Review: Ironclad (2011)


Sama seperti Centurion (2010) dan Black Death (2010) yang berhasil memadukan rangkaian kisah sejarah dengan deretan adegan peperangan yang dipenuhi dengan darah, Jonathan English (Minotaur, 2006) juga mencoba melakukan hal yang sama terhadap Ironclad. Berkisah mengenai sejarah perlawanan yang dilakukan oleh sekelompok kecil pasukan pemberontak terhadap ratusan pasukan King John II sebagai wujud rasa ketidaksenangan mereka atas kepemimpinan sang raja yang brutal di Inggris pada abad ke-13, English memberikan sebuah dedikasi penuh pada Ironclad dengan menghadirkan deretan pemeran serta tata produksi terbaik yang akan membawa setiap penontonnya kembali ke masa tersebut… walaupun sesekali harus menahan sedikit rasa bosan akibat beberapa detil yang tidak begitu berguna yang ia hadirkan dalam naskah cerita film ini.

Berlatar belakang wilayah Inggris di tahun 1215, Ironclad mengisahkan masa-masa dimana rakyat Inggris beradaa di bawah pemerintahan King John II (Paul Giamatti) yang brutal dan sama sekali tidak memperdulikan kesejahteraan rakyatnya. Hal ini jelas membuat beberapa bangsawan kemudian bertindak untuk melakukan sebuah pemberontakan. Pemberontakan tersebut berhasil melumpuhkan pasukan King John II dan memaksanya untuk menandatangani Magna Charta yang berisikan berbagai hak asasi dan perlakuan adil dari kerajaan untuk setiap rakyat Inggris. Namun, Magna Charta tidak berlaku begitu lama bagi sang Raja. Beberapa waktu kemudian, King John II mulai melakukan serangannya ke beberapa kastil milik para bangsawan untuk kembali merebut hak miliknya dan sekaligus membalaskan dendamnya.

Tentu saja, mendengar berita bahwa King John II telah melakukan agresi yang melanggar perjanjian, beberapa orang berniat untuk menghentikan tindakannya. Dipimpin oleh seorang bangsawan, Albany (Brian Cox), ia membentuk sekelompok ksatria yang siap untuk melawan pasukan King John II. Berlomba dengan pasukan King John II, Albany dan para ksatrianya kemudian bergerak menuju Rochester Castle, sebuah kastil yang dinilai sebagai kastil paling strategis di wilayah Inggris serta dianggap sebagai kastil yang menyatukan  seluruh wilayah Inggris. Setelah memaksa bangsawan pemilik kastil, Cornhill (Derek Jacobi), dan istrinya, Isabel (Kate Mara), untuk menggabungkan pasukan mereka dengan ksatria Albany, kini 20 pasukan pemberontak siap untuk menghadapi ratusan pasukan King John II yang siap untuk menyerang kastil tersebut.

Kisah sekelompok pasukan berjumlah kecil untuk melawan dan bertahan melawan sekelompok pasukan yang berjumlah lebih besar memang bukanlah sebuah hal baru. Namun, English bersama dengan Stephen McDool dan Erick Kastel berhasil menuliskan deretan kisah yang tidak hanya akurat secara sejarah namun juga mampu tampil menarik dan memikat untuk diceritakan dalam durasi yang cukup panjang. Naskah cerita Ironclad bukannya hadir tanpa kelemahan. Beberapa plot kisah tambahan film ini, khususnya bagian cerita dimana karakter Marshall (James Purefoy) dan Isabel digambarkan saling mendekati satu sama lain, seringkali terasa lemah dan kurang mendapatkan penggalian kisah yang dalam. Hasilnya, bagian-bagian tersebut seringkali hadir dengan hambar tanpa mampu melibatkan sisi emosional para penontonnya.

English harus diakui mampu mengeksekusi Ironclad dengan begitu meyakinkan. Terlepas dari dana produksi yang minim – film ini merupakan sebuah produksi independen – English mampu menghadirkan atmosfer awal abad ke-13 yang sangat sempurna: mulai dari tata rias, tata busana hingga tata produksi lainnya yang mendukung latar belakang berjalannya cerita film ini. Bahkan tata musik film ini, yang diarahkan oleh Lorne Balfe, juga mampu terdengar penuh jalinan emosional. Dengan iringan suara instrumen musik Irlandia yang khas, Balfe mampu mengisi tiap adegan yang membutuhkan adrenalin kuat dengan baik namun tampil begitu romantis ketika menemani adegan-adegan percintaan yang terjadi antara karakter Marshall dan Isabel. Untuk adegan peperangan sendiri, English memilih untuk menampilkan deretan adegan tersebut dengan penuh kebrutalan yang sangat berdarah. Organ tubuh yang terbelah, terpotong maupun percikan darah yang mengenai layar adalah suatu pemandangan yang akan penonton dapatkan ketika menyaksikan Ironclad, dan hal itulah yang semakin menambah kesan realistis dari jalan cerita film ini.

Dari departemen akting, Jonathan English tidak akan dapat mengharapkan jajaran pemeran yang lebih baik lagi dari yang ia dapatkan dari departemen akting yang mengisi Ironclad sekarang. Brian Cox dan James Purefoy yang berada di jajaran terdepan pemeran Ironclad berhasil memberikan permainan terbaik mereka. Begitu juga dengan Paul Giamatti dalam peran antagonisnya sebagai King John II, walaupun Giamatti beberapa kali terdengar gagal dalam memberikan aksen Inggris yang benar-benar meyakinkan. Para pemeran pendukung Ironclad, mulai dari Kate Mara, Mackenzie Crook, Jason Flemyng hingga Derek Jacobi juga semakin menambah solid kekuatan departemen akting film ini.

Jonathan English harus diakui memiliki kemampuan khusus untuk mengarahkan tim produksinya untuk memberikan kemampuan terbaik mereka dalam menampilkan atmosfer Inggris pada awal abad ke-13 sekaligus mengeluarkan kemampuan jajaran pemerannya dalam menghidupkan karakter mereka dengan sangat sempurna. Walaupun sama sekali bukanlah sebuah karya produksi yang sempurna – dengan beberapa kelemahan yang terjadi di beberapa bagian plot cerita tambahan yang membuat beberapa bagian tersebut terasa berjalan terlalu hambar – Ironclad tetap mampu tampil dengan begitu dinamis dalam menceritakan kisahnya secara keseluruhan.

Ironclad (ContentFilm International/Film & Entertainment VIP Medienfonds 4 GmbH & Co. KG/Molinare Investment/Mythic International Entertainment/Perpetual Media Capital/Premiere Picture/Rising Star/Silver Reel/VIP 4 Medienfonds/Wales Creative IP Fund, 2011)

Ironclad (2011)

Directed by Jonathan English Produced by Rick Benattar, Jonathan English, Andrew J. Curtis Written by Jonathan English, Erick Kastel, Stephen McDool Starring James Purefoy, Brian Cox, Derek Jacobi, Kate Mara, Paul Giamatti, Mackenzie Crook, Jason Flemyng, Jamie Foreman, Charles Dance, Rhys Parry Jones, Vladimir Kulich, Bree Condon, Aneurin Barnard, Guy Siner, Steffan Rhodri, Daniel O’Meara, David Melville Music by Lorne Balfe Cinematography David Eggby Editing by Peter Amundson Studio ContentFilm International/Film & Entertainment VIP Medienfonds 4 GmbH & Co. KG/Molinare Investment/Mythic International Entertainment/Perpetual Media Capital/Premiere Picture/Rising Star/Silver Reel/VIP 4 Medienfonds/Wales Creative IP Fund Running time 121 minutes Country United Kingdom, United States Language English

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s