Review: Incendies (2010)


Setelah kematian ibu mereka, Nawal Marwan (Lubna Azabal), pasangan kembar, Jeanne (Mélissa Désormeaux-Poulin) dan Simon (Maxim Gaudette) diberikan dua buah surat oleh Jean Lebel (Rémy Girard), pria yang selama dua puluh tahun terakhir telah mempekerjakan Nawal. Bersamaan dengan pemberian dua buah surat itu, Jean membacakan surat warisan dari Nawal. Karena Jeanne dan Simon adalah satu-satunya keluarga yang dimiliki Nawal, jelas saja ia menyerahkan seluruh harta yang ia tinggalkan pada anak kembarnya tersebut. Nawal juga meminta agar kedua anaknya memberikan dua surat yang telah diberikan pada mereka kepada ayah dan saudara laki-lakinya. Masalahnya, baik Jeanne dan Simon tidak pernah merasa punya saudara laki-laki serta hanya mengetahui bahwa ayah mereka telah tewas di Timur Tengah. Dan perjalanan untuk menyingkap sebuah misteri pun dimulai.

Simon awalnya merasa sangat marah ketika mengetahui bahwa sang ibu selama ini telah menyimpan sebuah rahasia besar dari dirinya dan Jeanne. Karenanya, Simon menolak ajakan Jeanne untuk ikut serta menelusuri jejak sang ibu di kampung halamannya. Jeanne akhirnya berangkat sendiri. Secara perlahan, Jeanne mulai mendapati jejak masa lalu sang ibu: seorang gadis Kristiani yang jatuh cinta dan kemudian memiliki seorang anak dengan seorang pemuda Muslim; terpaksa harus memberikan anaknya ke sebuah panti asuhan; menjadi seorang aktivis perdamaian di universitas tempat ia belajar hingga akhirnya menemukan dirinya dipenjara dengan berbagai siksaan fisik dan batin yang mendera. Dengan menyisiri masa lalu sang ibu, Jeanne (dan Simon) tidak hanya membuka lembaran-lembaran pahit masa lalu ibunya. Namun, secara bersamaan, keduanya juga membuka lembaran asal-usul mereka yang sebenarnya.

Menyerupai Biutiful karya Alejandro González Iñárritu, Incendies juga menawarkan deretan kekelaman demi kekelaman di dalam jalan ceritanya. Berbeda dengan Biutiful, Incendies tidak sekedar menyinggung permasalahan personal sang karakter utama. Dalam Incendies, sang karakter utama adalah korban dari sebuah permasalahan yang mungkin masih banyak ditemukan hingga saat ini: bagaimana dua kelompok yang berbeda saling berseteru dan membenci satu sama lain. Dalam kasus yang dialami oleh karakter Nawal Marwan, kekelaman hidupnya dimulai ketika ia jatuh cinta dengan  seorang pemuda Muslim, yang tentu saja dianggap aib oleh keluarganya yang penganut agama Kristen, di masa ketika dua penganut agama tersebut saling berseteru dan berusaha untuk saling memusnahkan.

Sutradara, Denis Villeneuve, mengemas Incendies dengan menghadirkan dua jalan cerita secara bergantian: kisah mengenai Nawal Marwan di masa yang telah lalu serta kisah pencarian Jeanne dan Simon akan masa lalu ibunya yang berlatar belakang waktu di masa modern. Pun begitu, dua sisi penceritaan ini seperti saling menyerupai satu sama lain. Penonton dapat dengan mudah mendapati semangat dan sudut pandang Nawal Marwan di mata kedua anaknya. Gambaran mengenai baagaimana dua kelompok agama yang saling berseteru satu sama lain di masa lalu juga dapat dianggap sebagai sebuah cerminan bagaimana di saat ini pola pemikiran tersebut belum terlalu banyak berubah. Namun Villeneuve mengemas masa lalu Nawal sebagai sebuah lokasi dimana seluruh intrik yang akan memberikan beberapa kejutan di masa depan berada. Dan intrik tersebut dihadirkan dengan rasa dendam, marah dan keputusasaan seorang Nawal Marwan yang membuat kisahnya begitu pedih untuk disaksikan.

Diadaptasi dari naskah teater milik Wajdi Mouawad yang berjudul Scorched, Incendies menawarkan plot cerita yang mengandung berbagai pembukaan masa lalu dari para karakternya. Beberapa diantaranya akan mampu tampil cukup mengejutkan para penontonnya. Ini dikarenakan Villeneuve menyusun plot demi plot cerita Incendies dengan begitu rapi dan terjadwal sehingga memungkinkan jalan cerita film ini bergerak dengan begitu alami bagi penontonnya. Momen-momen penting dalam film ini juga disajikan dengan begitu baik sehingga semakin mampu untuk menggenggam aliran emosi setiap mata yang menyaksikannya.

Dari departemen akting, seluruh pemeran Incendies berhasil memberikan permainan kelas atas mereka. Namun, tentu saja, Lubna Azabal yang memerankan Nawal Marwan menjadi akting kunci dari keseluruhan film ini. Karakter Nawal Marwan adalah satu karakter yang memegang penuh persediaan intrik dan aliran emosi bagi karakter-karakter lain yang ada di film ini. Azabal mampu menghidupkan karakkter tersebut dengan begitu sempurna sehingga bahkan dari tatapan mata yang diberikan Azabal, penonton dapat dengan mudah merasakan perjuangan dan kepedihan yang dirasakan oleh hati karakter Nawal Marwan.

Incendies sendiri merupakan ekspor film terbaik dari Kanada di sepanjang tahun 2010 lalu dengan memenangkan delapan penghargaan di ajang penghargaan film tertinggi di Kanada tahun lalu, The 31st Annual Genie Awards, termasuk untuk Best Picture, Best Director (Villeneuve), Best Actress (Azabal) dan Best Adapted Screenplay, serta menjadi salah satu nominasi Best Foreign Language Film di ajang The 83rd Annual Academy Awards (kalah dari In a Better World, 2010). Melihat apa yang dihasilkan Villeneuve untuk Incendies, rasanya wajar saja jika melihat film ini mendapatkan begitu banyak rekognisi. Tidak hanya tampil dengan tata produksi, pengarahan serta akting yang sangat memuaskan, Incendies akan mampu menggerakkan hati dan perasaan setiap penontonnya dengan sebuah pesan yang dalam: rasa benci yang diwariskan secara turun temurun hanya akan memberikan sebuah luka mendalam bagi setiap generasi baru yang disentuhnya.

Incendies (micro_scope/TS Productions/Phi Group/Sony Pictures Classics, 2010)

Incendies (2010)

Directed by Denis Villeneuve Produced by Luc Déry, Kim McCraw Written by Denis Villeneuve, Valérie Beaugrand-Champagne (screenplay), Wajdi Mouawad (play, Scorched) Starring Lubna Azabal, Mélissa Désormeaux-Poulin, Maxim Gaudette, Rémy Girard, Allen Altman, Abdelghafour Elaaziz, Mohamed Majd, Nabil Sawalha, Baya Belal Music by Grégoire Hetzel Cinematography André Turpin Editing by Monique Dartonne Studio  micro_scope/TS Productions/Phi Group Distributed by Sony PicturesClassics Running time 131 minutes Country Canada Language French, Arabic


4 thoughts on “Review: Incendies (2010)”

  1. Iyah…gue nonton ini di Jiffest 2010 kemarin, dan bareng sama Son of Babylon, nonton Incendies bikin sakit banget! baru tahu kalo asalnya dari drama panggung, pantesan pembagian part-nya masih berasa kayak model drama panggung. Yang bikin tambah sakit, twist akhirnya itu loh

    1. Masih gak bisa ngebayangin gimana versi teater dari film ini. Jalan ceritanya cukup kompleks untuk ditampilin di atas panggung. Dan yup… bagian akhir film ini emang buat terhenyak. Awalnya gak ngerti dengan kalimat “One plus one is one” tapi begitu dibuka maknanya… ya ampun! Sakit banget!

  2. mengemas film secara sempurna, cerita tentang pencarian sosok anak tetapi di kemas sedemikian rupa dengan ending yg ga kepikir sama sekali

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s