Review: The Lost Bladesman (2011)


Walau sering dikritik memiliki kemampuan akting yang terlalu kaku, Donnie Yen sepertinya tetap merupakan pilihan banyak sutradara Hong Kong/China ketika sedang mencari aktor untuk berperan dalam sebuah film period Asia. Kali ini, duo penulis dan sutradara, Alan Mak dan Felix Chong – yang populer berkat penulisan naskah mereka untuk trilogi Infernal Affairs (2003-2004) dan Confession of Pain (2007) serta penyutradaraan mereka di Overheard (2009), memilih Yen untuk membintangi The Lost Bladesman, sebuah kisah petualangan Guan Yu yang diadaptasi dari novel historis karya Luo Guanzhong, Romance of the Three Kingdoms. Mereka yang pernah menyaksikan Red Cliff (2008) karya John Woo mungkin telah familiar dengan  Guan Yu dan beberapa karakter yang ada di film ini. Namun, ekspektasi seharusnya diletakkan serendah mungkin karena The Lost Bladesman berada di tingkatan yang berbeda dari Red Cliff. Tingkatan yang lebih rendah.

Mengisahkan mengenai Guan Yu yang melewati lima perbatasan dan membunuh enam jenderal, The Lost Bladesman dimulai dengan memperkenalkan Cao Cao (Jiang Wen) yang bertekad untuk menaklukkan seluruh daratan China di bawah kekuasan Dinasti Han. Dalam sebuah pertarungannya di Baima melawan Yuan Shao, Cao Cao meminta bantuan Guan Yu, yang akhirnya berhasil menewaskan Jenderal Yan Liang (Chin Siu-ho). Atas jasanya tersebut, Cao Cao menganugerahi Guan Yu gelar “Marquis of Hanshou” dan mempromosikannya untuk posisi letnan jenderal dengan harapan agar Guan Yu mau terus bertahan dan bekerjasama dengannya. Sayangny, Guan Yu ternyata lebih memilih tetap setia dengan kakak angkatnya, Liu Bei (Alex Fong), yang juga merupakan salah satu musuh Cao Cao.

Guan Yu  akhirnya memilih meninggalkan Cao Cao sekaligus berniat untuk menghantarkan kekasih Liu Bei, Qilan (Betty Sun), kembali padanya. Walaupun berat dan ditandai dengan ketidaksetujuannya dari para penasehatnya, Cao Cao akhirnya melepas Guan Yu. Di luar sepengetahuan Cao Cao, para penasehatnya memerintahkan untuk setiap jenderal dari wilayah yang dilewati Guan Yu untuk segera membunuhnya. Untuk semakin memperumit jalan cerita, Guan Yu sendiri sebenarnya telah lama menaruh rasa suka pada Qilan, satu perasaan yang terus menerus ditekannya mengingat harapaannya untuk tidak mengkhianati Liu Bei. Akhirnya, Guan Yu pun memulai petualangannya: melewati lima perbatasan dan membunuh enam jenderal agar dapat mempertemukan kembali Liu Bei dengan kekasihnya, Qilan.

Jalan cerita The Lost Bladesman sebenarnya memiliki cukup banyak intrik yang akan dapat membuat film ini  berjalan cukup menarik. Sayangnya, Alan Mak dan Felix Chong malah memilih untuk menceritakan kisah petualangan sang karakter utamanya lewat pilihan narasi yang hadir dengan porsi yang cukup besar. Mereka yang tidak familiar dengan kisah petualangan Guan Yu dan belum pernah membaca novel Romance of the Three Kingdoms akan menghadapi cukup banyak kesulitan dalam memahami latar belakang kisah, karakter dan kejadian yang dihadirkan pada The Lost Bladesman akibat pemilihan penceritaan lewat narasi yang sangat kaku oleh Mak dan Chong.

Kehadiran kisah romansa bertema cinta terlarang antara Guan Yu dan Qilan, yang seharusnya dapat memberikan kesegaran di sela-sela kisah politik yang menjadi tema utama film ini, juga lebih sering terlihat sebagai sebuah bagian yang gagal untuk dikembangkan sama sekali. Bahkan, begitu datarnya kisah romansa yang disajikan di film ini, kisah tersebut dapat saja dihilangkan secara sepenuhnya dan sama sekali tidak akan mempengaruhi kisah utama yang disajikan. Kekakuan naskah cerita yang ditulis oleh Mak dan Chong juga sangat terasa pada deretan dialog yang diucapkan para karakternya serta kurangnya pendalaman yang dilakukan pada tiap peran yang hadir di sepanjang film ini berkisah.

Donnie Yen harus diakui memiliki figur yang sangat tepat untuk dihadirkan sebagai sesosok pahlawan. Namun, Yen hanya mampu tampil menarik ketika ia hadir dan menampilkan kemampuan martial act-nya. Selebihnya, kemampuan akting Yen masih sama saja: kaku dan membosankan. Jiang Wen tampil cukup meyakinkan sebagai Cao Cao yang penuh tipu muslihat, walaupun hal tersebut masih dapat dikatakan belum dapat memuaskan sama sekali. Sementara Betty Sun, yang memerankan karakter Qilan, harus dapat menerima kenyataan bahwa ia tidak dapat memberikan penampilan yang lebih mendalam untuk karakternya akibat terbatasnya karakterisasi yang diberikan untuk karakter Qilan.

Ketika naskah dan departemen akting film ini tampil cukup mengecewakan, tata produksi film ini mampu menyelamatkan The Lost Bladesman dari kategori sebagai sebuah film yang sangat buruk. Koreografi martial art yang ditampilkan di film ini cukup mampu untuk tampil mempesona. Tata kostum, desain produksi dan sinematografi, walau sama sekali tidak luar biasa, dapat tampil meyakinkan penontonnya. Yang paling dapat diunggulkan dari The Lost Bladesman adalah tata musik yang dihasilkan oleh komposer Henry Lai. Dimana naskah cerita dan tampilan para pemeran film ini gagal untuk menghasilkan sebuah jalinan emosi mendalam pada penontonnya, kehadiran musik arahan Lai mampu memberikan sentuhan emosional tersebut.

Cukup disayangkan untuk melihat The Lost Bladesman tampil mengecewakan dengan material yang sebenarnya dapat digali lebih dalam dan tampil menarik itu. Alan Mak dan Felix Chong sepertinya kebingungan untuk membawa alur cerita yang ingin mereka hadirkan dalam The Lost Bladesman. Terlalu banyaknya detil cerita yang ingin dihadirkan membuat Mak dan Chong memilih untuk menyajikannya dalam bentuk narasi yang berakhir dengan gagalnya film ini menjalin komunikasi yang lebih baik kepada penontonnya. Ini masih ditambah dengan penampilan membosankan dari Donnie Yen yang tak sanggup memberikan kehidupan pada karakter yang ia bawakan. Setidaknya, The Lost Bladesman masih mampu tampil cemerlang dari sisi tata produksi, termasuk tata musik karya Henry Lai yang emosional tersebut. Walaupun, tentu saja, hal tersebut tidak akan menjamin banyak orang menjadi tertidur selama menyaksikan film ini.

The Lost Bladesman (Easternlight Films/Pop Movies/Shanghai Film Group/Anhui Media Industry Group Co., Ltd./Star Union Skykee Film and Media Advertisement Co., Ltd./Edko Films/Easternlight Films, 2011)

The Lost Bladesman (關雲長) (2011)

Directed by Alan Mak, Felix Chong Produced by Leung Ting, Wang Tianyun Written by Alan Mak, Felix Chong (screenplay), Luo Guanzhong (novel) Starring Donnie Yen, Jiang Wen, Betty Sun, Alex Fong, Chen Hong, Shao Bing, Andy On, Wang Xuebing, Edison Wang, Dong Yong, Calvin Li, Nie Yuan, Chin Siu-ho, Zhou Bo, Yu Ailei, Hei Zi, Sang Ping, Zhao Ke Music by Henry Lai Cinematography Chan Chi-ying Editing by Kong Chi-leung Studio Easternlight Films/Pop Movies/Shanghai Film Group/Anhui Media Industry Group Co., Ltd./Star Union Skykee Film and Media Advertisement Co., Ltd. Distributed by Edko Films/Easternlight Films Running time 107 minutes Country Hong Kong/China Language Mandarin

8 thoughts on “Review: The Lost Bladesman (2011)”

  1. woiii emank kalo namanya penonton lebih jago berkomentar ….

    liat noh film indonesia terlalu bagus sampe gak da niat buat nonton …
    mending film nie gan …
    bilang pemainnya gak bisa memerankan tokoh dalam film tersebut …
    lah ente sendiri akting uda sampe mana …
    bacot aja yang d gedein …
    makan tu film horor indo sampah ….

    1. Just to show the world how shallow you are, I’m going to approve your comment. A sweet little revenge!

      Do come back soon, Sir! =)

  2. Gak usah pedulikan komentar yang gak jelas di atas.. mas… tetap semangat mereview film-filmnya..

    Btw, aku memang sempat tertidur waktu nonto The Lost Bladesman… hehehehe..

  3. No…

    Kalau lu tau ROTK n suka sama karakter Guan Yu, apapun filmnya dan bagaimanapun hasil filmnya. PASTI TETAP dianggap bagus, kecuali ente ga tau dan ga kenal Guan Yu itu wajar lah..

    Menurut gw dengan mempertimbangkan aspek psikologis, kaya contoh dari komen agan yang pertama. JANGAN Review terlalu kasar gitu gan, ga mungkin film keluar kepasaran kalau ga bagus.

    APAPUN ALASANNYA semua film itu bagus, cuma ada yang disukai ada juga yang kurang diminati.

    1. Filmnya belum ditayangkan di saluran televisi nasional. Tapi kemaren sempat dirilis di layar bioskop Indonesia.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s