Review: Mother’s Day (2010)


Jangan tertipu dengan judul film yang sangat bernuansa film-film keluarga a la Walt Disney! Merupakan versi teranyar sutradara Darren Lynn Bousman (Saw II (2005), Repo! The Genetic Opera (2008)) atas film thriller klasik berjudul sama karya sutradara Charles Kaufman yang sempat populer ketika dirilis pada tahun 1980, Mother’s Day menawarkan cukup banyak adegan berdarah yang akan mampu memuaskan para penggemar film-film bergenre ini. Berbeda dengan film-film bertema sama dengan jalan cerita yang cenderung monoton, Bousman mampu mengintegrasikan setiap adegan bernuansa gore di dalam  Mother’s Day ke dalam cerita utama sehingga membuat kehadiran deretan adegan tersebut justru menjadi elemen penting di dalam film dan tak hanya sekedar menjadi sebuah ajang pameran deretan adegan bernuansa sadisme bagi para penontonnya.

Walau merupakan sebuah remake, Mother’s Day karya Bousman adalah sebuah karya yang sama sekali berbeda jika dibandingkan dengan karya Kaufman yang kontroversial tersebut. Bousman sepertinya hanya mengambil jiwa dari Mother’s Day karya Kaufman untuk kemudian mengubahnya menjadi sebuah thriller yang sesuai dengan masa penceritaan modern. Jangan salah! Walau Bousman menghilangkan hampir keseluruhan adegan yang bernuansa kontroversial dari naskah asli Mother’s Day karya Kaufman di dalam filmnya, Bousman masih sanggup memberikan rasa horor tersendiri dalam naskah yang dikerjakan oleh Scott Milam ini. Bousman juga menyelipkan beberapa reka adegan dan dialog dari Mother’s Day milik Kaufman ke dalam filmnya yang, tentu saja, ditujukan sebagai penghormatannya terhadap thriller klasik Kaufman tersebut.

Mother’s Day menceritakan mengenai tiga kawanan perampok bersaudara, Ike (Patrick Flueger), Addley (Warren Kole) dan Johnny Koffin (Matt O’Leary), yang setelah sebuah perampokan bank yang berlangsung gagal, dan menyebabkan Johnny terkena luka tempak yang parah, berniat pulang ke rumah ibu mereka. Tak disangka, sesampainya mereka ke rumah, mereka mengetahui bahwa rumah tersebut tidak lagi dimiliki sang ibu. Mereka pun menahan pasangan pemilik rumah tersebut, Beth (Jaime King) dan Daniel Sohapi (Frank Grillo). Bersama keduanya, masih ada beberapa teman Beth dan Daniel yang saat itu sedang berkumpul untuk merayakan ulang tahun Daniel.

Tidak berapa lama, ibu ketiga perampok tersebut (Rebecca De Mornay) akhirnya datang bersama adik mereka, Lydia (Deborah Ann Woll). Bukannya memperbaiki suasana, ibu ketiga perampok tersebut ternyata merupakan seorang orangtua tunggal yang menanamkan prinsip pemikiran yang salah terhadap anak-anaknya. Kedatangan sang ibu sendiri ke rumah tersebut ternyata memiliki maksud dan tujuan lain. Ia ingin mencari uang yang selama ini dikirimkan anak-anaknya kepada dirinya. Beth dan Daniel menyangkal tuduhan sang ibu bahwa mereka menyimpan uang tersebut. Namun, tentu saja, sang ibu tidak akan menyerah begitu saja. Bersama keempat anaknya, ia menawan Beth, Daniel dan teman-temannya dan mengancam akan menghabisi mereka satu persatu jika ia tidak memperoleh uang tersebut segera.

Mother’s Day karya Bousman adalah sebuah petualangan horor yang sama sekali berbeda jika dibandingkan dengan karya klasik Kaufman… dalam artian yang jauh lebih baik. Berbeda dengan karya Kaufman, Mother’s Day karya Bousman memiliki karakterisasi yang lebih mendalam terhadap para karakter yang dihadirkan di sepanjang penceritaan film ini. Karakter-karakter ini memiliki permasalahan tersendiri, yang ketika cerita semakin berjalan, akan memicu beberapa sub plot cerita tambahan yang menjadikan Mother’s Day karya Bousman menjadi sedikit lebih kompleks jika dibandingkan dengan karya Kaufman. Dan untungnya, Bousman mampu mengeksekusi tiap permasalahan dengan cukup baik. Intensitas ketegangan cerita terbangun dengan baik, dengan beberapa adegan diantaranya, akan mampu membuat setiap penontonnya tertegun dan menahan nafas mereka.

Keunggulan lain dari film ini adalah jajaran pemerannya yang sangat kuat. Tidak diragukan, Bousman memerlukan seorang aktris yang handal untuk memerankan karakter sang ibu, karakter antagonis utama yang memegang penuh kendali jalan cerita di sepanjang film ini. Dan Bousman, lagi-lagi, melakukan pilihan yang cerdas dengan menempatkan aktris Rebecca De Mornay untuk memerankan karakter tersebut. De Mornay memiliki tatapan mata dan bahasa tubuh yang begitu dingin sehingga walau tanpa satu dialog pun, kehadirannya telah cukup mampu untuk memberikan nuansa horor tersendiri bagi karakter-karakter lainnya.

Kehadiran De Mornay juga mampu diimbangi dengan akting sempurna dari aktris Jaime King. Peran King sebagai Beth, seorang tokoh protagonis, pada awalnya harus banyak berbagi dengan karakter protagonis lainnya. Walau begitu, seiring dengan berjalannya cerita film, karakter Bethy semakin mendapatkan porsi cerita yang besar. Bersamaan dengan hal itu, King mampu menampilkan permainan akting terbaiknya. Terlihat rapuh pada awalnya, King kemudian mampu membentuk Beth sebagai karakter yang kuat dan melawan semua teror yang ia hadapi. De Mornay dan King memang tampil paling optimal, namun Mother’s Day memiliki pengisi departemen akting yang kuat sehingga tak satupun pemerannya terlihat tampil bodoh dan hanya digunakan sebagai korban atas sebuah adegan gore belaka.

Kata remake mungkin adalah sebuah kata yang cukup membuat banyak orang menahan nafas mereka akibat sedikitnya film-film remake yang mampu memiliki kualitas jauh di atas film aslinya. Untungnya, Mother’s Day karya Darren Lynn Bousman ini adalah salah satu dari segelintir film remake berkualitas tersebut. Dengan arahan naskah karya Scott Milam, Bousman menjauhkan Mother’s Day dari imej sebagai sebuah exploitation film yang telah diciptakan oleh film aslinya. Memberikan fokus lebih besar pada pengembangan karakterisasi dan naskah ceritanya, Bousman menjadikan Mother’s Day lebih sebagai sebuah teror psikologis dengan beberapa momen gore berhasil dimanfaatkan Bousman sebagai bagian penting dari elemen penceritaan filmnya. Mother’s Day juga berhasil tampil berbeda dengan menghadirkan deretan pemeran yang mampu tampil menghidupkan karakter mereka dengan baik dan tak sekedar hadir sebagai korban belaka. Bousman memang dikenal sebagai sutradara Repo! The Genetic Opera dan beberapa seri Saw yang berantakan. Namun dengan Mother’s Day, Bousman sepertinya dapat membuktikan bahwa dirinya adalah seorang sutradara horor yang layak untuk diperhatikan.

Mother's Day (The Genre Co./Rat Entertainment/LightTower Entertainment/Troma Entertainment/Optimum Releasing, 2010)

Mother’s Day (2010)

Directed by Darren Lynn Bousman Produced by Brett Ratner, Richard Saperstein, Jay Stern, Brian Witten Written by Scott Milam, Charles Kaufman, Warren Leight (screenplay), Scott Milam (story) Starring Rebecca De Mornay, Jaime King, Briana Evigan, Patrick Flueger, Deborah Ann Woll, Alexa Vega, Shawn Ashmore, Frank Grillo, Tony Nappo, Matt O’Leary, Lisa Marcos, Kandyse McClure, Lyriq Bent, Jessie Rusu, AJ Cook, Warren Kole, J. Larose Music by Bobby Johnston Cinematography Joseph White Editing by Lindsey Hayes Kroeger Studio The Genre Co./Rat Entertainment/LightTower Entertainment/Troma Entertainment Distributed by Optimum Releasing Running time 112 minutes Country United States Language English

5 thoughts on “Review: Mother’s Day (2010)”

  1. Dijamin bagi yang menonton film ini tidak akan bosan utk menontonnya lagi.
    Sepanjang film , sangat membuat saya gregetan.

  2. Seperti kebanyakan film horor, selalu saja ada pakem cerita : tokoh protagonis melewatkan kesempatan untuk menghabisi antagonisnya. Dan endingnya…. Sebuah anti klimaks…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s