Review: Biutiful (2010)


Sangat mudah untuk menyatakan bahwa Biutiful adalah sebuah lanjutan petualangan sutradara Alejandro González Iñárritu dalam mengeksplorasi cerita-cerita yang bertemakan kematian. Seperti halnya Amorres Perros (2000), 21 Grams (2003) dan Babel (2006), Biutiful tampil sama kelamnya – dengan mengetengahkan kisah yang berhubungan dengan kanker, pengkhianatan, eksploitasi pekerja ilegal, obat-obatan terlarang hingga kejahatan domestik. Namun, berbeda dengan tiga film tersebut yang murni akan membawa penontonnya pada rasa depresi akibat kelamnya jalan cerita, Iñárritu menawarkan sebuah sentuhan optimisme di akhir kisah Biutiful. Tetap bernada tragis, namun mampu membawakan pesan kuat bahwa secuil cahaya terang masih akan mampu muncul dari tengah-tengah kekelaman yang mendera.

Ibarat sebuah perjalanan spiritual yang dilakukan dengan begitu tenang dan menghanyutkan, Biutiful mengisahkan mengenai sosok seorang ayah bernama Uxbal (Javier Bardem). Uxbal mungkin adalah salah satu karakter terunik yang pernah Anda jumpai dalam penceritaan sebuah film. Sebagai seorang ayah, Anda akan melihat sosok yang sangat penyayang dan pengasih dari diri Uxbal. Seusai perpisahannya dengan sang istri, Marambra (Maricel Alvarez), Uxbal merawat kedua anaknya sendirian. Setiap harinya, Uxbal mengantarkan mereka ke sekolah sebelum akhirnya berkelanan dan melaksanakan pekerjaan hariannya.

Di sinilah sisi unik Uxbal akan terlihat. Uxbal bukanlah seorang pria yang memiliki pekerjaan tetap. Ia adalah seorang pria yang berada dan hidup dari jalanan. Layaknya seorang preman, ia bekerjasama dengan beberapa kelompok untuk mengeksploitasi tenaga kerja ilegal yang berasal dari China. Uxbal menjadi seorang perantara bagi beberapa kelompok agar kegiatan ilegal yang mereka lakukan dapat terus berjalan. Namun, tidak seperti preman jalanan lainnya, Uxbal sangat perhatian dengan para pekerja ilegal yang tenaganya ia eksploitasi. Setiap harinya, ia menuntut agar para pekerja ilegal tersebut diberikan fasilitas hidup yang layak. Uxbal juga memiliki sebuah keistimewaan lain: sebuah kemampuan untuk berbicara dengan mereka yang telah mati… yang kemudian dimanfaatkannya untuk menambah tebal pendapatan hariannya. Konflik jiwa Uxbal tidak berhenti di titik tersebut. Ketika ia mengetahui bahwa dirinya didiagnosa menderita kanker pada stadium akhir, Uxbal menemukan dirinya berada pada tingkat kebingungan yang tinggi mengenai bagaimana nasib dua orang anak yang ia miliki.

Jalan cerita Biutiful sendiri, yang ditulis Iñárritu bersama Armando Bo dan Nicolás Giacobone, dapat diibaratkan sebagai sebuah catatan perjalanan spiritual seorang pria yang hadir dengan begitu mendalam. Tidak melalui penceritaan yang menyentuh sisi relijius, namun lebih kepada sisi personal mengenai bagaimana seseorang yang telah mengetahui bahwa dirinya telah hampir sampai di akhir perjalanan hidupnya, masih terus berusaha untuk memberikan yang terbaik bagi diri dan orang-orang yang ia sayangi. Gambaran ini begitu pedih, dan telah dimulai Iñárritu semenjak di awal film. Pun begitu, begitu kelamnya tampilan cerita Biutiful, Iñárritu mampu menyelipkan beberapa adegan yang bernada kontras. Yang bernada kebahagiaan yang dapat begitu dirasakan para penonton filmnya.

Ambil contoh ketika karakter Uxbal memutuskan untuk berusaha menjalin kembali hubungan dengan istrinya, Marambra, demi kebahagiaan dua anaknya. Adegan berkumpulnya Uxbal dengan istri dan kedua anaknya menjadi semacam cahaya dari kelamnya sisi penceritaan hidup Uxbal. Atau ketika Uxbal memberikan sebuah kejutan ulang tahun kepada puteri sulungnya, Ana (Hanaa Bouchaib), yang ia lakukan ketika maut telah begitu dekat untuk menghampirinya. Atau setiap senyuman yang muncul dari wajah Ige (Diaryatou Daft), seorang istri pekerja ilegal asal Senegal yang ditolong oleh Uxbal. Cahaya-cahaya inilah, yang walaupun datang sejenak dan dalam waktu yang singkat, yang mampu memberikan kiasan kuat dalam Biutiful bahwa kekelaman hidup tidak selamanya akan terjadi.

Javier Bardem menjadi kunci utama mengapa selama masa 148 menit Biutiful bergerak, film ini tidak pernah sama sekali memberikan momen-momen hambar di dalam penceritaannya. Bardem memberikan jangkauan emosional yang begitu kuat, yang mampu tampak sangat meyakinkan dan tidak pernah sekalipun terlihat seperti seseorang yang sedang berakting. Bardem dalam Biutiful terlihat seperti sedang menceritakan kisah hidupnya yang begitu pedih. Tidak hanya Bardem, seluruh pengisi departemen akting film ini berhasil menampilkan kemampuan akting yang sangat mendalam. Setiap orang memberikan penampilan yang saling mengisi sehingga mampu menjadikan Biutiful tampil semakin kuat.

Sejujurnya, seperti film-film Iñárritu lainnya, tidak semua orang dapat dengan mudah menikmati Biutiful. Jalan cerita yang begitu kelam dengan gaya penceritaan yang cukup lamban akan mampu membuat beberapa orang menyerah kepada film yang berdurasi lebih dari dua jam ini. Namun, lebih dari sekedar itu, Iñárritu berhasil memberikan pencapaian sekaligus sebuah hasil yang mampu melebihi dari sekedar sebuah film bertema depresi yang biasanya selalu ia sampaikan. Biutiful adalah sebuah film yang dimulai dengan kekelaman yang dalam, namun secara perlahan akan mampu menyentuh dan menggerakkan hati siapapun yang menyaksikannya. Untuk menyatakan Biutiful sebagai sebuah film adalah suatu bentuk penyederhaan. Biutiful lebih dari itu. Biutiful adalah sebuah pengalaman tersendiri.

Biutiful (Menageatroz/Mod Producciones/Ikiru Films/Televisió de Catalunya (TV3)/Televisión Española (TVE)/Focus Features/Universal Pictures, 2010)

Biutiful (2010)

Directed by Alejandro González Iñárritu Produced by Alejandro González Iñárritu, Alfonso Cuarón, Guillermo del Toro, Fernando Bovaira, Sandra Hermida, Jon Kilik, Ann Ruark Written by Alejandro González Iñárritu, Armando Bo, Nicolás Giacobone Starring Javier Bardem, Maricel Álvarez, Hanaa Bouchaib, Guillermo Estrella, Diaryatou Daff, Cheng Tai Shen, Eduard Fernández, Cheikh Ndiaye, Luo Jin, Lang Sofia Lin Music by Gustavo Santaolalla Cinematography Rodrigo Prieto Editing by Stephen Mirrione Studio Menageatroz/Mod Producciones/Ikiru Films/Televisió de Catalunya (TV3)/Televisión Española (TVE) Distributed by Focus Features/Universal Pictures Running time 148 minutes Country Mexico, Spain Language Spanish, Chinese, Wolof

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s