Review: The Other Woman (2009)


Untuk Anda yang sama sekali membenci Natalie Portman, tahun 2011 pastilah menjadi tahun yang cukup berat bagi Anda. Setelah di awal tahun nama Portman banyak menjadi perbincangan atas penampilannya yang menakjubkan di film Black Swan (2010) – yang memberikannya penghargaan Best Actress in a Motion Picture – Drama di ajang The 68th Annual Golden Globe Awards dan  Best Actress in a Leading Role di ajang The 83rd Annual Academy Awards – Portman masih akan terus merebut perhatian publik ketika film-film yang ia bintangi – mulai dari No Strings Attached, The Other Woman, Hesher, Your Highness dan Thor – akan segera dirilis dalam jangka beberapa waktu mendatang. Jangan pula lupakan perhatian media yang begitu besar diberikan padanya ketika Portman mengumumkan kehamilan dan pertunangannya dengan sang kekasih. Secara sederhana, adalah tidak mungkin untuk menghindar dari nama Natalie Portman di tahun ini.

The Other Woman sendiri sebenarnya bukanlah karya Portman yang dapat dikatakan benar-benar baru. Film yang awalnya diberi judul Love and Other Impossible Pursuits ini telah selesai melalui proses produksi sebelum Portman memulai masa pengambilan gambarnya untuk Black Swan – bonus: dalam film ini, terdapat sebuah adegan yang melibatkan Portman dan diiringi iringan musik Swan Lake karya Tchaikovsky. Dengan judul awal tersebut, film ini bahkan sempat diputar dalam ajang Toronto Internasional Film Festival pada tahun 2009 lalu. Entah karena sambutan yang kurang begitu hangat kepada film ini atau karena alasan lain, distributor film ini, IFC Films, kemudian memutuskan untuk mengganti judul film menjadi The Other Woman dan merilisnya secara terbatas pada awal tahun 2011.

Diangkat dari novel berjudul Love and Other Impossible Pursuits karya Ayelet Wardman, The Other Woman berkisah mengenai hubungan Emilia Greenleaf (Portman) dan seorang pengacara tampan dengan usia yang jauh lebih tua darinya, Jack Woolf (Scott Cohen). Hubungan antara seorang wanita dengan seorang pria yang berusia jauh lebih tua mungkin bukanlah suatu hal yang aneh, namun Emilia memulai hubungan cintanya dengan Jack ketika status Jack masih menjadi seorang suami dari Carolyn (Lisa Kudrow) dan memiliki seorang anak laki-laki bernama William (Charlie Tahan). Ketika mengetahui Emilia hamil, Jack – yang sejak lama merasa hubungannya dengan Carolyn telah mendingin – segeraa menceraikan istrinya dan menikahi Emilia. Walau awalnya berjalan indah, sebuah tragedi segera merasuki pernikahan  keduanya.

Tiga hari setelah sang bayi perempuan lahir – yang mereka beri nama Isabel – sang bayi ternyata menemui ajalnya. Tragedi inilah yang kemudian segera merubah pernikahan yang dibangun oleh Jack dan Emilia. Semenjak kematian Isabel, Emilia berubah menjadi wanita yang dingin dan begitu sensitif. Hubungannya dengan Jack perlahan menjauh seiring dengan seringnya ia menemukan dirinya berada di tengah-tengah permasalahan antara anak Jack, William, dan mantan istrinya, Carolyn. Tidak hanya itu, Emilia seolah mulai mencari permasalahan lain dengan teman-temannya dan juga keluarganya. Begitu dinginnya sikap Emilia, Jack akhirnya memutuskan bahwa adalah sebuah keputusan yang tepat untuk mengakhiri pernikahan mereka.

Terlepas dari fakta bahwa film ini dirilis dua tahun setelah masa selesai produksinya, The Other Woman sebenarnya bukanlah sebuah film yang buruk. Kisahnya yang bercerita mengenai perjuangan seorang wanita untuk mengatasi rasa depresinya setelah kehilangan anaknya mungkin telah begitu familiar – bahkan baru saja ditampilkan dengan apik oleh Nicole Kidman dalam Rabbit Hole (2010). Namun The Other Woman masih mampu menghantarkan kisah emosionalnya dengan cukup baik. Kesedihan dan kepedihan yang dirasakan Emilia secara perlahan dapat begitu terasa di sepanjang film. Di sisi lain, tampilan dari kemuraman yang hadir pada film ini  justru juga menjadi faktor yang membuat The Other Woman kurang mampu untuk mengeluarkan potensi lain yang ada di dalam ceritanya.

Karakter Emilia begitu dominan di dalam jalan cerita The Other Woman. Dan ini adalah suatu hal yang berat mengingat karakter Emilia memiliki seluruh sifat yang hampir akan membuat setiap penonton membenci dirinya: ia begitu dingin, tidak simpatik dan terlihat menyalahkan lingkungannya atas kemuraman yang ia alami. Kurang lebih, hal ini akan membuat The Other Woman terlihat begitu depresif  ketika jalan cerita bisa saja menawarkan sebuah plot cerita tambahan yang dapat membuat film ini terlihat lebih berwarna lagi. Untungnya, beberapa kali sutradara Don Roos (Bounce, 2000) mengalihkan fokus cerita pada hubungan karakter Emilia dengan putera tirinya, William. Sisi cerita ini, walau pada awalnya ditampilkan dengan cukup datar, secara perlahan mampu memberikan sebuah kesegaran tersendiri pada jalan cerita The Other Woman yang muram secara keseluruhan.

Dan Natalie Portman… beberapa kritikus film asing seringkali mengatakan bahwa Portman adalah seorang aktris yang terlalu sering berada dalam wilayah memerankan seorang karakter yang begitu kompleks sehingga ia terlihat sukar untuk dapat tampil ringan. Karakter Emilia adalah sebuah tambahan dalam filmografi Portman yang diisi oleh deretan karakter-karakter wanita yang begitu kompleks. Portman adalah pilihan tepat untuk mengisi Emilia yang begitu muram dan terlihat memiliki begitu banyak pemikiran di dalam kepalanya. The Other Woman tidak melulu menunjukkan karakter Emilia dalam kondisi yang depresif. Beberapa bagian akhir cerita menunjukkan bagaaimana Emilia akhirnya mampu berdamai dengan masa lalunya dan terlihat bahagia. Seperti yang ditunjukkan Portman dalam No Strings Attached, Portman terlihat begitu kaku dalam memerankan seorang wanita yang telah ‘mencapai kebahagiaan.’ Senyuman di wajahnya masih mencerminkan sebuah kedinginan dan keberatan hati. Faktor ini yang sedikit menodai penampilan Portman di film ini secara keseluruhan.

Selain Portman, jajaran pemeran pendukung lain – yang kebanyakan tidak memiliki nama yang sepopuler Portman – cukup mampu menampilkan permainan terbaik mereka. Scott Cohen terlihat nyaman untuk menampilkan kemampuan aktingnya ketika berhadapan dengan Portman. Aktor cilik, Charlie Tahan, juga beberapa kali terlihat mencuri perhatian lewat dialog yang diberikan pada karakter yang ia perankan. Lisa Kudrow kali ini juga berperan sebagai sesosok wanita yang serius. Cukup meyakinkan, walaupun tidak seorangpun sepertinya akan mampu menghilangkan bayangan seorang Phoebe Buffay dari pemikiraan mereka ketika melihat senyuman dan kesinisan yang ditampilkan Kudrow.

Peran Emilia dalam The Other Woman mungkin adalah salah satu penampilan dewasa terbaik yang ditampilkan  Natalie Portman setelah Closer (2004) dan Black Swan. Portman sebenarnya mampu untuk menampilkan sebuah kemampuan akting yang lebih mendalam dan muram lagi jika saja naskah cerita film ini tidak begitu terbatas dalam menggali setiap kedalam karakternya. Terlpas dari penampilan para jajaran pemerannya yang cukup memuaskan, The Other Woman rasanya tidak begitu mampu dalam menghadirkan sebuah jalan cerita yang baru dan mampu tampil mengesankan para penontonnya. Sama sekali bukan sebuah karya yang buruk, namun sepertinya tidak akan banyak diingat para penontonnya segera setelah mereka selesai menyaksikan film ini.

The Other Woman (Incentive Filmed Entertainment/Handsomecharlie Films/Is or Isn't Entertainment /Marc Platt Productions/IFC Films, 2009)

The Other Woman (2009)

Directed by Don Roos Produced by Carol Cuddy, Marc Platt Written by Don Roos (screenplay), Ayelet Waldman (novel) Starring Natalie Portman, Lisa Kudrow, Lauren Ambrose, Scott Cohen, Charlie Tahan, Kendra Kassebaum, Daisy Tahan, Anthony Rapp, Elizabeth Marvel, Debra Monk, Maria Dizzia, Tom Stratford Music by John Swihart Cinematography Steve Yedlin Editing by David Codron Studio Incentive Filmed Entertainment/Handsomecharlie Films/Is or Isn’t Entertainment /Marc Platt Productions Distributed by IFC Films Running time 119 minutes Country United States Language English

One thought on “Review: The Other Woman (2009)”

  1. Seperti Bradley Cooper, Portman ternyata juga eksis di berbagai film. Tapi ga bosen liat mereka. Apa para sutradara & produser hollywood suka banget sama mereka ya? ahahaa…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s