginya serta seorang sahabat, Alana Blanchard (Lorraine Nicholson), yang juga berbagi hobi berselancar yang sama dengan dirinya. Semua terlihat indah hingga akhirnya Bethany diserang seekor hiu ketika sedang berselancar hingga kehilangan lengan kirinya.

Jelas hal tersebut menjadi sebuah teror yang sangat hebat bagi Bethany serta orang-orang yang sangat menyayanginya. Untuk beberapa saat, Bethany menemukan dirinya merasa tidak memiliki apapun yang berharga lagi di dunia. Kehilangan lengan kiri jelas merupakan hambatan yang sangat besar untuk dapat kembali berselancar. Walau begitu, berkat bantuan Sarah Hill (Carrie Underwood), seorang aktivis remaja gereja, Bethany secara perlahan mulai menemukan kepercayaan dirinya kembali. Dengan bantuan keluarga dan sahabat baiknya, Bethany mulai kembali berlatih berselancar, menyingkirkan segala hambatan fisik yang ada dalam dirinya dan bersiap untuk kembali menghadapi persaingan dalam dunia nyata.

Ditulis berdasarkan buku biografi Bethany Hamilton, Soul Surfer: A True Story of Faith, Family, and Fighting to Get Back on the Board (2004) – yang kisahnya juga telah dirangkai dalam bentuk sebuah film dokumenter berjudul Heart of a Soul Surfer (2007), Soul Surfer harus diakui tidak menawarkan apapun selain dari kisah perjuangan seorang karakter untuk merebut kembali hidup dan mimpinya yang hampir hilang kepada para penontonnya. Deretan-deretan adegan yang ditampilkan juga gampang dan begitu mudah untuk ditebak: seorang karakter yang begitu mudah disukai, ujian berat hidup yang ia alami, masa-masa di mana ia merasa rendah diri, menemukan satu kejadian dimana ia menyadari bahwa hidupnya tidak sesukar yang ia bayangkan dan akhirnya momen ia memulai kembali menata hidupnya dengan apa yang ia miliki saat ini. Kisah nyata yang menginspirasi Soul Surfer harus diakui merupakan sebuah kisah yang sangat mengagumkan. Namun untuk dibawa dalam bentuk sebuah film? Klise.

Problema yang dialami oleh Soul Surfer adalah problema universal yang dialami oleh film-film lain yang bertema sama: ketika penonton sebenarnya telah mengetahui kemana arah jalan cerita film yang sedang mereka saksikan, sang sutradara lebih memilih untuk menghadirkan deretan-deretan kisah dan adegan yang kurang begitu signifikan sebelum akhirnya memberikan momen yang ditunggu oleh penonton filmnya. Karakter Bethany Hamilton mengalami titik balik dalam cara pandangnya terhadap hidup ketika ia turut serta dalam rombongan relawan yang berangkat ke Phuket, Thailand dalam rangka membantu korban tsunami disana. Namun, sebelum momen itu dihadirkan, sang sutradara, Sean McNamara (Bratz: The Movie, 2007) lebih memilih untuk menghadirkan momen-momen kelemahan hidup Bethany yang sebenarnya dapat saja dihilangkan karena terasa kurang menarik.

Sialnya, ketika momen titik balik tersebut disajikan, penyampaian yang dihadirkan McNamara malah terkesan biasa saja dan kurang mampu menyentuh level emosional penonton. Terlepas dari beberapa kesalahan yang terjadi – seorang yang berbahasa Indonesia di tanah Thailand? – usaha McNamara untuk menyajikan momen menyentuh Bethany selama di Thailand terasa begitu dangkal dan murahan. Momen dimana karakter Bethany ditampilkan mencoba untuk membahagiakan seorang anak untuk kemudian meningkatkan semangat seluruh korban tsunami yang berada di sekitar pantai mungkin sangat menyentuh di dalam dunia nyata. Lewat sajian McNamara? Adegan tersebut begitu cheesy dan terkesan dipaksakan untuk membuat karakter Bethany Hamilton terkesan sebagai seorang pahlawan.

Tidak ada pujian berlebih yang dapat disematkan pada jajaran pemeran film ini. Berperan sebagai Bethany Hamilton, AnnaSophia Robb dapat menjalankan tugasnya dengan baik. Begitu juga Carrie Underwood yang menampilkan debut akting pertamanya, Lorraine Nicholson yang berperan sebagai sahabat Bethany, Sonya Balmores yang berperan sebagai saingan Bethany serta Ross Thomas dan Chris Brochu yang berperan sebagai dua kakak Bethany. Dari segi senioritas, tentu saja siapapun pasti akan mengharapkan penampilan yang baik dari nama-nama seperti Dennis Quaid, Helen Hunt serta Craig T. Nelson. Jalan cerita Soul Surfer yang sederhana dipastikan bukanlah sebuah tantangan bagi kemampuan akting mereka yang telah banyak jauh teruji.

Tidak, Soul Surfer bukannya sebuah presentasi yang buruk. Beberapa orang penonton akan mampu menemukan diri mereka terhanyut dalam beberapa adegan di film ini yang mampu dikemas secara menyentuh. Masalah terbesar dari Soul Surfer adalah kurangnya imajinasi Sean McNamara untuk memberikan sebuah tampilan yang lebih menggigit dari film yang ia arahkan dengan jalan cerita yang memang telah terlalu familiar dengan banyak orang. Ini masih ditambah dengan kurang mampunya tata produksi film ini untuk menggarap special effect di beberapa adegan yang membutuhkan sentuhan tersebut. Soul Surfer adalah film yang baik, namun belum mampu menghasilkan sesuatu yang layak untuk dikategorikan sebagai berharga.

Soul Surfer (FilmDistrict/Brookwell-McNamara Entertainment/Enticing Entertainment/Island Film Group/Life's a Beach Entertainment/Mandalay Vision, 2011)

Soul Surfer (2011)

Directed by Sean McNamara Produced by Sean McNamara, David Brookwell, Douglas Schwartz, Dutch Hofstetter, David Zelon Written by Sean McNamara, Deborah Schwartz, Douglas Schwartz, Michael Berk (screenplay), Sean McNamara, Deborah Schwartz, Douglas Schwartz, Michael Berk, Matt Allen, Caleb Wilson, Brad Gann (story), Bethany Hamilton, Sheryl Berk, Rick Bundschuh (book, Soul Surfer: A True Story of Faith, Family, and Fighting to Get Back on the Board) Starring AnnaSophia Robb, Helen Hunt, Dennis Quaid, Carrie Underwood, Ross Thomas, Chris Brochu, Lorraine Nicholson, Jeremy Sumpter, Craig T. Nelson, Kevin Sorbo, Sonya Balmores, Branscombe Richmond, Cody Gomes, David Chokachi Music by Marco Beltrami Cinematography John R. Leonetti Editing by Jeff Canavan Studio FilmDistrict/Brookwell-McNamara Entertainment/Enticing Entertainment/Island Film Group/Life’s a Beach Entertainment/Mandalay Vision Running time 106 minutes Country United States Language English

2 thoughts on “Review: Soul Surfer (2011)”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s