Review: The Rite (2011)


Horor adalah sebuah genre yang cukup melelahkan. Hampir tidak ada sesuatu yang baru yang dapat ditawarkan oleh para pembuat film dari genre ini kepada para penontonnya. Kalikan rasa melelahkan tersebut sebanyak tiga kali jika sebuah film horor mencoba untuk bercerita mengenai teknik pengusiran setan yang dilakukan oleh para pendeta – yang akhir-akhir ini diberikan variasi dengan kisah pendeta yang kehilangan keimanan mereka. Tentu, beberapa waktu yang lalu penonton masih mampu dikejutkan oleh The Exorcism of Emily Rose (2005) dan The Last Exorcism (2010) yang walaupun masih memiliki cara penceritaan yang cenderung tradisional, berhasil diolah dengan cukup baik sehingga mampu menghasilkan momen-momen horor yang menyegarkan. Namun secara keseluruhan, apakah ada sebuah film horor yang bertema pengusiran setan yang mampu menandingi kehebatan dan kengerian yang dihasilkan The Exorcist (1973)?

Mikael Håfström (Shanghai, 2010) adalah sutradara yang terakhir yang mencoba untuk menakuti para penontonnya dengan mencoba menceritakan kembali sebuah kisah pengusiran setan yang dilakukan oleh beberapa pendeta. Menggunakan beberapa dasar kisah yang sama – kisah yang didasarkan pada sebuah kisah nyata, goyahnya iman seorang pendeta serta beberapa hal aneh yang dilakukan oleh seorang karakter yang sedang kerasukan – The Rite sayangnya lebih terlihat sebagai sebuah homage kepada The Exorcist daripada sebuah film yang mencoba untuk menyainginya. Bukan sebuah hal yang buruk jika Håfström mampu melengkapi dirinya dengan sebuah susunan naskah cerita yang kuat, namun apa yang ditampilkannya dalam The Rite tampak begitu lemah sehingga film ini menjadi tidak hanya bebas dari kata menakutkan, namun juga terkadang berjalan begitu membosankan.

Berdasarkan sebuah buku yang berjudul The Making of a Modern Exorcist karya Matt Baglio, The Rite mengisahkan perjalanan hidup seorang Michael Kovak (Colin O’Donoghue) ketika ia memulai masa pembelajarannya untuk menjadi seorang pendeta. Michael datang dari keluarga yang relijius, dimana banyak anggota keluarganya yang tumbuh menjadi seorang pendeta atau pengurus rumah pemakaman. Michael sendiri tidak begitu meyakini bahwa dirinya adalah seorang yang relijius, terlebih setelah kematian ibunya. Sempat mengirimkan surat berhenti dari masa pembelajarannya untuk menjadi seorang pendeta, sebuah kejadian tragis justru mengarahkan Michael ke sebuah pengalaman yang akan benar-benar menguji pertahanan iman yang ia miliki.

Oleh tempat ia belajar, Michael kemudian dikirimkan ke Roma, untuk mempelajari teknik-teknik pengusiran setan. Disana, Michael diperkenalkan dengan Father Lucas (Anthony Hopkins), seorang pendeta senior yang walaupun melakukan proses pengusiran setannya dengan cara yang tidak konvensional, namun sangat dihormati oleh para pendeta lainnya. Rasa skeptis yang memenuhi hatinya membuat Michael memandang Father Lucas secara sebelah mata. Namun, secara perlahan, Michael mulai menyadari sesuatu hal yang selama ini ia tidak percayai, ternyata mencoba untuk menggali masa lalunya yang kelam sekaligus berniat untuk menariknya ke sebuah dunia yang lebih gelap.

Berdasarkan sinopsis diatas, rasanya tidak sulit untuk seseorang – khususnya mereka yang memang telah sering mengikuti film-film yang berasal dari genre yang sama – untuk menebak kemana mereka akan dibawa oleh jalinan kisah film ini. Dan harus diakui, apapun tebakan Anda mengenai apa yang akan terjadi pada deretan karakter di film ini, memang benar terjadi tanpa kehadiran sesuatu kejutan yang mampu membuat Anda merasa… well… terkejut. The Rite, terlepas dari embel-embel ‘berdasarkan kisah nyata’ yang dibawakannya, disusun berdasarkan formula yang serupa dari film-film yang bergenre sama.

Di departemen akting, The Rite juga terlihat tampil dengan kualitas yang seadanya. Colin O’Donoghue, yang berada di posisi terdepan dalam memerankan karakter utama, beberapa kali terlihat tampil dengan ekspresi wajah yang sama datarnya dan tidak begitu hidup dalam memerankan perannya. Alice Braga yang berperan sebagai jurnalis juga menampilkan perannya dalam sebuah cara yang akan membuat banyak orang ragu akan posisi seorang jurnalis yang dipegang oleh karakternya. Anthony Hopkins, di sisi lainnya, kembali berhasil membawakan karakternya yang terlihat misterius bercampur sedikit antagonis dengan cukup baik. Bukan suatu hal yang mengejutkan, namun sayang harus terbuang karena naskah cerita yang begitu dangkal dan tidak menarik sama sekali.

Tata rias dan produksi film ini memang cukup mampu tampil meyakinkan. Sayangnya, kelemahan terbesar film ini berada pada jalinan naskah cerita yang gagal untuk memberikan sesuatu hal yang mampu tampil menarik untuk memikat perhatian para penontonnya.  Anthony Hopkins masih mampu memberikan permainan terbaiknya namun harus tenggelam akibat dangkalnya kemampuan akting yang diberikan  aktor-aktor lain yang ada di film ini. Hal terburuk dari sebuah film horor adalah ketika film tersebut gagal memberikan sebuah sensasi ketakutan pada diri setiap penontonnya. The Rite adalah salah satu film yang gagal dalam memberikan sensasi tersebut. The Rite sama sekali tidak menakutkan… ataupun menarik.

The Rite (New Line Cinema/TriBeCa Productions/Warner Bros., 2011)

The Rite (2011)

Directed by Mikael Håfström Produced by Beau Flynn, Tripp Vinson Written by Matt Baglio, Michael Petroni (screenplay), Matt Baglio (book) Starring Anthony Hopkins, Colin O’Donoghue, Alice Braga, Marta Gastini, Maria Grazia Cucinotta, Ciarán Hinds, Toby Jones, Chris Marquette, Rutger Hauer, Marija Karan, Torrey DeVito Music by Alex Heffes Cinematography Ben Davis Editing by Peter Boyle Studio New Line Cinema/TriBeCa Productions Distributed by Warner Bros. Running time 113 minutes Country United States Language English, Italian

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s