Review: Scream 4 (2011)


Lima belas tahun setelah merilis sebuah virus bernama Scream (1996) yang berhasil menebarkan kembali tren slasher horror di Hollywood – dan dua sekuel (1997, 2000) yang berhasil memperoleh kepopuleran yang cukup setara, mengarahkan Meryl Streep dalam Music of the Heart (1999) serta beberapa kegagalan yang datang dalam bentuk Cursed (2005) dan My Soul to Take (2010) berada diantara masa tersebut – Wes Craven memutuskan bahwa sekarang adalah saat yang tepat untuk kembali membawa teror dalam kehidupan Sidney Prescott dan merilis Scream 4. Kembali mengarahkan naskah yang ditulis oleh Kevin Williamson – dengan beberapa revisi yang datang dari Ehren Kruger (Scream 3) – Craven berhasil membawa kembali semangat sebuah slasher horror yang dulu pernah ia bawakan pada Scream sekaligus memberikan sindiran-sindiran tajam pada berbagai remake film horor yang banyak dirilis akhir-akhir ini.

Mengambil latar belakang waktu sepuluh tahun semenjak berbagai tragedi yang terjadi pada Scream 3, kota Woodsboro sepertinya telah mampu melupakan berbagai kenangan buruk kotanya dan menjelma menjadi sebuah kota yang penuh ketenangan. Gale Weathers (Courteney Cox) dan Dewey Riley (David Arquette) telah menikah dengan Gale meninggalkan karirnya sebagai reporter untuk menjadi seorang penulis dan Dewey telah menjadi sheriff bagi kota Woodsboro. Tentu saja, formula utama film ini berada di tangan Sidney Prescott (Neve Campbell). Ketika Sidney memutuskan untuk mengakhiri masa promosi buku terbarunya, Out of the Darkness, di kota kelahirannya, pada waktu itulah tragedi sepertinya datang kembali untuk menghampiri Woodsboro.

Tepat di hari Sidney menginjakkan kakinya kembali di Woodsboro, Dewey dan pihak kepolisian kota tersebut menerima kabar bahwa dua remaja di kota tersebut telah dibunuh secara sadis – dengan cara yang sama seperti yang dialami oleh puluhan korban-korban sebelumnya. Kehebohan pun melanda kota. Sidney yang panik berniat langsung meninggalkan Woodsboro, untuk kemudian dicegah Dewey mengingat ia adalah salah satu saksi kunci dalam peristiwa tersebut. Kini, Sidney, Gale dan Dewey harus berusaha memecahkan misteri apa yang membawa tragedi tersebut untuk kembali datang dan mengganggu ketentraman Woodsboro.

Sangat mudah untuk menertawakan ide menghidupkan kembali franchise yang seharusnya telah berakhir pada seri ketiga film tersebut. Namun, Wes Craven ternyata mampu membuktikan bahwa dirinya adalah seseorang yang lebih cerdas dari itu. Apa yang disajikan Craven dan Williamson pada Scream 4  memiliki pola dan semangat yang sama dengan apa yang mereka hasilkan lewat Scream – dan apa yang gagal mereka raih lewat Scream 2 dan Scream 3: keberhasilan dalam membangun karakterisasi bagi peran-peran pendukung yang hadir di sepanjang jalan cerita. Williamson menuliskan deretan karakter yang mampu mengambil tempat dan peran tersendiri di dalam jalan cerita sementara Craven memiliki jajaran pemeran yang berhasil membuat peran-peran pendukung tersebut menjadi tidak sekedar tempelan belaka. Ini yang membuat Scream 4 berjalan menegangkan, ketika penonton mengenal semua karakter yang dihadirkan di hadapan mereka sekaligus mengarahkan mereka untuk menjadi tersangka dalam kasus pembunuhan yang sedang berjalan.

Karakter-karakter pendukung dalam film ini diperankan oleh banyak aktor dan aktris muda yang secara jenius dipilih oleh Craven dan berhasil membuktikan bahwa mereka mampu menghidupkan tiap peran yang diberikan pada mereka dengan baik, tidak peduli besar kecilnya peran mereka atau lama tidaknya kehadiran mereka di dalam jalan cerita. Dari sekian banyak pemeran pendukung yang hadir, Emma Roberts hadir dengan kemampuan akting yang sangat meyakinkan. Begitu juga Marley Shelton yang sepertinya telah terbiasa untuk berperan dalam peran pendukung dan menjadi sangat dapat diandalkan untuk menghidupkan karakter tersebut. Hayden Panettierre juga tampil dalam porsi yang menyegarkan, sama dengan duo Rory Culkin dan Eric Knudsen yang akan mengingatkan penontonnya pada pasangan karakter yang ada di Scream. Untuk trio Campbell-Cox-Arquette sepertinya tidak perlu diragukan lagi. Karakter yang mereka perankan telah begitu melekat dan berhasil pula diperankan dengan sangat hidup.

Semenjak seri awalnya, Scream adalah sebuah franchise yang menyadari bahwa tema dan jalan cerita yang ia bawakan adalah sebuah hal yang sebenarnya sangat klise dan corny. Karena itulah, Scream tidak pernah berjalan dengan terlalu serius dan seperti ingin bersenang-senang dengan penontonnya. Namun, apa yang dilakukan Craven kepada Scream 4 melebihi apa yang ia lakukan pada tiga seri sebelumnya. Scream 4 lebih terlihat seperti sebuah remake dari seri pertamanya daripada sebuah sekuel dari seri terakhirnya. Dan itu adalah poin utama Craven pada seri ini: ia ingin mengajarkan pada para pembuat remake film horor bahwa ada sudut-sudut cerita tertentu yang harus dijalankan untuk menghasilkan sebuah remake film horor yang berhasil dan menyenangkan untuk disaksikan. Williamson juga mendukung rencana Craven dengan menyediakan banyak dialog komikal mengenai buruknya film-film horor yang dirilis Hollywood belakangan. Sangat menyenangkan! Bagian terlemah dari Scream 4 adalah durasinya yang mencapai 111 menit. Terlalu panjang akibat diisi dengan beberapa narasi dan adegan drama yang terasa memperlamban ritme cerita yang telah berjalan begitu cepat semenjak film ini dimulai.

Sama seperti John Carpenter, Wes Craven adalah salah satu sutradara film horor Hollywood yang karya-karyanya di masa lalu banyak dimanfaatkan untuk diperbaharui dan di-remake untuk penonton generasi modern. Dan banyak dari remake tersebut berjalan lebih buruk dari apa yang dihasilkan Craven. Scream 4 tercipta bagaikan sebuah ajang balas dendam Craven bagi mereka yang telah merusak karya-karya klasiknya. Penulis naskah, Kevin Williamson, menyediakan jalan cerita dan dialog yang sangat mendukung akan ‘aksi balas dendam’ tersebut dengan tidak melupakan untuk untuk menghadirkan jalan cerita yang cukup mampu untuk membuat setiap penontonnya tertawa, berteriak dan menjerit selama menyaksikan film ini. Ditambah dengan penampilan jajaran pemerannya yan apik dan tata musik karya Marco Beltrami yang seimbang menegangkannya, Scream 4 adalah sebuah pengalaman horor yang seharusnya tidak boleh dilewatkan begitu saja!

PS: Anda tidak akan mau melewatkan 15 menit awal film ini yang merupakan salah satu pembuka film paling menyenangkan (dan mengejutkan) yang akan dapat Anda dapatkan selama beberapa tahun terakhir!

Scream 4 (Dimension Films/Corvus Corax Productions/Outerbanks Entertainment, 2011)

Scream 4 (2011)

Directed by Wes Craven Produced by Kevin Williamson, Wes Craven, Iya Labunka Written by Kevin Williamson (screenplay), Kevin Williamson (characters) Starring David Arquette, Neve Campbell, Courteney Cox, Emma Roberts, Hayden Panettiere, Anthony Anderson, Adam Brody, Rory Culkin, Mary McDonnell, Marley Shelton, Alison Brie, Marielle Jaffe, Nico Tortorella, Erik Knudsen, Anna Paquin, Kristen Bell, Lucy Hale, Shenae Grimes, Britt Robertson, Aimee Teegarden, Roger L. Jackson Music by Marco Beltrami Cinematography Peter Deming Editing by Peter McNulty Studio Dimension Films/Corvus Corax Productions/Outerbanks Entertainment Distributed by Dimension Films Running time 111 minutes Country United States Language English

3 thoughts on “Review: Scream 4 (2011)”

  1. Benar sekali paman, adegan pembukanya “menyenangkan” sekali! I enjoyed the experience dan Scream 4 memiliki salah satu quote yg akan diingat:h “don’t f*ck with the original!” LOL

  2. Gila sidney, gale, sm dewey ga mati2 aje. Yg lainnya mati (-̩̩-̩̩-̩̩_-̩̩-̩̩-̩̩) not fair. ƗƗɑƗƗɑƗƗɑ

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s