Review: True Love: Based on the Novel Cinta Sepanjang Amazon by Mira W (2011)


Well… sinema Indonesia meraih sebuah titik terendahnya kembali dalam sebuah film yang berjudul True Love: Based on the Novel Cinta Sepanjang Amazon by Mira W (Precious: Based on the Novel Push by Sapphire (2009), anyone?). Seseorang yang belum pernah membaca novel yang mendasari naskah cerita film ini dipastikan akan merasa penasaran mengapa sebuah novel yang memiliki jalan cerita berputar-putar dengan deretan karakter yang sangat tidak simpatik mampu meraih gelar sebagai best-selling novel – atau apapun yang dituliskan sang produser True Love pada kredit film ini. Dengan durasi yang mencapai dua jam penuh (!), True Love adalah sebuah film yang dipastikan akan mampu membuat siapapun merasa menyesal telah menghabiskan uang dan waktu mereka untuk sebuah karya yang tidak hanya dapat dikatakan sebagai sebuah karya yang tidak tergarap baik, namun juga karya yang seharusnya belum siap atau tidak pernah dirilis ke publik umum.

Mari beranjak sejenak ke belakang layar. True Love memiliki jajaran sineas yang sama sekali tidak dapat dikatakan sebagai seorang pemula di dunianya. Benar bahwa film ini merupakan karya perdana seorang Dedi Setiadi sebagai sutradara di sebuah film layar lebar. Namun sebelumnya Dedi telah berpengalaman untuk mengarahkan banyak serial dan film televisi, termasuk Jendela Rumah Kita (1989), Siti Nurbaya (1991) serta Keluarga Cemara (1995) yang legendaris itu. Di bangku penulis naskah, Dedi bekerjasama dengan Viva Westi, yang jelas bukanlah seorang yang baru di dunia layar lebar. Dikenal sebagai seorang sutradara bagi film yang meraih pujian dari kritikus, May (2008), sebelum akhirnya terjerembab untuk mengarahkan dan menulis naskah untuk film-film semacam 18+: True Love Never Dies (2010) dan Pocong Keliling (2010), Viva Westi juga banyak mengisi kolom berita tahun lalu ketika film Sang Pencerah (2010) gagal masuk seleksi Festival Film Indonesia 2010 dengan nama Viva Westi berada pada posisi Ketua Komite Seleksi.

Jika nama Dedi Setiadi dan Viva Westi belum membuat Anda yakin bahwa True Love adalah sebuah film yang tergarap secara ‘profesional,’ maka lihat jajaran pemeran yang mengisi film ini. Di barisan depan ada nama Fanny Fabriana, aktris cantik yang berhasil membuat ribuan penonton Indonesia jatuh cinta padanya ketika berhasil membintangi Hari Untuk Amanda (2010). Kemudian ada nama Happy Salma yang baru saja memenangkan Piala Citra tahun lalu sebagai Aktris Pendukung Terbaik lewat penampilannya dalam 7 Hati 7 Cinta 7 Wanita (2011). Ada juga nama Edo Borne dan Alex Komang, dua aktor yang selalu memberikan penampilan yang tidak mengecewakan. Oh… jangan lupakan Mario Lawalata yang… errr… cukup sering terlihat di banyak film nasional tahun ini. Deretan nama yang cukup meyakinkan? Paragraf-paragraf selanjutnya akan menjaskan mengapa Anda seharusnya tidak lagi mempercayai kerjasama mereka dalam bentuk True Love: Based on the Novel Cinta Sepanjang Amazon by Mira W dan menyelamatkan waktu Anda yang sangat jauh lebih berharga itu.

Film True Love sendiri, seperti yang dapat diketahui jelas dari judul versi panjang film ini, didasarkan pada novel karya novelis Indonesia populer, Mira W, yang berjudul Cinta Sepanjang Amazon (2008). Pada versi novelnya, dua karakter utama di dalam jalan cerita melakukan bulan madu seusai pernikahan mereka dengan berkelana ke Sungai Amazon di Amerika Selatan. Well… mengingat bahwa proses pengambilan gambar yang dilakukan di alam terbuka Sungai Amazon akan sangat beresiko (dan menghabiskan banyak biaya), versi cerita dari film ini menggantinya dengan sebuah perjalanan bulan madu ke daerah wisata Raja Ampat di wilayah Provinsi Papua.

Berkisah mengenai hubungan percintaan Vania (Fanny Fabriana) dan Aries (Mario Lawalata), dua sosok kepribadian yang saling bertolak belakang satu sama lain. Vania adalah seorang anak yatim piatu yang harus berusaha sekuat tenaga untuk mencapai apapun yang ia inginkan, termasuk dalam membiayai kuliahnya. Aries, berada di sisi lain, anak pengusaha terkenal yang terbiasa untuk selalu mendapatkan apapun yang ia mau dengan mudah. Walaupun Vania awalnya merasa jengah dengan ‘kemalasan’ pribadi Aries, namun, seperti wanita lainnya, Vania tidak dapat menolak ketampanan dan daya tarik Aries. Vania akhirnya jatuh cinta terhadap Aries.

Hal yang sama juga dirasakan Aries terhadap Vania. Ini yang membuatnya ingin segera menikahi Vania. Walaupun kedua orangtuanya dengan jelas menolak Vania sebagai menantu mereka – karena alasan asal-usul Vania yang kurang jelas – Aries tetap menikahi Vania. Well… tentu saja pernikahan bukan melulu soal cinta. Kini Vania dan Aries – yang diusir orangtuanya akibat bertahan untuk menikahi Vania – harus berusaha untuk memenuhi kebutuhan harian mereka. Tentu bukan maasalah bagi Vania. Namun tidak begitu bagi Aries. Sifat manja dan pemalasnya justru selalu menjdi sumber pertengkaran di antara keduanya. Pada satu malam, ketika mereka berdua baru saja bertengkar dan Aries meninggalkan Vania sendiri di rumah, sebuah bencana datang dalam bentuk Guntur (Edo Borne), sahabat Aries yang kemudian memperkosa Vania. Hubungan Vania dan Aries pun berubah untuk selamanya.

Kesalahan terbesar, dan paling besar, pada True Love: Based on the Novel Cinta Sepanjang Amazon by Mira W adalah naskah cerita yang diadaptasi oleh Dedi Setiadi dan Viva Westi. Pernah melihat sebuah film yang jalan ceritanya terasa begitu random dan acak-acakan? Maka Anda akan mengalaminya lewat film ini. Jalan ceritanya sebenarnya cukup sederhana: Vania dan Aries berkenalan – Vania dan Aries berpacaran – Vania dan Aries menikah – Vania dan Aries berseteru – Vania dan Aries berpisah tanpa bercerai – Vania bertemu seorang pria baru – Aries kembali dalam kehidupan Vania. Sederhana. Namun entah mengapa Dedi Setiadi dan Viva Westi seperti terasa ingin membuat jalan cerita tersebut terlihat kompleks, namun gagal untuk menghadirkannya dengan cara yang dapat dinikmati setiap penonton film. Begitu banyak adegan yang terlihat melompat antara satu adegan ke adegan lain serta ditambah dengan deretan dialog yang begitu terkesan konyol.

Selain Mario Lawalata, jajaran pemeran True Love diisi oleh para aktor dan aktris yang mampu tampil meyakinkan. Sayangnya, karakter yang mereka perankanlah yang membuat penampilan mereka terasa begitu tidak simpatik. Ambil contohnya pada sang karakter utama, Vania. Vania adalah seorang gadis yang cukup bahagia sebelum ia menikah dengan Aries. Ia kemudian menghadapi begitu banyak ujian hidup selama proses pernikahannya. Seharusnya akan sangat mudah untuk bersimpati pada Vania, apalagi dengan cara Fanny Fabriana yang cukup handal menangani karakternya. Namun, Vania juga digambarkan sebagai seorang gadis yang tidak dapat menentukan hatinya. Pada satu saat ia digambarkan tegar untuk dapat meninggalkan Aries, di adegan lain ia tampak telah minta maaf terhadap Aries dan berharap agar Aries tidak meninggalkannya. Dan ini terjadi terus menerus di sepanjang dua jam durasi film ini berjalan!

Masih ada deretan karakter lainnya yang datang dan timbul tanpa keterangan yang jelas mengenai apa makna kehadiran mereka di dalam jalan cerita. Karakter Guntur, sahabat Aries, hadir dengan begitu menyebalkan dan tanpa latar belakang jelas bagaimana sebenarnya hubungan yang terjadi antara ia dan Aries. Kehadirannya seperti hanya dapat digambarkan sebagai pria dungu yang mau saja diperlakukan kasar oleh seorang yang menyebutnya sebagai sahabat semenjak kecil namun tidak pernah keberatan jika dianggap sebagai majikan. Kemudian ada karakter Sagita, kakak Aries yang diperankan oleh Happy Salma. Karakter ini sempat hadir sebentar di awal kisah, untuk kemudian menghilang selama pertengahan cerita dan muncul kembali sebagai karakter antagonis utama di akhir film. Jangan lupakan karakter Rudi yang diperankan Alex Komang. Entah kehadirannya adalah sebuah kesalahan editor film atau memang jalan cerita yang menempatkannya, kisah Rudi yang tinggal di Swedia entah bagaimana tiba-tiba diselipkan di tengah cerita sebelum akhirnya nanti mendapatkan cerita penuh di penghujung film. Sebuah inkonsistensi cerita yang sangat menyebalkan.

Kamudian ada Mario Lawalata. Jika para pemeran lain masih mampu menampilkan penampilan terbaik mereka dari deretan karakter yang sangat dangkal karakterisasinya, bayangkan dengan Mario yang harus berjuang untuk berakting penuh dalam menghidupkan karakternya yang tak kalah dangkalnya. Sejujurnya, walau akhir-akhir ini sering tampil di berbagai film nasional, Mario Lawalata bukanlah aktor yang mampu menangani perannya dengan baik. Dalam True Love, Mario harus memerankan karakter Aries yang digambarkan sebagai seorang karakter yang temperamental. Dan bagaimana Mario menanganinya? Dengan berteriak di setiap adegan. Sangat sederhana. Pada satu saat, karakter Aries digambarkan sangat tenang, beberapa saat kemudian Aries dapat berubah menjad kasar dan pemarah. Di saat itu pula, Mario Lawalata akan berteriak untuk menunjukkan ekspresi marahnya. Berteriak, tanpa menghadirkan ekspresi wajah sedang marah. Dan itu terjadi terus menerus selama dua jam durasi film ini berjalan.

True Love digarap dengan biaya yang terbatas? Tidak. Pihak produser film masih mampu untuk melakukan pengambilan gambar di daerah Raja Ampat, Papua dan Swedia. Namun lihat bagaimana tata produksi film ini berlangsung. Be-ran-ta-kan. Tidak seperti film-film lain yang menjelajahi keindahan alam Indonesia untuk menampilkan gambar-gambar yang indah nan eksotis, True Love menampilkan keindahan Raja Ampat hanya sebagai sebuah gambar belaka atau latar belakang kisah. Tanpa jiwa. Buang-buang waktu! Kemudian ada permasalahan editing film yang begitu sembarangan dan sembrono yang terlihat dilakukan oleh seseorang yang sama sekali tidak mengenal mengenai konsistensi cerita dalam melakukan proses editingnya. Dan tata musik film ini… sangat buruk! Ingat dimana pada sebuah adegan sinetron ketika sang karakter antagonis bertemu dengan karakter protagonis dan diisi dengan tata musik yang ‘menggelegar?’ True Love juga melakukannya! Sangat cheesy! Ditambah dengan kehadiran beberapa lagu latar yang dinyanyikan oleh beberapa penyanyi bersuara pas-pasan yang akan semakin menambah rasa kesal penonton terhadap film ini secara keseluruhan.

Dosa apa yang dimiliki penonton film Indonesia sehingga mereka harus menghabiskan dua jam dari hidup mereka untuk sebuah film sedatar, seberantakan dan setidak menarik True Love: Based on the Novel Cinta Sepanjang Amazon by Mira W? Jika masih ada satu sisi yang dapat dianggap keunggulan dari film ini adalah kemampuan para jajaran pemerannya – kecuali Mario Lawalata – untuk masih memerankan karakter mereka dengan cukup baik. Walaupun, harus diakui, permainan terbaik seorang aktor sekalipun tidak akan mampu membuat penonton akan merasa tertarik dengan karakter-karakter dangkal yang dihadirkan di film ini. Fanny Fabriana, Anda harus memecat siapapun yang menyarankan Anda untuk mengambil peran di Lost in Papua atau film ini. Mario Lawalata… harap kembali ke dunia sinema elektronik saja.

True Love: Based on the Novel Cinta Sepanjang Amazon by Mira W (Moestions/Yayasan Universitas Prof. Dr. Moestopo, 2011)

True Love: Based on the Novel Cinta Sepanjang Amazon by Mira W (2011)

Directed by Dedi Setiadi Produced by Hermanto, Sunarto Written by Dedi Setiadi, Viva Westi (screenplay), Mira W (novel, Cinta Sepanjang Amazon) Starring Fanny Fabriana, Mario Lawalata, Happy Salma, Alex Komang, Edo Borne, Fikri Ramadhan, Panca Prakoso, Pierre Gruno Music by Areng Widodo Cinematography Yudi Datau Editing by Tito Kurnianto Studio Moestions/Yayasan Universitas Prof. Dr. Moestopo Running time 122 minutes Country Indonesia Language Indonesian

5 thoughts on “Review: True Love: Based on the Novel Cinta Sepanjang Amazon by Mira W (2011)”

  1. nampaknya anda kurang bisa mencerna film yang memiliki alur yang tidak biasa karena kebanyakan nonton film pocong…

  2. untuk menjadi populer kita dihadapkan pada dua pilihan: buat film sebaik mungkin, dan buat film seburuk mungkin. seperti film ini.
    Mungkin komentar mas Donny di atas begitu dangkal, karena-mungkin-baru berkunjung ke blog ini, dan baru membaca satu postingan ini saja. Entahlah, mungkin mas Donny ini salah satu kru film yang tengah di review oleh bang Amir. yang jelas, saya merasakan hal yang sama. Tidak layak untuk mata penonton bioskop.

  3. ehm,, kenapa tidak mencoba menikmati saja apha yg sudah dikerjakan oleh rekan” di dunia film kita?? khand kita hanya tingaal duduk diam dan tinggal nonton jalan ceritanya saja??

    iaa mungkin memberi sedikit kritik atau masukan memang perlu lah untuk memperbaiki kraya” yg selanjut.nya,, tpi mungkiin juga jangan “terlalu”,, mungkin ada maksud tersendiri dari sang pembuat film untuk menampilkan karya.nya seperti itu. . .
    🙂

  4. baca dulu novelnya baru bikin review film ini. berdasarkan pada review yg ada buat jelas sekali terlihat anda tidak pernah membaca novelnya. Ingat, film ini based on Mira W’ novel. Jadi jangan langsung bikin review yg memojokkan kualitas film ini

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s